
Sambil meletakkan santapan siang dan beberapa obat, Perawat itu berkata, “Suamiku, siang ini Kau sudah bisa pulang. Tekanan darahmu sudah normal. Tapi Kau harus menjaga pola makan setelah ini.”
Bibir Asna bergetar saat mendengar perkataan si perawat. “Suamiku?! Apa Aku tidak salah dengar...?”
“Kau tidak salah dengar!” Datu Busu seketika mengomentari ekspresi Asna yang terlihat terkejut. Ia lalu menjelaskan, “Si Cantik ini istriku yang ketujuh belas. Kau jangan berani-berani berpikir mesum tentangnya!”
Asna heran dengan fenomena ini. Padahal Datu Busu tidak ganteng di usia tua.
Membayangkan Datu Busu kala masih muda, wajah Datu Busu boleh jadi masih kalah dengan dirinya. Begitu pikiran Asna saat ini.
Si Mesum itu tambah pusing saat Datu Busu menjelaskan kalau istrinya ini adalah hasil pertarungan dirinya dengan aktor terbaik nasional. Aktor sekaligus Pejuang Virtual, Reja Rahasian.
Datu Busu menjelaskan lebih jauh, “Kau harus tau, kelebihan orang yang memiliki kekuatan. Salah satunya adalah digandrungi gadis-gadis cantik. Ganteng itu relatif, keren itu harus dan kekuatan itu utama. Pejuang Virtual paling dekat dengan sumber kekuatan. Jadi sangat mudah mendekati para gadis.”
Asna terpengaruh dengan pernyataan Datu Busu. “Ganteng itu relatif, keren itu harus dan kekuatan itu utama. Aku cukup bersyukur dengan tampang kurang ganteng. Keren itu bisa diolah. Kekuatan... Pejuang Virtual paling dekat dengan sumber kekuatan.”
Asna sebenarnya sedikit tertarik untuk meningkatkan kekuatan. Hanya saja total status pertarungannya tidak bisa beranjak dari angka 15 poin. Bahkan setelah tiga bulan berlatih ekstra keras.
Baginya, (sementara waktu) mendapat satu gadis cantik sebagai tambatan hati sudah cukup.
Ia merasa tidak perlu memiliki kekuatan yang over power. Juga tidak tertarik memimpikan kemampuan kembali ke masa lalu seperti dokter Strange.
Sekedar kekuatan yang cukup. Kekuatan untuk mendapatkan cukup satu gadis cantik dalam satu kali hidup.
Kalau beruntung, ya, mudah-mudah bisa dapat dua, tiga, empat, lima… Asna menghitung berapa hari Ia bisa mendapat pacar. Selambat-lambatnya lima hari. Jumlahnya kalau bisa lima pacar.
“Siswa kurang ganteng yang memiliki lima pacar tidak salah. Sekaliber Bovak saja bisa dianggap keren sampai mendapatkan Dinia. Kecantikan Dinia itu setara dengan lima puluh gadis standar, Bovak! Bahkan bisa lebih! Kau benar-benar mengalahkanku!” kutuk Asna pada bayangan Bovak di benaknya.
Menjadi terkuat di dunia sangat sulit menurut Asna. Jadi, si Lemah itu hanya bertekad untuk menjadi Pejuang Virtual terkeren di jagad raya.
Setidaknya menjadi keren lebih mungkin dibanding menjadi yang terkuat.
Tapi menurut Datu Busu, kekuatan yang cukup hanya akan mendapatkan gadis yang kecantikannya secukupnya juga. Itu pun Asna harus bersaing dengan orang yang memiliki kekuatan yang melebihi dirinya.
Tiba-tiba Datu Busu memecahkan lamunan Asna. “Kau ini. Tidak takut pacarmu Ku rebut?”
“Kenapa direbut, Datu? Dapat saja belum!” Kalau soal wanita, Asna tidak segan memprotes siapa saja.
Secara teori, semakin kuat seseorang, semakin besar kemungkinan mendapat tambatan hati nan cantik jelita. Terlebih menjadi Pejuang Virtual terhebat di dunia.
Hadiahnya adalah gadis tercantik sedunia juga tentunya.
Asna jadi teringat Boneka Biosilk yang hilang begitu saja dari genggamannya. Dengan boneka itu Asna yakin dapat menjadi manusia super. Gadis-gadis akan mengelu-elukan namanya.
Datu Busu menggelengkan kepala. Ia tidak pernah bertemu remaja yang hanya mementingkan nafsunya daripada dirinya sendiri.
Perawat yang juga istri Datu Busu pergi meninggalkan ruangan. Pada periode itu Datu Busu terus menatap istrinya hingga benar-benar telah pergi.
Selang beberapa menit, Iyan datang bersama ayahnya dan seorang perawat lain.
Dengan lirih, Iyan menegur Asna, “Na… Kau…”
“Aku baik-baik saja. Cuma tangan, kok.” Asna tersenyum lebar. Seolah Ia benar-benar baik-baik saja.
Ayah Iyan, Rizal Handoko, mendekati Asna. “Kau sudah bisa pulang. Tapi sebelumnya, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Kenapa kalian bisa pingsan di belakang sekolah?”
__ADS_1
Asna tertunduk memikirkan jawaban yang tepat. Tentu saja jawaban yang sama dengan Iyan. Ia paham, orang yang sedang dihadapinya sekarang adalah Rizal, Ayah Iyan yang notebene seorang penyidik di Kepolisian.
Iyan menyahut, “Sudah Ku bilang, Kami berkela…”
“Diam. Aku bertanya pada Asna.” Rizal menoleh ke Iyan tanpa menatapnya. Ia lalu mengawasi wajah Asna. Sesuai dengan keilmuwannya, Rizal dapat mengetahui jika Asna berkata bohong.
Mendapat sedikit informasi dari Iyan bahwasannya mereka berkelahi, Asna mulai menggunakan dua alam pikirnya. Satu pikiran Ia gunakan untuk mencari jawaban. Pikiran kedua Ia gunakan untuk memanipulasi wajah agar terus konsisten dengan perkataan.
“Sebelumnya Aku minta maaf kepada Ayah Iyan. Iyan berkelahi dengan teman sekolah karena sering melindungiku. Kami selalu kalah. Tapi entah mengapa orang itu seperti kesurupan dan memukul Kami sampai seperti ini.” Asna menjelaskan sambil memainkan ekspresi memelas, ekspresi malu, lalu ekspresi bingung.
Rizal mengajukan pernyataan lain dari jawaban Asna. Sesekali diselingi dengan pertanyaan berbeda dengan maksud yang sama, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang menyebabkan mereka masuk rumah sakit. Hampir 15 menit Rizal bertanya, namun jawaban Asna selalu sama dengan nada berbeda. Tentu dengan ekspresinya yang tidak berubah.
Tidak ada lagi yang bisa Rizal tanyakan kepada Asna. Pertanyaan beralih untuk dirinya sendiri. “Jawaban anak ini sangat konsisten. Ini sungguh mencurigakan. Seperti penjahat yang berpengalaman.”
Setelah tidak mendapat pertanyaan lagi, Asna memandang ke sekeliling. Datu Busu tiba-tiba hilang. Asna bertanya kepada perawat siapa kakek yang ada di ranjang sebelahnya. Perawat itu menerangkan kalau kakek itu sudah meninggal tadi malam. Asna kaget bukan kepalang.
Tak disangka Datu Busu lewat membawa setoples kacang. Asna menunjuk Datu Busu. Perawat bilang Datu Busu itu di ranjang seberang. Bukan di ranjang yang ditunjuk olehnya.
Datu Busu berkenalan dengan Iyan dan Ayahnya. Sesudah itu Ayah Iyan mengajak Asna pulang ke rumahnya. Asna setuju saja. Tapi tidak untuk sekarang. Sebab Ia harus pamit dulu dengan Datu Busu karena telah bekerja di Kedai Kopi.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Asna memperhatikan Datu Busu yang sedang membereskan pakaiannya. “Kenapa Datu tidak ada yang menemani pulang? Katanya punya istri banyak. Seharusnya juga punya anak banyak.”
“Kau tidak akan mengerti kalau tidak punya banyak istri. Sebelum mereka datang, Kau ikut Aku ke kedai. Bawa barang-barang ini!” Datu memberikan satu ransel, dua dus biscuit dan satu kresek makanan kepada Asna. “Sebanyak ini? Aku hanya punya satu tangan saat ini!” protes Asna.
Datu Busu meraih tangan kiri Asna. Dengan satu tarikan, tangan Asna tidak lagi terkilir.
Akhirnya Asna terpaksa mengangkat semua barang Datu Busu karena tidak ingin dibunuh.
Setelah menempuh jarak 2 kilo meter dengan berjalan kaki, Datu Busu dan Asna tiba di kedai kopi yang dimaksud. Kedai kopi Datu Busu adalah sebuah gubuk yang dibangun di antara bangunan megah, kompleks perkantoran M. Yamin.
Marahnya Datu Busu itu disertai pukulan soalnya.
Datu Busu tertawa. “Hahaha… Kau ini. Aku suka sikapmu itu. Hindari berpikiran buruk tentangku.”
Asna merasa tidak nyaman dengan tawa Datu Busu saat ini.
Usai tertawa, wajah Datu Busu berubah serius. “Ada yang ingin Ku ajarkan kepadamu. Sebuah teknik yang jarang dimiliki Pejuang Virtual… Kalau Kau tidak mau, Aku akan membunuhmu sekarang.”
“Aku pasti setuju kalau diancam. Ajarkanlah, Datu…” sahut Asna. Ia belum selesai dengan ancaman Iyan, ancaman lain malah kembali datang.
Tapi bagi Asna ancaman ini terkesan aneh. Buat apa Datu Busu mengajarkan suatu teknik langka dengan ancaman?
Tanpa basa-basi Datu Busu memerintahkan Asna untuk menyelami ranah pikiran miliknya. Mengenal wadah pikiran yang disebut roh.
Saat Datu Busu menyebut istilah roh, Asna yang sebelumnya mengetahui sepenggal pemahaman tentang roh tidak mengalami kesulitan mengikuti arahan berikutnya.
Bagi Asna, hanya ada satu kunci dari penjelasan teknik yang diajarkan Datu Busu. Jiwa dalam bagian raga.
“Sekarang coba kau rasakan benda ini… simpanlah.” Datu Busu memberikan tas dari anyaman kulit kayu. Sebuah item yang dibuat pengrajin ahli tingkat tinggi, [Virtualspace Anjat].
Asna menerima item tersebut dan mulai merasakan dan menyimpannya dalam ranah pikiran. [Virtualspace Anjat] sedikit memudar. Di saat yang bersamaan bayangan [B-Shock] muncul dalam benaknya.
“Kalau Kau bisa menyimpannya di dalam ranah pikiranmu, Aku akan memberikannya kepadamu,” tantang Datu Busu.
“Apa kelebihan benda ini?” tanya Asna. Datu Busu mengangguk, paham dengan maksud Asna.
__ADS_1
Sebagai sesama manusia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Datu Busu bisa menangkap kelebihan yang dirahasiakan Asna.
Begitupun dengan Asna. Ia paham maksud Datu Busu yang ingin menukar suatu benda dengan rahasianya. Asna jelas ingin menilai benda yang hendak diberikan Datu Busu, sepadankah dengan nilai rahasia miliknya?
Datu Busu lagi-lagi tertawa. Ia menjadi semakin tertarik dengan Asna. “Sederhananya, Kau bisa membawa berbagai macam benda sebanyak satu tongkang batu bara hanya dengan tas itu,” terang Datu Busu.
Asna tersenyum polos. Berdasarkan penilaiannya, tas itu memang sangat pantas untuk ditukar dengan rahasianya yang saat ini tersimpan rapi. Bahkan bisa saja banyak pejuang virtual hebat yang akan merebut item itu.
Menyimpan [Virtualspace Anjat] di ranah pikiran adalah cara yang tepat. Tidak mungkin ada orang lain yang bisa merebut.
Namun, yang masih membuat Asna penasaran, rahasia mana yang Datu Busu inginkan.
“Akan saya coba lagi Datu…” Asna kemudian mengelus [Virtualspace Anjat] dengan seksama.
Saat item itu memudar, bayangan [B-Shock] kembali muncul. Shock sepeda motor itu seolah sudah mengisi ranah pikiran Asna.
“Sepertinya Aku tidak bisa menyimpannya.” Asna lalu mengembalikan [Virtualspace Anjat].
“Kau tidak akan bisa menyimpannya kalau tidak mengeluarkan benda yang tersimpan di benakmu. Baliklah tahap menyimpan, maka benda yang ada di pikiranmu akan keluar,” sahut Datu Busu.
Sekarang Asna mengerti kalau rahasia yang ingin diketahui Datu Busu adalah benda yang saat ini tersimpan di ranah pikirannya. Pun Asna dapat bonus cara mengeluarkan benda.
Hanya saja, setelah satu masalah terang, masalah lain muncul di benak Asna. Ia bingung dengan keberadaan [B-Shock]. Sejak kapan benda ini ada di dalam ranah pikirannya.
Saran Datu Busu diikuti Asna. Benar saja, [B-Shock] seketika muncul.
Melihat tangan Datu Busu hendak mengambil kembali [Virtualspace Anjat], Asna bergegas menyimpan tas itu.
Datu Busu tertawa nyaring. “Hahaha… Kau tau kalau Aku berbohong. Simpanlah. Aku sudah ada yang lebih bagus.”
“Terima kasih, Datu,” ucap Asna sopan. Ia lalu memberikan [B-Shock] kepada Datu.
“Kalau boleh Aku bertanya, kenapa benda ini bisa ada di ranah pikiranku?” tanya Asna.
Datu Busu mengelus [B-Shock]. Sejurus kemudian Ia melemparnya dengan sekuat tenaga!
Tentu saja siswa SMA yang baru kelas 10 kaget. Ada orang tua yang seenaknya saja melempar barang orang.
“Tenang saja. Sekarang Aku yang balik bertanya. Di mana Kau menemukan benda itu?” tanya Datu Busu.
“Benda yang semaunya Datu lempar tadi, Ku temukan di belakang sekolah. Waktu itu Aku berkelahi dengan seseorang,” sahut Asna.
“Benda ini,” ujar Datu sambil menunjuk [B-Shock] yang secara ajaib sudah ada di tangan Asna. “Bukanlah benda sembarangan. Ini besi spesial. Ada entitas di dalamnya yang sudah membentuk suatu ikatan denganmu.”
“Bagaimana bisa kembali?!” Asna kaget. Beberapa detik kemudian Ia lalu melanjutkan, “Memang saat Aku menemukan ini, ada sosok…” belum sempat Asna memberikan informasi secara utuh, Datu Busu langsung menyela. “Cukup. Yang seperti ini cukup Kau yang tau! Kalau Kau menceritakan kepadaku, Aku akan membunuhmu!”
Bangga dengan Asna, Datu Busu menepuk pundak Asna hingga terkapar di lantai.
“Sejujurnya Aku belum ada niat membuka kedai kopi. Oleh karena Kau masih sekolah, sementara waktu Kau tidak perlu bekerja untukku. Tapi tentu saja utangmu menjadi… satu trilliyun!” lanjut Datu Busu.
Pastinya Asna langsung protes “Kenapa bisa begitu?!”
Datu Busu langsung menginjak-injak punggung Asna. “Dua teknik dan satu item itu mahal, pintar!”
“Ampun, Datu… Jangan bunuh Aku…!” seru si Mesum, mengemis minta ampun.
__ADS_1
***