
Rode sangat gemar berkelahi dengan Iyan. Akhir-akhir ini seolah tidak ada minggu terlewat tanpa pertarungan mereka. Sebagai sahabat Iyan, Asna tidak akan pernah mundur walau selalu kalah. Iyan juga seperti Asna. Tidak akan pernah takut biarpun sudah pasti kalah bertarung dengan Rode.
Alasan yang digaungkan Rode kenapa Ia gemar berkelahi dengan Iyan cukup sepele. Rode tidak suka dengan Iyan karena Ayah Iyan adalah seorang polisi. Tapi sepertinya alasan itu hanya dibuat-buat Rode. Sebab Asna kini bisa merasakan tekanan status Rode sebagai Pejuang Virtual. Bisa dikatakan, Rode ingin meningkatkan status pertarungan dengan bertarung melawan Iyan.
Rode meninggalkan anak buahnya dan mendekati Iyan yang tetap bersikap santai. “Bersembunyi di sini Kau rupanya....” Suara Rode serak bergetar. Harusnya Ia menggunakan frase “Ki Sanak” biar menimbulkan kesan dunia persilatan.
Asna berusaha bangkit dari tidur. Darahnya mulai mendidih melihat Iyan akan kembali dihajar Rode. Tiba-tiba saja suara kerincing roda terdengar. Ranjang yang Asna rebahi ditendang Iyan hingga membentur jendela kaca.
“Cuiihh...! Tidak perlu berdialog bak pendekar!” tegas Iyan seraya mengayunkan pukulan ke wajah Rode. Pukulan Iyan mengenai pipi Rode dengan telak.
Rode hampir tersungkur ke lantai. “Hihihi... Pukulanmu semakin keras! Status pertarunganmu sepertinya terus meningkat,” ujarnya. Ia pun langsung melayangkan tinju ke rahang Iyan.
Iyan masih sempat menangkis dan kemudian menyerang balik. Kepala Rode kembali dipukul Iyan. Secepatnya Rode membalas. Adu pukul antara Iyan dan Rode terjadi. Sebuah tinjuan Rode mengenai dada Iyan hingga membuat Iyan terlempar ke lemari.
“Uhukkk!” Iyan memuntahkan darah.
“Ayo, Yan! Status pertarunganku tidak akan meningkat kalau Kau berhenti sekarang. Setidaknya naik satu poin sebelum masuk Dunia Virtual.” Rode memprovokasi.
Iyan balik menantang. “Baik, mari kita bertarung di belakang gedung sekolah!”
Rode ternyata menolak dan ingin menyelesaikan urusan dengan cepat. “Kau ingin membuang waktuku?! Kalian, hajar Dia!” Anak buah Rode maju menuju Iyan. Enam melawan satu.
Kondisi fisik Asna tiba-tiba membaik. Walaupun rasa pusing masih menghinggapinya. Pejuang Virtual memang berbeda dengan manusia biasa.
Asna membuka peruntungan dalam pertarungan. Skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga] memang tidak bisa digunakan untuk bertarung. Tapi Asna bisa fokus pada dua hal berbeda sekaligus. Ini dapat digunakan untuk menghidari serangan.
Enam anak buah Rode menerjang Iyan. “Dasar pengecut!” Iyan mengutuk seraya mengayunkan tinjuan. Asna mulai bangkit dari tempat tidur, membantu Iyan berkelahi. Sambil berpikir hal lain tentunya.
Asna bisa fokus pada pertarungan sambil berpikir tentang status pertarungan. “Status pertarungan. Nah, ini yang sering disembah para Pejuang Virtual. Lima indikator yang mendukung kemampuan bertarung. Wajar memang disembah karena pengaruhnya sangat signifikan dalam menentukan kemenangan. Kekuatan, Daya Tahan, Kecerdasan, Ketangkasan, dan Mentalitas.”
Pukulan seorang anak buah Rode sudah begitu dekat dengan wajah Iyan. Untungnya Asna berhasil melayangkan pukulan ke arah orang itu sembari memikirkan keberadaan lima indikator petarungan pada diri manusia.
“Pada dasarnya semua manusia memiliki kelima hal itu. Disadari ataupun tidak. Manusia dapat meningkatkannya melalui latihan. Adapula yang mendapat peningkatan status pertarungan melalui warisan... Kasus lain, ya, menggunakan equipment atau bersekutu dengan makhluk lain.”
Desiran angin terdengar. Sebuah pukulan hampir mengenai Asna. Satu pukulan yang lain turut mengincar Asna. Beruntung Iyan bisa menyelamatkan Asna dengan satu tinjuan.
Asna masih membagi tugas kepada dua ranah pikirannya. Satu untuk bertarung, satu lagi untuk berpikir. “Setelah Aku diwariskan pengetahuan dan pengalaman oleh Ayah, lagi-lagi Ia membuatku penasaran. Kenapa Aku tidak diwariskan status pertarungan miliknya...?”
Kini giliran Asna yang menyelamatkan Iyan. Sebuah tinju dari Asna melayang ke rahang anak buah Rode yang mengincar Iyan.
“Dibanding dengan rekan-rekannya, status pertarungan Ayah memang sangat payah. Walau demikian, tidak ada rekan-rekan atau musuh sekalipun meremehkannya. Itu terlihat dari memori yang Ia berikan kepadaku.” Asna masih berpikir dengan salah satu ranah pikirannya.
Sambil terus berpikir, Asna masih bisa mendengar perkataan Rode yang tertarik setelah melihat enam anak buahnya kesulitan menghadapi Duo Asna-Iyan. Rode langsung menerjang. “Ini baru pertarungan! Rhaaa...!!!”
“Atau mungkin sebagian pengalamannya telah Ia hapus di memori ini. Ah, Aku berburuk sangka dengan Ayahku sendiri!” pikir Asna yang kemudian memfokuskan dua pikirannya pada Rode.
Tiba-tiba saja Rode memukul Iyan tanpa sempat Asna halangi. Iyan terlempar ke dinding.
Kini giliran Asna yang menjadi sasaran Rode. Pukulan demi pukulan dari Rode mengarah kepada Asna. Tidak ada satupun dari pukulan ini mengenai Asna. Tak heran, kini Asna memusatkan semua pikirannya kepada gerakan Rode. “Rupanya tidak sulit menghindari gerakan Rode,” pikir Asna.
Asna telah memfokuskan satu pikirannya pada gerakan tangan Rode. Sedangkan satu pikiran lagi fokus pada gerakan kakinya.
Pola serangan pada dasarnya adalah kombinasi antara kuda-kuda dan pukulan atau tendangan. Saat kaki kiri menjadi tumpuan, kaki kanan atau tangan kanan yang dilayangkan untuk menyerang. Begitu pula sebaliknya.
Ini hanya sekedar teori dari warisan Ayah Asna yang Ia praktikan saat berlatih bertarung dengan Iyan.
“Boleh juga Kau, Na! Belajar di mana?” Rode masih terlihat santai setelah tidak ada satupun serangannya mengenai Asna.
“Iyan...?” Asna merasakan Iyan sedang mencari kesempatan menyerang Rode. Asna hanya perlu menunggu waktu yang tepat menyerang kaki Rode hingga Iyan bisa melepaskan tinju ke wajahnya. Mata Asna memancarkan cahaya. “Ini waktunya...!”
Sambil merunduk dan memutar kaki, tumit Rode berhasil Asna tendang hingga membuatnya oleng, hendak terjatuh. Iyan melompati tubuh Asna, lalu mengayunkan pukulan ke arah Rode. Tinju Iyan sukses menghempaskan Rode ke lantai.
“Boosss...!!!” Anak buah Rode bergerak maju. “Mundur!!!” titah Rode.
Dengan hidung dan pipi penuh darah, Rode bangkit. Tubuh Rode seketika mulai membesar seiring melebatnya rambut di tangan dan wajahnya. Ini kemampuan meminjam kekuatan Makhluk Virtual!
Iyan menatap tajam ke arah Rode. “Kau tidak malu jadi monyet di sekolah?” ejek Iyan.
“Hihihi...” Rode tertawa mengikik. Tiba-tiba sorot mata putih Rode memancar! “Monyet Kau bilang? Ini Bekantan. Lebih tampan dari monyet.”
“Ku pikir monyet ya bekantan. Bekantan, ya, monyet. Kau sepertinya bosan jadi manusia.” Iyan masih mengejek. Sejauh pengetahuannya, makhluk virtual jenis monyet biasa tidaklah mempengaruhi status pertarungan seseorang.
Aura berwarna kuning kecoklatan terlihat mengitari seluruh tubuh Rode yang kini telah berubah sepenuhnya. Seketika Rode menatap Iyan. “Yan!” Asna mencoba mengingatkan Iyan, tapi sudah terlambat!
Suatu skill dari Rode...
[HANCHED==)))))))PUNCH(((((((==]
Pukulan Rode membuat suara gaduh nan menggelegar. Asna dan Iyan terkena pukulan bertenaga dari Rode hingga membentur kaca jendela dan terlempar keluar sekolah. Gemericik pecahnya kaca terdengar begitu nyaring. Sayang sekarang sekolah sudah sepi.
“Uuukkhhh...” Asna merintih kesakitan. Ia lalu memandang ke arah Iyan. Seluruh tubuh Iyan mengalami luka yang cukup serius. Iyan saat ini sedang tidak sadarkan diri.
Rode menampakkan wajah berambut perunggu dan mata putihnya di jendela yang pecah. “Rhoooo...! Tetaplah di situ!!!”
Ini adalah sekutu Rode...
--Roh Bronzehair Bekantan--
Makhluk virtual jenis spiritual. Asna sangat paham dengan jenis ini. Dapat dimanfaatkan manusia untuk meningkatkan status pertarungan. Tapi harus ada kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak sebelum memutuskan untuk bergabung.
Sekarang kekuatan Rode dapat dikatakan dua kali lipat dari sebelumnya. Judul status Rode sekarang tentu saja...
--Pendekar Bekantan--
“Dengan kondisi Iyan saat ini walaupun kepalaku tidak lagi pusing, tidak mungkin Aku bisa kabur dari Rode.” Asna mengerti situasi saat ini jauh dari menguntungkan.
“Rhoooooo...!!!” Rode meraung setelah keluar lewat jendela. Tingginya ternyata mencapai dua meter. Kalau Roh Bekantan mengambil alih kesadaran Rode, maka Asna dan Iyan pasti mati! Benar sekali, Rode biasanya akan pergi setelah Iyan babak belur seperti saat ini. Tapi sekarang dia masih ingin bertarung.
Rode yang telah berubah menjadi Pendekar Bekantan memperlihatkan kepalan tangannya yang beraura coklat. “MAAATIIII...!”
Baru mendapat warisan dan belum pernah bertarung dengan Pejuang Virtual yang bersekutu dengan Makhluk Virtual, membuat Asna cemas. Ia bergegas meninggalkan Iyan yang masih tidak sadarkan diri dengan merangkak. Berharap Pendekar Bekantan tidak menyerang Iyan.
__ADS_1
Namun ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Pendekar Bekantan memfokuskan pandangannya pada tubuh Iyan. Rode yang sedang dirasuki Roh Bekantan Biasa seperti hendak membunuh Iyan.
Mencoba menyelamatkan Iyan, Asna berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya saat ini. Memasang kuda-kuda sambil melangkah ke depan untuk melakukan serangan.
Asna mengambil satu langkah gontai...
Dua langkah berikutnya terlihat santai.
Terakhir, tiga langkah cepat!!!
Asna sudah begitu dekat dengan Pendekar Bekantan. Hanya 70 senti meter!
Seketika Asna melancarkan pukulan ke rahang Pendekar Bekantan. Sayang, pukulan ini tidak sedikitpun memberikan dampak kerusakan. Pada akhirnya Pendekar Bekantan memukul balik Asna. Desiran angin terasa di hidungnya.
Walau tidak tepat sasaran, kecepatan pukulan Pendekar Bekantan ternyata menimbulkan gelombang energi yang menyebabkan dagu Asna tergores. Sebuah pukulan uppercut lagi-lagi hampir mengenai rahang Asna. Kembali wajah Asna tergores. Kali ini goresan luka muncul dari dagu hingga pelipis kiri.
Asna berpikir untuk mundur. Kondisi kesehatannya sangat tidak mendukung.
Tapi... Empat pukulan dilancarkan Pendekar Bekantan ke arah Asna secara bertubi-tubi dan sangat cepat. Masih tidak tepat sasaran memang, tapi meninggalkan empat goresan luka di dada Asna.
Sama seperti saat melawan Rode, Asna menggunakan dua ranah pikirannya untuk fokus pada dua hal. Pertama gerakan tangan, kedua gerakan kaki. Hanya saja gerakan Rode dalam wujud Pendekar Bekantan sangat gesit. Asna jelas kesulitan untuk menghindar.
“Hah?!” Asna kaget melihat Pendekar Bekantan merubah pola serangannya. Kaki kanan menjadi tumpuan, tangan kanan meninju ke arah leher Asna.
Gerakan ini dapat dilihat Asna. Namun posisi Asna tidak memungkinkan untuk menghindar.
Pada akhirnya Asna hanya bisa menyilangkan kedua tangannya untuk bertahan dari serangan Pendekar Bekantan.
Suara ledakan yang menggelegar terdengar saat pukulan kelima mengenai tangan kiri Asna hingga terkilir. Asna terlempar sampai 15 meter. “Aaagggghhhh...!!!”
Pendekar Bekantan berpaling ke arah Iyan. “Oh, tidak! iyan!!!” Asna gelagapan. Melirik kesana-kemari mencari apapun untuk dijadikan senjata.
Asna mengambil ranting pohon. Tapi itu terlalu lemah.
Menoleh ke kanan, Asna melihat batang pohon. Kuat cuma terlalu berat.
Tepat di bawah jendela tempat Asna tergantung tiga bulan yang lalu, ada sebuah shock absorber Sepeda Motor. Keras dan tidak terlalu berat. Ini pilihan yang tepat.
Dengan sempoyongan Asna berjalan menuju [Shock Sepeda Motor]. Usai mengambilnya, Asna berbalik melihat Pendekar Bekantan.
“Oh, no!” Asna kaget melihat Iyan yang sudah diangkat Pendekar Bekantan dan hendak diberi pukulan. “Hanya ini yang bisa Aku lakukan, Yan...” pikir Asna sembari melempar benda yang ada ditangan kanannya ke arah Pendekar Bekantan.
Kepala Pendekar Bekantan sedikit bergetar setelah terbentur lemparan. Pendekar ini lalu menoleh ke Asna.
Kala itu [Shock Sepeda Motor] masih melayang di udara. Dengan segenap tenaga Asna menyambutnya hingga terguling di tanah.
Pendekar Bekantan kembali fokus pada Iyan sambil mengayunkan sebuah tinjuan. Sekali lagi Asna melemparkan [Shock Sepeda Motor] ke arah Pendekar Bekantan seraya berteriak, “HANCURKANLAH!”
Usai melesat dengan cepat, [Shock Sepeda Motor] membentur keras kepala Pendekar Bekantan hingga menimbulkan suara dentuman.
Lemparan Asna kali ini sangat telak karena membuat Pendekar Bekantan terjatuh ke tanah. Iyan pun terlepas dari cengkramannya.
“BOOOOOOOSSSSSS...!!!” Anak buah Rode berlari menyambut Pendekar Bekantan. “Bosss!!! Cepat, bawa ke rumah sakit! Kepalanya bocor.”
“Ambil mobil!”
“Maksudku panggil ambulan!”
“Cepat, hentikan pendarahannya dulu!!!”
Panik, enam orang anak buah Rode mengangkat tubuh Pendekar Bekantan meninggalkan Asna dan Iyan.
Asna berbaring di samping Iyan. Saat ini Ia benar-benar sudah hampir tidak ada tenaga lagi. Butuh asupan nutrisi. “Satu gigitan nyamuk saja bisa membuatku tewas seketika,” pikir Asna. Ia lalu berpikir ulang. “Ah, itu tidak mungkin. Nyamuk tidak punya gigi!”
Suara gesekan rumput terdengar. [Shock Sepeda Motor] terjatuh dan berguling di samping Asna. Setelah sesaat memandang [Shock Sepeda Motor], Asna menoleh ke arah entitas misterius.
“Tupai? Kok hijau? Aku berhalusinasi! Kematianku tak terelakkan....” Asna tertegun melihat entitas yang ternyata seekor tupai.
Berbeda dengan tupai kebanyakan, tupai yang berada di dekat Asna sekarang berwarna hijau. Lebih tepatnya berwarna hijau kekuning-kuningan. Warna khas yang tidak dimiliki tupai biasa. Bahkan Makhluk Virtual jenis Tupai sekalipun.
Warna tupai itu sangat mirip dengan warna minuman keras dari Perancis, Chartreuse. Bisa dibilang, Hijau Chartreuse.
Sebotol air minuman mineral dilempar si tupai. Menimbulkan suara berdesir. Asna dapat dengan mudah menangkapnya, walau sambil berbaring.
“Benar sekali, Aku sangat haus....” Asna langsung mengambil botol itu dan mulai meneguk airnya hinggal tinggal seperempat. “Sisanya buat Iyan, nih. Cukup gak, ya?”
Asna berusaha untuk berjongkok lalu memanggul Iyan. Ia ingin membawanya ke ruang UKS.
Tidak ketinggalan, Asna memungut [Shock Sepeda Motor] yang membantunya mengalahkan Rode. “Kau temanku sekarang. Bagian dari diriku. Kita telah bersama-sama menyelamatkan Iyan,” ujar Asna.
Asna meranyau, antara sadar dan tidak sadar. “Shock ini harus Ku beri nama. [Execution of Shock]?! Keren, nih... Ya, [B-Shock]... Siapa itu? Siapa... i....”
Seketika Asna terjatuh tak sadarkan diri. Daya tahan Asna sekarang sudah mencapai ambang batasnya.
-----------------------------------
Asna memandang ke sekelilingnya sesaat setelah sadar.
Ia tidak tau kalau sedang berada di ruang inap Rumah Sakit Umum.
Tadi malam bersama Iyan, Asna ditemukan tidak sadarkan diri di belakang gedung sekolah oleh warga yang lewat.
Tiba-tiba saja Asna teringat tupai yang memberikannya sebotol air mineral. Tupai itu berwarna hijau chartreuse.
Asna juga teringat shock sepeda motor yang membantunya mengalahkan Pendekar Bekantan, Rode. Entah siapa yang menginstruksikannya memberikan shock itu nama B-Shock.
Yang jelas, Tupai dan B-Shock tidak ada bersamanya saat ini.
“Ini...?!” Guratan kaget tergambar di wajah Asna.
Pemandangan berbagai bentuk manusia dengan kondisi mengerikan memenuhi ruangan! Sosok yang tak sedap dipandang mata. Asna sudah sering melihatnya, tapi Ia masih merasa ngeri.
__ADS_1
“Cu....” Terdengar suara tua dan bergetar ke telinga Asna. “Ancriiitt...! Pergilah... pergilah... Aku masih belum terbiasa!”
“Tenang saja, Kau tidak akan apa-apa....” Suara seorang tua ini terdengar seperti manusia biasa. Ia adalah seorang kakek keriput berambut cepak berusia 80 tahun. Bernama...
--Datu Busu--
“Maaf. Aku lagi tidak enak badan....” Asna asal saja memberi alasan. Datu Busu tersenyum seperti bayi tanpa gigi. Bedanya tidak ada kesan imut dari senyuman itu.
Sambil tersenyum kakek itu menyahut, “Tidak enak badan atau tidak enak perasaan? Kau harus terbiasa dengan yang seperti ini. Bukalah matamu....”
Saat Asna hendak membuka matanya, Datu Busu menyentuh tangan Asna.
Mata Asna terbelalak.
Ia memandang jendela kaca. Lalu beralih ke lampu.
Melihat ke sekeliling, Asna menyadari ruangan yang ditempatinya sekarang adalah ruang inap rumah sakit. Ruangan itu dipenuhi tirai-tirai yang menjadi sekat antara pasien satu dengan pasien lain.
Sosok mengerikan sudah tidak terlihat...
Tiba-tiba Datu Busu melepas tangannya. Sosok halus kembali muncul!
Asna segera menutup matanya dengan tangan kanan. Hanya tangan kanan karena tangan kirinya masih terkilir.
Melihat Asna ketakutan, Datu Busu dengan sopan meletakkan kakinya ke perut Asna. Seketika sosok halus tak lagi terlihat.
Dengan santai Datu Busu menerangkan perihal cara menutup pandangan dari makhluk halus. “Kebanyakan pejuang muda mengalami hal serupa denganmu. Tidak stabilnya jiwa menyebabkan kebocoran mata batin. Akhirnya mereka yang sebenarnya tak kasat mata jadi terlihat. Ini bisa mengakibatkan ‘bukan masalah yang menjadi masalah.’ Kau mengerti maksudku?”
Asna mengangguk.
“Mengangguk tanda tak paham. Aku mengerti itu,” sindir Datu Busu seraya menatap sinis ke arah Asna yang sebenarnya kurang paham.
“Maksudku, dapat melihat makhluk halus bukanlah masalah asal sudah terbiasa. Tapi ini akan menjadi masalah saat Kau tidak melihat jalan saat makhluk ini berkumpul. Kau bisa celaka saat berkendara,” lanjutnya.
“Betulkah? Bagaimana caranya biar jiwa bisa stabil?” Asna tentu akan tertarik untuk tidak lagi melihat makhluk halus.
Datu Busu menunjuk telinga Asna di saat kaki kurusnya masih di perut Asna. Ia lalu menginstruksikan, “Pikirkan apa yang Kau senangi... Tidak perlu mengusap mata. Saat jiwamu stabil, mata batinmu dapat terbuka dan tertutup dari pandangan makhluk halus, sesuka hatimu.”
“Memikirkan yang Ku senangi? Semudah itukah?” Asna membatin.
Ia lalu mulai memikirkan apa yang dirinya senangi, wanita dewasa yang cantik dengan daster longgar. Sekarang hati Asna menjadi senang, bergelora...!
“Hahaha... Anak nakal! Memikirkan wanita bukannya membuat jiwamu tenang, tapi terangsang!!!” Datu Busu tertawa sejadi-jadinya.
Dua menit kemudian Datu Busu masih tertawa.
Begitupun dengan lima menit setelahnya.
Pada menit kesepuluh, Datu Busu mulai sulit bernafas. “Ah-hah-hah... Sakit perutku tertawa. Nafasku sesak... Tapi ini bukan karena virus korona.”
Momen Datu Busu tertawa dimanfaatkan Asna untuk belajar menstabilkan jiwa. Ia pun berhasil dengan memikirkan ayah dan ibunya. Sosok yang dicintainya.
“Nah, seperti itu jauh lebih baik. Kau harus berhati-hati dengan tiga ‘ta’ di dunia ini. Harta, tahta dan wanita. Semua itu sudah Aku dapatkan. Tapi jadi apa? Itu semua bukan puncak kenikmatan tertinggi. Aku tidak puas dengan tiga ‘ta’ itu,” terang Datu Busu.
“Bagiku, tiga ‘ta’ itu wanita, kuota, dan meta, sih. Hehehe… Di luar dari itu, Saya berterima kasih dengan Om karena saya tidak lagi melihat makhluk halus atau virtual atau apapun namanya.” Asna lalu menundukkan kepalanya memberi hormat.
Wajah Datu Busu berubah kerucut. “Mendengar Kau memanggulku ‘Om’ bulu kudukku terasa merinding! Aku ini sudah tua. Cukup panggil Aku Datu Busu. Oke?”
“Ya, Datu. Terima kasih atas bantuannya. Dengan begini Aku dapat hidup normal.” Asna mengelus dadanya.
Mendengar ucapan Asna, Datu Busu mengangkat kaki lalu menghempaskannya ke perut Asna. Asna ingin mengerang, namun mulutnya tertutup rapat. Tak ayal air liur menyembur di sela-sela bibirnya.
“Kau pikir Pejuang Virtual itu bukan orang normal?!” bentak Datu Busu dengan mata melotot. Ia kemudian memandang ke plafon. “Kalau dipikir lagi, kami memang melebihi orang normal! Hahahaha...!” gumam Datu Busu sembari mengangkat kaki lalu menghempaskannya kembali ke perut Asna. Air liur Asna lagi-lagi menyembur.
Setelah menyapu bibir, Asna menerangkan, “Maksudku, Aku ingin menjalani hidup sebagai Pejuang Virtual. Tapi tanpa berjuang di alam itu....”
"Kau jangan sok bodoh!" sahut Datu Busu.
Datu Busu tertegun sejenak. Ia merasa ada rahasia yang Asna coba sembunyikan.
Sebagai Pejuang Virtual yang berpengalaman, Datu Busu dapat mengetahui karakter orang lain dan menebak apa yang ada di pikiran mereka.
Selain itu, selama ini Ia tidak pernah bertemu pemuda yang tidak memiliki semangat setelah mendapat pengetahuan virtual. Padahal jaminan menjadi orang yang hebat terlalu menggiurkan. Menjadi Pejuang Virtual tanpa berjuang sama saja bukan pejuang. Bagi Datu Busu, permainan kata Asna terlalu dipaksakan.
“Karena Kau mengambil sikap seperti itu, Aku minta bayaran 100 juta Rupiah dari bantuanku barusan,” terang Datu Busu sambil memperlihatkan jari telunjuk kepada Asna.
“Se-seratus juta?!” Asna keget. Dengan gelagapan Asna mencoba memprotes pernyataan Datu Busu. “A-Ku tidak punya uang sebanyak itu! Aku gelandangan yang masih sekolah....”
“Aku tidak peduli. Kalau Kau tidak bayar, Aku akan mematahkan lehermu!” tegas Datu Busu.
“Bolehkah Aku menyicil?”
“Tidak bisa. Kau harus bayar cash, sekarang!”
“Bagaimana mungkin?! Aku tidak punya uang. Juga tidak mau mati. Tidakkah Kau kasihan?” Asna memelas dan matanya mulai berair.
“Bagaimana kalau Kau bekerja di kedai kopi milikku? Tentu saja sampai utangmu lunas....” tawar Datu Busu.
“Jika itu satu-satunya jalan. Baiklah....” Akhirnya Asna setuju dengan berat hati. Ia pun membatin, “Kalau tau begini jadinya, Aku lebih memilih tetap melihat makhluk halus. Jadi pejuang seperti Ayah sangat beresiko.”
“Jangan berpikir macam-macam. Padahal kalau Kau mau menjadi Pejuang Virtual, Aku akan mengikhlaskan bantuanku tadi,” terang Datu Busu seolah membaca pikiran Asna.
“Yah, jadi kalian ikhlas membantu sesama dan meminta bayaran kepada masyarakat umum. Aku jadi lebih tidak tertarik meningkatkan status pertarungan. Tidak masalah bagiku bekerja di kedai kopi asal masih bisa lanjut sekolah dan mendapatkan hak libur.” Asna masih terlihat tidak puas.
Datu Busu kembali menerangkan. “Kedai kopi milikku adalah markas Paguyuban Super Hero Tutur Pantun. Kami harus menuntut bayaran. Soalnya tidak ada bantuan pemerintah untuk kami. Kalau hanya itu tuntutanmu, Aku setuju.” Datu Busu menganggap permintaan Asna tidak sulit.
Tidak lama, perawat berusia 21 tahun datang membawakan santap siang untuk Asna dan Datu Busu. Mata Asna sempat tidak berkedip melihat kecantikan nan maha dahsyat yang memancar dari tubuhnya. Walau berusia muda, wanita ini terlihat seperti sudah bersuami.
Sambil meletakkan santapan siang dan beberapa obat, Perawat itu berkata, “Suamiku, siang ini Kau sudah bisa pulang. Tekanan darahmu sudah normal. Tapi Kau harus menjaga pola makan setelah ini.”
Sambil meletakkan santapan siang dan beberapa obat, Perawat itu berkata, “Suamiku, siang ini Kau sudah bisa pulang. Tekanan darahmu sudah normal. Tapi Kau harus menjaga pola makan setelah ini.”
__ADS_1
Bibir Asna bergetar saat mendengarkan perkataan si perawat. “Suamiku?! Apa Aku tidak salah dengar...?”
***