Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 33 Empat Manusia Super


__ADS_3

Ch. 33 Empat Manusia Super


Pada chapter sebelumnya, Jiwa Selasa berhasil menemukan wanita yang dicari Datu Busu. Wanita bernama Nona Pinki itu sedang berada di Istana Tengkorak untuk menyelamatkan Boneka Biosilk.


Tuwill yang juga berada di sana berhasil bergabung dengan sosok ungu dari diri Asna, Darkmanday.


Di lantai dua, prajurit tengkorak yang menjadi lawan Asna dan pejuang virtual lain seolah tiada habisnya. Semua yang ada di sana kewalahan.


Kala itu, lagi-lagi jiwa Selasa berhasil melakukan penemuan. Rupanya ada pabrik pembuatan prajurit tengkorak di tubuh Raja Tengkorak.


Tiga boneka Biosilk dikurung di tempat itu pula. Boneka Biosilk kucing hitam bernama --Lusi--, Biosilk macan dahan bernama -- Faris-- dan Biosilk beruang madu bernama -- Benjo --.


Seorang nenek tua mengambil Boneka Biosilk kucing hitam, Lusi, dari kurungan dan bergabung menjadi wanita dewasa dengan pakaian hitam ketat.


“Hihihi…! Aku akan mencoba pesonaku di bawah sana… Hihihi…!” Si Nenek segera menghilang. Meninggalkan seberkas asap hitam.


---------------


Saat ini Darkmanday sedang berdiri di lantai empat istana sambil menatap dada Raja Tengkorak. Nafsu sosok lain dari diri Asna itu tidak akan terpancing melihat dada ini.


Dada rata yang dibuat dari tengkorak kepala!


Darkmanday lalu menatap Nona Pinki, gebetan Datu Busu. Mengingat sosok Datu Busu di dalam benaknya, membuat Darkmanday yang tidak lain adalah Asna tidak berani berpikir mesum terhadap wanita ini. Padahal Nona Pinki masuk ke dalam buku kategori wanita idamannya.


Asna yang saat ini berada di barisan belakang pejuang virtual di lantai dua, memegang keningnya. Rasa sakit menyergapi otaknya. Gerakan ini sama persis dengan yang dilakukan Darkmanday. Setelah memegang kening, Darkmanday lalu menyilangkan kedua tangannya seraya bergumam, “Ini jurus improvisasi. Skill [Unlock] dan jurus pedang ciptaan cucuku, Tebasan Empat Arah Angin… Jurus Pedang Kosong...!”


Seolah sedang menebaskan pedang, Darkmanday mengayunkan kedua tangannya secara vertikal dan horizontal. Gerakan tangan Darkmanday sangat cepat hingga membuat udara di sekitarnya bergetar. Terus bergetar sampai dada Raja Tengkorak berlubang!


Lubang itu berbentuk segi empat dengan potongan yang sangat rapi.


“Nenek, Aku telah melubangi dada tengkorak itu. Aku akan melemparmu ke dalam sana. Bersiaplah!” ujar Darkmanday.


Nona Pinki kebingungan saat disebut nenek oleh Darkmanday. “Nenek? Apa maksud Anda…?”


Darkmanday kemudian menjelaskan, “Datu Busu yang telah menyuruh Kami mencarimu. Si Tua itu bilang kalau Kau adalah gebetannya. Kalau Kau jadi istrinya, Kau pasti dipanggil Nenek!”


“Datu Busu?!” mata wanita itu terbelalak mendengar nama Datu Busu. Wajahnya kemudian memerah. “Ternyata pria jantan itu ada hati denganku… Baiklah, Aku akan berusaha untuk tidak tewas di sini. Lemparlah Aku kesana!”


Darkmanday, begitupun Asna menahan diri dari berpikir buruk terhadap wanita ini. Terlebih memikirkan alasan kenapa Datu Busu berada di posisi impiannya selama ini. Tapi yang jelas Asna sangat kesal dengan situasi demikian, bahkan lubuk hatinya yang paling dalam merasa mendidih.


Darkmanday lalu melempar Nona Pinki sekuat tenaga, tanpa perasaan! Gebetan Datu Busu itu meluncur deras ke dalam lubang.


Darkmanday kaget. Ia telah melakukan blunder saat cemburu menghantuinya. “Alamak! Kalau si doi tewas, Aku pun bisa tewas!” Segera Darkmanday berlari untuk melompat ke dalam tubuh Raja Tengkorak.


Sial, Darkmanday salah perhitungan. Kakinya menginjak udara saat ingin melompat. Tentu saja Ia meluncur ke bawah.


Ini membuktikan kalau Asna belum terbiasa dengan tubuh super Darkmanday.


Tepat di saat Darkmanday meluncur, Nenek Sensual yang mengenakan kostum Biosilk Kucing Hitam muncul di lantai dua.


Kehadirannya mengundang perhatian para pejuang virtual yang ada. Mereka sudah begitu kewalahan menghadapi prajurit tengkorak. Ditambah dengan Super Hero Nenek-Nenek, situasi menjadi semakin sulit.


Nenek Sensual lalu melakukan perkenalan. “Hihihi… Perkenalkan, Aku…”

__ADS_1


Belum sempat memperkenalkan diri, si Nenek dijatuhi tubuh Darkmanday yang meluncur dari lantai empat. Benturan Darkmanday di atas tubuh si Nenek mengeluarkan suara dentuman.


Si Nenek langsung tewas!


Tewasnya si Nenek menyebabkan Raja Tengkorak roboh. Begitu pula dengan prajurit tengkorak. Para pejuang virtual langsung tersenyum gembira. Mereka sudah sangat lelah saat ini.


Hanya Neon dan Iyan yang jadi pengecualian. Melihat Raja Tengkorak roboh, Neon langsung sembarangan protes. “Seharusnya Aku yang mengalahkan bosnya! Dasar tidak tau aturan! Aku tokoh utamanya di sini!”


Iyan juga menunjukkan wajah tak suka. “Tidak masalah kalau bukan Aku yang mengalahkan. Tapi setidaknya, kalahkan dengan cara epic! Sekarang ceritanya jadi tidak menarik…”


Gemuruh tulang belulang yang roboh semakin terdengar.


Melihat tulang belulang dan berbagai equipment perunggu mulai membanjiri lantai dua, Gadis berseru, “Bahaya! Cepat naik ke lantai atas!”


Gadis melompat dan menaiki tulang belulang yang meluncur bak tsunami.


Setelah sampai berpijak pada anak tangga, Tuwill dan Lusi datang menghampirinya. “Mana orang yang tadi bersamamu?” tanya Gadis. Tuwill menggeleng bingung seraya menjawab, “Entahlah! Tiba-tiba saja Ia menghilang!”


Saat gelombang tulang belulang mendadak datang, Iyan, Neon dan pejuang virtual lain tidak sempat menghindar. Mereka tertelan tumpukan tulang!


Asna sebenarnya sempat melompat mengikuti Gadis.


Namun karena terlalu banyak berpikir dan kurang asupan makanan sehat, Asna mengalami gastrisis dan memuntahkan cairan asam.


Ia mengambil satu kaplet obat maag dari saku celananya. Sejurus kemudian Ia membaca masa kadarluasa obat. “Expired setahun yang lalu! Pantas, ancriiit…!”


Rasa perih di lambung membuat Asna merintih kesakitan di atas tumpukan tulang. Semua pikirannya menghilang begitu saja. Pastinya Darkmanday ikut hilang.


Gadis hanya melihat sosok Asna yang sedang pingsan mengikuti aliran tulang belulang. Ia ingin menolong. Tapi aliran tulang yang bergerak turun menuju tangga ke lantai satu begitu cepat.


Saat Gadis mencapai lantai tiga, ada sosok Super Hero mengenakan kostum berwarna abu-abu, berbelang putih. Kain putih melilit lehernya seperti Darkmanday kala mengenakan Tuwill. “Itu Faris!” seru Lusi.


“Faris?! Siapa yang telah menggunakannya?” Gadis sangat kebingungan saat ini.


Sosok yang menggunakan kostum Biosilk Faris seketika menoleh ke arah Gadis. “Terima kasih sudah membawakan boneka itu kepadaku. Hahaha…!”


Tiba-tiba saja Pengguna Faris muncul di hadapan Gadis, sebuah pukulan Ia lancarkan. Tuwill sempat memasang badan dan terkena pukulan. Ia terlempar bersama Gadis.


Lusi tidak mau tinggal diam. Ia langsung menyerang Pengguna Faris.


Tuwill ternyata masih memiliki vitalitas, begitupun dengan Gadis. Mereka berlari membantu Lusi. Pertarungan pun semakin intens terjadi.


Sebuah tendangan mengenai Tuwill yang kemudian meluncur ke arah Gadis. Mereka terlempar hingga ke dinding. Lusi mundur untuk memeriksa keadaan gadis itu yang terlihat memuntahkan darah. “Lusi, bawa Gadis naik ke lantai berikutnya…” titah Tuwill.


“Kau jangan sok keren, kucing!” Lusi tampak marah dengan sikap Tuwill.


-------------------


Di kala Gadis, Lusi dan Tuwill bertarung melawan Pengguna Faris, kepala Neon keluar dari dalam tulang belulang di lantai dua.


Tubuh bocah itu berangsur-angsur turut keluar dengan sendirinya bahkan sampai terguling. Rupanya Nona Pinki yang mendorong Neon keluar dari tulang belulang.


Saat ini Nona Pinki sedang memeluk Biosilk beruang madu, Benjo. “Kau baik-baik saja, Nona?” tanya Benjo dengan nada penuh wibawa.

__ADS_1


“Harusnya Aku yang menanyakan itu,” protes Nona Pinki. Ia lalu dikejutkan dengan suara gaduh di lantai tiga istana. “Sepertinya ada keributan di lantai tiga. Ayo kita ke sana!”


Benjo dan Nona Pinki melompat di atas tumpukan tengkorak melewati Neon. Mereka memang tidak saling mengenal, jadi wajar tidak bertegur sapa.


Neon yang sedang menatap Benjo dengan wajah bodoh spontan berkata iseng. “Biocil, bersatu, yok…” ujar Neon.


“Hah?!” Nona Pinki kaget melihat tubuh Benjo bersinar. Benjo lalu berbalik melihat Neon. “Kau yang minta, nih...” Usai berucap demikian, mulut Benjo menganga lalu menerkam Neon.


Tubuh Neon lenyap begitu saja ditelan Benjo.


“Benjo… Kau membunuh orang lagi…” keluh Nona Pinki, prihatin. Benjo menunjukkan wajah menyesal. “Dia yang meminta. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di antara kami berempat, Akulah yang terkuat…” sesal Benjo.


Nona Pinki berjongkok di hadapan Benjo seraya berkata, “Tapi anak itu tidak bilang ‘biocil,’ bukan ‘biosilk.’ Aku mendengarnya dengan jelas.”


Benjo tentu saja kaget. “Begitukah? Pendengaranku tadi ‘biosilk’ yang dia bilang…”


“Kau harus membersihkan telingamu nanti. Ayo kita naik ke lantai tiga!” Nona Pinki kemudian melompat ke tangga lalu mulai mendakinya. Benjo mengikuti sesudahnya.


Di lantai tiga, Gadis terlihat sudah sekarat. Saat ini Ia memangku Lusi yang juga terluka parah. Jahitan Lusi terbuka sampai-sampai busa di tubuhnya ikut keluar.


Tuwill masih bisa berdiri di depan Lusi dan Gadis walaupun tiga sobekan ditubuhnya tampak menganga.


Pengguna Faris berjalan dengan santai mendekati Gadis, Tuwill dan Lusi. “Kalian tidak akan seperti ini kalau menuruti perkataanku. Ikutlah denganku, maka akan Ku biarkan gadis itu hidup…” pinta Pengguna Faris.


Tuwill menolak permintaannya. “Kekuatan kami bisa mengacaukan kehidupan di bumi. Kami jelas menolak diperalat olehmu!”


“Kalau begitu. Akan Ku bunuh gadis itu!” Pengguna Faris langsung muncul tepat di atas kepala Gadis. Ia mengayunkan belati. Tuwill benar-benar tidak menduganya.


Belum sempat menusukkan belati ke kepala Gadis, Benjo meluncur, menanduk pundak Pengguna Faris. Suara dentuman terdengar saat benturan kepala Benjo dan Pengguna Faris bersinggungan.


“Benjo?!” seru Tuwill.


Benjo menghulurkan tangan kepada Tuwill. Dengan sigap Tuwill memegang tangan Benjo, lalu melemparkan Benjo ke arah Pengguna Faris. Suara dentuman kembali terdengar. Kali ini antara kepala Benjo dengan dinding istana.


Kesalahan yang terjadi menyebabkan kepala Benjo terjebak reruntuhan dinding.


Pengguna Faris kembali mengayunkan pisau kepada Gadis. Beruntung Nona Pinki masih dapat menangkis. Hanya saja Ia harus kembali ke tangga setelah tendangan Pengguna Faris menerbangkannya.


Melihat kondisi yang tidak mungkin lagi bisa berubah, Lusi merangkak menemui Pengguna Faris. “Baiklah. Aku akan ikut…” ucap Lusi dengan lirih.


“Lusi…” Tuwill menyambut keputusan Lusi dengan berat hati.


“Hahaha… Coba dari tadi!” ungkap Pengguna Faris yang langsung meraih Lusi, kemudian Tuwill. Ia lalu melirik ke arah Gadis.


“Sayang sekali, Dia tetap harus mati!” Pengguna Faris mengayunkan pisaunya ke leher Gadis.


“Gaaaadiiiiss…!!!” Lusi dan Tuwill berteriak histeris.


Gadis yang masih bisa menjaga kesadarannya bergumam, “Bergabunglah, Lusi…”


Tiba-tiba Lusi berpijar menyilaukan. Pengguna Faris tidak dapat melihat Gadis yang diterkam Lusi.


Setelah cahaya dari tubuh Lusi hilang, Pengguna Faris hanya menemukan Lusi dan Tuwill di hadapannya. Pengguna Faris mengalami keraguan terhadap hidup dan mati Gadis saat ini. Tapi Ia tetap membawa Lusi dan Tuwill.

__ADS_1


***


__ADS_2