Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 18 Penolakan Keseratus


__ADS_3

Ch. 18 Penolakan Keseratus


Bleck panik, sambil meremas rambutnya Ia berjalan kesana-kemari. “Aku tidak ingin keluar dari base! Kita sudah pasti kalah!!!”


“Astaga!” Ranggas kaget karena langsung mendapat giliran masuk ke arena. Ia kini berada tepat di bawah Resurrection Base! Tanpa tedeng aling-aling Tim B menyerang Ranggas dengan membabi buta hingga knock-out.


Kondisi Tim A semakin kritis setelah Novia terlihat memasuki wilayah jangkauan Aries Snake. Berturut-turut, Bustar yang baru keluar Resurrection Base langsung terkapar. Lalu Bleck yang belum sempat menginjakkan kaki ke lantai karena langsung hilang seperti debu.


Tinggal Buan yang masih di dalam Resurrection Base. Duduk termangu meratapi nasib.


Tim B kembali menyerang Aries Snake dengan santai. Mereka ingin menunggu Buan tentunya. Setelah pasukan virtual Tim B terakhir dihancurkan Aries Snake, Tim B memilih keluar dari jangkauan ular itu.


Aries Snake sangat kuat hingga Tim B harus menunggu gelombang  pasukan virtual berikutnya. Gelombang berikut ini akan menghadirkan pasukan virtual yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Benar saja, setelah hampir dua menit, pasukan virtual berzirah baja dan perak muncul. Sesaat setelah Buan keluar dari Resurrection Base. Tiada siapa yang ditunggu, Tim B langsung menyerang pasukan virtual Tim A. Belum sampai satu menit, Pasukan Virtual Tim A porak poranda.


Buan duduk bersembunyi jauh di belakang Resurrection Base. Tepat di saat pasukan virtual Tim B sedang dalam perjalanan. Novia menatap tajam ke arah Buan. “Kalau seperti ini... Ada waktu bagi musuh untuk mengumpulkan anggotanya.”


Asna berdiri dengan sombongnya di samping Novia. “Yan, Aku ada skill yang bisa membuatnya keluar dari base!” ujar Asna. “Benarkah?!” tanya Iyan, penasaran.


“Jangan kedipkan mata!” Asna lalu berdiri menghadap Buan, sejurus kemudian...


“Uwweeeek...!” seru Asna sambil menjulurkan lidah. “Kesini, kalau berani! Uweeekkk...!” Asna terus-terusan menjulurkan lidah. Sesekali Ia menurunkan kelopak mata bawahnya dan menepuk pantat.


“Huh...! Taunt Skill? Monyet juga bisa!” ledek Iyan.


Sesaat kemudian Buan terdorong ke depan Resurrection Base, seperti ada seseorang yang menendangnya! “Siapa itu?!” Buan berseru bingung.


Masuk dalam jangkauan serangan panah, membuat Hansel tidak menyia-nyiakan kesempatan. Si Ganteng segera memanah dada Buan.


Iyan turut berlari mendekati Buan. Hal ini tentu saja memancing serangan dari Aries Snake. Segera sebuah tendangan dari Iyan membuat Buan terlempar ke pagar base. Keluar dari Resurrection Base!


Mendapat serangan dari Aries Snake, Iyan bergegas keluar dari jangkauan ular ini.


“Uughh...!” Buan batuk darah. Tim B saat ini mengelilinginya. “Belum ‘End’ ini!” ledek Hansel.


Buan hanya terdiam membisu. Ia jelas merasa dilecehkan.


“Diapain, nih, bagusnya?” tanya Asna. Iyan menjawab, “Cuekin aja. Pasukan dah masuk base, kita selesaikan cepat.”


“Aku tidak minta minta ampun dengan musuh... Tapi mereka... memberiku belas kasihan...” Hati Buan berkecamuk. Ia tidak pernah diperlakukan seperti barang dagangan. Bak kupu-kupu jantan yang bekerja di separuh malam. Dibayar, tapi tidak dipakai.


Seluruh anggota Tim B menerjang Aries Snake dengan leluasa. Dalam waktu dua menit mereka berhasil membunuhnya.


“WHOOOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!!!” Lolongan panjang Aries Snake terdengar hingga ke aula serikat.


“HHHEEEEEEEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....!!! MANTAAAAAAPPPP...!!!”


Para peserta lain ikut bersorak. Mengapresiasi Tim A dan B yang mempertontonkan pertandingan yang sangat menghibur dan menginspirasi.


Zay Kumbang mengangguk. “Begitu ya, ‘Belum kalah selama musuh belum menang.’ Kalimat yang menggelorakan semangat.”


------------------------


Lima menit usai Tim B memenangkan pertandingan, giliran Tim C dan Tim D yang bertanding.


Di salah satu sudut aula serikat, Asna dan Iyan duduk bersebelahan melepas lelah. Tidak jauh dari mereka, Edi, Hansel dan Novia memilih untuk menyaksikan pertandingan berikutnya sambil menunggu hasil tes.


Hansel menoleh, lalu melirik Iyan. Sejurus kemudian si Ganteng melempar sebotol minuman kepadanya.


“Hap!” Dengan sigap Iyan menangkapnya. Lalu membuka tutup botol dengan santai.


“Aku lapar... Aku ingin balik dulu ke sekolah...” ungkap Asna. Ada jatah makan untuk panitia di sekolah.


Iyan mengusap bibirnya setelah meminum setengah botol minuman. Seraya memberikan botol minuman kepada Asna, Iyan membalas, “Kita cari makan di sekitar sini saja. Sekali-kali kita makan enak.”


“Maksudku seperti itu.” Asna terlihat senang. “Asyik... ditraktir lagi, nih,” pikir Asna.


“Lagi? Memang selalu seperti itu, kan?” tandas Iyan.


Mulut Asna semakin tersenyum lebar, tidak menyangka Iyan dapat menebak isi pikirannya. “Hehehe... Memang selalu seperti itu. Kau memang sahabat sejati!”


Dua sahabat ini meninggalkan aula serikat tanpa bertegur sapa dengan rekan setimnya. Lebih tepatnya, rekan setim beberapa saat yang lalu.


--------------------------

__ADS_1


Usai makan, Asna dan Iyan berbaring di atas rumput taman yang dekat dengan anak sungai Mahakam, Sungai Karang Mumus. Asna memulai percakapan. “Yan, soal itu...”


“Aku sudah dapat jawabannya,” potong Iyan.


“Hebat! Berarti Kau tidak perlu mengintrorasi lagi, kan?” Asna pura-pura girang dan salah melafal.


Iyan menatap sinis ke arah Asna. “In-te-ro-gra-si. Jangan-pura-pura-****!”


“Terima kasih sudah meralat. Tapi...” Asna ingin menceritakan sesuatu. Namun, lagi-lagi...


“Ya, Aku tau...” Iyan memotong perkataan Asna. “... Kau sudah memiliki skill yang dapat membantu tim. Support Skill. Yang membuatku bingung, kapan kau mendapatkannya? Padahal tidak ada satupun rahasiamu yang aku tidak ketahui....”


“Hah?! Sampai situs JA... Astaga....” Asna berseru kaget, lalu menjatuhkan kepalanya ke tanah.


“Kalau yang itu aku sudah pasti tau! Lain kali hapus riwayat situs-situs yang Kau kunjungi!” kilah Iyan.


Dua sahabat ini lalu terdiam membisu. Seolah ada tayangan iklan lagi permisi. “Aku sudah beberapa kali masuk ke dunia virtual sistem arena seperti ini. Kau baru tadi. Normalnya... Ah, sudahlah....” lanjut Iyan.


“Aku juga tidak tau kenapa bisa begitu....” balas Asna.


Iyan berbalik menatap Asna. “Bagaimana dengan Map Hack?!”


“Map Hack?! Aku juga kaget waktu melihatnya....” jawab Asna seadanya.


Senyum lebar tergambar di wajah Iyan. “Sepertinya.... Ya, ada yang membantu kita dari luar sana.”


Asna mengangguk. “Bisa jadi...” ucapnya yang lalu meresapi suasana hening menjelang tengah hari.


Sambil menatap arak-arakan awan di langit, Asna mulai melamun.


-----------------------------------


Di saat yang bersamaan, Godel menyelinap meninggalkan empat anggota timnya yang sedang asik menyaksikan pertarungan Tim E dan Tim F di aula serikat.


Tim Godel sudah bertanding. Mereka berhasil menang dalam waktu 15 menit.


Tiba-tiba seorang anggota serikat wanita menggenggam lengannya. “Ku perhatikan Kau sudah dua kali keluar masuk aula. Perilakumu sudah seperti pencuri saja…” terangnya.


Tidak habis akal, Godel menyemprotkan lem cair ke hidungnya. Sesaat kemudian Ia menampakkan wajah dengan hidung berlendir.


“Aku tidak tidur selama seminggu. Jadi wajar vitalitas dan mentalitasku sedang menurun…” Godel masih bisa berargumen.


“Kenapa ikut tes kalau sedang sakit?”


“Siapa tau penyakit ini membawa peruntungan.”


“Membawa peruntungan, katamu? Membawa wabah, iya!”


“Sudahlah… Lendir ini harus Ku buang, kan?”


“Ya, harus! Pergilah!”


Godel berjalan keluar aula serikat dengan diiringi si Wanita.


“Gunakanlah masker, pintar! Berada di tempat ini Kau tidak bisa menerapkan social distancing!”


Godel melirik ke arah si Wanita yang terus mengikutinya hingga ke selokan. Bahkan saat Godel mengeluarkan lem cair dari hidungnya. “Kalau seperti ini Aku tidak bisa ke mana-mana!” pikir Godel.


Ia lalu berjalan menuju toilet.


“Mau ke mana lagi?” tanya si Wanita.


“Ini harus dicuci, kan?!” Godel menunjukkan telapak tangan berlendirnya. “Atau Kau ingin menjilatnya?!” lanjut Godel.


“Jaga bicaramu, brengsek!” hardik si Wanita.


Godel terus berjalan menuju toilet. Ia baru berhenti setelah berada tepat di depan pintu. “Ingin bersenang-senang denganku di dalam…?” tanya Godel dengan nada menggoda.


“Setan alas!” si Wanita sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya. Segera Ia memanggil sebilah pedang sepanjang dua meter.


Dengan cekatan Godel memasukkan si Wanita ke dalam [Virtualspace Anjat]! Suatu hal yang belum pernah Asna lakukan sebelumnya!


“Hahaha… Terlalu banyak pertarungan akan sangat buruk bagi kesehatanku. Juga bagi para pembaca!” seru Godel. Ia lalu memandang ke sekeliling. Memastikan kalau tidak ada saksi dalam kejahatan yang telah Ia lakukan.


Tidak ingin berlama-lama, Godel bergegas mengitari gedung Serikat Burung Kaliyangan. Ada satu tempat yang belum Ia kunjungi. Tempat di mana anggota serikat menyimpan [Zakery Stone] dari anggota yang sudah mangkat.

__ADS_1


Benar saja, Godel menemukan sebuah ruangan yang dijaga empat orang anggota serikat di saat anggota lain sibuk melakukan perekrutan. Naluri Godel memastikan kalau tempat inilah yang sedang dicarinya.


--------------------


Satu jam setelah semua pertandingan untuk tes kedua selesai, nama-nama peserta yang lolos tes kedua ditempel di papan pengumuman. Jumlahnya ada 12 peserta. Di antara nama-nama itu, ada nama Hansel, Novia, dan Iyan.


Tiba-tiba meja di depan Rinduan dan Zay Kumbang duduk hancur terkena lemparan tombak. Zay Kumbang duduk dengan santai saat Rinduan dengan amarah menunjuk wajah Ranggas. “BERANI SEKALI, KAUUU...!!!”


“Bedebah Kau, Rinduan! Bedebah Kau! Keluargaku sudah membayarmu mahal, setan!” dalam amarah yang membara, Ranggas tidak akan bosan mengumpat.


Rinduan mengepalkan tangan karena gratifikasi ini tidak bisa Ia tutupi. Rinduan lalu menarik kepalan tangannya ke samping. “Ini keputusan serikat! Aku sudah memilihkan tim yang lebih lemah buat kalian! Kalian saja yang bodoh!”


Ranggas ikut mengepalkan tangan lalu berlari dan menerjang Rinduan. “RINDUAAAAANN...!”


Jarak Ranggas dengan Rinduan hanya satu meter saat Ranggas hendak melepaskan tinjuan. Rinduan menghempaskan sebuah tas ke kepala Ranggas yang membuat Ranggas terhenti.


“ANAK HARAM!!!” kutuk Ranggas sambil mengambil tombaknya dan berdiri. Tinjuan Rinduan menghantam keras wajah Ranggas. Membuat Ranggas terlempar sejauh 20 meter.


Bustar, Bleck dan Buan segera mendekati Ranggas yang sudah tidak sadarkan diri. Terkena pukulan keras, wajah Ranggas dipenuhi dengan darah. Delapan giginya patah!


Rinduan melempar tas berisi uang pemberian keluarga Ranggas ke tangan Bustar. “Kalian saksi kalau uang itu sudah ku kembalikan. Jangan pernah kembali lagi!”


Suasana menjadi kondusif setelah Ranggas dibawa keluar dari aula. Peserta yang tidak lulus juga turut pergi. Kecuali mereka yang memiliki teman yang lolos tes seperti Edi. Ya, Edi masih setia menunggu Hansel dan Novia, teman sekampusnya.


Ada rasa malu yang sangat besar menghinggapinya hingga tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak berada di arena pertandingan. Bahkan ia menanggapi kegagalannya lulus tes dengan datar. “Kegagalan ini murni kesalahanku. Tapi, setidaknya Hansel dan Novia bisa diterima di serikat ini. Aku turut gembira atas pencapaian mereka,” ungkapnya di dalam hati.


Di belakang meja yang telah dihancurkan Ranggas, Rinduan duduk bersebelahan dengan Zay Kumbang untuk memeberikan pengarahan kepada peserta yang lulus.


Peserta yang lulus saat ini berkumpul di tengah aula. Menatap ke kumpulan peserta yang lulus ini, Rinduan mengerucutkan dahi. “Cuma 11?! Kemana anak itu?”


Novia yang berada di samping Hansel menoleh ke kiri-kanan. “Mana orang itu?” pikirnya. Orang yang di maksud Novia adalah Iyan.


Asna dan Iyan dengan santainya berjalan menuju pintu belakang. Melihat duo racun tersebut, Rinduan mengambil pelantang suara dan berteriak, “Ariyan Handoko! Mau ke mana Kau?!”


Iyan berbalik, lalu membalas berteriak, “Aku tidak tertarik! Aku ingin pulang ke rumah!!!” Segera Iyan berjalan kembali.


Suara ledakan terdengar menggelegar saat tembok aula bolong terkena pukulan Rinduan. “Kembali! Tidak semudah itu masuk dan keluar dari serikat ini!!!”


Dengan sebuah lirikan dan senyum mengejek, Iyan membalas, “Aku menolak! Kau mau apa?!”


“Oh?!” Zay Kumbang kaget, seorang remaja SMA berani memprovokasi Rinduan. “Siapa gerangan anak ini?” Zay Kumbang langsung tertarik.


Rinduan melompat ke tengah aula lalu berjalan dengan cepat menuju Iyan dan Asna.


Tiba-tiba Hansel dan Novia berdiri di jalur Rinduan. Mata Rinduan menceleng melihat kedua orang ini. “Ingin menolong mereka?!” Rinduan mengayunkan lengannya, berniat memukul Hansel dan Novia sekaligus.


Ledakan kembali menggema setelah tinju Rinduan menghantam lantai hingga hancur berserakan. Hansel dan Novia berhasil menghindar. “BRENGSEEEEKKK...!” hardik Rinduan.


Tiba-tiba...


Teriakan seseorang yang terdengar berat dan panjang menggema di halaman Serikat Burung Kaliyangan. “RINDUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNN...!!!”


“Siapa itu?! Kemari, lawan Aku!” balas Rinduan dengan sombongnya.


Aura pendekar tingkat tinggi masuk ke dalam aula sampai membuat orang-orang yang terkena gelombangnya sedikit goyah. Aura ini membawa pesan, niat membunuh!


Wajah Rinduan berubah menjadi sangat serius saat mengetahui siapa orang yang  ada di halaman. “Kau?!”


Hansel berseru, “Hah?! Dia.... Ketua Serikat Buaya Keramat! Kecamatan Samarinda Seberang, Palaran dan Loa Janan Ilir adalah wilayah yuridisnya.”


Orang tersebut, lebih tepatnya, Si Tendangan Rocket…


-- Tuan Adwar --


Dari luar aula, suara Tuan Adwar kembali terdengar. “Rinduaaan...! Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi dengan adikku?!!!”


Rinduan mempertontonkan tawa tak berdosa sambil mengeluarkan sebuah Bazooka di sampingnya. “Hihihi...! Hahahaha...!!! Kau mau unjuk kekuatan di sini? Aku ladeni!”


Seketika seratus anggota Serikat Burung Kaliyangan masuk ke aula, menunggu perintah Rinduan.


Tuan Adwar tidaklah sendiri. Secara bertahap anggotanya datang dan berdiri di belakangnya.


Melihat situasi semakin memanas, Iyan tersenyum. “Na, ini bukan urusan kita. Ayo, kita cabut!” ujar Iyan.


Bersama Asna, Iyan berjalan dengan santai keluar aula melalui pintu belakang.

__ADS_1


***


__ADS_2