
Ch. 12 Situasi Kritis
Asna kembali ngeblank. Setelah sadar, tiba-tiba Asna langsung berlari ke sisi kanan arena. “Tidak usah pikirkan Aku… Kau jaga di tengah!” seru Asna.
“Ingaaat…!” balas Iyan. “JANGAN MATI!!!” teriak Asna dan Iyan bersamaan.
Sambil berlari dan melirik ke statusnya di peta, Asna bergumam, “Status ini… sama persis dengan yang terlihat di [Broken Ordinary Stone]. Kira-kira bisa naik atau tidak?”
Status Pertarungan Asna saat ini…
Koin virtual: 0
STR 9
VIT 3
INT 1
DEX 1
MEN 2
<”Na?! Bagaimana kabarmu di sana?”> Tanya Iyan yang tiba-tiba suaranya muncul di pikiran Asna. Ini adalah fitur lain dari [Poor Ordinary Stone].
“Telepati?” Asna terkejut. Dalam pengalaman Ayahnya tidak ada fitur seperti ini. Ia lalu membalas, “Iyan?! Di sini baik-baik saja. Oh, iya… stat STR-mu sudah berapa?”
<”Masih 60! Tenang saja. Seburuk-buruknya pasti ada peningkatan!”> Iyan mencoba menyemangati Asna.
“Perkuat daya rusakmu! Aku bersiap jadi pengumpan…” Asna balik memerintah.
<“Pengumpan? STR-mu lebih tinggi dari VIT. Tidak bakal cocok.”> sahut Iyan.
Asna tetap bersikeras. “Sudahlah. Setidaknya Aku tidak jadi beban. Beli item VIT pilihan bijak, kan?”
Tiba-tiba indikator tiga orang musuh muncul pada peta. Tiga orang itu sangat dekat Asna.
<”NA?! TIGA MUSUH DI DEKATMU!!!”> teriak Iyan.
“Hah?!” Asna terkejut saat disergap Mauli, Bleck dan Bustar.
Bustar mengerahkan tenaga dalam ke arah Asna yang belum sempat berbasa-basi. Suatu skill bernama…
[PENGIKAT RAGA]
Desiran angin terdengar karena terjadi gesekan sinar hijau yang tiba-tiba menyelimuti tubuh Asna. Sejurus kemudian Bustar menarik tangannya hingga membuat sinar hijau melilit Asna dengan keras.
“Aku tidak bisa bergerak!!! Ini jadinya kalau Aku lupa menggunakan [B-Shock]?! Ancriiittt…” Asna berdiri terdiam saat ini.
Mauli dan Bleck turut menyerang Asna…
Sebuah pukulan dari Mauli menerpa tanah hingga menerbangkan Asna. Berikutnya letupan tiga peluru terdengar. Peluru-peluru ini mengenai dada, leher dan pelipis Asna.
“AAAAAGGGHHHH…!!!” Asna menjerit dan beberapa saat kemudian hilang memudar.
“ASNAAAAAA….!!!” Iyan ikut berteriak.
< “FINISHING!”>
Dalam keadaan terbunuh, Asna mendengar dengan jelas suara remaja laki-laki di dalam otaknya. Suara orang asing.
Asna kembali ke dalam aula, diikuti dua orang lain dari timnya, Edi dan Novia.
Bedanya, Asna kembali dalam keadaan tak sadarkan diri. Panitia membiarkan Asna, karena hal seperti ini biasa terjadi. Rasa sakit bisa membuat seseorang pingsan.
“HAHAHAHAHA…!!! GOBLOOKKK!!” para peserta di dalam aula melakukan toxic, menghina tim Asna.
Tak heran memang, Asna kehilangan momentum di awal dan mengalami knock-out setelah dikeroyok.
Sesialnya Asna, Edi, Hansel dan Novia tidak bisa menekan seorang Ranggas. Bahkan Edi dan Novia harus tewas setelah masuk ke dalam jangkauan Eltow!
Hanya beberapa detik, Asna sudah kembali sadar.
Iyan mengutuk,“Sial…! Na, Seperti di dalam game, setiap petarung punya skill… Kau harus mengeksplorasi itu!”
__ADS_1
Asna kembali fokus pada tes. “Maaf, Yan… Aku tidak pernah bermimpi hari ini langsung ikut tes kedua,” ujar Asna dengan nada menyesal. Ia segera memasuki lubang virtual dan menunggu giliran untuk keluar dari Resurrection Base.
Suatu skill (kemampuan) adalah hasil optimasi pengetahuan dan sumberdaya humanis maupun non-humanis yang digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Skill dapat berupa suatu teknik atau gabungan teknik hasil dari latihan optimum manusia.
Seseorang dapat mengeksplorasi segala potensi di dalam atau di luar dirinya dan menjadikan itu sebagai skill.
Butuh waktu untuk seseorang mendapatkan skill. Bahkan bagi orang yang mendapat warisan pengalaman dan pengetahuan dari orang lain.
Pertarungan sudah berlangsung selama 5 menit. Anggota Tim A sudah sembilan kali dikeluarkan dari arena karena dibantai musuh. Asna dan Iyan masing-masing sudah satu kali kembali dari arena. Tidak lebih buruk dari tiga orang lain di timnya.
Dua Eltow di sisi kanan dan satu Eltow di sisi kiri dan tengah telah dikalahkan musuh. Sedangkan Eltow musuh masih lengkap.
Sebuah pukulan Asna meledakkan kepala pasukan virtual musuh yang mengenakan panah. Asna butuh lebih dari sepuluh pukulan agar satu pasukan virtual dapat dikalahkan.
“Tidak ada komunikasi dari anggota tim kita yang lain. Kita sudah begitu dekat dengan kekalahan, ya? Hehehe…” ujar Asna sambil bertarung dengan pasukan virtual musuh.
Status Asna sedikit meningkat, namun ini hanya efek sementara dari arena virtual. Asna tidak akan kegirangan.
Koin virtual: 1039
STR 9+2
VIT 3
INT 1+7
DEX 1+7
MEN 2+5
“Ku pikir bakal jadi Pengumpan. Ternyata statku lebih cocok menjadi Penyihir Pembunuh! Tidak bisa ku paksakan jadi tank. Harus sorcerrer…!” pikir Asna.
Vitalitas Asna tidak meningkat sejauh ini. Tidak akan cocok jadi Pengumpan yang memiliki VIT tinggi, tanker.
Iyan terlihat lebih berpengalaman dari Asna. Hanya mati sekali membuat Iyan mengalami peningkatan yang cukup baik.
Status Iyan saat ini…
Koin virtual: 3
VIT 45+15
INT 26+5
DEX 34+10+25
MEN 35+10
Iyan mendapat tambahan 15 poin STR dan 25 poin DEX dari item yang dibelinya di toko virtual. Dari pada Asna, Iyan lebih cocok menjadi tank. Sayangnya Iyan sudah membeli item yang dapat meningkatkan daya serang. Dia seorang pembunuh sekarang.
---------------------------------
“Yan, bagaimana cara mendapatkan skill tanpa harus latihan?” tanya Asna.
<”Ini bukan game PC atau semacamnya! Sudahlah… Kau pakai serangan dasar saja. Kau mau beli item vitalitas?”> tanya Iyan. Item vitalitas tentu saja akan meningkatkan kesehatan hingga tidak cepat tewas.
“Kita belum bisa pergi ke toko kalau tidak bertiga. Sekarang hanya dua musuh yang terlihat di peta,” terang Asna.
Memang akan beresiko pergi ke toko yang berada di perbatasan wilayah, tepat di sisi kiri dalam dan kanan dalam peta. Saat peserta sendirian ke sana, musuh bisa saja datang menyergap.
Itu tercyduk namanya!
Saat ini Edi, Hansel dan Novia sangat kewalahan menghadapi Ranggas dan Mauli. Situasi semakin memprihatinkan saat Buan dan Bustar datang mendekat, keluar dari hutan di wilayah Tim B.
Wajah sombong Edi dan Hansel sudah berubah menjadi sumbang!
“Bagaimana ini?! Kita sudah tidak ada harapan…!!!” seru Hansel. Sebelumnya, ia masih bisa memberikan kerusakan serangan untuk musuh. Namun seiring berjalannya waktu, kerusakan yang ia berikan semakin menurun. Perkembangannya tidak melejit karena selalu berbagi pengalaman dengan dua rekannya. Terlebih, sulitnya pergi ke toko yang selalu dijaga musuh.
Kondisi yang lebih buruk dirasakan Novia. Dia adalah seorang tutor kelas pedang di salah satu perguruan silat. Idealnya profesi Novia di dunia virtual adalah pembunuh. Namun perkembangannya sangat menyedihkan setelah empat kali tewas.
“Kita sudah begitu kompak. Hanya saja kesalahan di awal membuat kita sulit berkembang,” terang Edi yang berperan sebagai petarung pendukung.
“Kompak apaan?!” protes Hansel dalam hati.
__ADS_1
Sambil berbincang, mereka terus siaga di bawah kaki Eltow. Menunggu saat-saat musuh masuk menyerang mereka.
”Kalian berdua di sana… apakah ada yang memiliki vitalitas tinggi?” tanya Novia kepada Iyan dan Asna melalui telepati.
“Apa yang Kau lakukan? Ini memalukan!!!” tegas Edi.
Iyan mendengar apa yang dikatakan Novia, tapi ia tidak membalas dan terus menyerang pasukan virtual musuh hingga habis tak bersisa. Empat orang musuh sedang berada di sisi kiri. Artinya, ini kesempatan Iyan mengalahkan Eltow musuh.
Berbeda dengan Iyan, Asna memberikan jawaban, “Eh… Tahan dulu, ya… Setelah ke toko Aku akan ke sana!”
Asna mempercepat larinya menuju ke wilayah perbatasan.
<“Kau mau ke mana, Na?”> tanya Iyan.
“Aku harus membeli item untuk meningkatkan statusku! Kau tekan saja Eltow musuh dan hati-hati dengan satu orang lagi,” balas Asna.
Asna tentu saja paham situasi saat ini. Empat orang di sisi kiri dan satu orang lagi tidak tau entah di mana, memberikan Asna peluang melakukan pembelian di toko.
Benar saja, Bleck muncul di peta dan menyerang Iyan dengan beberapa tembakan.
“Seperti yang biasa dilakukan Asna. Aku selalu jadi umpan. Bodo amat! Hahaha…” pikir Iyan sembari mundur ke Eltow ring dua.
<”Cepat… Aku butuh peningkatan status!”> pinta Novia yang masih bertahan di Eltow kiri ring pertama.
Empat orang musuh mundur ke dalam hutan, sepertinya akan menyergap Iyan. Beruntung Iyan sudah masuk ke Eltow tengah ring kedua.
“Alamaaakk… Na, semua musuh ngumpul di tengah!!!” seru Iyan.
Di peta terlihat satu musuh mencoba memprovokasi Iyan. Akan tetapi Iyan tau benar kalau rekan-rekannya sedang menunggu dirinya dari balik hutan.
Asna menjawab, “Ini baru tujuh menit! Mereka sudah begitu menekan. Aku lagi membeli item, tunggulah!”
Toko item seperti gubuk kecil yang di dalamnya ada makhluk virtual tua bertelinga kelinci, Arnabshop.
“Apa yang bisa saya bantu?” Tanya Arnabshop ketika melihat Asna masuk tanpa salam.
“Beh, pelayanan prima neh!” pikir Asna. Tidak ingin membuang waktu, Asna melihat daftar item yang hanya bisa digunakan di arena virtual serikat. Jumlahnya tepat 80 item.
Membaca satu per satu item jelas membuat Asna kehilangan waktu. “Rekomendasikan aku item yang meningkatkan INT! Maksimal seharga 1050 koin,” pintanya.
Seketika daftar 12 item yang dapat meningkatkan INT muncul di hadapan Asna. Mulai dari harga 280 hingga 1009 koin virtual.
Di sana ada pilihan item yang harganya sesuai kocek Asna. [Tongkat Harrie Potret: INT +15, MEN +10] harga 1009 koin virtual. “Yang ini!”
“Apakah Anda yakin?” tanya Arnabshop.
Asna menggebrak meja seraya meniru perkataan Iyan. “Ini bukan game PC atau semacamnya! Berikan itemnya! Aku sudah yakin!”
“Terima kasih, selamat bertarung…” ujar Arnabshop.
Asna kembali menggebrak meja. “Mana itemnya?!!!” tanya Asna, marah. Sekilas Ia melihat status miliknya sudah bertambah dari item yang dibelinya.
Koin virtual: 41
STR 9+5
VIT 3+2
INT 1+15+15
DEX 1+15
MEN 1+10+10
“ASNAAA…!!! CEPAT!!!” teriak Iyan.
Kondisi di ring kedua tengah sudah mulai kritis. Pasukan virtual musuh sudah masuk ke dalam jangkauan serangan Eltow. Begitu pula Buan yang sedari tadi memprovokasi Iyan. Tiba-tiba saja pejuang virtual dengan job Assassin itu sudah menebaskan pedangnya ke tubuh Eltow.
Melihat hanya ada Iyan seorang diri, empat musuh yang lain ikut menerjang masuk ke dalam jangkauan Eltow. Mereka semua menyerang Eltow dengan membabi-buta.
Situasi ini mengharuskan Iyan mundur ke ring pertama.
Suara ledakan menggelegar terdengar sesudahnya. Eltow di ring kedua tengah milik Tim B hancur dan menghilang.
__ADS_1
***