
Ch. 30 Bocah Curang
Suasana menjadi hening saat mata para penonton mengarah pada sekeping koin virtual yang di lempar ke udara.
Sesaat setelah berputar, koin itu jatuh ke tanah dengan diiringi beberapa koin lain yang dilempar Neon.
Bersamaan dengan gemerincing suara koin, kerutan kening tergampar di wajah para penonton.
Suasana menjadi riuh dengan cemoohan. “Itu curang!!!”
“Kenapa manusia suka berbuat curang?!”
“Kematian sangat pantas untuknya!”
“Pantas dunia manusia dipenuhi kerusakan! Orang-orang seperti mereka ini....”
Neon menunjuk ke arah para penonton. “Diam! Aku yang bertarung, bukan kalian!”
Cemoohan masih terus dilakukan para penonton. Mereka baru berhenti setelah Borsa dengan mantap berjalan mendekati Neon. “Aku akan memukul bocah ini duluan. Tidak ada yang boleh menghinanya!”
Neon tersenyum sumringah sambil menyilangkan tangan pada dada. Ia menunggu pukulan dari Borsa.
Begitu Neon berada pada jarak pukulan, Borsa melepaskan tinjunya ke arah pelipis Neon.
Suara dentuman terdengar saat tinju Borsa menghempaskan Neon ke tanah. Retakan tanah berdiamater empat meter terbentuk. Mayoritas penonton langsung bersorak.
Borsa menatap tajam Neon yang terbaring di tanah retak. Kepala Neon mengucurkan darah. Senyum tak lagi tergambar di wajah Neon.
Borsa mendengus seraya berkata, “Baru satu. Masih ada sembilan pukulan lagi....”
Ini adalah adu kekuatan pukulan. Setiap petarung dapat bergantian memberi pukulan sesuai giliran. Satu pukulan dibalas satu pukulan. Hanya saja aturan yang dibuat Neon dengan Borsa berbeda. Siapapun di antara mereka memenangkan undian giliran pertama, dapat memberikan 10 pukulan yang nantinya akan dibalas dengan 10 pukulan.
Pada saat undian dilakukan dengan menggunakan koin virtual, Neon berbuat curang. Ia melemparkan lima keping koin virtual. Perilaku ini Neon maksudkan untuk mendapat giliran terakhir.
Satu pukulan telah disarangkan Borsa. Sembilan pukulan menyusul dengan kekuatan dan dentuman yang terus meningkat. Bukan hanya tubuh Neon, tanah yang diinjak para penonton ikut bergetar. Darah Neon sekarang menggenangi cekungan tanah yang retak.
Para penonton terus-terusan bersorak. Kecuali para Pejuang Virtual dari kalangan manusia. Mereka hanya menggeleng dengan senyum tipis.
Lelah bersorak, sebagian penonton memilih meninggalkan tempat. Para penonton tersisa mendekati Neon. Biarpun masih bisa bernafas, Neon tidak bisa menggerakkan badannya.
“Dia belum kalah,” ucap Borsa setelah melihat Neon membuka mata dan tersenyum.
Neon perlahan menggerakkan mulutnya. “Ya, Aku belum kalah. Sialnya!”
Para Pejuang Virtual yang melihat Neon mencoba bangkit bersorak. Teriakan mereka menarik perhatian penonton yang sempat meninggalkan tempat.
Seorang Pejuang Virtual memberikan selembar kain putih kepada Neon. Kain untuk membersihkan darah.
“Borsa, Kau itu lemah! Sepuluh pukulan tidak Kau manfaatkan dengan baik!” ejek Neon. Ia lalu mengambil kain putih dan mengusapnya ke wajah.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!” Seorang gadis arnab berteriak. Pakaiannya sobek ditarik Neon. “Dasar manusia mesum!!!”
“Oh, maaf... Tapi, berterima kasihlah, Nyonya. Pakaianmu sudah ku beri warna merah. Itu jauh lebih indah,” kilah Neon. Ia mengembalikan sobekan baju gadis arnab.
Borsa menggaruk hidungnya yang gatal, lalu membalas, “Aku sudah mengeluarkan semua kekuatanku. Kau memang tangguh!”
Neon bersiap memberikan 10 pukulan kepada Borsa.
Tiba-tiba suara teriakan muncul dari langit. Sosok manusia meluncur tepat di tubuh Neon. Ia pun mengutuk panjang, “Kurang ajaaaaaarrr!”
Belum selesai berteriak mengutuk, manusia lain kembali menindih Neon. Manusia-manusia ini adalah Asna dan Iyan.
“Oh, maaf sobat!” ujar Asna sembari menggaruk kepala dengan senyum tak bersalah.
__ADS_1
“Cuma bocah, Na. Jangan terlalu dihiraukan,” sahut Iyan.
Dengan tubuh masih dipenuhi darah, Neon mengepalkan tangannya kepada Iyan. “Kau ingin merasakan pukulan bocah?”
“Silahkan…” Iyan menjawab tantangan. Neon lalu mencoba memukul Iyan.
Tidak ada satupun pukulan Neon tepat sasaran karena Iyan memegangi kepalanya. Tangan Neon yang pendek benar-benar tidak dapat menyentuh perut Iyan.
Tidak dapat memukul, Neon memilih menangkap tangan Iyan yang ada di kepalanya dan segera memutarnya. Iyan ikut memutar badan agar tangannya tidak terkilir.
Memanfaatkan posisi Iyan yang tidak menguntungkan, Neon segera memukul rusuk kanan Iyan.
“Awwww…!” Iyan kesakitan. Ia lalu balik memukul Neon. Adu pukulan terjadi.
Datu Busu berteriak, sesaat setelah keluar lubang virtual, “Hentikan, bodoh!”
Neon dan Iyan sontak berhenti bertarung. Melihat kedatangan Datu Busu, Neon menunjukkan wajah tidak suka. Begitupun dengan Iyan.
“Orang tua ini! Aku dan Asna keluar lubang dari atas. Sedangkan Ia keluar dengan mudah di atas tanah!” Iyan membatin.
Sambil melirik Iyan, Datu Busu berkata, “Kalian anak muda harus punya cara epic untuk masuk ke dunia virtual. Terjun dari ketinggian 100 meter itu baru tahap awal. Lain kali akan Ku buat kalian terjun dari bulan. Hahaha…”
Asna memperagakan gaya Kyuranger di hadapan Datu Busu. “Apakah epic itu seperti ini, Datu?”
“Kau jangan pura-pura bodoh! Itu tidak lucu…” jawab Datu Busu. Ia lalu berjalan menuju sebuah tenda. Sebuah kedai kopi ternyata.
Asna dan Iyan mengikutinya dari belakang.
Mengetahui Neon juga turut serta, Iyan membentak, “Kenapa Kau mengikuti Kami?!”
“Aku juga anggota si Tua itu, pintar!” jawab Neon.
Iyan tersenyum menutupi rasa malu. “Begitukah? Berarti kita satu komunitas!”
“Sejak kapan Kau jadi anggotaku?!” protes Datu Busu kepada Iyan dengan wajah merah. Perkataan Datu Busu barusan membuat Iyan salah tingkah.
Wajah Datu Busu semakin memerah melihat Asna. “Kau itu budakku! Itu jauh lebih rendah dari anggota!” bentak Datu Busu.
Asna menjadi salah tingkah, melebihi Iyan.
Sambil terus mengikuti Datu Busu, Asna menyampaikan pertanyaan. “Berapa banyak, sih, anggota paguyuban, Datu?”
“Pertanyaan bagus. Itu mengingatkanku pada suatu pekerjaan yang belum Manusia Ulin kerjakan.” Ketua Paguyuban Tutur Pusaka ini berkata sambil menarik sebuah kursi.
Sebagai seorang yang cerdas dan mengenal baik Datu Busu, Asna paham makna jawaban itu. “Sepertinya Aku melakukan kesalahan,” ujarnya sambil menghentikan langkah.
Datu Busu menunjuk wajah Asna dengan kegembiraan. “Betul sekali. Kau yang akan melakukan pekerjaan itu. Hahaha…!”
“Tuh, kan!”
Datu Busu duduk di salah satu kursi. Tiga remaja yang mengikutinya hendak turut duduk. Tapi Datu Busu langsung melarang. “Hei! Siapa suruh duduk? Kalian pergilah mencari pujaan hatiku!”
“Yang di foto ini?” tanya Asna. Datu Busu menunjuk-nunjuk dahi Asna berulang kali. “Jangan pura-pura bodoh! Kalau Kau nanti betul-betul bodoh akan Ku pecahkan kepalamu!”
Mendapat ancaman, si Mesum bergegas meninggalkan Datu Busu, diikuti Iyan setelahnya.
Tidak mengikuti Asna, Neon malah duduk di kursi seberang Datu Busu.
Mata Datu Busu melotot melihat kelakuan bocah 15 tahun itu. “Kau ini… Kalau bukan karena ibumu menitipmu ke Aku, Kau sudah Ku bunuh sejak dari dulu!”
“Ya, kalau bukan karena ibuku menyuruhku mengikutimu, Aku akan…” Belum sempat Neon menyelesaikan perkataannya, Datu Busu sudah menendangnya sampai terlempar.
Terus melayang hingga tiba di depan Asna dan Iyan.
__ADS_1
Asna membantu Neon berdiri.
“Tidak perlu sopan. Terima kasih…” ucap Neon.
Sembari menghulurkan tangannya kepada Neon, Asna memperkenalkan diri, “Perkenalkan, Aku Asna dan ini temanku Iyan.”
“Asna dan Iyan. Namaku Neon!” balas si Bocah sembari menepuk dadanya sendiri. Ia lalu menyalami Asna dan Iyan.
Mata Neon beralih pada batu di tangan Asna. Lalu pada dagu Iyan.
“Kalian pakai batu itu, ya?”
Iyan heran dengan pertanyaan Neon. Sedang Asna memeriksa tubuh bocah itu. Tidak ada [Ordinary Stone] tertempel di tubuhnya.
Neon memegang dagu. Sok berpikir. “Sepertinya Aku saja yang tidak kebagian batu.”
“Kau bisa memintanya dengan Datu,” saran Iyan.
Si bocah melambaikan tangan pada Iyan. “Bukan. Aku sudah berulang kali memegang batu itu. Tapi tidak ada status yang sering orang lain bicarakan. Aku ini pasti hebat, kan?!”
Iyan kembali menunjukkan mimik wajah heran. “Itu aneh…!”
“Itu memang hebat! Ayo, kita pergi,” ucap Asna.
“Aku ingin beli pedang atau semacamnya dulu.” Iyan berjalan menuju pasar. Diikuti Neon sesudahnya. “Aku mau cari baju!”
“Baiklah…” Asna menurut saja.
Sebelum menjalankan tugas dari Datu Busu, Iyan menyempatkan diri membeli equipment di pasar. Ia memasuki toko Ras Arnabshop bernama Paman Bibir.
Sebilah Mandau dari besi biasa (senjata khas Kalimantan) dibeli Iyan untuk mempersenjatai dirinya. Senjata ini lalu Ia taruh di pinggang kiri.
“Kau ini miskin sekali. Di tokoku ini, senjata besi adalah yang paling murah. Cobalah untuk bersabar mengumpulkan uang. Pasti Kau bisa membeli senjata berkualitas epic.” Ras Arnabshop yang melayani Iyan memberi saran. Dialah Paman Bibir. Si pemilik toko.
“Sepertinya Kau anak baru.” Paman Bibir berkata heran sambil menatap Iyan dengan seksama. Ia lalu menjelaskan, “Anak baru. Kau harus tau. Equipment itu harus diperlakukan seperti makhluk hidup. Mereka perlu makan, perlu istirahat dan perlu bersosialisasi.”
“Terus mereka pacaran. Punya anak. Anaknya tumbuh. Sosialisasi lagi. Pacaran lagi,” sahut Iyan. Tidak tertarik. Ia menganggap apa yang disampaikan Paman Bibir sebagai lelucon. Benda mati tidak mungkin makan dan bersosialisasi.
Paman Bibir tidak tersinggung dengan sahutan Iyan. Ia malah tersenyum. “Betul. Eh, maksudku, equipment itu juga bisa membentuk equipment baru.”
Tidak mengindahkan mimik datar Iyan, Paman Bibir mendekatkan bibirnya ke telinga Iyan. “Tidak semua orang Ku beri tau rahasia ini. Kau bisa bertanya para pengrajin equipment di negeri ini untuk lebih detail.”
“Begitukah? Terima kasih kalau begitu. Aku mau melihat-lihat lagi.” Usai berkata demikian, Iyan berjalan dengan santai menuju toko yang dimasuki Asna.
Sementara Iyan berbelanja, Asna menyempatkan diri mengeluarkan [Virtualspace Anjat] dari ranah pikirannya. Lalu menggendongnya di punggung.
Di dalam [Virtualsapce Anjat] hanya ada satu-satunya benda, yaitu [B-Shock].
Iyan sempat menanyakan tas yang digendong Asna saat mereka bertemu. Benda yang tidak pernah Ia lihat sebelumnya. Asna mengatakan kalau benda itu adalah pemberian Datu Busu.
Yang membuat Iyan bingung sekarang, sejak kapan Datu Busu memberikannya? Kalau sudah beberapa bulan yang lalu, bagaimana Asna menyimpannya?
Tiba-tiba Neon datang dengan pakaian baru. Jumpsuit biru dan Rompi dari kulit kayu. Entah dari mana Ia mendapatkannya. Yang jelas, Neon dikejar manusia kerdil tanpa busana.
“Kalian! Ayo cepat!” teriak Neon. Iyan dan Asna mengikutinya begitu saja.
Manusia kerdil menghentikan pengejaran seraya mengumpat, “Manusia, laknat! Kambalikan bajuku…!”
Mereka bertiga lalu berjalan melewati jembatan. Pergi ke luar wilayah Gnombell Fairy land. Terus berjalan menuju bukit berwarna abu-abu. Dalam periode itu mereka tampak akrab berbincang-bincang.
Untuk memudahkan tugasnya, Asna secara diam-diam menggunakan skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga]. Membuat delapan jiwanya pergi menuju enam bukit yang ada.
Perinciannya, jiwa utama Asna ada pada tubuhnya yang sekarang. Jiwa Senin dan Jiwa Selasa pergi ke Bukit Abu-Abu. Sisa jiwa menuju enam bukit yang lain.
__ADS_1
Merasakan perih di perut, Asna mengunyah obat maag untuk menetralkan konsentrasi asam lambung. Ia pun siap “tiba-tiba berpetualang.”
***