
Di sebuah negeri antah berantah, peristiwa yang terjadi pada Asna di belakang gedung sekolah dipertontonkan di ketinggian langit nan biru. Tayangan selesai setelah Asna digendong beramai-ramai oleh teman sekolahnya.
Lalu tersajilah percakapan antara seorang guru dan seorang murid yang masih berusia sepuluh tahun…
“Setelah Kau melihat kejadian pejuang baru yang hendak dimangsa siluman barusan, sekarang Kau jawab pertanyaanku, mengapa tiap makhluk berupaya saling menerkam?” Sang Guru bertanya sambil mengelus kumisnya.
Tidak memiliki kumis, Si Murid memilih mengelus dagunya dan menjawab, “Itu karena hukum alam, lah, guru… Tidak menerkam, ya, tidak makan. Seperti yang pernah guru terangkan tentang makan rantai.”
“Rantai makanan!” Sang Guru mengoreksi.
Sesaat kemudian Ia mengomentari jawaban muridnya. “Kau memilih jawaban yang tidak Kau sukai, kenapa? Waktu dulu Ku jelaskan tentang rantai makanan, Kau mencak-mencak tidak setuju dengan sistem tersebut… aneh…”
Si Murid kembali mengutarakan pandangan dunianya tentang kehidupan. “Murid tau kalau kunci jawabannya ada pada keseimbangan. Mohon ampun, guru. Sejujurnya murid masih tidak setuju dengan sistem makan rantai. Semua makhluk memiliki hak untuk hidup bebas. Makhluk lain tidak boleh mencampuri. Biarlah waktu yang mengakhiri kebebasannya.”
“Pikiranmu itu akan sangat merusak saat Kau menjadi penguasa tunggal di tiga negeri. Jika saja Aku diperbolehkan membunuhmu sekarang, Aku tidak akan menunda barang sedetikpun… hahaha…” Tawa Sang Guru memecah kedamaian lingkungannya. Membuat burung-burung berterbangan karena saking kagetnya.
Di dalam lubuk hatinya paling dalam, Sang Guru membatin, “Memelihara seseorang yang kelak akan mengaku Tuhan, sungguh mengganggu kedamaianku. Bak memelihara anak iblis yang akan menenggelamkanku ke dalam lubang neraka. Sejauh ini, belum ada pejuang virtual yang memenuhi kriteria untuk menandingi muridku ini. Entah bagaimana dengan pejuang mesum yang hampir tewas barusan… Aku akan tau status pertarungannya setelah Ia mengenakan [Ordinary Stone]…”
---------------------------------------
Di ruang Unit Kesehatan Sekolah SMA 25 Samarinda…
Saat ini sudah pukul 13.30 siang. Seorang gadis anggota Satuan Kesehatan Sekolah sedang sibuk merawat Asna yang beberapa jam sebelumnya ditemukan teman-temannya.
Beberapa saat kemudian gadis itu berlalu pergi meninggalkan Asna yang masih ditemani…
--Ariyan Handoko-- atau yang biasa dipanggil Iyan.
Iyan merupakan sahabat Asna yang sudah seperti saudaranya sendiri. Soalnya, hanya Iyan yang telah mentraktir Asna tidak hanya ribuan, tapi ratusan kali.
Secara fisik Iyan lebih tinggi dari Asna, lebih ganteng, lebih atletis, lebih baik nasibnya.
Tapi untuk urusan popularitas, Iyan tidak lebih populer dari Asna.
Ini membuktikan, popularitas tidak menjamin kualitas.
Bahkan pada akhirnya yang berkualitas akan populer dengan strategi promosi yang tepat nan terintegrasi.
“Na?!” tegur Iyan. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuh Asna. “Bangun, Na! Sekarang sudah waktunya pulang!”
Tak urung bangun, Iyan mengambil setengah gelas air mineral yang ada di dekatnya. Suara tumpahan air terdengar sesudahnya. Ternyata setengah gelas air mineral Iyan tumpahkan ke wajah Asna.
“Ah, Aaaaaaaaah...!!!” Asna berteriak kaget. Membuat ranjang beroda di ruang UKS yang direbahinya bergoyang.
“Na? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Iyan dengan nada cemas dan wajah datar. Kecemasan ini muncul karena Ia sudah menganggap Asna sebagai saudara sendiri. Sejak kecil hingga SMA mereka terus berteman.
“Iyan? Sejauh ini rupanya Aku masih hidup....” Asna menjawab sambil menatap telapak tangannya.
Iyan menggeleng. “Kau ini terlewat mesum! Mengintip cewek sampai mimisan sebanyak tadi. Kalau kami tidak datang, Kau mungkin sudah mati berkalang ilalang.”
“Ilalang? Bukankah saat itu kakiku terikat tanaman menjalar? Lelah Aku minta tolong. Tiada satupun yang datang. Oh, iya. Entah mengapa Aku bisa terjatuh?” Asna membatin.
Tanpa sengaja Asna menoleh ke sudut ruangan.
“Hah?!” Asna tersentak melihat entitas yang biasa ditayangkan di bioskop.
Wanita berambut panjang dengan pakaian putih. Taring dan kukunya terlihat sangat panjang.
Yang membuat Asna merinding, matanya yang merah menyala seolah melotot ke arah Asna.
---KUNTILANAK---
Asna benar-benar sangat kaget melihat Kuntilanak.
Padahal memori yang Ayahnya berikan memuat pengalaman yang berkaitan dengan hal-hal mistis seperti ini.
Namun tetap saja Asna belum terbiasa dengan pengalamannya sendiri.
Iyan memegang tangan Asna. “Na?! Kau bisa melihatnya? Kedipkan matamu!” titah Iyan.
Mereka yang memiliki pengetahuan virtual dapat melihat sosok virtual ataupun sosok ghaib lainnya secara jelas. Artinya, Iyan juga memiliki pengetahuan itu.
Asna pun segera mengedipkan mata beberapa kali. Namun sosok ini masih terlihat.
Ia lalu mencoba menggosok matanya. Sosok ini tetap tak menghilang!
“K-Kau baru mendapat pengetahuan virtual?” tanya Iyan. “Kau bukan indigo! Aku sangat mengenal dirimu! Kau pasti memiliki pengetahuan itu sekarang.”
Sambil memalingkan muka, Asna balik bertanya, “Pengetahuan apa...?”
“Pengetahuan virtual. Hasil dari pengalaman yang berkaitan dengan hal-hal mistis. Kapan Kau mendapatkannya? Pas tadi...?” Iyan seperti sedang menginterogasi Asna.
Asna sebenarnya telah mengerti penggunaan istilah virtual ini.
Sebelum mendapatkan warisan pengetahuan dan pengalaman dari Ayahnya, Asna awalnya berpandangan bahwa istilah virtual hanya untuk era teknologi informasi, dunia berjaringan, web.
Istilah yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai (seolah) nyata.
Makna “seolah” yang ditutup kurung menandakan istilah tersebut dapat dihilangkan dalam frase maupun teks.
Nyata dan tidak nyata bercampur menjadi satu. Seperti gula yang larut di dalam air. Gula tiada terlihat. Tinggallah rasa manisnya.
Sebagaimana dunia antar jaringan (internet) yang biasa digunakan manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain yang terpisahkan jarak.
Mereka jelas dapat berinteraksi secara nyata.
Namun nyatanya mereka hanya bertemu di ruang maya, dunia virtual.
Istilah ini rupanya juga digunakan untuk menyebut dunia lain yang tidak bisa diindera manusia pada umumnya.
Oleh para pejuang yang menjaga dunia dari makhluk ghaib, penggunaan istilah virtual ditujukan untuk menyebut hal-hal yang bekaitan dengan makhluk halus secara general. Termasuk motiv mereka menguasai dunia manusia.
Di samping, memang, penggunaan istilah virtual berkesan lebih keren dan berasosiasi dengan tema masa depan yang semakin canggih.
“Mungkin hanya perasaanku saja,” ucap Asna. Dia mencoba berkilah dari tebakkan Iyan tentang pengetahuan virtual yang dimilikinya.
“Kau tidak bisa berbohong....” Iyan menyahut sambil menatap sinis kepada Asna. “Hanya kami yang dapat melihat dan merasakan kehadiran makhluk ghaib di dunia kita. Saat Kau dapat melihatnya juga, berarti Kau bagian dari Kami.”
Asna menatap lantai, terus memikirkan cara menutupi rahasia.
Pada kenyataannya Iyan sudah tau kalau Ia memiliki pengetahuan virtual. Asna lalu mencoba menjadikan Iyan sebagai objek pembicaraan. “Kau tidak pernah cerita kalau Kau Pejuang Virtual.”
“Kita membicarakan Kau. Bukan Aku.” Iyan menangkap basah maksud Asna. Percobaan Asna gagal.
Iyan melanjutkan, “Topik dunia virtual itu tabu untuk dibicarakan. Itu sudah menjadi kutukan. Kau harus maklumlah. Sekarang Kau sudah jadi pejuang virtual. Setidaknya ceritakan kepadaku. Itupun kalau Kau menganggap Aku sahabat.”
Asna memandang hangat Iyan. “Kau bukan sahabat. Kau itu saudaraku. Baiklah, Aku mendapat warisan pengetahuan virtual dari Ayahku. Anehnya Ia tidak mewariskanku status pertarungan, equipment, atau sesuatu berharga lain.”
“Serius?!” Alis Iyan mengerut saat Ia berseru kaget. “Aku mendapat warisan dari mendiang Nenekku. Walau tidak mendapat equipment, setidaknya Aku mendapat skill bertarung dan beberapa penambahan status pertarungan.”
Iyan lalu mengeluarkan sebutir batu sebesar jempol.
Batu ini bernama [Broken Ordinary Stone] yang berfungsi untuk mendeteksi status pertarungan.
Selama menyimpan batu itu di dekat tubuh, Iyan dapat mengawasi bayang informasi status pertarungannya. Informasi itu seperti sebuah layar yang berada tepat di atas mata kirinya.
Informasi Battle Status terbagi atas STR (strenght), VIT (vitality), INT (inteligence), DEX (dexterity), dan MEN (Mentality). Besaran status pertarungan menggunakan angka hingga memudahkan Pejuang Virtual menerjemahkan status pertarungan dirinya saat ini.
Status pertarungan Iyan…
STR 50
VIT 37
INT 15
DEX 20
MEN 20
Status yang dimiliki Iyan dapat terus berkembang selama Ia berlatih dan belajar.
Bahkan seiring dengan bertambahnya status fisik, Iyan dapat kembali menerima warisan dari neneknya yang belum terserap seluruhnya.
Begitu pula sebaliknya. Saat Iyan malas berlatih atau belajar, beberapa statusnya akan menurun.
Iyan mengambil telapak tangan Asna dan meletakkan [Broken Ordinary Stone] di atasnya.
__ADS_1
Status pertarungan Asna muncul di pelipis kiri, dekat dengan mata.
Status Asna…
STR 9
VIT 3
INT 1
DEX 1
MEN 1
Asna melihat dengan seksama status awalnya menjadi pejuang virtual.
Ia lalu membandingkan status dirinya dengan status awal Ayahnya sebagaimana tersimpan di dalam memori. “Mayan, nih. Lebih baik dari Ayah.”
“Lumayan? Itu lebih rendah dari manusia biasa. Kau tidak tau betapa sulitnya meningkatkan status,” ungkap Iyan yang masih menyentuh [Broken Ordinary Stone] hingga bisa melihat status pertarungan Asna.
Asna mendorong [Broken Ordinary Stone] ke arah Iyan. “Kau dapat warisan status. Ya, wajar.”
Sambil menyimpan [Broken Ordinary Stone], Iyan berkomentar, “Itu anehnya. Dia Ayahmu, kan?”
“Bisa iya, bisa juga tidak. Aku anak yang tidak diharapkan, mungkin.” Asna menjawab seadanya.
Iyan lalu memberikan nasi bungkus kepada Asna. Tanpa basa-basi Asna membuka nasi bungkus dan mulai makan dengan lahap. Sementara khusyu makan, rasa ngeri Asna terhadap Kuntilanak terlupakan.
Iyan melirik jam dinding usai mengetahui Asna sudah selesai makan. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Kecepatan pemulihan Pejuang Virtual seharusnya berbeda dengan manusia biasa. Tapi sepertinya Kau itu pengecualian.”
“Kau ingin cepat pulang?” tanya Asna setelah sempat melihat Iyan melirik jam. “Kau bisa pulang duluan. Jujur, kepalaku masih pusing. Kau sudah melihat, kemampuan tubuhku untuk pulih hanya satu poin. Istirahat di sini sampai besok sekolah bukan rencana buruk.”
Iyan berdiri dari tempat duduknya, lalu memperlihatkan [Broken Ordinary Stone]. “Hanya batu rusak. Bisa jadi statusmu lebih baik kalau dicek pakai batu bagus. Pulanglah ke rumahku. Nanti malam Aku akan mengantarmu ke dokter.”
Asna menggeleng. “Aku akan baik-baik saja di sini. Aku juga ingin membiasakan diri dengan perubahan yang Aku alami. Percayalah padaku.”
Iyan mengangguk-angguk lalu mengeluarkan gawai milik Asna dari tas sekolahnya. “Kalau ada apa-apa, japri Aku!” seru Iyan sembari pergi meninggalkan Asna.
Usai ditinggal Iyan pergi, Asna tertidur. Kondisi kesehatannya berangsur-angsur pulih.
------------------------
Hari sudah gelap. Suara jangkrik dan cacing tanah terdengar bersahut-sahutan.
Asna terbangun karena merasakan gatal di wajah, kaki dan tangan. Ia telah diserang kawanan nyamuk sejak sore hari. Puas menggaruk bekas isapan nyamuk, Asna merasa perutnya mulai pedih. Efek nasi bungkus Iyan sudah hilang rupanya.
Asna melirik jam. Sekarang sudah pukul satu dini hari. Ia pun bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kotak obat.
Sebutir obat maag Asna ambil dari dalam kotak dan mulai mengunyahnya. Ia ingin kembali tidur, tapi kehadiran Kuntilanak yang mondar-mandir membuatnya sangat terganggu.
“Tante ini tidak punya kerjaan lain memang. Itu pentingnya ijazah. Bisa buat melamar kerja!” ujar Asna, membatin.
Sepintas Asna melihat dua bayangan melintas di jendela kaca UKS. Ia tertarik mengetahui siapa orang tersebut.
Beberapa jam sebelumnya jiwa Asna dapat keluar dari raga. Rupanya itu sebuah kemampuan.
Kemudian Ia teringat dengan skill Ayahnya yang dapat mewujudkan sosok lain dari dirinya sendiri. Menyuntikkan alam pikiran ke dalam tubuh kosong. Hingga akhirnya dapat menggunakan tubuh itu seolah tubuhnya sendiri.
Asna mulai berpikir…
“Ayah menggunakan tubuh kasar tapi transparan untuk diisi dengan pikirannya sendiri. Aku tidak diwariskan tubuh itu. Jadi Aku akan mencoba pengetahuan warisan Ayah untuk menghasilkan skillku sendiri...
“Aku mulai dengan pengetahuan tentang diri dalam perspektif transendental. Ini termaktub dalam kitab hikmah yang pernah Ku baca di perpus...
“Kata Ahli Transenden Tahap Puncak, sebenar-benarnya diri manusia adalah ilmu.
“Sejauh pengetahuanku, ilmu merupakan pohon akal.
“Akal digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan sesuatu.
“Dengan melakukan sesuatu, diri mengenal hal yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan.
“Menjadi diri yang mengenal banyak hal, arif namanya.
“Letak hati di diri manusia melingkupi seluruh raga. Ada hati saat ada diri yang hidup.
“Hidup ditandai dengan gerakan tubuh yang ditunjang dengan denyut jantung, aliran darah, dan setiap tarik hembus nafas. Itu nyawa namanya.
“Tiada yang hidup tanpa nyawa. Nyawa adalah wujud keberadaan roh.
“Masalahnya ada pada nama. Bila Ku cermati, semua ini hanya sebatas nama. Kode untuk mengantarkan paham pada diri manusia agar tidak kesulitan mengenal alam.
“Jadi yang dinamakan roh ini seperti itu, ya…
“Akhirnya, gabungan antara ilmu pengetahuan Ayah dan kecerdasanku menghasilkan sebuah kesimpulan baru. Aku menjadi tau apa sebenarnya yang dinamakan roh….
“Terima kasih, Ayah… Bagiku, pengetahuan dan pengalamanmu lebih berharga dari harta benda di alam semesta.”
Asna lalu mencoba membagi ranah pikirannya menjadi dua partisi.
Dua jiwa tapi satu.
Satu jiwa tapi dua.
Memiliki dua jiwa tentu saja membuat Asna dapat berpikir pada dua hal yang berbeda. Selayaknya dua program yang dijalankan satu prosesor pada sistem komputer personal.
Skill diluncurkan…
[JURUS RAHASIA | MEMBELAH JIWA MENINGGALKAN RAGA]
Seketika jiwa Asna keluar dari raganya. Terbang melayang, menembus jendela kaca UKS.
Namun yang terpenting, di kala satu jiwa Asna dapat keluar dari tubuhnya, satu jiwa lain tetap bersemayam pada raga.
Satu jiwa keluyuran seperti hantu. Sedangkan Asna dapat bersantai atau mengerjakan sesuatu yang lain.
Pikiran Asna mulai menyimpang dari norma tapi sejalan dengan motivasinya. “Hihihi… Kalau seperti ini, Aku tidak perlu lagi susah-susah mengintip! Ini sudah seperti karakter Brook dalam serial One Piece. Hihihi…”
Jiwa Asna tampak melihat dengan jelas sekian banyak makhluk virtual di hutan belakang sekolah. Ia masih merasa ngeri dengan tampilan berbagai bentuk makhluk yang menyerupai manusia namun tak sedap dipandang mata.
Kecuali sosok yang menyerupai hewan atau monster. Bagi Asna bentuk menyeramkan hewan atau monster itu keren.
Sekitar 100 meter dari Jiwa Asna, dua orang bertopeng sedang berusaha membuka ventilasi koperasi sekolah. Mereka pasti “pelanggan khusus” koperasi. Pelanggan khusus yang aktivitasnya hanya pada dini hari.
Betul saja, pada dini hari, ada promosi gila untuk pelanggan. Ambil semua barang yang bisa pelanggan bawa. Semuanya gratis!
Syaratnya cuma satu, lho. Pelanggan hanya bisa membawa barang sesuai kemampuan. Artinya, kalau mampu mengosongkan koperasi, kosongkan saja!
Selain promosi gila, ternyata ada juga undian berhadiah. Pelanggan khusus dini hari dapat memilih brankas uang. Saat mereka bisa membukanya, mereka berhak menguras habis isinya.
Habiskan saja. Polisi tidak akan menangkap selama tidak ada yang tau selain pelanggan itu sendiri.
Nama lain pelanggan khusus ini adalah pencuri.
Ya, mereka ini jelas-jelas pencuri! Bukan pelanggan!!!
Jiwa Asna mendekati dua pencuri yang sedang asyik membuka ventilasi sambil bersenandung. Melantunkan lirik lagu rap yang bukan rap! Jiwa Asna kesal dengan nyanyian orang ini.
“Rap apa itu?! Kau sudah seperti Lekyoung!” kutuk Jiwa Asna yang tentu saja tidak terdengar si pencuri.
Sebuah pukulan kekesalan dilontarkan Jiwa Asna. Pukulan roh. Sudah pasti tangannya menembus tubuh si pencuri.
Tak dapat memukul menambah rasa kesal di jiwa Asna.
Tiba-tiba pencuri yang bersenandung terkena tinjuan rekannya sendiri hingga terjatuh ke tanah. Pencuri yang memberikan tinjuan berteriak marah. “Kau bebas nge-rap. Itu hakmu. Tapi jangan merusak telinga orang lain, Lek!”
Jari tengah dilayangkan si pencuri yang terjatuh.
Jari tengah itu terlihat lemah lalu tergeletak di perut.
“Orang itu tewas!” seru Jiwa Asna. “Aku harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Ah, benar juga. Tubuh itu sudah mati. Boleh jadi Aku bisa merasukinya.” Segera Ia merasuki tubuh itu.
Dimulai dari tubuh bagian bawah. Disusul kemudian tubuh bagian atas.
Jiwa Asna berbaring di tubuh si pencuri yang tewas.
Ia lalu mencoba mengangkat tangannya.
__ADS_1
Tangannya terangkat, tapi tidak dengan tangan si pencuri.
Mengetahui hal ini, Asna yang sedang berada di ruang UKS memberanikan diri menyapa Kuntilanak. “Hai... Tante Kunti, kan? Bisa kita berbincang sebentar?”
Kuntilanak menatap tajam ke arah Asna sembari terus bergerak, menembus tembok dan berpindah ke ruangan sebelah.
Tiba-tiba Ia muncul kembali dengan tampilan yang tak lagi menyeramkan. “Bisa dong. Aku juga bosan. Yuk, kita ngobrol….” ujar Kuntilanak dengan nada datar sambil mendekati Asna.
Asna menepuk jidatnya. “Kamu ngapain ke sebelah kalau memang mau ngobrol?”
Kuntilanak menyeringai seram seperti biasa terjadi di film-film horor. Ia lalu menjawab, “Barusan Aku membersihkan make up dulu. Kau pasti risih kalau Aku dandan kayak tadi. Aku saja merasa risih pakai tujuh lapis bedak.”
“Make up rupanya….” Asna menggangguk paham. “Ku kira Kau kalah main kartu sampai wajah penuh tepung.”
Sembari menutup mulut, menahan malu, Kuntilanak menjawab, “Dulunya, sih… Awal-awal jadi Kunti Aku suka begadang main gaple. Hihihi…”
Tidak ingin membuang waktu, Asna langsung menyampaikan niatnya berbincang dengan Kuntilanak. “Oh, iya. Ada yang ingin Ku tanyakan. Bagaimana cara kalian merasuki tubuh manusia?”
Kuntilanak tersenyum manja bak gadis remaja. “Itu, sih, gampang mas bro….” jawabnya. “Lebih tepatnya, gampang-gampang susah.”
“Gampangnya dua, susahnya satu. Seberapa gampang?” tanya Asna kembali.
“Segampang mengupil. Tinggal colok, putar dan tarik.” Kuntilanak menjawab dengan sebuah analogi.
Asna mempraktikkan aktivitas mengupil.
Mencolok hidung memang gampang.
Memutarnya juga gampang.
Menarik apalagi!
Gampangnya ada tiga malah!!!
Hanya saja tetap ada yang susah. “Apa susahnya?” tanya Asna.
“Cari mediumnya yang susah,” jawab Kuntilanak.
Asna mempermainkan wajahnya seolah kebingungan seraya berkata, “Di kuburan, kan, banyak?”
“Mayat? Kami tidak bisa merasuki tubuh orang mati. Orang yang dirasuki haruslah tubuh hidup. Hanya saja jiwanya sangat lemah hingga tak berdaya saat Kami rasuki,” terang Kuntilanak.
“Kalau mayat tidak bisa, ya? Duh, ngapain juga Aku memaksakan jiwaku merasuki mayat itu,” pikir Asna.
Di belakang koperasi, Jiwa Asna menggeliat-geliat pada jasad pencuri. Seperti cacing kepanasan. Ia baru berhenti setelah mendapat informasi dari Kuntilanak. “Ancrit! Udah kayak penari erotis aja Aku tadi. Perbuatan tak berguna!”
Jiwa Asna tiba-tiba mendengar teriakan pencuri yang masih hidup. Rupanya pencuri ini berhasil membobol ventilasi yang terbuat dari besi.
“Lek! Kamu jangan pura-pura pingsan! Cepat kemari!” Ia masih belum menyadari kalau pukulannya telah membunuh rekannya sendiri. “Lek?” Pencuri ini pun bergegas turun dari dinding.
Dari kemampuannya yang dapat berjalan di dinding, pencuri ini kemungkinan adalah orang yang memiliki pengetahuan virtual. Pejuang Virtual.
Si pencuri meraba urat leher rekannya yang ternyata sudah tanpa denyutan. “Dasar lemah! Kau tidak bisa Ku manfaatkan untuk masuk ke rumah kosong di jalan Juanda.”
Dengan segera dan cekatan si pencuri menggali tanah menggunakan tangannya sendiri untuk membuat lubang. Ia berencana mengubur mayat rekannya dalam liang itu.
Melalui jiwa keduanya, Asna melihat apa yang dilakukan si pencuri. Ada rasa prihatin di dirinya. Di zaman sekarang, nyawa manusia sering tidak lebih berharga dari pada uang.
Asna juga mendengar tentang rumah kosong yang si pencuri bicarakan. Ia tertarik untuk pergi ke sana. Asna kemudian bertanya kepada Kuntilanak. “Apakah kalian bisa merasuki tubuh sesama makhluk virtual?”
“Makhluk virtual, ya?” Kuntilanak mulai berpikir.
Sesaat kemudian ia menerangkan, “Kalian manusia menyebut semua makhluk yang tidak memiliki tubuh kasar sebagai makhluk virtual. Sepengetahuanku tidak demikian.
“Aku dari kalangan roh halus. Kesadaranku tidak memiliki batang tubuh kasar seperti manusia.
“Sedangkan makhluk virtual yang kalian maksud adalah kesadaran yang memiliki tubuh kasar yang tidak kasar. Antara Kau dan Aku.
“Kalau kalian mati meninggalkan jasad, kematian mereka meninggalkan bagian penting di tubuh mereka. Tanduk, kulit, cakar, darah, dan materi lainnya. Kecuali daging.
“Sedangkan Aku mati tanpa peninggalan apapun. Seolah tidak pernah ada… Hihihi…!”
“Tetap saja kau itu seolah nyata. Virtual. Kau ini tidak menjawab pertanyaanku. Terus, kenapa Kau malah tertawa? Untuk apa kalian ada kalau seolah tidak pernah ada?” Asna mulai bersimpati pada Kuntilanak yang sedikit mengisahkan dirinya.
“Skenarionya memang sudah seperti itu… Hihihi…!” Kuntilanak tertawa mengikik.
Dari pengamatan jiwanya, Asna melihat si pencuri pergi menuju ruang UKS.
Asna langsung bersembunyi di balik lemari.
“Ada apa?” tanya Kuntilanak.
Pintu UKS seketika dibuka lebar oleh si pencuri. “Kau mengobrol dengan siapa?!”
“Aku sedang berlatih drama komedi! Pergilah!” sahut Kuntilanak.
Tidak puas dengan jawaban Kuntilanak, si Pencuri mengeluarkan belati. “Di mana Ia bersembunyi?” si Pencuri berjalan mengitari ruang UKS.
Asna yang melihat kejadian itu teringat akan memori ayahnya. Dari memori itu Asna tau kalau makhluk halus seperti Kuntilanak sebenarnya bukan lawan bagi pejuang virtual terlemah sekalipun.
Ia segera keluar dari persembunyian.
“Kenapa Kau keluar?!” Kuntilanak terlihat tidak setuju dengan keputusan Asna.
“Dia pasti menemukanku. Tenang saja. Orang ini sepertinya tidak sulit ditangani,” terang Asna.
“Berani juga Kau!” seru si Pencuri. “Kau mungkin memiliki pengetahuan itu. Kalau tidak mana mungkin Kau bisa berinteraksi dengan makhluk rendah seperti kunti,” lanjutnya.
Si Pencuri segera menyorong belati ke perut Asna. Gerakan seperti ini dapat dengan mudah Asna hindari dengan dua fokus pikiran. Fokus pada gerakan tangan dan gerakan kaki. Sebelumnya Asna telah memanggil kembali jiwanya yang keluar dari raga.
Tidak terkena tusukkan, Asna berbalik menusukkan jari telunjuknya pada mata kanan si Pencuri.
Asna masih mendapat momentum untuk melakukan serangan kedua. Kali ini Ia menyerang ************.
Si Pencuri mengerang kesakitan.
Segera Asna meraih belati yang terjatuh.
“Kau ini bukan lawanku,” ujar Asna sambil melempar belati ke hadapan si Pencuri. Asna terkesan sombong. Toh, Ia menyadari kemampuan untuk fokus pada dua hal sekaligus sangat bermanfaat melawan pejuang virtual kroco.
“Menarik…” Merasa belum kalah, si Pencuri meraih belati dan berencana kembali menyerang. Dengan sigap Asna segera menendang wajah si Pencuri sekeras mungkin.
Tendangan Asna sudah sangat maksimal. Tapi tidak memberikan dampak pada seorang pejuang virtual.
“Kenapa tendanganmu begitu lemah?!” Si Pencuri jelas kaget dengan tendangan yang diberikan Asna. Baginya, kalau memang benar Asna seorang pejuang virtual, status pertarungan Asna dapat dipastikan masih sangat rendah.
Kembali si Pencuri melecehkan Asna. “Jangan-jangan statusmu rendah! Hahaha…”
“Kau ingin merasa ini?” Asna menunjukkan tinjunya. Sebuah tinju biasa.
Si Pencuri berdiri perlahan. Sejauh ini Ia belum bisa menyerang balik Asna. “Baiklah. Aku pergi sekarang!”
Asna menatap tubuh si Pencuri yang berjalan menuju pintu UKS dengan waspada.
Benar, tiba-tiba si Pencuri berbalik arah dan menyerang Asna.
Dengan sigap Asna menunduk dan memberikan sebuah upper cut ke rahang si Pencuri. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menyerang, Asna meninju pelipis si Pencuri hingga tersandar di dinding. Kali ini pukulan Asna lebih keras dari sebelumnya.
Sebuah tinju kembali dipersiapkan Asna. “Ya, Aku mengaku kalah!” seru si Pencuri.
Asna berpaling ke arah Kuntilanak sambil tetap melepaskan tinjuan. “Bagaimana? Aku hebat, kan?” ucap Asna yang lagi-lagi pongah.
Ada total lima tinju yang Asna sarangkan. Ini namanya jurus Tinju Cuek!
“Aku mengaku kalah, brengsek!” si Pencuri kembali berseru. Asna menghentikan pukulannya seraya berkata, “Pergilah! Jangan lupa balas dendam!”
Si Pencuri berdiri sambil memegangi wajahnya yang tidak lagi bertopeng. Topengnya terjatuh.
Saat Ia berada di depan pintu, Ia kembali berbalik. Asna tentu memberikan pukulan yang menyebabkan Si Pencuri tersandar di daun pintu. “Aku ingin menutup pintu, brengsek!” teriak si Pencuri. Ia mengambil topeng yang tidak jauh berada di dekat pintu.
“Itu tinju spontan! Makanya, jauh-jauh dariku!” terang Asna.
Si Pencuri menutup pintu UKS dengan sopan. Tapi tanpa salam.
Setelah si Pencuri pergi, Asna beranjak duduk di tempat tidur. Asna yang mulai terbiasa dengan Kuntilanak memilih untuk membangun diskusi ringan.
***
__ADS_1