
Ch. 26 Rode Pelakunya
Merasa motifnya diketahui Asna, Godel bergerak menuju Dion yang masih pingsan. “Akan Ku bunuh dia!”
Segera segayung air Asna siram ke wajah Dion. Mantan anak buah Bovak itu siuman.
Ia pun merintih kesakitan. Hanya orang yang pernah ditusuk di dada yang tau rasanya. Mata Dion melotot ke wajah Asna sambil memegang tubuhnya yang terluka.
Asna menunjuk Godel saat Dion menatap marah. “Kau mau dibunuhnya!”
Dion gelagapan mendapati Godel yang membawa belati. Terlebih mata Godel menyiratkan hasrat ingin bunuh.
Mantan anak buah Bovak itu harus berterima kasih dengan Pak Haris. Pembina GWM SMA 25 Samarinda itu menendang Godel hingga terjerembab di kursi.
Sembari menunjuk wajah Dion, plus menginjak tubuh Godel, Pak Haris mulai menginterograsi. “Dion! Jika Kau sayang nyawamu, katakan siapa yang menaruh lubang virtual di dunia virtual Kita?!”
Dion menatap lantai kala menjawab pertanyaan pertama. “Kak Haris… Ugh… Bukan Aku pelakunya. Kau tau Aku jadi panitia kemarin.”
“Itu bukan jawaban,” balas Pak Haris. Dengan santai Ia mengangkat kakinya dari tubuh Godel. “Sekarang, nikmatilah tusukan Godel…”
Tentu saja Godel tidak menahan diri. Ia ingin meluluskan niat membunuhnya yang sempat tertunda.
Belum sempat Godel berdiri, Asna tiba-tiba saja berjalan melewatinya.
Bukan melangkahi. Asna malah menginjak dada Godel. “Biar Aku yang menangani si Doin ini, Kak!” seru Asna.
“Kau?! Bangkai tengik!!!” kutuk Godel. Binatang saja akan marah jika diganggu. Apalagi binatang seperti dirinya.
Tatapan datar Asna lontarkan kepada Godel. “Sorry, Del! Sengaja!”
“Biar Asna yang menanganinya, Del. Aku senang ada yang meringankan pekerjaanku.” Usai berkata demikian, Pak Haris kembali menginjak dada Godel.
Godel hanya bisa menggeleng. “Astaga, Kak Haris….”
“Na, namanya Dion! D-I-O-N. Bukan Doin!” Pak Haris menambahkan.
Kode nonverbal berupa lingkaran yang terbentuk dari dua jari telunjuk dan jari jempol Asna berikan. Itu kode “oke” gaya Asna yang bermakna, “Okay, Bosku!”
Dengan gaya sok memiliki kemampuan cenayang, Asna meremas kepala Dion.
“Apa yang Kau lakukan, Na?! Perbuatanmu pasti akan Ku balas!” Ini kata-kata mengancam dari Dion. Ia seperti tidak suka dipegang di kepala. Makanya saat akan dipegang Asna, Ia terus menggeleng-geleng.
Tidak dapat rotan, dada pun jadi.
Dion mengerang keras. Luka di dadanya belum pulih. Tapi Asna malah mencubitnya. Ini akibatnya kalau Asna tidak dapat kepala.
“Asna, Kau kejam! Hahaha…!” Godel tertawa melihat perilaku si Mesum.
Pak Haris terkejut mendengar tawa Godel. “Rupanya Godel punya selera humor. Selera humor yang kejam!”
“Na, Na, ampun, Na! Aaagghh…!” Dion berbalik memohon setelah sebelumnya mengancam.
Asna menghentikan cubitannya. “Makanya. Biarkan Aku memegang kepalamu…”
Sekarang Dion bersedia membiarkan Asna memegang kepalanya. Itu lebih baik daripada dicubit.
Pak Haris dan Godel saling pandang. Bukan karena mereka ada main cinta. Tapi karena mereka terkesima dengan apa yang dilakukan Asna.
Itu seperti skill membaca memori. Skill yang memungkinkan Asna mendapatkan informasi sahih. Tentu tanpa perlu mengajukan pertanyaan yang bisa saja dijawab dengan kebohongan.
---------------------
Kita menengok Agustin yang sedang digebuk.
Singkat cerita, Agustin diamankan di halaman belakang markas paguyuban. Ia diikat pada batang besi sebagai hukuman. Tepat di bawah terik matahari.
Ini baru cerita gadis yang teraniaya! Penuh siksaan.
Bawang Putih memukuli Agustin hingga wajahnya lebam. “Kau puas memukul adikku, Tin? Padahal Ia cuma menendang bak sampah!”
“Aku sudah sering memukulnya. Tapi Aku belum puas,” jawab Agustin.
Siksaan kembali diberikan Bawang Putih. Sama seperti bawang merah, bawang putih juga bisa membuat mata berlinang air mata. Bawang bombay juga sama. Semua bawang sama saja.
Agustin mendapat siksaan demi siksaan dari Bawang Putih. Kegiatan keji itu diikuti dengan percakapan di antara keduanya.
__ADS_1
Dari percakapan antara Agustin dan Bawang Putih yang didengar Jiwa Senin, diketahui bahwa Agustin adalah anak angkat nenek Bawang Putih.
Ia dirawat sejak kecil dan diberi kehidupan yang layak. Bahkan disekolahkan.
Di luar pengawasan nenek, Agustin sering menjadi bahan hinaan Bawang Merah dan Bawang Putih. Terlebih setelah dua kakak beradik itu mendapatkan pengetahuan virtual dan menjadi punggawa Paguyuban Anggrek Bulan.
Diperlakukan tidak manusiawi, bukannya kesabaran yang ditunjukkan Agustin. Ia membalasnya. Bahkan bisa lebih keji.
Uniknya, si Nenek mendukung sikap Agustin tersebut.
Menurut nenek, seorang wanita harus sakti. Saat menghadapi orang sakti, wanita harus lebih sakti lagi.
Wanita bukan objek.
Jika diinjak-injak, balaslah dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.
Tapi jangan sampai mati. Itu pembunuhan namanya.
Mau siapapun. Pembunuh tempatnya di penjara. Kalau tidak dipenjara, kelak akan di neraka.
Konfrontasi Agustin dengan cucu-cucu ibu angkatnya, si Nenek, bakal mencapai puncaknya hari ini.
Sebab. Kemarin. Saat anggota paguyuban membantu Nini Seke menyerang GWM 25 Samarinda, si Nenek meninggal dunia.
Makanya kemarin itu sepi. Sebagian pergi mengebumikan si Nenek. Sebagian yang lain pergi menyerang.
Jiwa Senin saat ini bertengger di dahan pohon. Sosok lain dari diri Asna ini mengalami sedikit pusing. Pusing melihat pakaian minim Bawang Putih. Lebih-lebih karakter galak kakak Bawang Merah itu membuat dirinya gemas.
Ingin sekali dirinya mengurung Bawang Putih di dalam toilet. Tempat untuk menaruh kotoran.
Bagi Asna, karakter seperti Bawang Putih itulah yang membuat otaknya berpikiran kotor. Lebih tepatnya, menambah kotor yang sudah kotor.
Rupanya kondisi demikian mempengaruhi skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga]. Sosok Jiwa Senin perlahan memudar.
Untungnya Asna menyadari perubahan pada Jiwa Senin. Ia memejamkan mata dan mencoba mengingat hal lain untuk mengurangi parameter libidonya yang melewati batas normal.
Ada satu cara yang cukup mujarab untuk mengatasi libido. Mengingat wajah sok ganteng Bovak. Mimik wajah Bovak dapat membuat perut menjadi mual.
Jiwa Senin seketika muntah.
Asna yang baru mengetahui hal ini lebih membencinya. Ganteng dan jahat. Penggabungan dua kata itu sangat keren bagi Asna. Ia tentu sangat iri.
Iri tanda tak mampu. Memang. Sebab, Asna akui Ia tak mampu menjadi ganteng.
“Hahahaha…! Agustin. Selama ini Kau dilindungi Nenek. Sekarang tidak lagi,” ujar Anjay Depkan.
Bawang Putih menambahkan. “Sudah Aku putuskan. Kita keluarkan Ia dari sekolah. Membunuhnya kemudian. Aku sudah muak dengan orang sok seperti ini!”
Mendengar percakapan jahat itu, Jiwa Senin membatin, “Kak Haris sempat menyinggung orientasi Agustin. Tapi bagaimana mau diorientasi kalau dia jadi mayat? Menjadikan Agustin teman untuk mewujudkan ambisiku sangat mantap sebenarnya! Tapi sebelumnya Aku harus memastikan Dion yang membuka lubang virtual kemarin.”
Dengan kemampuan barunya, Asna mulai membuat sosok Jiwa Senin menjadi manusia seutuhnya.
Harus jadi manusia. Sebab Asna butuh kemampuan berbicara pada Jiwa Senin. Sejauh ini Jiwa Senin belum bisa melakukan itu.
Untuk mendapatkan kemampuan bicara, Jiwa Senin mesti membangun sistem alat penunjang.
Lidah, gigi dan rongga mulut sudah ada. Tinggal pita suara.
Jiwa Senin mencoba suara tangisan bayi baru lahir. “Aaaaaaaaal…”
“Itu bukan suara bayi menangis,” protes Jiwa Senin pada dirinya sendiri.
Anjay Depkan menoleh saat mendengar suara Jiwa Senin.
“Ada apa?” Bawang Putih bingung melihat Anjay Depkan melihat ke sekeliling. “Aku mendengar suara bayi menangis,” jawabnya.
Asik mencoba kemampuan bicara, Jiwa Senin tidak sadar Anjay Depkan berjalan ke arahnya.
“Haaaaa….”
“Emmm…!”
“Dududu…”
“Lalalala…”
__ADS_1
Jiwa Senin tersenyum. Akhirnya Ia bisa berbicara.
Sebuah serangan bermuatan listrik dari Anjay Depkan menyeluruk Jiwa Senin. Batang Pohon tempatnya bersantai rebah.
Gerakan Jiwa Senin terdeteksi Anjay Depkan. “Siapa Kau?! Dion?”
“Bukan, bos. Aku kakaknya!” jawab Jiwa Senin.
“Bas, bos, bas, bos! Dion tidak punya kakak!”
“Kakak sepupunya, bos.” Jiwa Senin menjawab seadanya.
Anjay Depkan membalur tinjunya dengan petir. Sekedar menakut-takuti.
“Betul, bos. Aku cuma ingin menyampaikan kabar buruk,” timpal Jiwa Senin.
Sembari mendekati asal suara, Anjay Depkan mencoba memastikan kebenaran identitas Jiwa Senin. “Sebutkan nama dan tunjukkan dirimu!”
“Seperti kuis, ya? Namaku, Utuh Licak. Sementara tidak bisa menunjukkan diri.” Jiwa Senin menjawab seadanya. Ia bahkan menyebut nama secara asal.
Utuh adalah nama gelar yang umum digunakan di Samarinda. Sedangkan “licak” adalah istilah bahasa banjar yang berarti becek.
“Buh. Apa yang Kau lakukan sampai becek?! Tidak ada nama lain?” sahut Anjay Depkan.
“Nama kode rahasia. Anjay Depkan juga bukan nama sebenarnya, kan?” Jiwa Senin berjalan berputar karena Anjay Depkan terus bergerak ke arahnya.
Seketika tembakan petir dilesatkan Anjay Depkan. Satu meter dari kaki Jiwa Senin. Walau kaget, Jiwa Senin masih bisa menahan suara.
Nyawa bisa melayang kalau Ia latah.
“Dion tertangkap orang yang bernama Datu dan dikurung di markas Tutur Pusaka. Ia mengorbankan diri dengan mengaku, kalau dirinyalah yang membuka lubang virtual paguyuban,” lanjut Jiwa Senin. Menerangkan.
Kepalan tangan Anjay Depkan mengerat. Petir meloncat-loncat di tubuhnya. “Kenapa tertangkap?! Dia itu tidak terlihat!”
“Orang tua itu tiba-tiba menyerang Dion. Untung Aku hanya melihat dari kejauan.” Jiwa Senin mencoba meyakinkan.
Penjelasan Jiwa Senin barusan membuat Anjay Depkan setengah percaya. “Sulit bagiku untuk mempercayaimu. Aku sudah menyuruh Dion menikam Asna saat Datu Busu pergi! Biasanya Dion pintar! Semoga dia tidak membocorkan nama Rode. Kami harus bergerak!”
“Rode? Dia selalu Ku awasi. Oh, boleh jadi Ia menyuruh anak buahnya. Misi pertama selesai dengan sendirinya. Rode ternyata!” pikir Jiwa Senin.
Anjay Depkan beranjak memasuki markas.
“Kau ini seperti orang gila! Sekarang ke mana Kau mau pergi?” tanya Bawang Putih. Ia masih belum puas menyiksa Agustin.
Jelasnya, kakak mana yang tidak terluka melihat adiknya disiksa? Walaupun itu kesalahan adiknya sendiri. Mata harus dibalas mata!
Jiwa Senin sudah memastikan kepergian Anjay Depkan. Segera Ia pergi menemui Agustin.
Melihat Agustin dipukul dan dipukul, Asna kesal juga.
Kesal karena Bawang Putih belum mengeluarkan kekuatan maksimalnya. Makanya Asna berencana melepas ikatan Agustin dan membiarkan mereka bertarung secara adil.
Bagi Asna, itu tontonan gratis yang mahal. Tanpa wasit dan tanpa ring oktagon.
Tidak perlu penonton lain. Pun gadis pembawa baki ronde. Maksudnya, papan ronde.
Bawang Putih sudah cantik dan terbuka. Agustin juga tidak kalah cantik dan terbuka. Digebuk Bawang Putih membuat pakaian Agustin sedikit terbuka memang.
Agar tidak melihat pesona Bawang Putih dan Agustin, Jiwa Senin menutup mata sambil berjalan.
Tidak bisa melihat, Jiwa Senin sekarang lebih memanfaatkan indra pendengaran. Suara omelan Bawang Putih sangat kentara terdengar.
Rupanya menemui Agustin cukup sulit kalau menutup mata. Dinding, tiang dan pohon menjadi rintangan yang sangat berarti. Ketiga rintangan itu selalu dibentur Jiwa Senin.
Kala itu Bawang Putih menjambak rambut Agustin dengan kasar. Pukulan demi pukulan telah Ia lontarkan. Tapi amarahnya masih belum berkurang.
Seorang anggota Paguyuban Anggrek Bulan datang. Sejurus kemudian berbisik di telinga Bawang Putih. Orang tersebut mengatakan kalau Bawang Merah sudah dibawa ke rumah sakit dan mengalami koma.
Amarah Bawang Putih membuncah. Ia jelas sayang dengan adik semata wayangnya itu. “Adik! Tak akan Ku maafkaaaaaaaaan!!!”
Cuaca kembali berubah. Awan hitam menyelubungi markas Paguyuban Anggrek Bulan. Kali ini disertai guntur.
Awan hitam disertai guntur bergerak ke tangan kanan Bawang Putih. Sebilah parang sepanjang setengah meter muncul di tangan tersebut. “Aku berubah pikiran! Matiiii…!!!”
Saat ini Jiwa Senin juga sudah datang pada Agustin. Sejurus kemudian berbisik. “Aku datang dari alam baka. Ibu angkatmu berpesan untuk tidak menahan diri melawan cucu-cucunya….”
__ADS_1
Parang berbalur guntur melesat ke leher Agustin. Matanya yang lebam tertutup. Kepalanya didongakan ke langit. Seolah memasang leher. Pasrah dengan keadaan.
***