Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 21 Drama Rode


__ADS_3

Ch. 21 Drama Rode


Tiba-tiba Godel terpental sebelum terkena sabetan parang. “Bajing!” Godel mengeluarkan belati saat berguling di lantai.


Seorang berjubah putih lain ikut menyerang Godel. Dengan  gesit Godel menggelinding dan mencari peluang menyerang balik.


Lantai bergetar saat penyerang Godel yang pertama terhempas ke lantai. Pingsan berlumuran darah.


Kejanggalan itu membuat lawan Godel kehilangan konsentrasi. Kesalahan yang membuatnya turut pingsan sebelum diserang Godel.


“Apa-apaan ini?! Aku bahkan belum berkeringat!” Godel jelas kebingungan. Tidak ada angin tidak ada hujan, lawan-lawannya knock-out begitu saja.


Godel memicingkan mata. Seketika roh-roh halus yang numpang tinggal di bangunan itu terlihat. Hantu umum yang tidak perlu diperhatikan. Tidak berbahaya.


Perhatian Godel kemudian teralihkan suara gemerincing. “Apa lagi sekarang? Memang ada hantu yang tidak bisa Ku lihat?!”


Benar saja. Ada sosok tak terlihat mencabut sebilah [Resurrection Mandau] di ruang yang sama. Total ada sepuluh di sana.


“Hahaha…! Kalau semua Mandau itu dicabut, mereka pasti mati semua!” seru Godel sambil berjalan mendekat. “Sini, Ku bantu! Hebat, Kau ini pasti bukan hantu karena benar-benar tidak bisa Ku lihat…”


----------------------------


Saat ini, seorang tim penguji berlari ke arah Squad Penjaskes seraya berteriak, “Kalian, cepatlah naik!”


Mendengar teriakan tim penguji, Squad Penjaskes menoleh. “Sepertinya ada yang tidak beres,” ucap Mawart. Ia urung mendaki dan malah berencana menemui tim penguji.


“Kenapa malah turun? Skuad kedua sudah hampir sampai. Kalau kalian lambat naik, peserta ujian bisa menumpuk di pos ini!” terang tim penguji yang barusan berteriak.


“Mereka tentunya sudah mengetahui ada penyusup. Dengan keberadaan Datu Busu, seharusnya masalah seperti ini bisa diatasi panitia,” ujar Asna dalam benaknya. Ia lalu membelai rambut Hairy Woo dan mulai mendaki.


Tiba-tiba rambut tersebut membelit dan menariknya ke atas. “Yaaan…!” seru Asna.


“Asna?!” Iyan berseru kaget melihat Asna ditarik ke atas. “Astaga, Asna!” Irvan pun tidak kalah kaget.


Duo Irvan-Iyan lalu menyusul, menggenggam rambut dan mendaki tebing. Begitupun Mawart.


Seketika rambut-rambut melilit tubuh mereka dan menariknya ke atas dengan sangat cepat.


---------------------------------


Di saat bersamaan, Jiwa Selasa mulai bosan karena tidak ada pergerakkan mencurigakan dari Rode.


Akhirnya Asna memutuskan menguping percakapan Datu Busu dengan Pak Haris untuk mengetahui rencana mereka terhadap para penyusup.


Datu Busu saat ini menguasai sebuah tenda yang biasa digunakan Aranena untuk membuka meja judi Domino Qiu Qiu. “Kalau orang tua ini datang, Aku jujur saja tidak suka. Sangat tidak suka!” keluh Aranena seraya menatap Pak Haris. Wajahnya tampak dibubuhi lima jepit jemuran.


“Jangan Kau pikir Aku yang mengundangnya!” balas Pak Haris yang bernasib sama dengan Aranena. Jumlah jepitan di wajahnya bahkan satu biji lebih banyak.


Ia lalu memelas kepada Datu Busu. “Kenapa tidak pakai koin saja, Datu?” tanyanya.


“Kau tau, kan, Aku tidak suka berjudi,” jawab Datu Busu.


Mereka saat ini sedang bermain permainan kartu remi. Koin taruhan mereka ganti dengan poin jumlah kartu yang jadi. Pemain yang paling sedikit mengumpulkan poin atau bahkan minus akan dijepit pada wajah dengan jepit jemuran.


Seorang panitia datang dan berbisik di telinga Pak Haris. Melihat hal tersebut, Datu Busu menggebrak meja. “Jangan berbisik di tengah orang banyak! Itu bisa menyinggung perasaan orang lain,” teriak Datu Busu.


“A-ada tanda-tanda penyusup masuk ke dunia virtual ini, Datu…” Panitia itu gelagapan setelah dibentak Datu Busu.


Pak Haris menggaruk lehernya yang tidak gatal. Baginya, sikap keras Datu Busu merupakan pelajaran untuk generasi muda. Jadi manusia yang beradab itu adalah salah satu sikap yang harus ditumbuhkan anggota GWM.


Datu Busu menyapu dahinya seraya berkata, “Ini ada kaitannya dengan kematian Bovak. Masalah seperti ini seharusnya sudah bisa Kau antisipasi. Kau terlalu mudah menerima anggota, Ris.


“Tidak semua mereka yang memiliki pengetahuan virtual bisa Kau akomodir. Mereka yang tidak suka diatur, Kita kembalikan kepada keluarganya untuk mengatur. GWM bukan tempat servis yang memperbaiki barang-barang rusak.”


Pak Haris tak dapat berkata apa-apa. Hanya tangannya yang terus beraktivitas, mencabut setiap jepitan yang ada di wajahnya.


“Kalau sudah seperti ini, urusannya jadi panjang,” lanjut Datu Busu seraya berdiri dari tempat duduk. Ia kemudian berjalan mengitari meja, mendekati Pak Haris.


Sambil menaruh kembali jepit jemuran ke wajah Pak Haris, Datu Busu menyambung omelannya, “Seperti inilah makanya Aku sangsi memberi kalian kepercayaan mengelola GWM. ****** itu jangan disayang.

__ADS_1


“Kita usahakan mencari siapa yang membuka lubang virtual untuk mereka. Kalau bentrok tidak terhindarkan, Aku janji akan meladeni yang terkuat dari mereka…”


“Siaplah, kalau begitu,” ujar Pak Haris yang segera berdiri.


Melihat Pak Haris mencoba melepas jepitan, Datu Busu bergegas kembali ke tempat duduk sambil menunjuk Pak Haris. “Siap apanya? Kita lanjut main sampai wajahmu ganteng!”


--------------------------------------


Apa yang dipercakapkan Datu Busu dan Pak Haris sudah diketahui Asna.


“Mencari siapa yang membuka lubang? Memang mudah? Rode tidak mungkin karena Ia terus-terusan Ku awasi. Teman-temannya Bovak pasti bakal jadi tersangka, nih. Tapi yang jelas, tiga peserta itu harusnya jadi prioritas karena jadi kunci serangan mereka,” pikirnya yang sedang menikmati perjalanan setelah mendapat bantuan dari tim penguji.


Squad Penjaskes tidak perlu mengeluarkan energi saat mendaki karena dibantu Hairy Woo. Hal ini cukup mengganggu Irvan dan Iyan.


“Ini efek Asna ada di squad kita. Benar-benar tidak menantang!” keluh Irvan.


“Kalau Kau ingin tantangan, hadapilah Kami!” seru seorang berjubah putih yang mengayunkan parang ke leher Asna. Dengan sigap Asna menangkisnya dengan [B-Shock]. Sentuhan parang dengan [B-Shock] menimbulkan suara gemerisik dan percikan yang cukup menyilaukan mata.


Penyerang Asna berlalu dan menjadi incaran Iyan dan Irvan. Sedangkan Mawart melindungi Asna yang memang paling lemah di squad ini.


“Jumlah orang yang hendak menangkapku tidak mungkin sendirian! Mereka jelas juga menaruh dendam dengan mereka yang ikut menggebuk Bovak. Mereka akan membunuh kami semua setelah berhasil membunuh tiga peserta lemah selain Aku.” Dalam kewaspadaan, Asna masih bisa melakukan analisis.


Analisis Asna cukup mendasar karena Ia telah mendapat cukup informasi dari menguping ocehan Nini Seke.


Strategi awal Nini Seke, membunuh tiga peserta terlemah selain dirinya yang akan membuat kuota penyimpanan jiwa pada [Resurrection Mandau] penuh.


Saat Asna, Irvan dan orang-orang yang menghakimi Bovak terbunuh, mereka akan mengalami kematian sesungguhnya walaupun di dunia virtual.


Selain itu, Anggota GWM yang kuat bakal berpikir dua kali untuk bertarung hidup mati.


Situasi yang masih membuat Asna dapat bersikap tenang adalah keberadaan Godel di markas Paguyuban Anggrek Bulan. 10 [Resurrection Mandau] milik Paguyuban Anggrek Bulan sudah dicabutnya. Item yang membuat para penyusup tenang dalam melakukan penyerangan.


Dua orang berjubah datang menyergap Mawart dan Asna sambil mengayunkan parang. Kembali Asna berhasil menangkis tebasan parang lawannya.


Tapi tidak dengan Mawart. Pinggangnya berdarah.


“Untung cumlucil!” tegur Mawart yang sedikit kesal dengan Asna yang balik bertanya, “Apa itu cumucil?”


“Untung cuma luka kecil, pintar!” tegas Mawart. Inilah gambaran orang asli Indonesia. Selalu merasa untung.


“Kita menuju pos dua, cepat!” titah Irvan yang berhasil menghindari lawannya. Iyan mengikutinya dari belakang.


“Jangan sampai terpisah!” sahut Mawart yang langsung menggandeng tangan Asna. Sebagai salah seorang yang ikut menggebuk Bovak, Mawart pasti ikut bertanggung jawab dengan situasi saat ini.


Sayup-sayup terdengar lengkingan permainan alat musik biola. Nadanya sunggguh romantis.


Dilanjutkan rentak irama gendang khas musik Bollywood.


Musiknya semakin jelas terdengar dengan alunan lagu “Mohabatein” yang sekarang sangat sering dipertontonkan di salah satu televisi swasta.


Rupanya lagu ini mengiringi gandengan tangan Mawart dengan Asna yang sesekali memutar di sebuah pohon.


Mawart memandang ke wajah Asna dengan birahi. Pandangannya beranjak ke genggaman tangan mereka.


Wajah Mawart berubah ketus setelah menyaksikan Asna berulang kali meletakkan upil di tangannya.


“Hentikan musiknya!” titah Mawart. Suara musik berhenti seketika. “Ada apa?!” tanya Timpakul yang datang membawa radio tape tahun 90-an.


“Aike minta lagu ‘Kucingta Kau’ bawaannya Kembang Citra Lestari, sayang!” pinta Mawart sambil menjulurkan lidah.


“Aku tidak punya lagu itu. Dan Buat apa?” Timpakul kembali bertanya.


“Ntuk melemparkan ******** ini! Dia tidak bersyukur ku gandeng. Malah memberiku bulatan-bulatan virus!” seru Mawart.


“Bagusnya lagu ini!” Timpakul menyetel alunan musik cadas. Spultuura.


Hentakan musik cadas membuat Mawart bersemangat melempar Asna. Si Mesum terus terlempar hingga cukup dekat dengan pos dua. Ia pun mendarat dengan selamat secara akrobatik sambil bergaya dub ala Paul Pogba.


Seketika seorang bertubuh besar mencekik leher Asna dan mengangkatnya tinggi. “Eh, anjing!” seru Asna kaget.

__ADS_1


Sosok bertubuh besar yang mencekiknya saat ini memiliki wajah anjing. Jelasnya, sosok ini telah bersekutu dengan makhluk spiritual jenis anjing, Haudog.


“Jangan bunuh bocah itu, Anjing!” teriak Nini Seke.


Ternyata si Tua ini memang sedang menunggu kedatangan salah satu orang yang ikut memukuli cucunya di dekat pos dua.


“Aku tidak bodoh, Nini! Dan jangan mengumpat Aku dengan sebutan anjing! Cukup sebut namaku, Anjay!” protes pemimpin orang-orang berjubah putih, Anjay Depkan.


“Sekedar mengingatkan saja,” sahut Nini Seke sembari menepuk wajah Asna dengan cueknya.


Ia lalu mengurung Asna dalam rangkaian cahaya yang sangat panas.


----------------------------------


Di saat Asna tertangkap, Jiwa Selasa masih menyaksikan permainan kartu Datu Busu, Aranena, Pak Haris dan seorang panitia lain. Situasi sedikit berubah. Kali ini Pak Haris dan Aranena bebas dari jepitan. Poin mereka menjadi yang tertinggi saat ini.


“Bagaimana? Apa peserta terlemah sudah diamankan?” tanya Pak Haris kepada seorang panitia yang ada di belakangnya.


“Sudah, sih. Tapi Asna keburu pergi ke pos dua sekarang.” Panitia itu menjawab.


Pak Haris melirik sinis kepada Datu Busu. “Hal penting sekarang, jangan sampai Asna menjadi alasan bagi Kita menghentikan kegiatan. Sejauh ini belum ada yang mati, kan?” sindirnya.


Datu Busu menguap mendengar pernyataan Pak Haris. Ia sadar kalau Pak Haris menyindir dirinya. “Budakku tidak akan semudah itu mati. Kau seperti tidak mengenalku saja!” balas Datu Busu.


“Ada laporan kalau Asna sudah tertangkap musuh,” ujar seorang panitia yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda.


“Apa?!” Pak Haris berseru kaget.


Satu kartu Pak Haris yang tiba-tiba terjatuh diambil Datu Busu.


“Kau Ku tangkap! Sekarang Kau yang jepit. Hahaha…” Datu Busu tampak kegirangan.


Pak Haris segera meletakkan semua kartunya. “Ini bahaya, Datu! Akan banyak teman-teman Asna yang datang menyelamatkannya!” terangnya.


“Kau ku tangkap. Jangan cari-cari alasan… Cukup sampaikan kepada semua orang untuk tidak gegabah…!” ucap Datu Busu yang terlihat santai menanggapi tertangkapnya Asna.


“Satu jiwa masuk ke [Resurrection Mandau]! Itu siswa kelas 10!” Laporan dari panitia pelaksana lagi-lagi masuk. Pak Haris kembali terkejut hingga dua jepitan melompat dari wajahnya.


Dua jepitan itu diletakkan kembali ke wajah Pak Haris oleh Datu Busu. “Mainlah! Baru satu yang tewas…”


--------------------------------------


Panitia pelaksana mulai panik setelah satu jiwa masuk ke [Resurrection Mandau]. Ini seperti lampu kuning yang menyala redup.


Tapi peringatan tetaplah peringatan. Baik peserta maupun panitia yang tau teman sebaik Asna sudah tertangkap memilih membuat counter strategy.


“Terserah Kak Haris atau Datu Busu bilang apa, yang jelas Aku akan menyelamatkan Asna! Siapa yang mau ikut?” seru seorang senior.


Sebagian besar peserta dan panitia mengangguk setuju.


“Baik, cukup seperempat dari Kita yang pergi menyerang. Sisanya menjaga [Resurrection Mandau]. Kalau satu atau dua di antara kita tewas, tidak mungkin Kak Haris dan Datu Busu tidak bergerak. Kita harus berinisiatif memang,” lanjut senior tersebut.


Tiba-tiba Rode tampil di tengah-tengah anggota GWM yang peduli dengan Asna. “Kalau hanya menyerang pakai otot, bukan cuma dua, tapi kalian semua bakal mati! Anggota GWM yang tewas saat perkemahan akan menjadi headline berita nasional. Harusnya kalian pikir kembali!”


Seorang peserta menghalangi Rode yang ingin mengambil momen saat ini. “Halah! Kau orang yang tidak suka dengan Asna. Tidak perlu Kau ikut campur!”


“Aku tidak suka? Aku hanya menunjukkan padanya kalau kehidupan pejuang virtual itu keras. Status pertarungan rendah akan menyusahkan orang lain. Seperti sekarang!” balas Rode.


Perdebatanpun terjadi. Debat antara Rode melawan penggemar Asna.


“Sebaiknya Kau pergi! Daripada Kau memperkeruh suasana…”


“Memperkeruh? Aku ada solusi yang lebih baik…”


“Solusi apa yang bisa Kau berikan kepada orang yang Kau benci?”


“Terserah kalau kalian bilang begitu. Tapi Aku ada rencana yang lebih baik…”


***

__ADS_1


__ADS_2