
Ch. 22 Antiklimaks
Kembali ke Asna yang sedang terkurung.
Apa yang terjadi di bumi perkemahan sesungguhnya diketahui Asna yang saat ini masih menikmati suasana walau berada di balik kurungan.
Bagi Asna, dramatisasi yang dilakukan Rode agar menjadi pahlawan terlalu dipaksakan.
Ada dua kemungkinan yang Asna temukan dari pertunjukkan seni peran Rode.
Kemungkinan pertama, Rode memang sudah mengetahui serangan balasan keluarga Bovak dan berperan penting. Drama ini tentu saja bisa dikatakan sebagai usaha Rode mencuci tangan.
Kemungkinan kedua, Rode memang sudah tau, tapi tidak mendapat peran. Dengan melawan para pendendam ini, Rode bisa menjadi pahlawan GWM.
Keyakinan Asna tentang pengetahuan Rode mengenai penyerangan keluarga Bovak ini didukung dengan beberapa percakapan Rode yang mengarah ke sana. Walaupun tidak begitu oral.
“Kalau Aku memeluk jeruji kuning ini, apa tubuhku bisa terbakar, Nek?” Tanya Asna kepada Nini Seke.
Nini Seke enggan menatap Asna. Ini salah satu sikap pelitnya.
“Ya…” jawab Nini Seke, super singkat.
Saking pelitnya, Nini Seke hanya menjawab dengan dua huruf. Penambahan tiga titik itu hanya efek nada dari Penulis.
Kalau Nini Seke membalas menggunakan pesan singkat, bisa jadi Ia cuma menggunakan satu huruf, yaitu “y” tanpa spasi. Itupun pakai handphone milik orang lain.
“Ya, Artinya Aku bakal mati kalau meletakkan leherku di jeruji ini!” seru Asna yang mencoba meraih jeruji panas yang dibuat Nini Seke.
Belum sempat Asna meraih jeruji, kurungan langsung membesar. Terus membesar karena Asna masih berupaya untuk meraihnya. Sampai akhirnya jeruji itu mengenai tubuh Anjay Depkan.
“Aaaggghhh…!!!” Anjay Depkan mengerang kesakitan karena kulit di punggungnya melepuh.
“Nini bangkai!” hardiknya.
“Kau yang bodoh! Kenapa tidak menghindar?!” balas Nini Seke.
Anjay Depkan berkilah, “Aku sedang membalas mention, bangkai!”
“Ayo, hajar mas bro!” Asna memprovokasi.
“Diam Kau!” seru Nini Seke dan Anjay Depkan yang secara bersama menyerang Asna.
“Huh, itu tadi hampir!” ujar Asna yang berhasil menghindar.
“Oh, iya. [Resurrection Mandau] Paguyuban Anggrek Bulan ada yang mencopot. Jadi kalian harus berhati-hati,” lanjut Asna.
“Jangan asal bicara, bedebah kecil!” balas Anjay Depkan.
Asna menggeleng tanda tak setuju. “Bapak hanya menyisakan dua penjaga di markas. Lebih tepatnya dua penjaga yang sedang pingsan. Sialnya ada maling yang mencabut sepuluh [Resurection Mandau] di sana. Hahaha…!”
Mendengar penjelasan Asna, Anjay Depkan berseru kaget. “Maling?! Itu tidak mungkin!”
“Terserah Kau, lah!” balas Asna. Ia lalu menunjuk hidungnya sendiri. “Yang jelas sekarang Aku mau bunuh diri biar aman!”
Seketika kurungan Asna menghilang. Asna langsung berlari ke pos dua.
Nini Seke kemudian memberi perintah kepada Anjay Depkan untuk mengejar. “Jangan sampai Dia mati! Lumpuhkan dan bawa Ia ke markasmu!”
Sayangnya kecepatan Asna bukanlah tandingan Anjay Depkan. “Mau lari? Kau harus lebih tua dariku lima tahun!”
Nini Seke menunjuk bawahan Anjay Depkan lalu mulai memerintah, “Kalian, bunuh siapa saja yang bisa kalian bunuh. Saat kuota [Resurrection Mandau] mereka penuh, priotitaskan membunuh orang-orang yang memukul cucuku!”
“Kau ingin menyelesaikan ini dengan cepat? Bagus! Kalau bisa kisah karakter tidak penting kayak Bovak selesai di chapter ini!” teriak Asna yang saat ini sudah diikat Anjay Depkan.
Kesal dengan Asna, Nini Seke memukul punggung leher Asna hingga pingsan.
Inilah kisah main character yang doyan pingsan…
Walau pingsan, Asna jelas mengetahui apa yang terjadi di balik lubang virtual penyusup karena Jiwa Selasa sudah mengitarinya.
Di balik lubang virtual adalah markas Paguyuban Anggrek Bulan.
Asna pun tau dengan jelas kalau di sana ada Godel yang masuk untuk mencuri dan dengan isengnya mencabut [Resurrection Mandau] mereka.
-----------------------------------
Mendapat perintah melakukan pembunuhan secara frontal, puluhan anggota Paguyuban Anggrek Bulan menampakkan batang hidungnya. Menyerang siapapun anggota GWM yang akan mereka temui. Tapi tetap mengupayakan membunuh anggota yang tidak ikut mengeroyok Bovak.
Tidak butuh waktu lama bagi puluhan orang ini menemukan tim kesebelasan Rode.
Ya. Rode berencana menyerang lubang virtual penyusup dengan beranggotakan sebelas anggota kuat dari GWM SMA 25 Samarinda. Sebelas orang termasuk dirinya.
__ADS_1
Apesnya, Rode dan kesebelasannya terciduk. Ia merasa serangannya terjebak offside.
“Ini aneh. Baru satu jiwa yang masuk [Resurrection Mandau], tapi mereka sudah menunjukkan diri. Apakah kuota sudah terpenuhi?” pikir Rode, kebingungan.
Bersama dengan tim penyerang, Rode sekarang terkepung lawan yang jauh lebih kuat dari mereka. “Mengeluarkan skillku di saat ini sangat merugikan. Aku masih belum bisa mengontrol Bronzehair Bekantan. Bertemu dengan Nini Pelit itu malah membawaku kepada kematian. Aku harus mencari celah untuk mundur.” Rode kembali membatin.
“Rode, apa yang Kau pikirkan? Ini rencanamu! Cepat, apa yang harus kita lakukan?!” seorang anggota kesebelasan berseru panik.
“Tetap tenang. Tetap di tempat. Sementara kita upayakan untuk bertahan!” titah Rode.
Puluhan orang-orang berjubah putih menerjang ke arah kesebelasan Rode. Mereka akan membongkar pertahanan ala kadarnya dari pejuang virtual muda itu.
-----------------------------------
Di saat yang bersamaan, Penjaskes Squad yang minus Asna kewalahan menghadapi dua orang musuh. Semuanya sekarang sudah cukup terluka.
“Bagaimana dengan Asna? Mawar Berduri itu Ku lihat melempar Asna beberapa menit yang lalu…” tanya Iyan yang bersandar di punggung Irvan.
“Kita tidak bisa memikirkan Asna. Nyawa Kita sekarang di ujung tanduk!” jawab Irvan.
Tiba-tiba sebuah tombak dari tanduk melesat ke dada Irvan. Secepatnya Irvan merebahkan tubuhnya di punggung Iyan hingga membuat Iyan tersungkur.
Tombak terus melesat dan menancap pada paha Timpakul. Ia pun mengerang kesakitan.
Melihat kejadian itu, Nini Seke mengingatkan anak buah Anjay Depkan. “Jangan sampai gadis berkepala besar itu mati, bodoh! Bunuh yang itu dulu!” Nini Seke menunjuk Iyan.
Peringatan Nini Seke itu sangat beralasan. Di antara anggota Penjaskes Squad, hanya Iyan yang tidak ikut menggebuk Bovak.
Membunuh Iyan dapat menambah jumlah jiwa yang ada di [Resurrection Mandau] menjadi dua. Sehingga Nini Seke cukup mencari satu korban lagi agar dapat membantai semua orang yang membuat cucunya sakit hati.
Sadar masih ada lowongan di [Resurrection Mandau], Mawart menjambak rambut Timpakul. “Tim, bunuh Aku cepat! Aku sudah kagak tahan!” ujar Mawart yang lupa dengan gaya ngondek.
Timpakul malah mendorong kepala Mawart dengan jari telunjuk. “Jangan bodoh! Kita lindungi Iyan biar rencana mereka sedikit terhambat!”
“Melindungi si ganteng Iyan?! Oooohh…!” Mawart kembali bergairah untuk melanjutkan perjuangan.
Tubuhnya sekarang mulai memerah dan menimbulkan bercak-bercak bentuk hati.
Ini seperti sebuah evolusi kekuatan ke tahap berikutnya.
Ya, di tahap berikutnya Mawart langsung pingsan setelah terkena pukulan di leher.
Inilah akibatnya kalau evolusi dilakukan di tengah pertarungan. Musuh tidak akan menunggu lawannya berubah dan menjadi lebih kuat.
Dilumpuhkannya Timpakul dan Mawart mempermudah pekerjaan para penyusup.
Mereka mendekati Irvan dan Iyan dengan santainya.
Dua puluh pejuang virtual dewasa melawan dua pejuang virtual bau kencur.
Ini sudah seperti permaian MMORPG pada mode versus player. Pemain baru pasti kalah dengan pemain veteran karena perbedaan level yang sangat jauh.
Terlebih jumlahnya tidak seimbang.
“Sial! Habislah, Aku!” seru Irvan. “Kita harus saling menjaga, yan!” pintanya.
“B-bagaimana, Van? Kakiku sulit bergerak…” balas Iyan.
Irvan menyikut rusuk Iyan yang masih bersandar di punggungnya. “Kau tidak akan mati, Yan! Tapi saat jiwamu masuk ke [Resurrection Mandau], Aku yang akan mati!”
Situasi sekarang memang sangat berbahaya untuk Irvan. Tapi tidak untuk Iyan.
Tidak ada yang bisa Irvan lakukan selain melawan balik dengan kekuatan seadanya. “Aku tidak mau mati!!!” seru Irvan yang bergegas mengayunkan parangnya ke arah lima orang penyusup. Sebuah serangan yang sangat mudah untuk dihindari.
Mengetahui Irvan berinisiatif melawan, Iyan yang semula merasa ketakutan mulai memberanikan dirinya.
Tangan Iyan tampak menggenggam erat, kala kakinya masih sangat sulit untuk digerakkan.
Seorang penyusup berinisiatif menghunuskan parang ke perut Iyan.
“Hah?!” Iyan kaget setelah sebuah tarikan di tangan kanannya membuat parang hanya menusuk angin.
Tidak sampai di situ, penyusup yang menyerang Iyan mengarahkan mata parangnya ke tubuh Iyan. Sejurus kemudian mengayunkan parang secara horizontal.
Tarikan di tangan kanan Iyan kembali terjadi. Lagi-lagi menyelamatkan Iyan dari kematian fana.
Dua ayunan parang si penyerang barusan membuat dirinya kehilangan momen untuk melakukan serangan berikutnya. Seketika tangan kanan Iyan mengayun dengan sendirinya dan mengenai rahang si penyerang.
Serangan ke arah rahang adalah titik kritis yang membutuhkan poin status pertarungan pada unsur DEX yang cukup baik.
Pukulan di titik ini membuat penyerang Iyan mengalami rasa pusing yang teramat sangat.
__ADS_1
Gelombang serangan kembali menyerbu Iyan. Kali ini ada lima orang penyerang di saat Iyan belum siap bertarung. Berpikirpun sangat sulit. Logika sedang absen.
Iyan jelas masih sangat kebingungan dengan serangan aneh sebelumnya. Yang pasti, Ia merasa ada seseorang yang memegang tangannya dan menggerakkannya.
Menghadapi lima orang, Iyan seharusnya tidak bisa berharap pada bantuan yang Ia terima sesaat yang lalu.
Mati berarti hidup dengan selamat untuk Iyan. Tapi kematiannya akan memudahkan musuh melakukan pembantaian terhadap teman-temannya.
Iyan sudah berada dalam jarak serang lima orang penyusup. Lima parang sedang mengincar tubuhnya.
Lagi-lagi Iyan terselamatkan setelah sosok transparan memutar tubuhnya. Ini serangan sentrifulgar!
Lima penyerang Iyan berhamburan terkena kakinya. “Jurus apa itu?!” hardik penyup yang lain.
Sayup-sayup terdengar teriakan tim kesebelasan Rode. Mereka lari kocar-kacir dikejar puluhan penyusup yang lain. Berlari mendekati Iyan.
Melihat Rode, para penyusup kini dapat dua target di satu tempat. Rode dan Iyan.
Irvan bergerak menuju Iyan yang dari pandangannya dapat bertahan dengan sangat baik. Terlalu baik malah sampai membuatnya bingung.
“Kayaknya di dekatmu jauh lebih aman, Yan. Tapi itu tadi janggal. Untung sekarang Rode datang membawa anggota.” Sambil berkata, Irvan kembali bersandar di punggung Iyan.
“Lindungi Iyan dan Rode!” seru seorang anggota GWM.
Seketika seluruh anggota GWM yang merasa ikut menggebuk Bovak mengelilingi Rode dan Iyan dengan gagah berani.
“Lumpuhkan mereka terlebih dahulu, baru bunuh dua yang di tengah!” seorang penyusup ikut berteriak.
Seluruh anggota Paguyuban Anggrek Bulan yang berjumlah 50 orang menerjang 14 anggota GWM plus Timpakul yang tiba-tiba siuman setelah tawuran sebenarnya terjadi.
Bertarung dalam kerumunan tentu saja tidak mudah. Ada wabah latah yang terus mengintai. Bahkan seorang gamer MMORPG pemula akan sembarangan menekan tombol.
Pada situasi seperti ini, pejuang virtual dengan skill area akan sangat mudah menghabisi musuh. Untuk chapter ini jangan dimunculkan karena akan mengganggu alur cerita.
Walau menang jumlah, para penyusup sebenarnya berada dalam posisi tertekan karena dituntut dua hal. Pertama membunuh Iyan dan Rode, yang kedua melumpuhkan anggota GWM yang menggebuk Bovak.
Terang saja, para penyusup yang menggunakan pola serangan teka-teki tampak kesulitan membongkar pertahanan gerendel anggota GWM. Gaya bertahan timnas sepak bola Italia era 80-90an, catenaccio.
Sepertinya, hanya ada satu cara untuk mengalahkan teknik bertahan catenaccio. Serangan virus corona.
Terlalu fokus menyerang, satu per satu orang-orang berjubah putih terkena kartu merah. Lebih tepatnya mengalami cedera serius. Jumlahnya terus menyusut seiring berjalannya waktu.
Melihat angin peruntungan berbalik arah, Rode dan Iyan keluar menyerang.
Pada periode ini, Iyan menyadari adanya bantuan dari seseorang yang tidak terlihat. Bantuan yang sangat kental Ia rasakan.
“Semestinya serangan Kami tidak begitu begitu memberikan dampak besar pada mereka. Tapi entah apa yang merasuki Kami? Serangan Kami begitu kritis! Pasti ada yang membantu . Namun siapa?” pikir Iyan sembari melayangkan sebuah pukulan kepada musuh.
Anggota GWM melakukan counter attack!
Lima puluh penyusup dapat diatasi dengan anggota GWM yang masih berjumlah 15 orang.
-----------------------------------------
Anjay Depkan membopong Asna yang sudah mulai siuman.
Saat terkena pukulan Nini Seke, Asna sempat mengontrol gerakan kepalanya untuk mengurangi kerusakan. Upaya ini berhasil menjaga koneksi sistem sarafnya tidak terputus.
Asna membatin. “Chapter pembalasan keluarga Bovak ini sudah melebihi 3300 kata. Aku ingin semua berakhir cepat! Toh, Bovak bukan karakter penting yang tidak boleh dikenang kembali!”
Bak gayung bersambut, Datu Busu, Pak Haris dan Aranena muncul di belakang Anjay Depkan. Ini sebuah antiklimaks dari upaya Anjay Depkan membantu Nini Seke.
Pada saat itu pula Nini Seke muncul.
Ia berjalan dengan cepat menuju lubang virtual tempat Ia menyusup. Raut muka Nini Seke terlihat datar dan tak bergairah.
Pak Haris berkata dengan keras kepada Datu Busu. “Betapa memalukannya! Kalau Ku laporkan ini kepada pemerintah kota, paguyuban ini bisa dibekukan! Hahaha…”
“Kau jangan bawa-bawa Aku, Ris. Tiap paguyuban punya cara sendiri dalam mengumpulkan duit kas!” balas Datu Busu.
Anjay Depkan yang merasa tersinggung, meletakkan tubuh Asna ke tanah lalu berjalan mengikuti Nini Seke.
Mata Anjay Depkan melotot saat melihat Godel keluar dari lubang virtual. “Kau?!” Anjay Depkan mengepalkan tinju ke wajah Godel.
“Hei! Dia anggota Kami!” teriak Pak Haris.
Urung memukul, Anjay Depkan memilih masuk ke lubang virtual dan menghilang begitu saja.
Wajah Godel tampak menyesal saat melihat wajah sumringah Datu Busu. “Si Maling… Kau masih banyak utang denganku! Hahaha…” Tawa Datu Busu menutup upaya balas dendam keluarga Bovak pada bab ini.
***
__ADS_1