Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 8 Naik Satu Poin


__ADS_3

Setelah bertemu Datu Busu, Asna mulai tertarik memperdalam ilmu kebatinan. Ia berencana banyak membaca kitab-kitab kuno.


Hanya ini satu-satunya cara agar Ia dapat melebihi kemampuan pejuang virtual lain. Di samping mengharapkan takdir untuk kembali bertemu Tuwill si Boneka Biosilk.


Dengan adanya Tuwill, Asna bisa menjadi super hero yang tentu akan membuatnya lebih dekat dengan gadis-gadis cantik. Jadi manusia keren.


Lima hari sebelum Upacara Kenaikan Tingkat GWM…


Rupanya terlalu banyak waktu terbuang untuk latihan, mengikuti tes serikat, dipukuli Neti dan bermain game mobile. Waktu paling berfaedah untuk Iyan dan Asna adalah saat mereka belajar dan mengerjakan tugas sekolah.


Satu hal yang paling disesalkan Asna di hari-harinya ini adalah kemampuan [Membelah Roh Meninggalkan Raga].


Kemampuan ini tidak berguna saat mengintip gadis-gadis mandi atau berganti pakaian. Berulang kali remaja mesum yang umum ini mencoba, selalu saja gagal.


Jangankan bisa mengintip, berniat untuk mengintip saja membuat jiwanya tidak dapat terbagi. Kemampuan ini rupanya akan rusak saat penggunanya tidak dapat mengendalikan libido.


Pada akhirnya Asna menggunakan keahliannya untuk hal-hal positif. Membaca buku-buku.


Menelusuri keberadaan Tuwill.


Mengintip perkembangan Rode dalam mengambil warisan.


Serta bermain judi di dunia virtual.


Selama belum dapat status keanggotaan, Asna masih dilarang pergi ke dalam hutan dunia virtual sendirian.


Usai latihan rutin di sore hari, Asna yang sudah mandi menunggu Iyan membuat makan pada pukul 18.00.


Ia memanfaatkan waktu itu untuk berpikir sambil memainkan [Broken Ordinary Stone] di antara jari jemarinya. Dua pikiran sedang Ia gunakan. Satu untuk jiwanya yang sedang mengawasi Rode, dan satu lagi berpikir tentang makna kode angka pada dinding yang telah dihancurkan Rode.


Sekilas Asna melihat ada perbedaan status pertarungan yang ia miliki sekarang.


STR 9


VIT 3


INT 1


DEX 1


MEN 2


Status MEN Asna naik satu poin! Asna kaget dengan peningkatan ini! “Ini pasti karena itu!” pikir si Lemah itu. “Yan, statusku naik!” teriaknya.


Iyan bergegas mendekat. Sejurus kemudian menyentuh [Broken Ordinary Stone] di telapak tangan Asna. “Naik satu, Na! Kau bisa jadi anggota GWM sekarang!”


“Kau ngotot mengajakku bergabung GWM. Buat apa, sih?” Asna menyipitkan mata, melirik kepada Iyan.


Sekonyong-konyong Iyan memukul kepala Asna. “Kebanyakan pejuang virtual saat sekolah ikut GWM, pintar! Banyak manfaat yang bisa didapat.


“Kau sudah lihat selama ini Aku dapat mengeksplorasi dunia virtual di GWM lebih ke dalam hutan. Kalau beruntung, ya, dapat benda berharga dari mengalahkan makhluk virtual. Kayak Rode…


“Kau tau Irvan bisa dapat uang dari mana? Ia pandai berdagang drop. Koin virtual Irvan tukar dengan Rupiah. Akhirnya Ia bisa mencicil motor dan membiayai hidup.”


“Cuman itu, ya…?” Asna pura-pura meremehkan. Padahal menurutnya, GWM memberikan banyak manfaat.

__ADS_1


Iyan kembali memukul kepala Asna. “Di GWM kita dilatih menjadi pejuang yang memiliki berbagai keterampilan. Selain bertarung, kita diberi pengetahuan tentang navigasi darat, tanda jejak, sandi-sandi, pioneering dan banyak hal berguna lain…”


Asna tertarik dengan satu keterampilan yang disebut Iyan. Ia bergumam, “Sandi-sandi…?”


Mengetahui Asna mulai tertarik, Iyan menjelaskan masalah sandi-sandi. “Iya. Itu sebagian kecil. Kita akan diajarkan sandi-sandi untuk berkomunikasi. Suatu kode rahasia yang hanya anggota GWM yang tau!”


“Ada yang berupa nomor, gak?” tanya Asna. Iyan segera menjawab, “Ada. Sandi angka namanya! Huruf A itu diganti angka 1. Huruf B jadi angka 2. Begitu seterusnya…”


“Sangat sederhana…” Asna bergumam kecil. Suara rendah Asna terdengar Iyan yang kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Dasarnya memang sesederhana itu. Tapi bisa lebih kompleks jika dikombinasi dengan sandi lain atau dilakukan suatu variasi… Hmm… Bau gosong!” Iyan bergegas pergi ke dapur untuk melihat olahan masakannya.


Wajah Asna berubah sangat serius saat ditinggalkan Iyan. “Kalau warisan itu diberikan oleh anggota GWM terdahulu, besar kemungkinan kode itu diperuntukkan bagi anggota GWM berikutnya,” ujar Asna dalam hati.


Kode angka yang sempat dicatat Asna itu kini sudah sangat Ia hafal. Yaitu kumpulan angka dengan urutan…


5.2.21/15.18.24.14.1.7.14.1/7.22.17.14.24/15.2.25.18.21/7.22.17.8.5//


15.14.20.22/23.22.10.14/15.18.5.22.24.14.1/1,5/3.14.17.14.1.12.14///


Asna membatin, “Angka-angka ini seperti kode yang bahkan Rode bisa memecahkannya. Dunia virtual yang terhubung dengan sekretariat GWM bisa jadi ada kaitannya dengan GWM.”


Ia lalu mulai mengambil pulpen dan kertas. Menulis huruf “A” yang didampingi angka 1 hingga huruf “Z” yang didampingi angka 26. Pesan yang muncul setelah angka diubah menjadi huruf ternyata tidak memiliki makna verbal. Artinya, pesan ini masih begitu kompleks. Seperti yang Iyan katakan, ada kombinasi atau variasi di dalamnya. Asna mulai melihat pola yang ada.


Cukup lama Asna mencari kunci untuk memecahkan sandi itu. Bertanya pada Iyan tentu saja sangat mudah. Tapi akan menimbulkan kecurigaan.


Usai menyantap hidangan gosong yang dimasak Iyan, Asna mulai kembali mencari kunci dari pola yang ada. Berbagai pola baru Ia buat.


Setengah jam kemudian, mata Asna terbelalak saat menemukan pola yang menimbulkan suatu frase yang memiliki makna! Sebelum dirubah menjadi angka, sandi itu ternyata dipertukarkan dulu, antara huruf A sampai M dengan huruf N sampai Z. Proses pemecahan kode tentu saja dengan membalik prosesnya. Sandi A-N.


Ada dua kalimat pada kode angka tersebut yang berbunyi: “Roh bekantan tidak boleh tidur. Bagi jiwa berikan setengah padanya.”


Sejauh pengamatan jiwa kedua Asna, selama ini Rode memang terus mengembangkan Roh Bekantan. Tapi Rode tetap manusia biasa yang butuh istirahat. Setidaknya Rode tidur dua kali sehari.


Jika Rode menemukan teknik [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga] tentu saja akan sangat berbahaya. Ia bisa gentayangan dengan jiwanya yang lain dan mengambil keuntungan dari itu. Mirip seperti Asna.


Bedanya, Jiwa Rode masih bisa gentanyangan kala Ia asik tertidur. Sedangkan Asna tidak.


“Sejauh ini, kelemahan teknikku ada pada waktu-waktu Aku harus tidur. Saat Aku tidur, jiwaku yang gentayangan lenyap begitu saja… Ya, malam ini Aku harus lebih mencermati Rode.” Asna beralih mengambil buku pelajaran setelah mengambil keputusan.


-------------------------------


Pukul 23.00 Wita…


Saat Iyan sudah tertidur pulas dan Asna hanya pura-pura tidur, jiwa Asna melayang-layang di kamar Rode. Jiwa ini semakin memperhatikan percakapan Rode dengan seseorang yang Dia panggil “Papa” pada gawai berupa Kaca Mata VR.


Jiwa Asna dengan jelas mendengar perkataan sosok yang dipanggil Rode “Papa,”


<“Kau memang gila jabatan! Tapi Papa suka itu! Hahaha… Sekarang carilah pengikut baru di sekolahmu.”>


“Siap, Pa. Semoga Papa sehat selalu…” tutup Rode. Ia melepas Kaca Mata VR lalu berbaring di ranjang.


Rode mulai mengatur nafas. Tarik-hela dengan ritme tetap. Terus seperti itu sampai Ia tertidur lima menit kemudian.


Jiwa Asna memperhatikan dengan seksama ritme nafas Rode yang sangat konsisten. Umumnya di awal-awal tidur, manusia masih dapat mensensasi lingkungan. Artinya, Rode masih memiliki kesadaran untuk menjaga keteraturan nafas.


Tujuh menit telah berlalu. Kala itu ada suara pergumulan kawanan tikus yang mungkin lagi tawuran di plafon kamar Rode. Asna mendengarkan dengan seksama suara nafas Rode yang masih sama ritmenya seperti sebelum tidur. Bahkan detak jantung Rode ikut teratur. Ia tidak terganggu dengan hanya suara kawanan tikus.

__ADS_1


Lima belas menit berikutnya mulut Rode yang tertutup menganga dengan sendirinya. Rode jelas telah tidur nyenyak. Asna terus memperhatikan ritme nafas Rode yang masih tetap konsisten. Padahal dua jam telah berlalu sejak Rode tertidur.


Di kamar Iyan, Asna yang sudah mulai mengantuk membuat kesimpulan sementara, “Bisa jadi ritme nafas adalah kunci yang membuat sebagian Roh Rode tetap terjaga walau Ia tertidur pulas.”


Pejuang virtual dengan status anak SD itu lalu mencoba pendekatan serupa. Menarik dan menghela nafas secara ritmik.


Rupanya perlu fokus yang tinggi agar ritme nafas bisa konsisten. Ia pun memaksa memejamkan mata.


Asna mulai mengantuk. Terlelap kemudian.


Jiwa Asna yang sedang berada di rumah Rode mulai berpikir. “*Secara teoritis, tidur dapat dikatakan sebagai aktivitas mengistirahatkan jasmani dan rohani.


“Manusia memasuki beberapa tahapan untuk dapat tidur nyenyak. Tahap pertama tidur-tidur ayam. Pada tahap ini manusia berada antara sadar dan tidak sadar. Saat detak jantung dan pernafasan mulai melambat dan menjadi teratur, manusia memasuki fase transisi antara tidur ayam menuju tidur nyenyak.


“Secara perlahan otak mulai untuk tidak merespon rangsangan yang diterima alat-alat sensori. Konsentrasi harusnya mulai hilang saat ini. Ketika fokus menghilang, nafas mulai tidak teratur. Artinya, teknik menjaga roh agar tetap sadar gagal. Fase ini adalah fase paling krusial. Sehingga dibutuhkan latihan tekad yang kuat.


“Rode yang berhasil melakukan teknik ini bisa jadi dikarenakan Roh Bekantan membantunya untuk menguatkan tekad. Saat fase krusial terlewati, tubuh akan terbiasa dengan ritme nafas yang akan terus konsisten hingga nanti terbangun dari tidur nyenyak. Bahkan saat bermimpi sekalipun.


“Kalau jiwaku yang sekarang masih sadar, berarti Aku sudah melewati fase krusial dari teknik ini. Dengan kata lain, saat ini Aku berhasil*!” Jiwa Asna berputar-putar kegirangan di kamar Rode.


Akhirnya Asna berhasil menjaga kesadaran jiwanya yang terpisah. Pengalaman jiwa Asna ini seperti mimpi. Saat Ia mengistirahatkan otak dan tubuh, jiwanya berkeliaran di dalam ruang dan waktu nyata.


Asna mencoba untuk bangun dari tidur. Cukup dengan menguatkan tekad jiwa yang masih sadar untuk bangun, Asna sudah bisa terbangun dari tidur.


“Hehehe… Sekarang Aku coba melakukan itu!” Asna kemudian mengulang tahap mengatur nafas.


Lima menit berlalu dengan sangat lambat. Rasa kesal menyelimuti Asna.


Ia benar-benar tiada lagi mengantuk!


“Ancriiit! Kantukku hilang. Bagaimana bisa tidur?!” kutuk Asna.


Di balik rasa kesal yang menghinggapi, ada rasa syukur di hati Asna kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Datu Busu. Walau tertekan dengan penuh ancaman, Datu Busu sudah memberikannya petunjuk saat menemui jalur buntu.


“Saat ini antara Aku dan Datu Busu seperti ada ikatan saling membutuhkan. Aku merasa sangat membutuhkan Datu Busu sebagai pengganti orang tuaku. Sedangkan Datu Busu memiliki motiv tertentu dengan kemampuanku. Entah apa motivnya?” pikir Asna.


Tidak dapat tidur, Asna memilih untuk membuka buku pelajaran dan memikirkan makna di dinding ruang warisan rahasia sekaligus.


--------------------


Upacara Kenaikan Tingkat dan Pelantikan Anggota Baru GWM SMA 25 Samarinda tinggal 4 hari lagi. Duo Asna dan Iyan masih belum bosan menjalani aktivitas latihan.


Di saat Asna dan Iyan menjalani hari sebagaimana biasanya, sebuah peristiwa virtual terjadi. Lubang virtual muncul di gerbang Dermaga Pasar Pagi…


“Lubang virtual sedang terbuka! Lokasinya di Dermaga Pasar Pagi!” seru seorang pria berkaca mata biru yang sedang melakukan panggilan telpon.


Mendengar informasi tersebut via telepon, perempuan berambut pirang dan berkulit putih bangkit dari tempat duduk. “Kecamatan Samarinda Kota? Itu masih wilayah kita! Hubungi yang lain. Aku berangkat sekarang!” titahnya.


Perempuan tersebut bergegas menaiki sepeda motor lalu melaju ke tempat kejadian. Begitupun dengan pria berkacamata.


Di kawasan Dermaga Pasar Pagi, pria berkaca mata biru berjalan dengan tergesa-gesa di antara kerumunan orang. Di belakangnya menyusul 6 orang rekannya, seorang perempuan berambut pirang dan 5 orang pria.


Samar-samar mereka melihat lubang virtual sebesar jarum, persis di depan pintu pagar Kantor Dermaga Pasar Pagi.


Sesekali ada satu-dua warga menabrak lubang itu.

__ADS_1


***


__ADS_2