
Ch. 11 Mirip Game MOBA
Setiap serikat memiliki tradisi tersendiri dalam merekut anggota baru. Tapi umumnya menggunakan berbagai tes.
Setelah lulus tes, peserta tes tidak otomatis mendapat warisan. Ia harus menjadi anggota biasa terlebih dahulu, menerima warisan, lalu mengikuti tradisi pelantikan sebagai anggota khusus. Masa untuk menerima warisan paling cepat enam bulan.
Terkait tes, Serikat Burung Kalayangan menerapkan tiga putaran untuk mereduksi peserta. Tes pertama menguji kemampuan bertarung individu. Tes kedua menguji kemampuan kerja sama dalam pertarungan.
Yang tersulit, tentu saja tes ketiga. Peserta yang lulus tes kedua, harus mendedikasikan dirinya kepada serikat dengan kriteria tertentu. Hingga akhirnya dinilai layak menerima warisan. Tes ketiga ini yang tidak diketahui baik Asna maupun Iyan.
Menunggu tes kedua dimulai, Asna dan Iyan duduk bersandar di dinding aula. Iyan masih merasakan gejolak amarah yang membelunggu pikirannya. Tapi ia berupaya bersikap santai. Iyan berkata, “Peserta yang lulus tes kedua ini otomatis menjadi anggota serikat. Permasalahannya…”
“… Kau tidak suka dengan apa yang dilakukan Ketua. Aku juga demikian,” sela Asna.
Mata Iyan bersinar. Ia lalu mengutarakan pikirannya, “Aku akan ikut tes. Begitu lulus dan dapat warisan, Aku akan memberikannya padamu!”
“Ekstrim! Aku pun harus lulus tes kedua. Mendapat warisan, lalu berkhianat! Hahaha...!” terang Asna.
“Itu lebih ekstrim!!!” bentak Iyan.
Iyan mengernyitkan dahi, lalu menggeleng dan berkata, “Tapi itu tidaklah mungkin. Kau pasti akan dihabisi setelah berkhianat! Warisan tetaplah milik serikat. Kalau nanti Aku dapat warisan, bagaimanapun caranya Aku akan memberikannya kepadamu.”
“Sebaiknya Kita lulus bersama-sama. Warisan untukmu, ya, untukmu. Jatahku tetap jatahku,” balas Asna.
Lagi-lagi Iyan menggeleng. “Bukan begitu skenarionya. Kau pasti tidak lulus. Kalau Aku masih ada kemungkinan. Jadi kalau nanti Aku dapat warisan akan ku berikan padamu.”
“Jangan Kau melemahkan semangatku. Aku yakin pasti lulus!”
“Tapi itu tidak mungkin, bodoh!”
“Apapun bisa terjadi, ****!”
Pembicaraan Iyan dan Asna sudah menjurus pada pertumpahan darah. Padahal lulus tes kedua saja belum tentu.
Seorang panitia mendekat. “Ariyan Handoko, Asna Hamran! Terima batu ini. Kalian berkelompok dengan tiga orang di sana… Tim B,” ujarnya sambil menunjuk ke arah tiga orang pemuda setelah memberikan batu biru sebesar kelereng.
Tiga orang yang ditunjuk panitia tersebut berstatus pelajar SMA. Yang pertama bernama Edi, seorang atlet lontar martil Kota Samarinda.
Kedua Hansel, pria berambut hitam kebiru-biruan dengan wajah tampan. Ia seorang atlet panahan.
Yang ketiga dan yang paling cantik bernama Novia Scorvia. Gadis yang melakukan protes beberapa waktu yang lalu. Ia satu-satunya peserta wanita kali ini.
Jika diperhatikan dengan seksama, tubuh Novia tidak tampak seperti petarung. Tapi jangan salah, profesinya sehari-hari adalah mengajar seni bela diri, seorang guru silat.
“Woiii…!” Asna melambai kepada tiga orang anggota tim B dengan senyuman. Hansel menatap Asna dengan wajah datar, lalu kembali berbincang dengan kedua rekannya.
Asna sedikit terganggu dengan sikap rekan timnya ini. Ia berpaling kepada Iyan.“Yan?!” Iyan tak bergeming.
Asna mengangguk memahami situasi. “Oooh… Aku harus bersikap dingin, bahkan dengan rekanku sendiri. Biar tidak terlihat lemah!” terang Asna.
“Tim kita bermasalah!” seru Iyan. “Maksudmu orang-orang itu? Berpengaruhkah?” tanya Asna. Pura-pura bodoh.
Iyan memandang marah kepada Asna. “Jelas!!! Bagaimana bekerja sama kalau tidak ada komunikasi? Tim lain menyusun strategi sebelum mengikuti tes ini. Kita? Seperti Game MOBA Online, kerja sama sangat diutamakan!”
“TES KEDUA SEPERTI GAME MOBA?!!!” Asna terperanjat mendengar penjelasan Iyan. Ia benar-benar tidak pernah tau seperti apa tes kedua. Maklum, ikut tes 33 kali di Serikat Burung Kalayangan, Asna selalu rontok di tes pertama.
Game MOBA Online bukan sesuatu yang baru bagi Asna. Ia sering memainkan genre game seperti itu bersama kawan-kawannya. Terlebih dengan Iyan.
Tes kedua ini hampir sama persis dengan Game MOBA Online. Sebuah arena, monster hutan, peningkatan, toko perlengkapan dan buff, serta [Resurrection Base] yang lengkap dengan pasukan. Yang paling penting, ada Giant Boss yang akan membantu penyerangan setelah dikalahkan.
Bedanya, arena tes kedua berada di dunia virtual dengan segala makhluk virtual yang ada. Makhluk virtual ini memiliki kecerdasan tersendiri, sehingga tidak menetap di satu tempat tertentu.
Kecuali Giant Boss, Ia bersemayam di salah satu sisi tengah wilayah arena. Muncul di saat ia ingin muncul. Ini menegaskan bahwa makhluk virtual di tes kedua bukanlah sistem yang dibuat manusia.
Pembeda utama! Tidak seperti game buatan manusia yang bisa pilih-pilih karakter, tes kedua ini harus dilalui peserta dengan kekuatannya sendiri!
Para peserta yang semula berada di luar aula kini mulai bergeser ke dalam. Asna dan Iyan turut masuk. Dua lubang virtual saat ini tampak menjadi tontonan di tengah aula dan saling berhadapan. Masing-masing berdiameter empat meter.
__ADS_1
Lubang pertama berbingkai cahaya hitam dan satunya berbingkai cahaya kuning. Di dalam lubang tampak kondisi dunia virtual yang terdiri dari tanah gersang, padang rumput, hutan, parit dan tentu saja toko untuk membeli item yang hanya khusus digunakan di arena. Sayangnya tidak ada tower di sana yang membantu menghalau musuh.
Panitia tes tiba-tiba berbicara melalui pengeras suara, “Tim A dan B dipersilahkan berdiri di depan gerbang… karena… Tes akan segera dimulaiiiii….!!”
“WHOOOOAAAAAA….!!!!!” Para peserta sangat antusias menatap dua lubang virtual. Mereka dapat menyaksikan tim-tim yang bertarung secara adil melalui dua lubang ini.
Asna lagi-lagi kehilangan kesadaran selama satu detik. Ia sempat terhunyung sebelum mendapatkan kesadarannya kembali.
Iyan memperhatikan Asna yang terlihat tidak tenang. Ia paham kalau Asna tidak pernah masuk ke dunia virtual model arena. Sedangkan ia sudah tiga kali masuk dan mengetahui apa yang umumnya ada di dalam sana.
“Apa yang Kau risaukan, Na? Di dalam itu sama seperti game yang sering Kita mainkan…” ujar Iyan.
Asna menatap takjub lubang virtual dan melihat apa yang ada di dalamnya.
“Na?!” tegur Iyan.
“Yan? Kok gak ada towernya?!” tanya Asna pura-pura kebingungan. Menutupi temuannya dari Iyan.
Beberapa saat sebelumnya, jiwanya mendapati seorang remaja yang pertama kali Ia hajar sejak menjadi pejuang virtual.
Remaja pencuri yang membunuh kawannya sendiri!
Godel. Itulah namanya. Sebagaimana tertulis dalam daftar peserta.
Asna jelas sangat paham dengan motif dan modus si remaja ini karena Jiwa Asna terus membututinya. Itu dilakukan sejak Asna menginjakkan kaki di aula serikat.
Dia satu-satunya peserta yang mengenakan pakaian mencolok di antara peserta lain. Hal ini tentu saja membuatnya menarik perhatian Asna.
Godel saat ini mengenakan kostum formal yang tidak formal. Tuksido gelap dan dasi hitam. Tapi tanpa pakaian dalam. Plus sandal jepit branded. Slalluslow!
Rambutnya terlihat kusut karena berulang kali masuk ke tempat rahasia serikat. Kalau tidak disebut mencuri, apa perlu disebut silaturahim?
Masuk ke tiap-tiap ruangan tanpa salam. Mengambil barang-barang seolah itu miliknya sendiri. Sembunyi-sembunyi pula.
Hal yang membuat Asna terkejut tentang Godel, seperti dirinya, pencuri ini rupanya bisa menggunakan teknik menyimpan benda di ranah pikiran!
“Wooiii… Na?!” Iyan kembali menegur Asna yang lagi-lagi melamun.
“Yan? Kok gak ada towernya?!” tanya Asna pura-pura kebingungan untuk kedua kalinya.
Iyan menepuk dahinya seraya menjawab, “Sudah Aku jelaskan barusan, ini tidak perlu tower! Kau tenang saja. Nanti ada makhluk virtual yang akan menjaga ring pertama, kedua dan ketiga! Bahkan base kita juga akan dijaga makhluk virtual! Kau ini kebanyakan melamun!”
Panitia memberikan sebuah peringatan yang menyela kekesalan Iyan. “PESERTA DIHARAPKAN BERDIRI DI SISI REKAN SETIMNYA… SAYA ULANGI… PESERTA DIHARAPKAN…”
“Na, ayo kita pergi!” perintah Iyan.
“Kita belum disuruh masuk!” tolak Asna.
Iyan menjambak rambut Asna. “Ayo Kita pergi ke depan lubang virtual Kita!”
“Kita sudah di depan lubang virtual!” balas Asna sambil mencoba melepaskan jambakan Iyan.
Iyan kemudian memukul kepala Asna sampai memar.
“Awww… Sakit, Yaaan…”
“Otakmu memang sudah sakit! Ini lubang musuh! Lubang virtual Kita di sana!!!!!” teriak Iyan.
“HAHAHAHAHAHA…!!!” peserta lain tertawa melihat kelakuan Asna dan Iyan.
Asna tampak berjalan mendahului Iyan menuju lubang virtual Tim B.
Tiga orang rekan setim Asna dan Iyan masih bersikap dingin. Tiada sapaan yang mereka berikan. Akhirnya Asna dan Iyan memperlakukan mereka seperti itu juga.
Setelah Tim A dan Tim B berada di depan lubang virtual mereka masing-masing, Panitia berseru, “PERTARUNGAAAANN… DIMULAIIIII….!!!!!!!!!!!”
Baik Tim A maupun Tim B tidak ingin menyianyiakan waktu. Mereka langsung menerjang masuk ke lubang virtual.
__ADS_1
Tim A langsung membagi timnya menjadi empat. Mauli, seorang tanker yang bertarung dengan tangan kosong bergerak menuju bagian tengah arena. Mauli pergi bersama seorang pesilat bertenaga dalam, Bustar.
Menuju ke sisi kiri pertahanan tim A adalah Bleck. Ia seorang siswa akademi kepolisian. Petarung tipe range dengan senjata utama pistol.
Atlet lempar lembing, Ranggas si petarung bertombak pergi ke sisi kanan sendirian. Terakhir, Buan. Pendekar berpedang bertipe pembunuh. Ia pergi menuju hutan untuk melakukan peningkatan.
Asna dan Iyan muncul dari lubang virtual yang berada tepat di belakang Resurection Base.
Sebuah layar peta transparan seketika muncul di dekat mata kiri Asna dan Iyan. Di atas peta, tertera jumlah koin virtual yang petarung miliki. Setiap lima detik, koin ini akan bertambah sebanyak sepuluh koin virtual. Di bawah peta ada status bertarung yang terbagi atas STR (Strenght), VIT (Vitality), INT (Intelligence), DEX (Dexterity), dan MEN (Mentality).
Ini sebuah sistem yang dirancang para ahli tingkat tinggi dari dunia manusia dan dari dunia virtual. Sebagai bias dari batu biru yang dibagikan kepada para peserta. Batu biru ini disebut dengan [Poor Ordinary Stone]. Sangat berbeda dengan [Broken Ordinary Stone] yang dimiliki Asna dan Iyan.
Asna memandang [Poor Ordinary Stone] Iyan yang tersusun rapi di bawah [Broken Ordinary Stone]. Rasa iri tanpa dengki timbul. “Itu keren, Yan! Kau itu sudah ganteng. Janganlah diperparah dengan batu itu!”
“Aku juga tidak ada niat. Cobalah Kau taruh batumu di pipi,” sahut Iyan.
“Di pipi? Seperti lesung pipit! Itu keren, gak?” Asna tampak antusias.
“Tentu saja tidak. Itu malah seperti tompel di wajahmu! Hahaha…!” Iyan bercanda memang.
----------------------------
Di peta terlihat Edi, Hansel dan Novia sudah lebih dahulu menyerang dari sisi kiri. Beberapa detik kemudian, sembilan makhluk virtual setinggi tiga meter keluar dari Resurection Base menuju sisi kiri, tengah dan bawah arena. Mereka ini ksatria penyihir virtual, bernama...
--Eltow--
Iyan melihat battle status miliknya.
Koin virtual: 0
STR 60
VIT 45
INT 26
DEX 34
MEN 35
Sistem akan terus melakukan pembaharuan setiap terjadi perubahan status pertarungan.
Status pertarungan pasti akan terus meningkat seiring merasuknya energi virtual buatan ke tubuh manusia. Begitupun dengan membunuh lawan. Peserta akan mendapatkan peningkatan status dari pengalaman.
Sayangnya tidak ada informasi mengenai jumlah pengalaman yang diterima. Peserta hanya akan mendapatkan penambahan status secara acak. Sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Adapun Koin virtual baru bisa didapatkan dari membunuh makhluk virtual dan juga musuh.
Melihat kondisi seperti ini, Iyan mulai berpikir, “Aku tidak tau tipe tiga orang itu. Tapi yang jelas mereka sudah saling kenal. Aku bertipe Pengumpan. Dengan atribut yang ku dapatkan nanti, aku bisa menjadi Pendekar Pendukung atau improve jadi semi pelindung. Mau berjaga di tengah atau di kanan bukan masalah. Asna…?”
“Na, job Kau apa?” Tanya Iyan.
Asna tak bergeming. “Na?!” tegur Iyan.
“Oh!!! Ya, ada apa?” ujar Asna, kaget. Iyan mengulang pertanyaannya, “Kau tipe apa?”
“Mana aku tau! Aku baru pertama kali masuk yang seperti ini…” jawab Asna.
“Astagaa… Sebenarnya inilah pentingnya ikut tes pertama. Kau bisa melihat tipemu dari status pertarungan.” Iyan lalu memejamkan mata dan menghela nafas karena dihadapkan pada masalah yang dialami Asna.
Saat lima belas pasukan virtual keluar dari Resurection Base, Iyan kembali berpikir keras, “Tiga orang di sisi kiri pasti tidak akan terpisahkan. Kalau Aku bersama Asna... ada satu jalur yang tidak terjaga. Musuh dengan mudah melakukan penetrasi di situ! Kalau begitu…”~~~~
“Na! kau jangan jauh-jauh dariku! Aku akan melindungimu sambil Kau mempelajari sistem pertarungan di arena ini!” perintah Iyan.
Titah Iyan tiada didengar Asna. Ia lagi-lagi mengalami kehilangan kesadaran.
***
__ADS_1