
Ch. 23 Sakit Maag
Pasca perginya Nini Seke dan pimpinan Paguyuban Anggrek Bulan, Anjay Depkan, pekerjaan yang harus dilakukan anggota GWM SMA 25 Samarinda adalah pembersihan. Total 70 bawahan Paguyuban Anggrek Bulan digelandang keluar dunia virtual dalam keadaan terluka.
Rode merasa dialah yang telah menjadi pahlawan pada upaya pencegahan pembantaian yang didalangi nenek Bovak, Nini Seke.
Namun, rupanya ada kesenjangan antara harapan dan realita yang dialami Rode.
Sebagian besar anggota GWM SMA 25 Samarinda lebih memilih Pejaskes Squad yang menjadi pahlawan. Khususnya Iyan dan bukan Rode.
Mereka menilai, keberhasilan Rode mencuri inisiasi serangan yang akan dilakukan untuk menyelamatkan Asna adalah sebuah kenistaan. Mereka tau persis Rode membenci Asna.
Terlebih saat tim pilihan Rode mundur dari sergapan musuh. Rode lah yang memiliki peran karena paling duluan kabur. Ini menunjukkan moralnya dalam kepemimpinan sangat bermasalah.
Berbeda dengan Penjaskes Squad yang mampu menahan musuh dengan jumlah yang juga cukup besar, 20 orang.
Kredit tambahan diberikan kepada Iyan yang mampu bertahan hidup plus banyak mengalahkan musuh.
Mendapat puja dan puji dari teman-tamannya, tak lantas membuat Iyan besar kepala. Toh, Ia tau persis kalau dirinya tidak melakukan apa-apa kala krisis.
Iyan berpikir, “Sepertinya hanya Aku yang sadar, kalau sebenarnya ada bantuan luar sampai Kami bisa keluar dari krisis. Bantuan dari seseorang yang misterius.”
------------------------------
Setelah situasi kembali kondusif, panitia melanjutkan kegiatan jurit malam dengan agenda yang sama. Walaupun waktu pelaksanaannya menjadi molor hampir lima jam.
Skenario yang dijalankan panitia adalah mempermudah jalur ujian Asna. Peserta lain yang jelas-jelas mengetahui, tidak mempermasalahkan hal tersebut. Kalau perlu Asna tidak usah ikut jurit malam.
Penjaskes Squad yang digawangi Asna harusnya mendapat perlakuan khusus hingga di pos empat. Tapi di pos dua Irvan menolak perlakuan istimewa tim penguji karena merasa tidak tertantang.
Tentu saja Asna tidak senang dengan penolakan Irvan. Menghendaki kesukaran bukan gaya Asna.
Pada pos pertama, Asna dan kawan-kawan sudah dibantu Hairy Woo untuk mendaki gunung **** berupa tebing nan curam.
Berikutnya di pos dua, Penjaskes Squad sangat kesulitan melompati jurang karena burung gagak putih menghalangi pandangan.
Di pos ini Asna mendapat bocoran dari tim penguji tentang posisi pemimpin kawanan gagak putih. Terang saja, setelah pimpinan kawanan gagak Asna kalahkan, melompati jurang tidak lagi menjadi sulit karena hanya selebar dua meter.
Berikutnya di pos tiga, giliran intelijensia (INT) dan mentalitas (MEN) Penjaskes Squad diuji. Mereka harus meniti jembatan bergerak untuk menyeberangi jurang sejauh tiga ratus meter hanya dengan INT dan MEN.
Jembatan tersebut perlu mendapat sentuhan supranatural agar dapat membantu peserta ujian menyeberangi jurang.
Kemampuan supranatural membutuhkan kelihaian dalam memanfaatkan kemampuan berpikir dan daya tahan pikiran. Hal ini dilakukan agar dapat fokus mengatur jembatan sesuai keinginan, bukan malah membuat jembatannya menjadi tidak teratur.
Jembatan tentu akan liar jika pejuang virtual terlalu gegabah menggunakan kekuatan pikiran. Kasus lain, jembatan tidak akan bisa diatur bila kekuatan pikiran terlalu lemah.
Situasi yang membuat Iyan dan Irvan tercengang adalah saat mereka kesulitan mengatur jembatan, Asna malah dengan mudahnya mengatur satu beton yang dinaikinya untuk menyeberang jurang. Padahal tidak ada bantuan dari tim penguji.
Kali ini Iyan dan Irvan malah mendapat bantuan dari tim penguji untuk menyeberang karena tidak kunjung berhasil mengatur jembatan.
Pada pos terakhir, pos empat, Asna kembali mendapat perlakuan istimewa.
Kala semua temannya harus berusaha sekuat tenaga berlari di dalam barak dan terus-terusan digebuk Manusia ****, Asna tidur dengan nyaman. Bahkan Asna tidur nyenyak tanpa terganggu teriakan teman-temannya.
Penjaskes Squad baru selesai menjalani tes pada pukul lima dini hari. Pada saat itu mereka memilih untuk beristirahat di tenda mereka karena fisik dan mentalnya sudah terkuras.
Setelah semua squad menjalani rangkaian jurit malam yang pelaksanaannya sampai tengah hari, upacara kenaikan tingkat akhirnya dilaksanakan bersamaan dengan upacara penutupan.
Suasana upacara yang begitu khidmat membuat air mata Asna berderai. Ia menjadi paham tanggung jawabnya sebagai warga Negara Indonesia sekaligus pejuang virtual sangat diharapkan bangsa.
Asna merasa menjadi seseorang yang baru. Walaupun masih ada hasrat untuk menjadi pejuang virtual keren agar mendapatkan tambatan hati. Seorang wanita yang cantik. Dua orang wanita cantik tidak masalah. Apalagi tiga atau empat.
Poligami bukanlah suatu kenistaan bagi Asna, selama tidak ada yang dirugikan. Walaupun pastinya Ia yang paling diuntungkan.
__ADS_1
------------------------------------------
Di akhir kegiatan, tepatnya pada pukul 14.00, anggota GWM SMA 25 Samarinda masih harus memulihkan luka selama tiga jam di dunia virtual.
Kala itu Pak Haris mengadakan pembicaraan enam mata dengan Datu Busu dan Godel terkait siapa yang membuka lubang virtual dari dalam.
Keberadaan Godel menarik perhatian Jiwa Selasa yang saat ini ikut nimbrung dengan keponya. Si Maling ini pasti bukan orang sembarangan di GWM 25 Samarinda.
“Itu memang harus dari dalam. Sebab, biasanya lokasi lubang virtual yang dibuka dari dunia manusia yang bersebelahan sekalipun, berbeda jarak saat masuk dunia virtual.” Datu Busu menerangkan seolah Pak Haris tidak paham tentang cara kerja lubang virtual.
“Buat apa Datu menerangkan sesuatu yang sudah Kami pahami? Langsung saja ke poinnya!” sahut Pak Haris.
“Penting untuk menerangkan kepada mereka yang tidak tau!” Usai berkata demikian, Datu Busu memandang ke arah Jiwa Selasa yang sedari tadi menonton perbincangannya.
Pandangan itu menyiratkan seolah Datu Busu melihat Jiwa Selasa.
Asna benar-benar kaget saat ini.
Selanjutnya kemampuan [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga] Asna tutup untuk sementara waktu.
-------------------
Usai upacara pelantikan anggota baru dan kenaikan tingkat GWM SMA 25 Samarinda, para anggota mendapatkan kesan yang mendalam. Mereka menerima pengalaman berharga dari kegiatan tersebut.
Hanya sebagian orang yang kurang berkenan. Tentu saja Rode dan teman-temannya.
Rode tidak menerima kenyataan kalau Iyan yang dianggap pahlawan oleh anggota GWM SMA 25 Samarinda. Tak heran rasa dengki yang meracuni Rode semakin menjadi-jadi.
-----------------------------
Ada masalah serius yang ingin dibicarakan Datu Busu dengan Asna, Pak Haris dan Godel.
Kenapa harus ada Godel?
“Kau pasti bertanya-tanya tentang si Panjang tangan ini,” ujar Datu Busu kepada Asna. Ia lalu melirik Pak Haris. Seolah tidak ingin membuang air liur dengan membicarakan Godel.
Pak Haris mengerti maksud dari lirikan Datu Busu.
Sembari menatap Asna, Pak Haris menambahkan, “Dia anggota abadi di GWM SMA 25 Samarinda. Anak kelas 11. Sudah tiga kali Ia tidak naik kelas. Nilai budi pekertinya terburuk dalam sejarah sekolah. Terakhir kali Ia ketahuan mencuri di koperasi sekolah dan mendapat skorsing. Sepertinya tahun ini Ia kembali tidak akan naik kelas kalau terus-terusan seperti ini….”
Mengetahui Godel tampak tertidur kala dijadikan objek perbincangan saat ini, Asna dengan bebas berkomentar, “Di sekolah lain pencuri pasti diberhentikan. Pasti ada alasan kenapa itu tidak dilakukan. Sepertinya ada kaitannya dengan keberadaan Ia di sini. Aku juga sepertinya sama. Ya, apapun yang Datu Busu rencanakan untuk Kami, Aku pasti setuju…”
Datu Busu tertawa mendengar komentar Asna. “Hahaha…! Itu terdengar sedikit tulus. Cuma sedikit, karena Kau terikat utang denganku. Situasi ini, Aku suka! Hahaha…!”
Tidak menunggu tawa Datu Busu reda, Pak Haris menerangkan, “Ada dua rencana operasi yang akan Kita jalankan satu minggu ke depan. Yang per…”
“Bukan dua, tapi tiga! Ingat itu! Kau ini…” sela Datu Busu. Tawanya seketika terhenti.
Pak Haris mengetuk-ngetuk meja, mencegah omelan Datu Busu. “Baiklah-baiklah… Ada tiga, Na! Ingat, ada tiga! Pertama, menemukan anggota Kita yang membuka lubang virtual milik Paguyuban Anggrek Bulan kemarin. Kedua, mengikuti ajang pertarungan antar pejuang virtual GWM, Samarinda Run. Yang ketiga mengorientasi Agustin sebagai anggota baru!”
Tiba-tiba Pak Haris menghentikan penjelasannya. Ia menatap sinis Datu Busu.
“Malaikat Maut!” Asna tidak sengaja berseru.
“Jangan ngawur! Yang ketiga, Aku ingin mencuri warisan yang diincar Rode. Kalau Kau tak suka tak apa!” timpal Datu Busu seraya menunjuk wajah Pak Haris.
Kali ini Asna tidak berani mengomentari topik mencuri warisan Rode. Sebuah topik yang sebenarnya turut membuatnya tertarik. Tapi masih kontroversial.
Asna menunjukkan wajah datar agar tidak dimintai pendapat.
“Sangat berbahaya kalau Rode mendapat harta besar itu…” lanjut Datu Busu.
Pak Haris masih menatap sinis. Ia menunjukkan penolakan terhadap keinginan Datu Busu melalui kode nonverbal. Itu tampak jelas.
__ADS_1
Datu Busu beralih pandang kepada Asna. “Kalau Kita mengadakan voting, Aku pasti menang, kan?” ujarnya dengan mata melotot.
Asna mengangguk tanpa dikehendakinya.
Sedangkan Pak Haris menyentuh hidungnya setelah mendengar omong kosong Datu Busu. “Ya pasti menanglah...! Kau berada di posisi tawar yang tinggi, Datu. Bahkan dengan pemikiran amoral. Bagaimana denganmu, Asna?”
Asna kaget kali ini. Ia menoleh ke arah Pak Haris tanpa memandang wajahnya.
Datu Busu sekonyong-konyong mengepalkan tinju ke wajah Asna. “Kau setujukan dengan keputusanku?”
Pandangan Asna berbalik kepada tinju Datu Busu. Matanya melotot kaget. Ia hanya bisa membalas dengan anggukkan.
Bagi Asna, mencuri warisan incaran Rode bukanlah kenistaan walau menjatuhkan martabat. Buktinya, Ia terus-terusan mengintip Rode hanya untuk mencari celah menikung warisan. Sepuluh ribu poin status pertarungan sangat menggiurkan. Itu bahkan belum termasuk equipment legenda sebagai bonus.
Hanya Asna tidak ingin rencananya bocor. Plus kemampuannya melepaskan jiwa dari raga harus terus tersimpan rapat-rapat.
Sekarang Asna juga tidak mau menyinggung perasaan Pak Haris dengan kata-katanya.
“Kau punya hak bicara di sini. Bicaralah…!” desak Pak Haris.
Asna kembali mengangguk. “Soal Rode, ya?”
“Jangan sok bodoh! Bicara saja…!” Datu Busu ikut-ikutan mendesak.
Apa yang ditakutkan Asna terjadi. Dua orang dewasa ini mendesaknya untuk berpendapat. Tidak ada pilihan lain bagi Asna untuk menyampaikan isi otaknya yang sebenarnya. Walaupun itu pahit.
Asna mengungkapkan, “Apapun yang menjadi keputusan Datu, Aku pasti setuju. Terus terang Aku juga tidak suka dengan Rode. Pak Haris, biarlah, Aku cukup mendengar peranku dalam rencana ini…”
“Peranmu dalam rencana ini?!” seru Pak Haris seraya menunjuk wajah Asna dengan sedikit kesal. Ia lalu beralih menunjuk Datu Busu. “Orang tua ini akan memberikan tanggung jawab buatmu untuk menyusun rencana! Aku jelas masih belum mengerti jalan pikirannya!”
“Membuat rencana?! Aku harusnya lagi bermimpi!” Asna sedikit syok.
Datu Busu menggebrak meja. Ia balik menunjuk Pak Haris. “Kau sudah ikut Aku lebih dari dua puluh tahun, Ris! Beginilah kalau Kau terlalu banyak makan terasi… Terasi dari udang, professor!”
Mendengar keputusan Datu Busu, leher Asna seketika menjadi kaku. Ia sebenarnya juga tidak mengerti jalan pikiran Datu Busu.
Otaknya kini terus memikirkan alasan demi alasan yang menyudutkan dirinya pada situasi sekarang. Terus berpikir hingga asam lambungnya meningkat.
Asna yang sudah terbiasa sarapan belum sempat mengisi perutnya di pagi ini. Perdebatan macam ini jelas menguras energi untuk berpikir. Nutrisi sangat dibutuhkan.
Melihat Asna mengeluarkan keringat dingin, Datu Busu berinisiatif mengeluarkan sebuah kotak kayu. Kotak itu dihentakkan di atas meja hingga membangunkan Godel.
Mata Asna jelas beralih pada kotak tersebut. Demikian pula dengan Godel si Maling.
“Akhirnya, sarapan nih…” ujar Godel yang terakhir kali makan saat mencuri di markas Paguyuban Anggrek Bulan kemarin.
Datu Busu segera membuka kotak.
Isi di dalamnya malah mengecewakan Asna dan Godel.
Jauh dari yang namanya makanan, isi di dalam kotak ternyata sebuah kitab.
“Kalian ini manusia atau rayap? Ini kitab yang sampai sekarang Haris saja belum mengerti mukadimahnya!” terang Datu Busu. “Haris, Kau harus kurangi makan terasi! Hahaha…!” Datu Busu tertawa sejadi-jadinya.
“The Wisdom of General. Seni kehidupan strategis. Karangan Gerbang Langit. Itu kitab yang sangat langka nan mantik. Datu berniat memberikannya pada Asna?” sahut Pak Haris dengan nada heran.
“Aku hanya meminjamkannya, Ris. Dengan kemampuan budakku ini, Aku yakin Ia akan sangat berguna untuk paguyuban ini. Hahaha…!” Lagi-lagi Datu Busu menertawakan sesuatu yang tidak lucu bagi orang lain.
Datu Busu kemudian memberikan sebutir obat maag untuk Asna. Sejak kapan orang tua ini menyimpannya, Asna tidak bisa lagi memikirkannya. Secepatnya Asna mengunyah obat tersebut.
Ada yang membuat Pak Haris terdiam dari perkataan Datu Busu. Itu berkaitan dengan kemampuan Asna. Suatu hal yang masih mengganjal di benaknya.
“Na, ada yang ingin Ku konfirmasi denganmu. Berkaitan tentang siapa yang memukul preman suruhan Bovak beberapa waktu lalu…” ujar Pak Haris.
__ADS_1
***