
Ch. 35 Debat Kusir
Setelah bergabung dengan Tuwill, Darkmanday merasakan pegerakannya sedikit lebih cepat. Hanya sedikit. Itulah sebabnya Asna sedikit kebingungan saat ini. Seharusnya peningkatan yang diberikan Biosilk bisa dua hingga tiga kali lebih kuat dari kekuatan asli.
Walau demikian, Asna yang saat ini sudah berada di sekretariat GWM SMA 25 Samarinda, tetap bersyukur. Setidaknya Tuwill tidak dimanfaatkan orang lain.
Semua anggota hadir di sekretariat GWM SMA 25 Samarinda. Bahkan Dion, Rode dan enam orang anak buahnya juga menampakkan batang hidungnya. Total ada 73 anggota GWM 25 Samarinda yang memiliki pengetahuan virtual.
Hanya Godel dan tiga orang yang bukan pejuang virtual saja yang tidak hadir. Tiga orang tersebut tidak perlu diperhatikan.
Sedangkan Godel. Ia menemani Datu Busu ikut technical meeting di Balai Kota Samarinda.
Lantas, siapa yang telah masuk ke dunia virtual? Nanti saja diceritakan. Biarlah membiarkan Asna bingung untuk sementara waktu.
Di depan 73 anggota GWM 25 Samarinda, Asna menunjukkan ekspresi yang sangat santai. Tampil sebagai orator adalah hal yang biasa dilakukan siswa cerdas itu. Ini menunjukkan kepantasannya sebagai pemimpin.
Asna benar-benar tidak demam panggung. Padahal Ia harus memimpin pememilihan tiga puluh anggota GWM SMA 25 Samarinda yang akan mengikuti Samarinda Run.
Sebagian besar anggota yang hadir saat ini adalah temannya. Asna dengan jujur tidak mau menyakiti perasaan orang-orang itu.
Si Mesum masih belum membuka pembicaraan. Pak Haris memanfaatkan momen itu dengan berbisik di telinganya. “Semua anggota sangat antusias. Bahkan tidak ada yang protes saat Kau Ku tunjuk sebagai Ketua Tim. Sekarang tugasmu adalah tidak memilih mantan anggota Bovak, Rode dan anak buahnya.”
Pak Haris tiba-tiba membelai kepala Asna. “Mulailah…! Jangan kencing di celana! Hahaha…!”
Sepeninggalnya Pak Haris, Asna berdiri sendirian di depan semua anggota GWM 25 Samarinda. Ia menatap wajah orang-orang yang cukup dikenalnya. Dari kelas 10 sampai 12.
Wajah-wajah itu menunggu orasi Asna dengan penuh harap. Penuh kagum. Mereka meyakini Asna adalah orang yang tepat jadi Ketua Tim. Sebab, mereka sadar, kemampuan bicara di depan umum tidak mereka miliki.
Semua orang setuju dengan keputusan Pak Haris yang menunjuk Asna menjadi Ketua Tim. Tidak terkecuali Rode. Sepertinya Rode dan anak buahnya juga setuju.
Buktinya, mereka menunjukkan wajah senyum tulus yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Senyum kemunafikan.
Senyum mereka inilah yang membuat Asna berpikir dengan jeli. Menemukan formula yang tepat untuk kemaslahatan Data Busu.
Ya. Hanya Datu Busu yang dapat menganulir keputusannya. Bukan Pak Haris. Apalagi hanya sekedar anggota seperti teman-temannya sekarng.
“Ayo, Na! Aku akan ikhlas kalau diikutkan serta!” teriak seorang senior dari kelas 12.
Si Mesum yang kini menjadi Ketua Tim itu tersenyum mendengar teriakan seorang senior. Teriakan seperti ini yang Ia butuhkan.
“Ikhlas kalau ikut. Kalau tidak ikut…? Hehehe…” sahut Asna, cengengesan. “Ini berat bagiku. Kita semua di sini bersaudara. Jangan sampai tercerai berai hanya karena keingingannya untuk ikut tidak tercapai. Apalagi gara-gara Aku.”
Pak Haris mengangguk mendengar awal pidato Asna. Sedangkan anggota lain harap-harap cemas. Berharap untuk ikut serta.
“Seperti biasa. Kita akan menggoncang nama. Mengambil kertas. Ya, kayak arisan.” Asna melanjutkan.
Pada periode itu,Rode berbisik pada anak buahnya. “Kau sudah mengancam dua puluh orang anak kelas 10 dan 11, kan?”
“Dua puluh orang. Selain teman Asna. Sudah,” balas anak buah Rode.
Untuk meluluskan niatnya mengikuti Samarinda Run, Rode mengerahkan anak buahnya. Mengancam 20 anggota dengan status pertarungan lemah agar tidak menulis nama pada kertas saat pemilihan tim.
Ini cara baik yang diterapkan Rode. Sangat baik malah untuk membuatnya semakin dibenci.
Asna menaruh ember kosong ke atas meja. Ia lalu menghadapkan bagian dalam ember pada semua anggota. Terus diletakkan pada posisi itu. Ini goncang arisan mode adil.
“Silahkan tulis nama teman-teman. Yang sudah langsung masukkan ke dalam ember,” ujar Asna.
__ADS_1
Rode mengangkat tangan kiri. Ia ingin menginterupsi. “Interupsi, Pak Ketua.”
“Silahkan, Pak Bos!”
Rode langsung menyampaikan isi otaknya. “Menjadi Ketua Tim, selain harus memiliki keberanian juga harus bijaksana. Bayangkan kalau semua berebut memasukkan nama ke ember. Ada kemungkinan nama seseorang hilang. Atau ada nama ganda. Aku sarankan teman-teman di sini memasukkan nama secara bergiliran.”
Hampir semua peserta mengangguk dengan saran Rode. Memang seperti itu aturan yang biasa dilakukan.
Artinya, itu bukan saran. Hanya sekedar mengingatkan.
“Maaf. Aku tidak tau aturan mainnya. Sekarang silahkan untuk baris yang ini memasukkan nama secara bergiliran.” Asna berkata demikian sambil menunjuk salah satu deret barisan anggota.
--------------------
Saat Asna memimpin acara pemilihan anggota tim yang akan berpartisipasi pada Samarinda Run, sosok dirinya yang lain, Darkmanday berjongkok di atas dahan pohon setinggi 25 meter. Itu seperti Shinobi dalam serial Narudin.
Ia tengah mengikuti jalur bekas dilalui seseorang. Yaitu tanda berupa ranting yang baru patah dan jejak kaki.
Sosok lain dari diri Asna itu menggaruk kepalanya. Walau hanya sosok perseptual, Darkmanday ternyata juga bisa berkeringat. Keringat membuat kulit kepala menjadi gatal. Bahkan ketombe yang basah bisa berbau apek.
Barulah Asna sadar. Darkmanday perlu mandi. Sebab, biarpun masih sedikit transparan, jaringan kulitnya sudah sempurna. Tidak mandi bisa mengundang penyakit pada tubuh Darkmanday.
Memandang ke kejauhan, Darkmanday tidak dapat menemukan seseorangpun. Si Cantik Kunti di sekretariat tidak mungkin berbohong. Sekali berbohong, makhluk halus itu bakal diusir. Minimal dimusnahkan dari peredaran.
Darkmanday berpikir. Orang yang menyusup tersebut pastilah anggota GWM SMA 25 Samarinda. Kalau bukan, mana mungkin para makhluk virtual berdiam diri. Ia saja dianggap orang asing. Dianggap penyusup. Hal seperti itu wajar memang karena makhluk virtual di sana belum pernah melihat dirinya.
Ini menunjukkan bahwa para makhluk virtual memiliki sikap kehati-hatian.
Sayangnya Darkmanday tidak bisa menanyakan siapa orang yang masuk. Minimal ciri-cirinya.
--------------
Semua anggota sudah memasukkan namanya ke dalam ember. Sekarang saatnya menggoncang ember dan mengambil satu gulungan kertas. Cukup tiga puluh gulungan kertas untuk mendapatkan nama-nama yang akan mewakili GWM SMA 25 Samarinda.
Selaku Ketua Tim, Asna mendekati ember lalu memulai kembali acara pemilihan. “Ku lihat, semua sudah memasukkan namanya ke dalam ember. Itu artinya, teman-teman memiliki kepedulian pada organisasi kita dan ingin ambil bagian.”
“Tidak perlu bertele-tele. Langsung hitung aja!” Anak buah Rode menyeletuk. Wajah kawan-kawan Asna tidak senang dengan celetukan ini. Pak Haris juga sama.
“Jangan bicara sembarangan!” tegur Pak Haris. “Kalian di sini belajar jadi orang yang bermoral. Bukan jadi ember. Bermulut besar. Dasar ember!” lanjutnya.
“Baik, Aku lanjutkan.” Asna kembali ke acara pokok. “Ember…”
“Hahahaha…!” Anggota yang hadir tertawa.
“Maksudku di dalam ember. Ada nama-nama yang mungkin bisa memberikan prestise bagi GWM kita. Bisa pula memberikan malu,” kata Asna seraya memandang Rode.
Kala Asna memandang, mulut Rode melafalkan kata “bacot” untuk memprovokasi Asna. Pelafalan itu sangat jelas sampai-sampai bibir Rode menjadi monyong.
Melihat kelakuan Rode, Asna mempersingkat orasinya sambil mengambil semua kertas berisi nama dari dalam ember. Satu per satu. “Makanya, tidak perlu ada pengambilan nama. Kita semua akan ikut serta di sana. Kalian semua terpilih jadi anggota tim untuk ikut Samarinda Run!”
Perkataan Asna sangat jelas hingga membuat semua orang yang ada di dalam sekretariat kaget. Pak Haris juga ikut kaget.
Rode lebih kaget. Ia bahkan lupa kalau mulutnya masih monyong.
Suasana menjadi riuh rendah. Setiap anggota GWM yang ada di ruangan itu berdiskusi dengan orang di dekatnya. Mereka semua masih tidak percaya dengan perkataan Asna.
Pak Haris tidak tahan untuk tidak berkomentar. “Kenapa bisa begitu? Peserta yang boleh bertarung di sana hanya tiga puluh orang. Bagaimana mungkin bisa semuanya ikut? Kita hanya peserta, Na. Bukan panitia.”
__ADS_1
“Sebentar lagi ada SMS dari Datu, Kak Haris…” jawab Asna dengan wajah tersenyum. Sekonyong-konyong Ketua Tim itu mengeluarkan semua kertas dalam ember sekaligus.
Kembali dari dunia kaget, Rode tentu saja memprotes keputusan Asna. “Aku tidak sependapat dengan keputusan ini. Kau ngawur!”
Anak buah Rode pun berani angkat bicara. “Untuk apa ada pemilihan kalau semua ikut serta. Aneh memang!”
“Kau harus berani untuk tegas, Na!” timpal senior dari kelas 12.
Tidak ada jawaban dari Asna. Ia memilih untuk duduk di kursi belakang ember. Menunggu keributan mereda.
Gawai Pak Haris berbunyi. Pesan singkat dari seorang bernama Bocah Liar masuk. Itu nama kontak untuk Datu Busu yang ditulis Pak Haris. <“Apapun keputusan si Mesum itu Kau harus setuju titik.” data-tomark-pass > Begitu isi pesan dari Datu Busu.
Pak Haris kebingungan. Ia terdiam membisu untuk sementara waktu. Berpikir tentang cara membela Asna.
Suasana semakin gaduh hingga akhirnya seorang senior berteriak. “Cukup! Coba Kita dengar dulu penjelasan Asna!”
Setelah situasi kondusif, Asna segera menyampaikan argumentasi. “Aku akan menjawab pertanyaan Pak Haris terlebih dahulu. Kenapa begitu? Karena Aku Ketua Tim sekaligus anggota baru. Jujur, Aku tidak ingin menyinggung teman-teman yang ingin berpartisipasi. Jadi semua boleh berpartisipasi. Semua adalah bagian dari tim.
“Kita memang bukan panitia, jadi tidak bisa merubah aturan. Peserta yang bertarung memang hanya tiga puluh orang di dalam arena. Tapi tidak ada salahnya Kita semua hadir di sana lalu me…”
“Kenapa harus ada pemilihan kalau jadinya seperti ini!” Anak buah Rode kembali menyeletuk.
“Kau! Kalau masih menyela, Aku akan mengeluarkanmu dari ruangan,” ujar seorang senior yang mengarahkan telunjuknya pada kawanan Rode. Ia lalu beralih pada Asna. “Lanjut, Na!”
“Sepertinya Aku perlu menjawab, alasan ‘kenapa harus ada pemilihan?’ dulu, nih,” kata Asna. Setelah mengangguk pada Pak Haris, Asna meneruskan penjelasannya. “Pemilihan memang harus dilakukan. Itu tradisi yang dari dulu sampai sekarang jangan ditinggalkan. Pemilihan sudah Kita lakukan, kan? Dan semua terpilih. Tidak akan salah saat kita lakukan pemilihan, semua orang terpilih.”
Mayoritas anggota mengangguk paham argumentasi tentang pemilihan. Asna senang akan hal itu. Ia pun melanjutkan, “Aku ngawur? Betul, Aku ngawur. Waktu persiapan yang sangat mepet membuatku ngawur. Jadi Aku memutuskan untuk menjaga kekompakan Kita.
“Jumlah Kita yang lebih dari tujuh puluh orang akan berlatih dalam waktu singkat. Saat hari-H, Kita semua berkumpul di sana dan berebut untuk masuk lubang virtual. Hanya tiga puluh orang yang boleh masuk. Sisanya memberi semangat. Rencanaku ini jelas ngawur, kan?”
Seseorang mengangkat tangan kiri. Setelah dipersilahkan Asna, Ia lalu berkomentar, “Dari apa yang Aku tangkap berdasarkan penjelasanmu, rencana ngawur itu seperti seleksi internal di hadapan orang lain. Tepat saat masuk ke dalam lubang virtual. Itu akan menjadi tontonan yang menarik. Cuma, bukankah nama-nama peserta yang akan ikut harus didaftarkan dulu kepada panitia?”
Senyum tergambar di wajah Asna. Pertanyaan itu sebenarnya ingin Ia jelaskan. “Memang nama-nama peserta kita daftarkan kepada panitia. Tiga puluh anggota tim yang akan bertarung. Tapi nama-nama itu bersifat tentatif.
“Seandainya tiga puluh orang dari nama-nama itu tidak bisa masuk ke dalam lubang virtual, maka mereka akan digantikan peserta yang masuk. Akan ada yang mengurus itu nantinya. Mungkin, Pak Haris Aku, atau Datu Busu.”
Wajah-wajah anggota tampak berseri. Mereka paham maksud Asna. Selama mereka berusaha dengan gigih dan memiliki peruntungan yang bagus, mereka bisa berpartisipasi dalam Samarinda Run.
Anggota tim yang saat ini duduk di bangku kelas 11 dan 12 tau benar kekejaman “goncangan arisan.” Walau memiliki kemampuan di atas rata-rata, sebagian dari mereka ada yang belum pernah ikut event Samarinda Run.
Tujuan dari diadakannya goncang nama adalah supaya semua anggota memiliki peluang yang sama untuk terpilih. Dengan demikian, tiap-tiap anggota tidak akan saling iri bahkan dengki. Mereka hanya kurang beruntung.
Bagi mereka yang memiliki kemampuan tentu saja cara ini sangat keji. Mereka harus mengalah dengan orang-orang yang beruntung tapi memiliki kemampuan rendah.
Rode lagi-lagi menginterupsi. Tanpa diberi izin Ia langsung berorasi, “Aku mengoreksi kata-kataku sebelumnya. Rencana Asna bukannya ngawur. Tapi gila! Aku tetap tidak setuju tradisi kita diubah-ubah. Itu seperti mencederai para pendahulu kita.
“Aku harap teman-teman semua yang ada di sini bisa berpikir rasional. Jangan mau menerima pembodohan ini. Bayangkan saat Kita berebut masuk dan saling bertarung. Itu bisa membuat Kita bermusuhan setelahnya. Mereka yang berhasil masuk, bisa saja cedera.
“Tolong kepada teman-teman. Jangan sampai disesatkan dengan pemikiran aneh yang seperti tidak waras. Kita harus bertahan untuk kembali ke tradisi awal.
“Cukup nama mereka yang keluar saja yang ikut masuk lubang virtual. Sisanya harus menerima hasil undian dan jadi penyemangat tim. Semoga kita bisa juara.”
Dengan santai Asna membuka satu gulungan kertas. Tidak ada tulisan di dalamnya. Ia pun membatin. “Apa yang Rode rencanakan? Padahal Aku hanya dua hari tidak mengawsinya.”
Setelah meremas kertas, Asna melakukan kontra argument kepada Rode. “Sepertinya hanya Aku yang gila di sini. Sebab Aku ingin Kita juara. Merubah sedikit tradisi lama Ku pikir tidak ada salahnya.
“Berebut saat masuk lubang virtual pasti terjadi. Saling singgung bisa saja terjadi. Kemungkinan terburuk adalah permusuhan. Sekarang Aku bertanya kepada teman-teman sekalian. Siapa di antara kalian yang menginginkan permusahan?”
__ADS_1
“Banyak bacot!” seru Rode. Ia lalu mengacungkan kursi yang Ia duduki. “Kita selesaikan dengan ini!”
***