
Ada sebuah pertanyaan menyangkut tabiat manusia. Yaitu, kenapa manusia sering memanfaatkan segala hal hingga melampaui batas?
Manusia memiliki dua alasan. Yang pertama karena manusia ingin memenuhi kebutuhan untuk tetap hidup, yang kedua karena manusia ingin memenuhi nafsu untuk menikmati hidup.
Alasan pertama sudah menjadi hukum alam. Makhluk hidup akan berupaya segenap jiwa dan raga untuk bertahan hidup. Bedanya manusia akan berupaya untuk bertahan hidup di hari ini dan hari-hari berikutnya. Seolah mereka hidup abadi. Sehingga manusia memanfaatkan segala hal hingga melampaui batas.
Sedangkan alasan kedua cenderung ingin menguasai hanya untuk kepuasan diri sendiri. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
Asna termasuk manusia yang memiliki dua alasan tersebut. Ia ingin bertahan hidup, sehingga berupaya memanfaatkan apapun yang dapat dimanfaatkan. Saat ada kesempatan untuk menguasai, Ia mencoba untuk tidak menyianyiakannya.
Asna akan melakukan apapun yang perlu dikuasai hanya untuk mendapatkan cinta para gadis cantik. Oleh karena itu, Asna ingin sekali memiliki Tuwill. Godaan jadi pujaan wanita tidak mungkin dapat ditolaknya.
Akan tetapi, Tuwill hilang begitu saja. Padahal Ia sudah berhasil membawa Tuwill keluar dari dunia virtual berupa dungeon Kerajaan Biosilk.
---------------------------------------
Kembali ke ruang UKS SMA 25 Samarinda…
Kondisi Asna seperti orang gila saat ini. Ia berulang kali menjambak rambutnya.
Asna berkata dalam batinnya, “Sial! Gelenyutan dada gadis itu tidak terasa di wajahku! Lebih tepatnya di wajah Tuwill, sih. Bodohnya Aku, kenapa Aku malah membayangkan bagaimana rasanya!
“Ini benar-benar suatu kelemahan. Aku kehilangan Tuwill begitu saja. Aku harus mencarinya.
“Aku harus mencari gadis itu.
“Aku harus jadi Super Hero.
“Aku harus dapat pacar.
“Aku harus menangis! Huh… menangis saja begitu sulit sekarang ini!”
“Kau kenapa?” tanya Kuntilanak. Asna langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. “Aku lupa mengerjakan PR!”
“Untung Kami tidak perlu ijazah untuk mendapat pekerjaan. Hihihi…” ujar Kuntilanak sambil melayang menembus dinding.
Tidak pernah Asna menafikkan kalau wanita adalah kelemahannya. Kelemahan itu tampak jelas kala skill membelah jiwa meninggalkan raga dibatalkan. Ini berkaitan dengan fokus.
Asna harus fokus pada dua pikirannya. Saat fokus Asna buyar gara-gara berpikir jorok, dua pikiran akan kembali menjadi satu. Seluruh perhatian dan pikiran Asna beralih fokus pada pikiran jorok itu.
“Aku harus tenang. Tarik nafas, hembuskan. Sulit memang untuk tenang. Kecuali Aku bisa melampiaskan hasrat itu,” pikir Asna.
Tidak berhasil menjadi tenang dengan tarik dan hembus nafas, Asna menarik gawai dan mulai menembus situs yang sudah diblokir Kemenkominfo.
Setidaknya Asna bisa sedikit lega karena wifi sekolah masih aktif di pukul 3.30 dini hari.
-----------------------------------
Di pukul 7.00 pagi, Asna masih menikmati tidurnya untuk melepas penat. Padahal sekolah sudah sangat ramai dengan kehadiran guru-guru dan para siswa.
“Na?! Kau masih tidur jam segini!” bentak Iyan sambil merenggut rambut Asna. Iyan tau pasti kalau Asna bakal kesiangan.
“Apaan, sih? Sebentar lagi, bro…” Asna menarik selimut untuk menutupi kepalanya. Tapi Iyan menahan selimut itu dan berupaya merebutnya. Asna langsung bangun sambil mempertahankan selimut. “Yan?! Jangan, Yan!”
“Ini sudah jam tujuh! Kau tidak malu tidur kesiangan di sekolah?” Iyan masih menarik selimut dengan penuh tenaga.
Asna menggangguk-angguk dengan wajah minta belas kasihan. “Iya, Aku akan bersiap-siap. Jangan tarik selimutnya…”
“Makanya, cepat bangun!” Iyan terus menarik selimut. Bahkan lebih kuat lagi.
Kekuatan Asna tidak sebanding dengan Iyan. Tak ayal selimut terlepas dari tubuh Asna yang ternyata…
“Gobloknya! Kenapa Kau bugil?!” Kutuk Iyan.
Asna berkilah, “Aku takut mengotori seragam sekolah, yan… Kembalikan cepat selimut itu.”
Iyan menjambak rambut Asna. Wajahnya terlihat marah. “Takut kotor?! Apa yang Kau lakukan di sini hingga bisa mengotori pakaian? Mana gawaimu? Aku ingin melihat riwayat kunjungan situsmu!”
Gawai Asna kini menjadi incaran Iyan. Asna secepatnya menyembunyikan gawai miliknya ke bawah bantal. “Jangan, yan…” Asna merengek seperti anak gadis.
“Sini berikan! Kau pinjam uangku untuk membeli gawai itu. Sini berikan!” Iyan segera mengeluarkan gawai miliknya dan mengambil gambar Asna saat ini. Itu gambar yang tidak pantas untuk disimpan.
Berbekal gambar tersebut, Iyan mengancam akan menyebarkan aib Asna di media sosial. Pada akhirnya Asna menyerah dan memberikan gawainya kepada Iyan.
Melihat riwayat situs yang dikunjungi Asna, kemarahan Iyan semakin menjadi-jadi. Bagi Iyan, penyakit Asna sudah begitu kronis.
Iyan berdoa agar Asna tidak punya pacar sampai penyakitnya itu sembuh. Dalam pikiran Iyan, Asna bisa putus sekolah karena pernikahan dini jika punya pacar.
………………………………………..
Hari ini adalah hari Sabtu. Hari di mana sekolah-sekolah di Indonesia umumnya mengadakan kurikuler tambahan.
Tujuannya untuk pengembangan diri siswa sesuai minat dan bakatnya.
Inilah hari yang dijadikan ajang unjuk kebolehan oleh para siswa sebagai salah satu daya tarik kepada lawan jenisnya.
Di SMA 25 Samarinda, hampir semua siswa mengikuti suatu kelompok minat dan bakat. Kecuali siswa-siswa pembangkang dan siswa pemalas.
Siswa pemalas tentu saja tidak suka banyak gerak, mager, malas gerak. Mereka tidak memiliki minat atau bakat yang umum, malas belajar dan malas sekolah. Yang malas sekolah, ya, tidak sekolah. Jadi, tidak perlu dibicarakan lebih jauh.
Ada siswa pemalas ada pula siswa pembakang yang cenderung melawan arus.
Pada hari Senin sampai Jumat mereka mengembangkan minat dan bakat di saat siswa lain fokus pada pelajaran.
Mulai dari seni menggambar di meja dan dinding toilet, seni musik gendang meja sekolah, seni mata-mata untuk menyontek, hingga bermain sepak bola dan basket saat jam istirahat.
Pada hari Sabtu siswa pembangkang akan membentuk komunitas belajar di saat siswa lain mengembangkan minat dan bakat. Komunitas belajar akuntansi (berjudi), belajar sosiologi (pacaran), belajar biologi (berkelahi efektif), belajar matematika (perhitungan/balas dendam), hingga belajar ilmu kimia (merokok).
------------------------------
Masih di hari yang sama, tidak seperti hari-hari biasanya, penampilan Asna banyak berubah setelah diancam Iyan. Ia kini mengenakan seragam sekolah pemberian Iyan yang disetrika rapi. Walaupun ujung celana sekolahnya digulung karena kepanjangan.
Asna juga telah menggosok gigi dengan pasta dan mandi menggunakan sabun. Biasanya Asna menggosok gigi dan mandi hanya dengan sampo cetengan.
__ADS_1
Sekarang Asna menjadi jauh lebih bersih. Kebersihan dan kerapian itu keren di mata para gadis. Hanya saja Asna tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukannya.
Saat ini Asna sedang duduk bersama Iyan di teras kelas mereka, 10-A. Asna terlihat kesulitan mengekspresikan wajah. Antara senang dan sedih. Senang karena bisa tampil lebih baik, sedih karena Iyan punya kartu truf yang akan selalu mengancamnya.
Pada periode ini sesekali siswi-siswi lewat di hadapan Asna dan Iyan. Asna tidak menatap gadis-gadis ini karena tidak masuk dalam kitab kategori gadis impiannya.
Asna baru menoleh ketika Dinia keluar kelas.
Dinia adalah bunga di kelasnya.
Sosok gadis berkulit seputih mutiara dengan rambut hitam kemerahan terurai hingga ke bahu.
Bibir tipis, dagu bak lebah bergantung, mata seperti bintang kejora.
Lesung pipit, hidung mancung, dan tubuh seksi menjadi anugrah keindahan yang diberikan Tuhan kepada Dinia.
Dinia keluar kelas tanpa sedikitpun menoleh ke arah Asna. Suatu sikap yang membuat Asna semakin tertantang untuk mendekatinya. “Din!” tegur Asna. Dinia tiada menoleh sedikitpun. “Ah, Dia sombong sekali!”
Iyan memukul kepala Asna. “Bukan Dia yang sombong, tapi Kau yang songong. Kalau negur jangan tanggung-tanggung.”
“Baiklah, Aku akan mengejarnya.” Asna bangkit dari tempat duduk. Begitupun dengan Iyan. Tidak jauh Asna meninggalkan Iyan, Asna berhenti berjalan. Seorang siswa dengan wajah biasa-biasa saja merangkul Dinia. Itu pasti pacarnya.
Melihat hal tersebut, hati Asna retak seribu. “Baru pacar. Bukan suami. Masih ada kesempatan untukmu.” Iyan mencoba menghibur Asna.
“Padahal kalau bicara wajah, Aku masih bisa bersaing dengannya, Yan…” keluh Asna. Iyan menggeleng tanda tak setuju. Iyan menerangkan, “Siswa yang bersama Dinia tadi juga memiliki pengetahuan virtual. Anak kelas tiga, Bovak. Aku pernah bertarung dengannya di Dunia Virtual. Aku kalah dalam waktu satu menit. Kalau Aku saja bukan lawannya…”
“Apalagi Aku!” Asna langsung memotong. Sekarang Ia sangat paham kalau siswa kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi para gadis.
“Mari ikut Aku…” ujar Iyan seraya berbalik arah meninggalkan Asna. Sesaat setelah menatap Dinia dan pacarnya, Asna berbalik mengikuti Iyan.
Ingin bergegas, Asna malah menabrak seorang gadis. Dahi mereka saling berbenturan hingga meninggalkan benjol sebesar bola pimpong.
Asna berencana mengumpat, tapi kalah cepat dengan gerakan si Gadis yang langsung berdiri dan memukuli Asna. Delapan pukulan, enam belas pukulan, tiga puluh dua pukulan. Ini serangan brutal namanya!
Bagi Asna gadis ini memang bukan sosok biasa, melain Ratu Angkara Murka dari galaksi lain…
--Neti M. Aksda--
N-Maks, begitulah Asna menyingkat nama Neti yang merupakan musuh bebuyutannya sejak di SMP.
Asna mencoba bangkit setelah dipukuli Neti. “N-Maks! Ku doakan Kau tidak akan pernah dapat pacar!”
Neti berbalik mencemooh Asna. “Tidak salah? Bukannya Kamu yang sudah dikutuk tak akan punya pacar? Ngaca, Na! Selama ini Kau yang sering mengganggu Aku. Sudahlah, Kau menghalangi kegiatanku…” Neti lalu pergi meninggalkan Asna.
“Dia selalu saja memukulku, Yan!” keluh Asna seraya mendekati Iyan. “Tetap Kau suka diperlakukan seperti itu…” sahut Iyan. “He-eh!” Asna menggangguk dengan wajah polos.
Asna berjalan sambil mengelus bagian tubuhnya yang sakit. Saat ini tidak hanya benjol, Asna juga mengalami luka memar di wajah dan di bahu. “Ini memang dampak Aku sering menjahilinya sejak SMP. Kau, sih, anteng aja sama Uly pas di SMP dulu.”
Wajah Iyan saat mendengar nama Uly langsung merah merona. Perubahan itu tampak jelas karena kulitnya yang putih. “Pas SMP, ya? Itu cinta monyet, Na…” kilah Iyan.
Tiba-tiba Asna bersembunyi di balik tiang gedung. Iyan turut mengikuti Asna. Seorang gadis lain sedang melewati mereka. Siswi manis bernama Agustin. Dibanding Neti, siswi kelas 11 ini lebih berbahaya. Dia seperti reinkarnasi Dewi Kematian. Baik Neti atau Agustin sebenarnya tipe gadis yang disukai Asna, sangar. Hanya saja, si Dewi Kematian yang awalnya terlihat ramah, sewaktu-waktu bisa mencabut nyawa seseorang!
“Tidaaakk…!” Asna dan Iyan segera melarikan diri. Mereka berlari melewati teras-teras kelas yang lebih sepi dari hari biasa. Hingga akhirnya Iyan berhenti di depan sekretariat Gerakan Wira Muda (GWM). Sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan kewiraan.
Organisasi GWM telah lebih dari lima puluh tahun menjadi mitra pemerintah. Organisasi yang diharapkan dapat menjadi solusi andal mencetak generasi bangsa yang terampil dan memiliki moral yang tinggi.
“Ngapain Kita ke sini?” tanya Asna. Iyan tidak menjawab dan lebih memilih langsung membuka pintu.
Di dalam ruangan tampak lima anggota GWM sedang mempelajari penggunaan kode morse. Mereka benar-benar tidak terganggu dengan kedatangan Asna dan Iyan.
Seorang siswi berjalan dengan manja mendekati Iyan. Ia lalu menyodorkan selembar formulir dan sebuah pulpen. “Adik Iyan. Kau masih ganteng seperti biasanya. Tidak seperti itu…” Siswi itu memonyongkan mulutnya ke arah Asna.
“Hei! Jangan suka membandingkan orang!” protes Asna. Ia kemudian melirik nama siswi itu di bagian dada kanan. Di bagian itu tertulis “Eurin Wati”. Asna lalu berseru, “Hah? Kencing Wati? Itu nama atau kotoran?”
“Apa kau bilang?” Eurin langsung memukul kepala Asna hingga terjerembab. Iyan menepuk pundak Eurin untuk menenangkan. “Tenang, Kak. Dia anak baru, jadi wajar mulutnya tidak bermoral. Tolong ambilkan Aku formulir anggota baru dan formulir masuk Dunia Virtual.”
“Ikut GWM dan masuk Dunia Virtual? Serius, Yan?” Asna tidak habis pikir Iyan mengatur hidupnya secara sepihak. “Kau tidak mau…?” Iyan bertanya sambil berpura-pura mengeluarkan gawainya dari kantong celana.
Asna langsung mengangguk dengan senyum dipaksakan. “Selama ada ‘itu’ Aku pasti selalu setuju dengan keputusanmu.”
Bagi Asna, sekarang semua terasa begitu cepat terjadi. Baru kemarin Ia mendapat pengetahuan virtual, tadi malam dirinya sudah masuk ke dalam dunia virtual berupa dungeon. Untung hanya jiwanya saja. Jika tidak, Ia pasti mati. Mengingat, status Asna sangatlah rendah.
Sialnya saat ini Ia kembali harus memasuki dunia virtual dengan membawa raganya. Asna jelas belum siap dan tidak ingin mati di sana karena statusnya masih sangat lemah.
Iyan meyakinkan Asna bahwa dunia virtual yang akan mereka masuki sangatlah aman. “Aku juga gugup waktu pertama kali masuk. Tapi ternyata semua yang ada di dalam sana tidak seperti yang Aku bayangkan.” Penjelasan Iyan membuat Asna menjadi tenang.
Dalam pengalaman Ayahnya, Asna memang sudah mengetahui dunia virtual memang dipenuhi makhluk-makhluk virtual kuat yang bisa membunuh manusia. Sebagian wilayah lain dunia virtual hanya berisi makhluk lemah.
Iyan dengan mantap berjalan ke sebuah lemari besi di sudut ruangan. Di balik pintu lemari ada sebuah lubang bercahaya kuning yang disebut dengan Lubang Virtual. Ini adalah jalur penghubung antara dunia virtual dengan alam dunia manusia. Hanya mereka yang memiliki pengetahuan virtual yang bisa melihat dan masuk ke dalam dunia virtual melalui lubang ini.
Saat ini Asna mengikuti Iyan yang telah masuk ke dalam lubang. Sambil berjalan Asna mulai mempersiapkan skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga] untuk berjaga-jaga. Walau dunia virtual yang akan Asna tuju sekarang tidak berbahaya menurut Iyan, Asna tetap selalu waspada. Kematian tentu selalu mengintai. Mati sebelum menikah dengan wanita cantik akan sangat disesali Asna.
Jiwa Asna pergi lebih dahulu memasuki dunia virtual. Disusul Asna.
Memasuki lubang virtual pada kenyataannya semudah orang berjalan. Cukup lewat. Tidak ada efek khusus. Tau-tau sudah berpindah ruang.
---------------------------------
Di dalam dunia virtual via secretariat GWM SMA 25 Samarinda…
Belasan tenda di pinggir hutan memperlihatkan situasi seperti bumi perkemahan. Sepanjang mata memandang hanya ada kombinasi warna hijau muda dan tua. Padang rumput dan hutan belantara.
Latar musik petualangan membuat dunia virtual seperti di dunia game multiplayer. Ada manusia dan makhluk virtual lain yang melakukan interaksi sosial. Ada Manusia Kelinci, Manusia Kerdil dan Manusia Kucing yang berbaur dengan pejuang virtual. Semua ini menjadi pemandangan baru bagi Asna setelah sebelumnya berada di dalam ruangan.
“Na! Kemari!” Iyan melambai tangan kanannya kepada Asna. Tampak [Broken Ordinary Stone] milik Iyan menempel pada dagunya. Itu terlihat seperti tindik di bawah bibir Iyan.
Kala ini Iyan sedang berada di depan tenda bersama tiga siswa dan seorang guru yang tentu dikenal Asna. Guru mata pelajaran Kewargarnegaraan sekaligus Pembina GWM…
--Haris Yuliawan--
Jiwa Asna yang lebih dahulu masuk menembusi tubuh Pak Haris dan tiga siswa yang sangat dikenal Asna, Addin, Birin dan Madi. Teman setingkat Asna.
“Asna! Kau baru mendapat pengetahuan virtual rupanya. Selamat ya!” teriak Addin. Asna membalasnya dengan senyum.
__ADS_1
Asna terlebih dahulu mendatangi Pak Haris. Menjabat tangan dan menciumnya. “Anak mesum. Jadi Pejuang Virtual juga Kau rupanya. Hahaha…! Di sini Kau harus memanggilku ‘Kakak!’ Terima ini…” Pak Haris menyodorkan [Broken Ordinary Stone] kepada Asna.
Ukuran [Broken Ordinary Stone] milik Asna tidak jauh berbeda dengan milik Iyan. Hal ini membuat Asna berniat menaruhnya di bawah bibir seperti yang Iyan lakukan. Namun setelah Ia berupaya menempelnya di dagu, batu itu tidak kunjung melekat.
“Genggam batu itu!” titah Pak Haris. Asna mengangguk dan mengikuti perintah Pak Haris. Seketika [Broken Ordinary Stone] muncul di punggung tangan Asna. “Kenapa muncul di sini?” protes Asna.
Pak Haris mengetok kepala Asna karena memprotes. “Umumnya memang muncul di situ! Kalau Iyan memang sudah ganteng dan pantas menaruhnya di dagu biar tambah keren…”
“Ini batu diskriminatif amat, ya?! Kalau tidak tertempel di dagu, paling tidak nempelnya di hidung biar kayak tindikan!” ujar Asna, ketus.
Terlepas dari batu diskriminatif, tidak pernah Asna menyangka kalau GWM di SMA 25 Samarinda adalah perkumpulan pejuang virtual. Sejauh pengetahuan Asna selama ini, GWM adalah organisasi yang tidak diminati siswa. Itu terlihat dari jumlah peserta latihannya yang terlihat sangat sedikit. Rupanya Ia terkecoh.
Di saat Asna mendapat pengarahan dari Pak Haris, Jiwa Asna mengitari tenda-tenda yang berdiri rapi. Di sekitar tenda terlihat teman-teman sekolah Asna dari kelas 10 hingga 12 sedang melakukan berbagai aktivitas. Beberapa di antaranya adalah alumni sekolah yang masih aktif dalam organisasi GWM.
Jiwa Asna penasaran dengan sebuah tenda yang menimbulkan keributan. Ia langsung memasukinya. Asna kaget melihat teman-teman yang biasa bersamanya di belakang gedung sekolah berada di tempat ini. Ternyata temannya di tenda itu sedang bermain judi domino qiu-qiu dengan koin bergambar ular naga. Asna akhirnya memahami alasan mereka selalu tiada setiap hari Sabtu. Mereka adalah pejuang virtual yang gemar bermain judi.
Asna memperhatikan keberadaan [Broken Ordinary Stone] di tubuh teman-temannya ini. Ia pun berkomentar, “Memang umumnya di taruh punggung tangan, ya… Dasar, Iyan! Mau keren sendirian!”
Sesaat kemudian terdengar suara keluhan yang tidak kalah dengan keluhan Asna. “Habislah sudah koinku…” keluh Irvan, siswa setingkat Asna.
“Kau bisa menjual pedangmu kepadaku,” ujar wanita berkepala kelinci. Makhluk virtual semi human dari ras Arnabshop, bernama Aranena.
Irvan menunjukkan pedangnya kepada Aranena. “Kalau ini Ku jual, Aku farming pakai apa?” Ia lalu berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Siswa lain mengambil alih.
Irvan sama seperti Asna. Siswa yatim piatu dan kurang mampu, tapi termasuk siswa cerdas nan populer. Ia tinggal di rumah kost paling murah di Kota Samarinda.
Bedanya, Irvan dapat hidup lebih baik. Memiliki sepeda motor pribadi dan pacar yang lumayan cantik.
Awalnya Asna mengira Irvan adalah anak baik yang bekerja paruh waktu, menjual barang milik orang lain untuk mendapat uang. Rupanya Asna salah. Lebih salah lagi karena Asna menyangka Irvan adalah siswa panjang tangan.
Melihat Irvan mengeluarkan perangkat tempur yang terbuat dari kulit dan mengenakannya, Asna memastikan kalau Irvan akan pergi berburu ke hutan. Membunuh makhluk virtual liar untuk mendapatkan bagian tubuh yang ditinggalkan setelah makhluk itu mati. Bagian tubuh yang ditinggalkan bisa dijual untuk mendapatkan koin bergambar ular naga atau yang biasa disebut dengan koin virtual. Mata uang ini berlaku di seluruh dunia virtual.
--------------------------
Asna memandang [Broken Ordinary Stone] dari Pak Haris di saat sebagian jiwanya mengikuti Irvan ke hutan. Batu ini memiliki kegunaan yang sama dengan yang dimiliki Iyan. Yaitu untuk mengawasi status pertarungan.
Status Asna saat ini…
STR 9
VIT 3
INT 1
DEX 1
MEN 1
Masih sama seperti kemarin.
Pak Haris menyentuh batu di punggung tangan Asna. Praktis Ia melihat status Asna yang terlampau rendah. Pak Haris merasa prihatin dengan status tersebut.
“Ini akibat Kau sering bertindak mesum. Pikiranmu jorok. Mentalitasmu payah. Kekuatan dan vitalitasmu lebih tinggi karena Kau sering menggoyangkan tanganmu untuk berbuat hal yang tak pantas. Kalau Kau ingin menjadi lebih kuat, Kau harus mengelola tabiatmu.” Saran dari Pak Haris ini sangat mendasar dan tergolong bijaksana. Ia jelas tidak menghakimi Asna. Cuma menyebut “menggoyang.”
“Wajar memang Pak Haris menjadi guru favorit Kami. Anda guru top, Pak!” ujar Asna.
Pak Haris langsung memprotes. “Pak apa? Top apa? Favorit apa? Kau harus menjalani menu latihan permulaan dasar dan ikut tradisi. Dan jangan lupa memanggilku ‘Kakak!’”
Asna mengangguk setuju. Setuju karena Iyan menggoyangkan gawai ke arah dirinya. Sebuah intervensi dari Iyan.
Setiap orang yang mengajukan permohonan bergabung GWM di SMA 25 Samarinda harus mengikuti tradisi terlebih dahulu sebelum diterima menjadi anggota.
Asna sudah mengisi formulir tapi belum menjalani tradisi. Yaitu suatu proses yang mengharuskan pemohon melakukan berbagai aktivitas orientatif. Setelah diketahui kesungguhannya, pemohon akan menjadi calon anggota. Hanya calon karena ada lagi syarat minimal yang harus dipenuhi untuk mendapatkan status keanggotaan.
Secara umum, status keanggotaan GWM di usia 7 s.d 25 tahun dibagi menjadi empat tingkat kecakapan. Mulai dari tingkat awal yang disebut dengan Circle, berlanjut ke Angkare, lalu Shaf dan akhirnya Deret. Khusus di GWM SMA 25 Samarinda, tingkatan itu menyesuaikan status pertarungan karena diisi siswa yang memilliki pengetahuan virtual.
Perinciannya…
Anggota Tingkat Circle adalah anggota yang memiliki total status pertarungan antara 16-44 poin (Terbagi lagi menjadi Little Circle ≥16; Medium Circle ≥20; dan Big Circle ≥30) Biasanya anak sekolah dasar yang juga pejuang virtual masuk dalam kategori ini.
Anggota Tingkat Angkare adalah anggota yang memiliki total status pertarungan antara 45-149 poin (Terbagi empat, Angkare Satu ≥45; Angkare Dua ≥65; Angkare Tiga ≥90 poin; dan Angkare Empat ≥120) Umumnya dimiliki pejuang virtual usia SMP.
Anggota Tingkat Shaf adalah anggota yang memiliki total status pertarungan antara 150-374 poin (Terbagi empat, First Shaf≥150; Second Shaf ≥185; Third Shaf ≥225; Fourth Shaf ≥270; dan Fifth Shaf ≥320) Anak SMA berada di kisaran tingkat ini.
Status pertarungan yang melebihi 374 hingga 800 poin dapat dikatakan sebagai anggota GWM dewasa muda. Mereka sudah sangat diwajibkan pergi ke dunia virtual saat terjadi penyerangan makhluk virtual.
Ini adalah status pertarungan murni tanpa boleh menggunakan equipment. Setiap equipment, apapun bentuknya sudah barang tentu meningkatkan status pertarungan.
Usai melihat status pertarungan Asna, Pak Haris mengangkat jarinya. Tiba-tiba saja ada satu jari menyentuh [Broken Ordinary Stone] di punggung tangan Asna. Dia adalah siswa kelas 11 yang juga anggota GWM SMA 25 Samarinda, bernama…
--Rode Wibawa--
Rode menutup bibirnya ketika matanya melotot kaget melihat status pertarungan Asna. Tak kuasa menahan tawa, Rode menyemburkan air liur dan tertawa sejadi-jadinya sambil memegang perut. “Status anak SD?! Hahaha…”
Asna baru paham kalau Rode adalah Pejuang Virtual. Pantas Asna maupun Iyan yang sudah lima kali bentrok dengan Rode selama dua bulan terakhir selalu kalah.
Hal yang membuat Asna kesal saat melihat Rode kali ini, [Ordinary Stone] milik Rode tampak megah karena berbentuk diamond dan menempel pada keningnya. “Itu seperti dewa! ***** Rode!” kutuk Asna dalam hati.
Iyan mendorong Rode menjauh dari Asna. “Si biang kerok. Pergi sana! Kami sedang sibuk.”
Rode menghalau tangan Iyan lalu melancarkan tinjuan. Iyan menghindar dan langsung melayangkan tinju balasan. Pukulan Iyan tepat mengenai wajah Rode hingga membuatnya sedikit terhunyung.
Segera Rode melepaskan upper cut yang masih bisa dihindari Iyan. Tanpa penjagaan, Iyan meninju Rode bertubi-tubi. Rode masih bisa tersenyum saat didesak Iyan. Wajar, pukulan Iyan tidak meninggalkan kerusakan kritis di tubuhnya.
Asik memukul, Iyan terkena tendangan di bagian perut hingga membuatnya terlempar lima belas meter.
Asna bergerak mendekati Rode seraya menyiapkan sebuah pukulan. Melihat Asna, Rode malah membiarkan tubuhnya dipukul tanpa sikap bertahan.
Pukulan Asna mengenai wajah Rode yang hanya sedikit bergerak. Tiga pukulan berikutnya di wajah dan satu tendangan di perut tetap tidak memberikan dampak. Status bertarung Rode tentu berada di atas Iyan dan Asna.
“Sudahlah… Tidak banyak waktu kalian di sini. Rode, pergilah sana.” Pak Haris menggerak-gerakkan empat jarinya ke arah Rode.
Seolah tak mengindahkan Pak Haris, Rode melirik ke dada Asna dan melepaskan sebuh tinjuan. Riak energi muncul dari kepalan tangan Rode setelah meninju dada Asna. Asna pun terlempar hingga lima puluh meter.
__ADS_1
***