Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )

Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )
Beri Makan Anakku Sampai Kenyang.


__ADS_3

Pangeran menurunkan tubuh Eleena, di dapur sangat sepi semua orang sudah terlelap dalam tidurnya.


Eleena mengambil apron lalu memasang di tubuh bagian depannya, di dunianya dia adalah wanita yang hidup sendiri. Sejak kecil dia sudah terbiasa mengurus dirinya sepeninggal sang Ibu, bahkan sejak Ayahnya menikah lagi dia hanya bisa melindungi dirinya dan adiknya dari Ibu tirinya. Memasak sudah hal biasa yang ia lakukan, tidak menjadi anak yang rewel atau manja lagi sejak usianya 13 tahun dan dituntut dewasa sebelum waktunya.


Pangeran melihat gerakan - gerakan Eleena dari mengumpulkan bahan - bahan makanan untuk dimasak, bahkan saat wanita itu dengan lihai menggunakan pisau memotong - motong bahan makanan menjadi bagian kecil.


"Kamu seperti ahli?"


Eleena tersenyum, "Sejak Ibuku meninggal, aku harus membiaskan diri. Sejak kecil aku tau dunia terlalu kejam untuk aku hadapi dengan rengekan dan tangisan. Karena itu, aku tidak pernah bosan mencoba hal - hal baru."


"Ibumu meninggal saat kamu masih kecil?"


"Ya."


"Kamu bilang hal - hal baru? Apa termasuk membuat senjata? Kenapa seorang wanita bisa membuat senjata? Darimana kamu mempelajarinya?"


Pertanyaan yang akhirnya ditanyakan Pangeran.


Eleena terdiam, sudah lama ia memikirkan jawaban jika Pangeran bertanya tentang dirinya yang pintar membuat senjata tapi apa Pangeran akan percaya dengan ucapannya?

__ADS_1


"Kamu tidak ingin menjawabnya? Jika, ya. Maka tidak usah."


Perkataan Pangeran selanjutnya mengagetkan Eleena, segampang itu Pangeran menyerah menanyainya padahal sifat lelaki itu selama ini selalu memaksanya agar memberikan jawaban yang diinginkan.


"Jika aku mengatakan aku bukan diriku sebenarnya, apa kamu akan percaya?"


Pangeran tidak mengerti apa yang dibicarakan Eleena, "Aku tidak mengerti."


"Tidak perlu dimengerti," Eleena menggeleng, ia selesai memotong bahan - bahan makanan dan segera sibuk memasak.


Pangeran hanya memperhatikan, dia tidak mengganggu Eleena lagi dengan pertanyaan - pertanyaan membiarkan wanita itu fokus dengan kegiatannya.


"Selesai, ayo makan bersama," tawar Eleena seraya membawa satu - persatu makanan yang sudah jadi ke meja di dapur.


Eleena tak menghiraukan Pangeran dengan cepat melahap makanan itu, perutnya memang sangat lapar karena tadi ia memuntahkan semua isi dalam perutnya.


"Kamu tidak ingin mencoba masakanku? Apa takut aku racuni?" pancing Eleena, ia hanya ingin mengetes Pangeran.


Pangeran memicingkan matanya, merasa tertantang.

__ADS_1


"Suapi aku."


Eleena tersenyum, dia lalu menyuapi Pangeran. "Gimana? Enak?"


Pangeran mengunyah makanan yang dimasak Eleena, itu memang terasa lezat. "Lumayan."


"Lumayan?" Eleena menaikkan sebelah alisnya tak suka, menurutnya masakannya sangat enak.


"Lebih dari lumayan," ralat Pangeran.


"Huh! Sudahlah! Aku akan makan sendiri," akhirnya Eleena menghabiskan makanan itu sendiri dengan Pangeran yang terus memandangi mulut Eleena yang lucu saat makan.


"Kamu benar - benar kelaparan, lihat caramu makan sampai tidak ada jeda terus mengunyah. Lihatlah, piringmu sebentar lagi kosong."


"Aku tidak terbiasa membuang makanan, banyak orang - orang diluar sana yang kelaparan. Aku makan semuanya bukan karena rakus tapi makanan sangat berharga."


"Dari bicaramu, kamu pasti pernah kelaparan," tebak Pangeran.


"Hm, begitulah. Makanya saat melihat Rodrigo, aku teringat adikku yang sudah meninggal karena penyakit langka. Aku harus mengurusnya dan menabung untuknya berobat. Saat itu lebih baik aku kelaparan daripada adikku tidak dirawat karena tidak ada uang," Eleena mengedikkan bahunya, terus saja menceritakan tentang kehidupan asli di dunianya.

__ADS_1


"Pantas saja kamu sangat melindungi Rodrigo, aku mengerti sekarang."


Eleena selesai makan, ia ingin membersihkan dapur tapi Pangeran melarangnya dan mengangkatnya kembali memangkunya masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur mereka.


__ADS_2