
Kesepakatan tentang mahar telah terjalin, Earl Paul berjanji akan menyiapkan semuanya. Dengan wajah lemas dan kalah, Earl Paul dan seluruh keluarganya pergi dari Istana Pangeran.
"Hahahaha.... Hahaha... Astaga Jagger! Otakmu sungguh licik! Hahaha..." Eleena tak berhenti tertawa setelah orang - orang itu pergi.
"Aku sudah memeriksa kekayaan mereka, ternyata aset-aset dari menikahkan putri - putri mereka itu sangat banyak. Bahkan saat kamu akan dinikahkan dengan Count Elton, hadiah untuk Ayahmu adalah 1 hektar tanah dan emas sekitar 30 ekor kuda. Dia sudah menikahkan 4 putrinya, bayangkan aset - aset yang dia kumpulkan."
Eleena menghentikan tawanya, menarik tali jubahnya dengan gemulai sengaja menggoda Pangeran. Kini hanya tertinggal gaun tipis menerawang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya meskipun setelah melahirkan tubuh Eleena tetap ramping. Eleena menunduk lalu tangan nya memberi hormat ala pelayan kepada Tuan-nya. "Perkenankan hamba mu ini memberikan hadiah untuk Tuanku yang luar biasa licik ini, hamba akan memberimu--"
Belum selesai Eleena bicara, tubuhnya sudah diangkat ke atas meja di ruangan kerja Pangeran Jagger. "Mari bermain, Eleena..." bibir Pangeran sudah menyusup di ceruk leher Eleena, menyessap nya dalam.
"Ahhhhhh...." lenguhhan lolos dari bibir Eleena.
Akhirnya semalaman mereka saling memuaskan. Para pengawal yang menjaga mereka diluar harus bertahan mendengar suara errangan dan dessaahan kedua orang yang sedang adu mekanik dengan begitu berisiknya.
Santos menatap salah satu pengawal, bibirnya tak kuat menahan senyum, "Sabar lah, ini sudah tugas kita."
"Tuan Santos, bisakah aku ditugaskan untuk mencari peta saja. Setiap waktu seperti ini membuatku harus bersolo di kamar mandi dengan tanganku, karena aku tidak punya kekasih. Kasihani aku, ini sangat menyakitkan untukku," keluh si pengawal.
__ADS_1
Santos juga merasa kasihan, bukan pada orang lain tapi pada dirinya sendiri. Nasib hidup selibat ya begini lah resikonya, hanya bisa mendengar tapi tak bisa pelaksanaan nya.
Lima hari berlalu, Ujian demi ujian di Istana Kerajaan terlewati dan akhirnya selesai. Eleena merasa lega sudah berusaha melakukan semuanya tanpa bantuan Pangeran Jagger.
"Aku akan merindukan mu, Eleena." Lady Rabella dan Lady Queensy memeluk Eleena untuk perpisahan.
"Hei, saat aku menikah kalian berdua sudah berjanji akan menjadi pengiring pengantinku. Kita akan bertemu lagi," Eleena memeluk balik keduanya. Ya, mereka bertiga dengan begitu saja menjadi teman.
"Xixixi, aku akan memakai gaun darimu. Itu sangat cantik," ujar Lady Rabella senang.
Dengan menyamar sebagai pelayan, Zarema terus memperhatikan gerak - gerik ketiganya. Dia sudah mencurigai sesuatu tapi ternyata itu tak terjadi.
Tak lama ketiga sekawan itu berpisah, Eleena kembali ke Istana Pangeran menunggu 2 hari lagi pernikahan yang akan dilangsungkan.
"Selamat, sayang. Kamu berhasil melewati semua ujian dan pelatihan-pelatihan itu. Sekarang, ikut aku." Pangeran Jagger memeluk tubuh Eleena lalu menarik tangannya berjalan menuju ke sebuah ruangan besar.
"Ruangan apa ini?" Eleena menatap setiap sudut ruangan, itu penuh dengan barang - barang yang sangat berharga. Dari gulungan kain mahal, perkakas, barang pecah belah bahkan kalung dan tumpukan emas. Ruangan harta karun!
__ADS_1
"Ini ruangan hartaku, aku sudah membagikan nya sebagian pada janda-janda yang suaminya mati di medan perang atau mati karena sakit."
"Darimana kamu mendapatkan semua ini?" tanya Eleena penasaran.
"Dari klan-klan Ibuku, dari para bangsawan yang menjilatku. Banyak lagi... Pilihlah semaumu, aku ingin memberikan hadiah untukmu atas pernikahan kita."
Semua benda disana sangat berkilau, tapi Eleena bahkan tak tertarik sedikit pun. Akhirnya dia menggeleng, lalu memeluk Pangeran. "Jagger, aku sudah mendapatkan hadiahku."
"Sudah?"
"Hm, hadiahnya kamu. Kamu mengabulkan keinginan ku untuk tidak menikah dengan banyak wanita, itu hadiah termewah untukku. Kamu sangat berharga untukku."
"Berharga? Aku? Tapi kenapa aku belum pernah mendengar kamu mencintaiku, Eleena?"
Eleena terdiam, dia melepaskan pelukannya. "Ayo keluar, Pangeran kecil pasti menungguku." Elaknya tak ingin menjawab, lalu berjalan keluar sendiri tanpa menunggu Pangeran.
Pangeran Jagger menatap punggung Eleena, saat ini ia merasakan punggung itu sangat dingin padanya. Apa Eleena masih tidak mau mencintai pria sepertinya? Ya, benar. Jika mengingat masa kecilnya, bahkan dia adalah anak paling kejam yang tega membunuh anak - anak lain sepantaran nya, hanya karena dia ingin menjadi yang terbaik, sejak kecil tangan nya sudah berlumuran darah. "Apa aku pantas dicintai wanita sehebat Eleena?"
__ADS_1