Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )

Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )
Malam Ini Juga Aku Akan Membunuh Wanita Itu.


__ADS_3

...All mungkin beberapa bab lagi aku tamatin ya, takutnya kehabisan ide terus jadi gantung, soalnya yang baca juga udah sepi. Hehe 😘...


...............


Eleena terus mengelus sayang kepala Rodrigo di meja kamar, bahkan sesekali mengelus kepala Ace.


"Jadi begitu, kalian bahkan sampai kesini. Maaf... seharusnya aku lebih cepat menemukan kalian. Apa majikan kalian jahat?" tanya Eleena.


"Mereka baik, untung saja. Jika aku tidak bekerja di luar hari ini, pasti aku tidak akan melihat kereta mu Elè. Maksudku kereta kuda milik Pangeran, ekhm... Aku mendengar dari Tuan Zack, kamu dan Pangeran sudah berbaikan. Bagaimana anakmu?" tanya Andrian.


"Putraku sangat pintar dan menggemaskan, kalian pulang lah lebih dulu ke Istana. Jaga putraku, aku harus mencari tempat dalam peta."


"Aku ingin bersama kakak," ujar Rodrigo.


"Tidak boleh. Aku takut disana berbahaya, kalian akan diantar salah satu kereta kuda milik Pangeran. Menurut ya." Eleena menolak mereka ikut karena dia saja tidak tau di tempat yang ia tuju akan seperti apa.

__ADS_1


Ketiganya hanya bisa pasrah, baru bertemu setelah setahun lebih kini harus berpisah lagi.


Pagi tiba, setelah mengirim Andrian dan kedua adiknya pergi ke Istana dengan kereta kuda dan perbekalan untuk di jalan, Eleena dan Jagger kembali melanjutkan perjalanan tentu saja dengan Darren dan kelompoknya.


Hampir seminggu mereka melakukan perjalanan dengan berhenti di berbagai penginapan yang mereka lewati. Akhirnya mereka sampai di sebuah lembah dengan rerimbunan pohon - pohon pinus tinggi. Bahkan semakin masuk ke dalam, semakin gelap karena sinar matahari tidak menyinari bagian bawah lembah yang curam.


Sejak memasuki lembah yang curam, semua orang mengganti kendaraan kereta kuda mereka dengan seekor kuda. Eleena duduk di depan Jagger di atas kuda putih besar yang ditungganginya. Shadow kuda kesayangan Jagger, begitu gagah dan besar.


"Kamu capek?" tanya Jagger.


"Tidak sama sekali, ini menakutkan tapi juga mendebarkan." Jawab Eleena masih dengan suara cerianya.


"Pangeran Jagger, bisakah kita berkemah dulu? Malam sebentar lagi datang, kita tidak mungkin melewati tebing curam di malam hari." Pinta Derren.


"Baik. Semuanya berhenti dan cari tempat untuk mendirikan kemah!" teriak Pangeran Jagger, lalu menarik tali kekang di tangannya.

__ADS_1


Saat tenda sudah terpasang, Jaena menekan harga dirinya untuk menemui Derren. Tamparan dari Derren masih membekas, bukan hanya di pipinya tapi juga membekas di hatinya. Demi kelanjutan klan dan perintah dari para Tetua, dia mendekati Derren mencoba meredam amarahnya sendiri dan bicara dengan lelaki itu. Entah kenapa sihirnya kini tak bisa berhasil lagi pada Derren, untung saja para Tetua tidak mengetahui jika sihirnya sudah tidak bisa menembus pikiran Derren.


"Derren, aku masuk." Ujar Jaena membuka tirai tenda melangkah masuk ke dalam.


Derren sedang minum alkohol, sedikit menghangatkan diri di udara dingin lembah.


"Mau aku hangatkan dengan tubuhku?" goda Jaena.


"Jika itu maksudmu masuk, maka pergilah!" tolak Derren.


"Derren, kenapa hanya karena Eleena kamu berubah begitu banyak?" Jaena tak ingin menyerah terus maju mendekat.


Derren berdiri bangkit dari duduknya, menjauh dari Jaena. "Aku tidak berubah, hanya saja kau keterlaluan karena melukai Eleena. Bagaimana kalau dia benar-benar terluka parah olehmu, bukankah kita akan kehilangan kesempatan untuk mencari tempat tersembunyi?"


"Kau bohong, semua perilakumu bukan karena mengkhawatirkan semua itu tapi karena kau sudah tergoda wanita ja lang itu!" sekali lagi Jaena tak bisa menahan amarahnya.

__ADS_1


"Jaena, aku juga merasakan nya selama ini atas sihirmu padaku. Kau adalah an jing para Tetua untuk mengikatku agar patuh pada mereka! Kamu pikir selama ini aku tidak tau!" bentak Derren.


"Meskipun semua itu benar, aku melakukannya demi klan kita! Lihat saja, malam ini juga aku akan membunuh wanita itu...!!" Jaena keluar dari dalam tenda kemah dengan mata membara.


__ADS_2