
Keringat sudah membasahi tubuh Eleena, sesekali menarik nafas lalu menghembuskan nya. Untung saja di dunianya dia sering melihat orang melahirkan di film yang ia tonton, setidaknya ia tidak buta akan proses melahirkan.
"Minggir!!" Pangeran mengusir para pelayan yang berkerumun di dalam kamar.
"Apa tabib sudah dipanggil?" tanya Pangeran.
"Sudah."
"Kamu akan baik - baik saja," Pangeran ingin menarik tangan Eleena dan menenangkan wanita itu tapi dia takut Eleena menolak dan akhirnya hanya berdiri di samping ranjang.
"Kenapa keringatnya banyak sekali. Santos! Bubarkan semua orang, panas disini!"
Semua orang keluar meskipun penasaran dan ingin membantu.
"Hhhhhh... Huhhh!" Eleena terus mengatur nafasnya, rasa sakit yang datang waktunya semakin cepat.
"Kabari keluargaku!" Eleena teringat Nenek Sarah yang sudah seperti Ibunya selalu mengurusnya sejak ia hamil.
Pangeran ingin sekali mengatakan orang - orang yang dipanggil keluarga oleh Eleena hanya memanfaatkannya.
"Santos! Pergilah. Kabari keluarga Nyonya Adelweise."
Mata Santos meredup, saat mendatangi keluarga yang dipanggil oleh Nyonya- nya dia harus berpura - pura.
Di ruangan hanya tertinggal Putri Dayana yang sejak tadi diam di kursi tanpa bergerak, memperhatikan tingkah Pangeran yang terlalu berlebihan. Ia mengerutkan keningnya, mencari jawaban atas sikap Pangeran.
Tabib datang bersama Zarema masuk ke dalam, Pangeran segera menyingkir.
__ADS_1
"Anak ini akan segera lahir, siapkan alat - alat persalinan," sang Tabib memeriksa perut Eleena.
"Arghttt!" ketuban tiba - tiba pecah, itu terlalu cepat. Eleena menjerit kesakitan.
"Cepat! Anak ini tak bisa menunggu lebih lama lagi! Dia sudah akan keluar!"
Zarema berlarian sibuk, sang Tabib memposisikan dirinya dibawah kaki Eleena dan membukanya.
"Pangeran, ini urusan wanita. Lagipula kamu bukan Ayah dari bayi Nyonya Adelweise. Sangat tidak pantas kamu berada disini, ayo keluar," Putri Dayana sudah berdiri di samping Pangeran mengingatkan.
"Putri benar, Pangeran. Anda bukan Ayah dari anakku, pergilah..." Eleena menimpali disela rasa sakitnya.
"Tidak! Aku akan berada disini. Aku tidak akan mengganggu dan hanya diam," Pangeran menolak dengan tegas.
Ternyata benar! Wanita ini adalah Eleena si pelacur! Batin Putri Dayana yakin.
Putri Dayana tak ingin memancing amarah Pangeran, apalagi wanita yang akan melahirkan memang benar Eleena. Jika lebih lama disana, bisa - bisa dia mati dibunuh. Dengan cepat ia berbalik pergi meninggalkan suaminya dengan wanita pelacur-nya disana.
Zarema datang dengan segala persiapan, Tabib mulai bekerja mengeluarkan bayi dari perut Eleena.
"Ya begitu.... tarik nafasss hembuskan... ya terus... dorongggg... ya tarik nafas lagi... dorongggg.... ya kepalanya sudah keluar... ayo dorongg lagi..."
Eleena sudah lemas, wajahnya sudah memerah. Keringat membasahi seluruh wajahnya dan rambutnya lepek karena keringat. Namun, Pangeran merasa baru melihat wanita yang begitu cantik, aura Eleena begitu sangat menawan saat melahirkan.
Zarema membantu persalinan di samping sang Tabib, melihat wajah Eleena berpeluh keringat Pangeran mendekat lalu mengelap keringat Eleena dengan jubah kerajaan-nya.
Eleena tak berpikir panjang, saat Pangeran mendekat dia mencekal lengan Pangeran. "Hhhhh... arghhhh..." saat mendorong bayi nya kembali, kuku Eleena tertancap di lengan Pangeran. Tapi, Pangeran bahkan tak meringis sedikit pun saat kuku Eleena menancap begitu dalam menembus daging lengannya.
__ADS_1
"Ya... dorong lagi... sebentar lagi... ya... satu dorongan kuat Nyonya... ya..."
"Arghhhhhhh..." Eleena mendorong dengan kuat.
"Eaaaaaaa.... aaa... eaaaaaa...." tangisan bayi sangat kencang terdengar, menguar di seluruh ruangan.
"Syukurlah! Selamat! Bayi Anda laki - laki! Nyonya..." ucap sang tabib.
"Hhhhhhh..." Eleena merasa lega.
Pangeran bahkan menangis, dengan cepat ia menghapus air matanya sebelum terlihat Eleena.
Selamat Pangeran! Zarema memberi ucapan selamat pada Pangeran dalam hatinya.
Bayi dibersihkan oleh tabib, dipakaikan kain yang telah disiapkan. Bukan kain biasa tapi kain yang terbuat dari sutra murni, sudah sejak lama Pangeran mempersiapkan itu semua untuk anaknya.
"Bayi sudah siap, apa Pangeran ingin melihatnya?" tawar sang tabib.
"Aku ingin menggendongnya," Pangeran bukan meminta ijin lebih tepatnya memaksa.
Baru saja Pangeran tersenyum saat menggendong bayi itu di tangannya, suara - suara orang berlarian masuk mengganggunya.
"Istriku! Aku datang!" seorang laki - laki langsung menyerbu Eleena di atas ranjang.
"Nenek juga datang," Nenek sarah juga ikut masuk.
Santos menatap Pangeran dan mengangguk, dengan kode dia mengatakan pada Pangeran jika laki - laki yang berlari masuk adalah Adonis dengan penyamarannya memakai topeng wajah yang berbeda.
__ADS_1