
Dengan wajah dan pakaian penuh dengan tepung, Pangeran Jagger membawa makanan yang ia masak sendiri ke dalam kamar. Meskipun dia gagal dalam beberapa kali percobaan dan malah membuat roti yang tak enak akhirnya Santos mengatakan roti terakhir itu sedikit enak. Biarlah! Yang penting masih bisa dimakan.
"Sayang, aku datang. Makanan sudah siap--"
Teriakan semangat Jagger terhenti tatkala melihat mata Eleena yang duduk di kursi goyang terpejam. Eleena sedang memangku putra mereka yang tertidur dalam dekapan. "Santos, bawakan aku alat-alat melukis ku. Aku ingin mengabadikan pemandangan yang paling indah ini."
Santos pergi berlari, dia takut terkena hukuman lagi. Hukuman yang terakhir saja itu seolah hukuman mati. Ya! Hukuman mati, Zarema adalah pengawal terlatih sepertinya, watak wanita itu keras dan tak ingin kalah. Mulai sekarang bagaimana dia harus menghadapi wanita keras itu sebagai istrinya?!
"Lebih baik hidup selibat daripada harus bersama wanita dengan sifat menyerupai lelaki itu!" gerutu Santos saat sudah kembali ke kamar sang Nyonya membawa alat -alat lukis di kedua tangan nya.
"Cih! Kau terlalu percaya diri! Siapa juga yang ingin bersamamu! Kau adalah kesialan dalam hidupku! Ini semua salahmu, kenapa kau ikut terhipnotis dan menjadi lengah! Semua kejadian ini gara - gara ulahmu! Memohon lah terus pada Pangeran agar membatalkan pernikahan kita!"
"Mulut mu itu! Ah hidupku akan seperti di neraka!" Santos tak ingin meladeni lagi umpatan Zarema padanya lalu masuk ke dalam kamar.
Zarema menggeram, "Kalau kita menikah, akan ku makan tubuhmu sampai tulangmu tak bersisa! Kau dengar itu lelaki banci!"
"Bertengkar lah di tempat lain! Nyonya dan Pangeran kecil sedang tidur!" bentak Zack.
"Kau juga sebagai saudaraku kenapa membiarkan aku menikah dengan lelaki yg galak itu! Zack, tolong aku!"
__ADS_1
"Zarema, siapa yang berani menentang perintah Pangeran? Maaf, tapi aku lebih setia pada Pangeran daripada padamu," Zack mengangkat bahunya.
Para pengawal lain terkekeh geli setiap mendengar keributan antara Zarema dan Santos, lebih tepatnya merasa terhibur dengan kelakuan kedua orang itu.
Wajah Zarema menggelap, dia keluar dengan kesal.
"Kanapa selalu bertengkar dengan Zarema, kalian akan segera menikah. Bukankah lebih baik mulai saling mendekatkan diri," tegur Jagger.
Santos menunduk terdiam.
"Kau tidak dengar aku? Jadikan kehidupan ku untuk pengalaman, wanita selalu ingin di mengerti. Kamu sebagai lelaki harus lebih mengalah, dapatkan hati calon istrimu."
"Pangeran, bisakah kamu membatalkan hukuman nya?"
"Aku akan menikah dengan wanita itu," Santos menggeleng lemah menghela nafas pelan lalu keluar dari kamar masih dengan pikiran semrawutnya.
Sudut bibir Jagger tertarik ke atas, sudah lama dia ingin menikahkan satu persatu pengawal nya akhirnya kesempatan tiba. Bagaimana mungkin dia akan mundur dan membatalkan nya?
Jagger mulai membenahi alat - alat melukisnya, mulai menyapukan kuas di atas kanvas. Matanya sesekali memandang Eleena dan Pangeran kecil di atas kursi, selama satu jam dengan kecepatan tangan nya akhirnya lukisan selesai.
__ADS_1
"Indah sekali..." gumam nya menatap kesempurnaan Objek yang dia lukis.
"Apa yang indah? Akhh! Tubuhku kram..."
Eleena terbangun dengan kesakitan saat menggerakkan kakinya, mungkin karena memangku putra mereka yang sudah semakin besar dengan tubuh yang gemuk.
Pangeran Jagger menaruh kuas di tangan, setengah berlari langsung menggendong Pangeran Axlone. "Pelan-pelan saja renggangkan tubuhmu, sayang."
Tubuh gemuk Pangeran Axlone menggeliat dalam pelukan Ayahnya, dia membuka mata kecilnya perlahan. Bibirnya menggulung dengan mata yang basah. "Oeeeeee... oeeekkk..." si kecil malah menangis.
"Jagger! Kenapa membuat nya menangis?! Kamu!"
"Kenapa aku lagi yang salah?" gerutu Jagger.
"Jadi aku yang salah?"
Jagger salah berucap, dia kabur keluar sebelum Eleena marah lagi.
"Jagger! Mau kemana?"
__ADS_1
"Memberi putra kita su su! Dia sepertinya lapar!" balas Jagger terdengar dari luar kamar.
"Dia menjadi Ayah siaga, haha..."