Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )

Pelacur Yang Dirindukan ( Emperor Transmigration )
Jagger, Aku Mencintaimu.


__ADS_3

Sudah dua hari Eleena mengerjakan pembuatan pecut untuk hadiah Raja, pikiran nya hanya dia curahkan pada pekerjaan.


Santos setiap hari datang tapi dia hanya melihat dari jauh, tak berani mendekat. Namun hari ini Pangeran muntah terus menerus. Santos ingin berusaha mendekatkan lagi Pangeran dan sang Nyonya. Apalagi dia mendengar Nyonya-nya sudah lebih baik dan bisa makan.


"Nyonya, bisakah pecut nya selesai dalam seminggu lagi?" tanya Santos mendekati Eleena.


"Hm, sepertinya bisa. Aku tidak akan telat, tenang saja." Jawab Eleena seraya terus berkutat dengan pekerjaan nya.


"Nyonya, hari ini Pangeran muntah-muntah. Bisakah Nyonya melihat nya sebentar?" ucap Santos hati-hati.


Tak ada jawaban.


"Nyonya, sebenarnya itu kedua kalinya Pangeran terkena hipnotis. Dulu sekali Pangeran terhipnotis oleh seseorang yang dihormatinya, tapi Pangeran malah di lecehkan. Anda mengerti bukan, bagi seseorang seperti Pangeran bagaimana rasa sakitnya?"


Tangan Eleena yang sedang menghaluskan baja terhenti.


"Jadi bisakah Anda tidak marah lagi pada Pangeran? Kejadian ini juga sangat menyakitkan bagi Pangeran," bujuk Santos.

__ADS_1


Eleena menghela nafas beratnya, dia tidak sepenuhnya marah pada Jagger hanya saja dia belum bisa menerima dirinya harus membunuh seseorang demi Jagger. Itu artinya dia telah mencintai jagger terlalu dalam.


"Salju turun!" teriak salah satu pekerja di bengkel senjata.


Eleena menaruh pekerjaan di tangan nya lalu berlari keluar menatap serpihan salju yang turun, tangannya menghadap ke atas mengambil serpihan salju itu. "Indah." Eleena tersenyum lebar.


Pangeran Jagger seperti biasa datang ke bengkel, ingin melihat Eleena dalam diam. Tak menyangka akan melihat Eleena tersenyum seperti dulu, tubuhnya bergetar hebat.


Eleena menyadari kedatangan Jagger, dia menoleh. "Jagger, lihat salju ini. Indah, bukan?"


Pangeran Jagger terdiam, kebingungan dengan sikap Eleena juga ketakutan jika itu hanya lah ilusi seperti hari-hari sebelumnya. Ilusi jika Eleena telah memaafkan nya.


Jagger mengusap matanya beberapa kali, takut itu bukan kenyataan. "Eleena, kamu sudah memaafkan ku..."


"Aku sudah bilang tak marah padamu, kemarilah." Eleena berlarian seperti anak kecil, meraup serpihan salju yang sudah mulai menggunung dan mulai membuat boneka salju.


Jagger berlari mengikuti tingkah Eleena, seperti bocah yang sudah mendapatkan hadiah nya. Dia tak sabar lagi, mengangkat tubuh Eleena tinggi. "Kamu tidak marah lagi?"

__ADS_1


Eleena menggeleng, "Aku mencintaimu."


Perasaan Jagger bergejolak, kata yang sudah lama ingin dia dengar. "Katakan sekali lagi Eleena."


"Jagger! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu." Eleena mencium bibir Jagger meskipun orang-orang memperhatikan mereka dia benar - benar tak perduli.


Jagger menjetikkan jarinya agar semua pergi, dia memperdalam ciuman nya. "Kamu sudah membuatku menderita, jangan lakukan lagi. Eleena jangan pernah menghukum ku lagi, ya?"


"Hmm, maafkan aku... mau main kuda-kudaan?" tawar Eleena dengan seringai nakal.


"Kuda? Disaat seperti ini? Salju terlalu tebal, kuda akan kesusahan--"


Eleena menutup bibir Jagger yang bicara tak nyambung, dia tak menyangka akan ada masa dimana lelaki itu sangat lugu.


"Kuda di kamar, Jagger!" Eleena terkikik lalu melepaskan diri dari pelukan Jagger dan berlari ke kamar di pavilliun nya yang selama dua hari ini dia tinggali seperti dulu.


Jagger baru paham, dia berlari mengikuti Eleena dengan semangat. "Tunggu aku!"

__ADS_1


"Hahahaha...." Eleena masih tertawa sampai suara mereka berdua teredam pintu.


Santos dan para pengawal ikut bahagia, Paman Patric dan Axton pun tersenyum senang.


__ADS_2