
Di dalam kereta kuda begitu sunyi, Pangeran membiarkan Eleena dengan pikirannya. Pangeran memberikan waktu pada wanita yang sudah melahirkan seorang putra untuknya itu memikirkan segalanya dari awal.
"Siapa Guapo sebenarnya?" tanya Eleena akhirnya. Dia sudah memikirkan perkataan Pangeran padanya, sudah memikirkan kembali sejak pertemuannya dengan Guapo.
"Nama aslinya Adonis Aberdeen dari Klan Aberdeen, ketua ke -14. Sebenarnya klan-nya pemberontak juga beberapa Klan lainnya, mereka ingin menggulingkan pemerintahan di Istana. Mereka tidak menyukai para Bangsawan yang selalu semena - mena, mengambil dengan seenaknya anak-anak mereka terkadang kakak, ayah, ibu, saudara dan saudari mereka lalu dijadikan budak oleh para Bangsawan. Ke-naifan mereka disalahgunakan oleh Pangeran ke -4 bernama Pangeran Gideon yang menginginkan tahta sejak lama. Namun, tak bisa dipungkiri aku juga sangat bersalah. Dulu saat kecil aku tidak tinggal di Istana tapi di tempat klan Ibuku yang menjadi selir Raja. Aku dididik dengan ke ji bahkan tidak lebih baik dari seekor peliharaan. Para Tetua di Klan Ibuku berkata jika aku harus menjadi lelaki kuat tanpa perasaan yang mudah ditindas apalagi mudah kasihan pada orang lain. Sejak itu aku lebih mementingkan diriku sendiri, dan hanya kakakku Raja Stewart lah yang selalu baik padaku sejak aku dikirim ke Istana. Benar saja, saat aku masuk ke Istana, Pangeran - pangeran lain selalu menggangguku dan memanggilku dengan keturunan Klan Ib lis. Mereka selalu menghinaku dan menyiksaku tapi karena didikan keras aku selalu berhasil mengalahkan mereka. Tinggal di Istana membuatku semakin melupakan rasa kemanusiaan ku, aku melupakan penderitaan rakyat-ku. Aku--"
Eleena mengangkat tubuhnya dari kursi lalu duduk di pangkuan Pangeran mengaitkan kedua tangannya di leher Pangeran. "Aku bisa merasakan penderitaanmu dan juga penyesalanmu. Aku juga sudah mendengar kebaikan - kebaikan mu diluar, kamu juga sudah membuktikan pengampunan mu pada Paman Patric dan Kak Axton. Aku bisa melihat mu yang sudah berubah sekarang, maafkan aku yang pergi darimu..."
__ADS_1
Tubuh Pangeran bergetar, dia tak menyangka akan mendengar kata - kata yang membuat hatinya begitu bahagia.
"Apa kamu percaya padaku sekarang? Apa kamu percaya cintaku padamu, Eleena?"
Eleena tersenyum, dia mendekatkan bibirnya mencium Pangeran dengan lembut. "Arght"
Eleena melepaskan pagutan ciuamannya lalu merintih kesakitan.
__ADS_1
"Perutku masih sakit, aku baru melahirkan 3 hari lalu. Mungkin karena jalanan yang tidak rata, mhuehhe..." Eleena mengelus wajah tampan Pangeran. "Pangeran, apa benar selama ini kamu hanya tidur denganku dan tak pernah tidur lagi dengan wanita lain? Kau mengatakannya saat di kereta kuda waktu itu."
"Aku bersumpah, setelah aku menyentuhmu aku tidak pernah lagi menyentuh wanita lain. Bahkan semenjak kepergian mu selama hampir 9 bulan ini, aku hanya meminum racun ular dan mandi es. Itu karena aku tidak ingin mengkhianati mu. Aku ingin saat kamu kembali padaku, kamu tak membenciku dan kamu akan menjadi satu - satunya wanita untukku."
"Lalu, istrimu?"
"Aku sudah merencanakan sesuatu untuk Dayana, lagipula selama ini aku hanya berpura - pura mesra dengannya di depan orang. Aku tidak pernah menyentuhnya, sayang..."
__ADS_1
Eleena tersenyum lebar, merasa tersentuh dengan pengorbanan Pangeran untuknya.
"Aku akan menerima cintamu, tapi aku butuh waktu untuk mencintaimu... bersabarlah denganku," ujar Eleena, dia bukannya tidak mau mencintai Pangeran hanya saja dia takut akan menghilang dari abad ke -16 ini, jika saja tiba - tiba dia kembali ke abad -20.