
Eleena berusaha tenang, kepalanya menengadah menatap langit gelap yang begitu hitam pekat. Mengingat kembali obrolan - obrolan di kedai makan waktu itu yang mengatakan tentang bulan merah, apa benar akan ada peperangan berdarah? Apa karena peta ini? Karena logam - logam berharga?
"Hhhhh...." ia menghela nafasnya pelan.
Eleena akhirnya menatap Nenek Sarah, "Nenek, kenapa Nenek ikut melakukan ini? Aku sudah menganggap mu Nenekku sendiri?"
"Aku hanya ingin Pemerintahan diganti, Raja saat ini tidak pantas berada di singgasana nya. Dia tidak pernah memperhatikan rakyat, tapi dia selalu dilindungi Pangeran Jagger. Kami ingin nyawanya," sahut Nenek Sarah disampingnya ada Kakek Gerald.
"Pangeran Jagger sekarang sudah berubah, aku bersumpah dengan nyawaku. Kalau Kerajaan tidak ada perubahan, aku akan mati di depanmu," Eleena mulai berjalan maju mendekati Nenek Sarah berusaha mempengaruhi.
"Eleena, jangan maju lagi!!!" Pangeran menggeram, ia juga marah mendengar semudah itu Eleena mengatakan akan mati.
"Jagger, diam saja. Aku tau apa yang aku perbuat, aku percaya pada Nenek Sarah. Iya 'kan Nek? Berikan putraku," Eleena semakin merengsek maju hanya tinggal dua langkah lagi.
Wajah Nenek Sarah terlihat kebingungan, saat akhirnya ia ingin menyerah dan menyerahkan anak Eleena Kakek Gerald malah menarik Eleena dengan kuat dan menekan leher Eleena dengan belati.
"Sarah! Jangan terpengaruh! Pergi! Bawa bayi itu!" belati di tangan Kakek Gerald semakin ditekan hingga melukai leher Eleena.
"Kakek!" teriak Adonis terkejut, bukan ini perjanjian mereka. Eleena sangat berharga untuknya.
Pangeran mengeratkan kedua tangannya, ia mantap dingin pada Kakek Gerald.
"Aku menginginkan nyawamu!" teriak Kakek Gerald menatap tajam Pangeran.
"Baik, apa yang harus aku lakukan agar kau melepaskan Eleena dan anakku?" tak ada rasa takut sedikit pun dari suara Pangeran.
Adonis tidak menyangka Kakek Gerald akan berbuat seperti sekarang. "Kita sudah sepakat hanya akan mengambil peta dan Eleena, lepaskan belati itu dari leher Eleena, Kek!"
__ADS_1
Srett!
Kakek Gerald malah sengaja menggores leher Eleena, seketika darah merah menetes turun dari leher Eleena menyakiti mata Pangeran dan Adonis.
"Eleena!!"
"Elè!!"
Teriak keduanya.
"Sarah, pergilah ke tempat kita berjanji bertemu. Bawa bayi itu untuk penjamin mu!"
"Jangan! Bunuh aku saja Kek! Jangan bawa anakku! Arghhtt!" darah menetes lagi karena Eleena bicara belati malah menggores lehernya lagi.
"Jangan bicara, atau belati ini akan menusuk leher mu!" geram Kakek Gerald.
"Pertama - tama lumpuhkan kakimu! Potong urat kakimu!"
"Baik, aku akan melakukan nya." Pangeran mengambil belati di pinggang nya, mulai menundukkan tubuhnya mengarahkan belati ke pergelangan kaki belakang ke bagian tendon yang menghubungkan otot betis ke tumit.
Srett!!!
Darah muncrat mengenai wajah Pangeran, seketika tubuhnya gontai karena pijakan satu kakinya terluka tapi dia masih tetap bertahan agar bisa berdiri.
"Pangeran !!!" Santos berteriak ngeri.
Wajah Eleena bahkan lebih mengerikan dari Santos, wajahya pucat seperti kapan saja akan pingsan. "Ja... gger... kenapa... kenapa kau lakukan..."
__ADS_1
Pangeran bahkan hanya tersenyum, tak ada raut kesakitan karena luka di kakinya. "Aku sudah mengatakannya, aku mencintaimu... Ini tidak seberapa untukku."
"Cuih!!" Kakek Gerald meludah masih belum puas.
"Ternyata kau belum puas," ujar Pangeran dingin.
"Aku berubah pikiran, lebih baik aku membunuh wanita ini agar kau hidup dalam penderitaan sepertiku karena kehilangannya!!!" Kakek Gerald bersiap menusukkan belati ke leher Eleena.
Dengan cepat Nenek Sarah memberikan bayi ke tangan Adonis, dia tak bisa tinggal diam. Dia menancapkan belati yang ia sembunyikan di balik pakaian ke leher Kakek Gerald yang berada tepat di sampingnya.
"Arghtt!" jerit Kakek Gerald terdengar, tiba - tiba Pangeran sudah berada di depan Eleena menahan tangan Kakek Gerald yang memegang belati agar saat tubuh Kakek Gerald tumbang belati tak melukai leher Eleena.
Pangeran berhasil, dia memeluk Eleena dalam pelukannya. Tubuh Kakek Gerald dengan perlahan tumbang ke bawah.
Nenek Sarah histeris, menangis dengan keras. Bagaimanapun dia telah membunuh suaminya sendiri.
Eleena ingin menenangkan Nenek Sarah tapi pelukan Pangeran semakin erat tak mengijinkan. "Jangan gegabah lagi."
Pangeran menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, meskipun dia tidak sepenuhnya memotong tendon tapi tetap saja itu sangat menyakitkan.
"Adonis, kau lihat akibat perbuatanmu. Sekarang hanya satu nyawa melayang, bahkan jika aku tak memberi penawar seluruh orang di dalam istana juga akan mati karena racun. Dan tentang Eleena, bayangkan kau membawanya lalu semua klan - klan yang juga mengincar peta dan mengetahui Eleena mempunyai sihir dalam menemukan keberadaan tempat tersembunyi itu, apakah kau yakin bisa melindungi Eleena agar terus bersamamu dan Eleena tidak direbut darimu oleh mereka?"
Perkataan Pangeran menghantam Adonis, ia tidak berpikir sampai kesana. Perkataan Pangeran memang benar, bahkan mungkin saja nyawa Eleena akan terancam seperti barusan. Meskipun hubungannya selama beberapa bulan ini bersama Eleena hanya lah sandiwara, tapi perasaan nya pada Eleena adalah nyata.
Mungkin banyak typo bertebaran all... Wkwk
__ADS_1