
Benar saja perkataan Pangeran padanya, Putri Dayana datang dengan beberapa pelayan membawa makanan untuk Eleena. Lalu, Putri menyuruh para pelayan pergi dan mulai melayani Eleena.
"Aku datang untuk meminta maaf atas sikapku tadi, aku juga akan melayani mu selama kamu berada di Istana," ujar Putri Dayana dengan tidak rela.
"Aku bukan wanita pendendam, Putri. Tentu saja aku maafkan," timpal Eleena.
Aku bukan pedendam, tapi kalau kau berani menyakitiku lagi seperti dulu... Aku nggak akan memberi mu ampun!
"Baguslah. Jika kau berbicara dengan Pangeran nanti, bilang padanya aku sudah melakukan perintahnya."
"Baik," jawab Eleena datar.
"Makan lah, aku akan menunggu sampai kau selesai makan."
Eleena mulai menyodok makanan lalu mengunyahnya. Dia tidak memperdulikan Putri Dayana yang telah terus menatapnya seperti sedang menelisik dirinya.
"Kenapa Anda tidak bergabung saja, Putri?"
"Pangeran sendiri yang turun langsung ke dapur menyiapkan semua makanan ini khusus untukmu dan disana aku hanya diperintah seperti pelayan olehnya. Apa menurutmu dia tidak murka saat tau aku ikut memakan masakannya?"
Pangeran menyiapkan langsung, hm? Kenapa aku merasa tingkah Pangeran padaku semakin aneh? Apa dia sudah tau siapa aku?
"Kenapa melamun? Cepat habiskan! Masih banyak hal yang harus aku kerjakan daripada menunggumu selesai makan," decak Putri kesal.
Eleena menghela nafas malas, tadi dia sangat ingin makan karena takut anaknya kelaparan tapi sekarang karena curiga Pangeran sudah mengetahui identitas nya seketika selera makannya hilang. Bukan curiga tapi dia yakin, fiks Pangeran sudah mengetahui identitas-nya karena begitu banyak kelakuan aneh Pangeran padanya.
"Aku sudah selesai."
Putri Dayana melihat hanya sedikit yang dimakan, bisa - bisa dia dimarahi lagi oleh Pangeran. Dia masih harus berpura - pura lemah dan tak bisa melawan, sebelum memanggil sepupunya yang pintar menghipnotis.
"Kau ingin aku dihukum lagi! Makanan masih banyak!" teriak Putri Dayana marah.
__ADS_1
"Zarema, kemari lah," panggil Eleena.
"Ya, Nyonya."
"Makanan ini masih banyak, panggil pelayan - pelayan Putri yang ada diluar untuk makan dan kamu juga. Sayang kalau makanan ini dibuang. Aku tidak mengacak - ngacak makanan ini, jadi makanan ini bukan sisa. Bawa mereka masuk."
Zarema terdiam sebentar, ingin menolak karena itu makanan khusus yang Pangeran siapkan sendiri.
"Tidak apa - apa, aku yang akan bicara pada Pangeran nanti," ujar Eleena seolah membaca pikiran Zarema.
"Baik, Nyonya." Akhirnya Zarema keluar dan masuk kembali bersama para pelayan Putri yang menunggu diluar.
"Putri," cicit para pelayan menunduk meminta ijin pada majikan yang mereka layani.
"Turuti saja," Putri Dayana juga ingin cepat selesai.
Tak menunggu lama, makanan lezat itu diserbu dan dimakan dengan lahapnya karena sehari - hari para pelayan hanya memakan seadanya saja. Jadi, kapan lagi akan memakan masakan seenak itu?
Semua menggeleng, tapi tidak ada yang berani bersuara tentang makanan yang tidak layak.
"Zarema, siapa yang mengurus tentang makanan para pelayan? Pakaian mereka juga?" Eleena menatap tajam pada Zarema ingin mendapatkan jawaban.
Mata Zarema mengarah pada Putri Dayana, "Tuan Putri, Nyonya."
Seketika mata Eleena menyipit tajam, mencengkram tongkatnya dengan erat. Pergerakan Eleena diketahui Putri Dayana.
"Mau apa kau? Kenapa memegang tongkatmu lagi seperti akan memukulku?! Kau berani! Lagipula siapa kau ingin tau tentang Istana-ku! Ini adalah Istana-ku !!"
Eleena menarik nafas, menenangkan emosinya. "Aku sudah bilang pada Anda, jika aku tidak akan menghormati orang yang tidak menghormati orang lain. Aku memang bukan siapa - siapa disini, tetapi aku tidak suka jika seseorang memperbudak orang lain dengan tidak layak. Meskipun mereka para pelayan, tapi mereka bekerja dengan sungguh - sungguh dan mengabdi pada Istana. Seharusnya mereka diberikan kehidupan yang layak, makanan yang enak dan pakaian yang nyaman. Bukan pakaian yang sudah lepek karena dipakai selama bertahun - tahun, bukan makanan yang hampir basi lalu diberikan pada mereka. Aku sangat kesal!" Eleena benar - benar berteriak, bukan hanya marah pada Putri Dayana tetapi juga pada Pangeran.
"Nyonya, tenang lah," Zarema melihat wajah sang Nyonya sudah memerah dengan dada kembang kempis menahan amarah.
__ADS_1
Aku tidak bisa tenang, di duniaku sana aku sering diperlakukan tidak adil! Aku sakit melihat keadaan mereka!
"Arghttt!" Eleena kesakitan lagi, kali ini rasa sakit yang berbeda.
"Nyonya!"
"Zarema, sakit nya berbeda. Ahhh... aku sepertinya akan melahirkan."
Para Pelayan maju mendekati Eleena, merasa tersentuh akan kebaikan tamu sang Pangeran dan ingin membantu.
Di ruangan nya, Pangeran akhirnya mengetahui rencana Adonis dan Pangeran ke -4 untuk menjatuhkannya. Mereka ingin menjatuhkan Pangeran terlebih dahulu, setelah itu baru menyerang Raja.
"Adonis tidak tau jika Pangeran Gideon hanya memanfaatkan nya, sungguh manusia naif percaya pada anjing yang lebih hina dariku. Adonis pikir Pangeran ke -4 lebih baik dariku dan Raja, dia hanya tidak tau dibalik topeng kedermawanan Pangeran Gideon... Ckck... Dia bahkan ingin menggunakan Eleena dan anakku untuk mengancamku."
"Jadi apa rencana Anda sekarang?" tanya Zack.
"Aku akan membiarkannya, rencana ini sepertinya malah akan menguntungkan ku. Aku akan mendapatkan hati Eleena, itu--"
Brakkkk.
"Pangeran! Nyonya! Nyonya aaa..." seorang pengawal terlatih seperti Zarema bahkan kesulitan bicara.
Seketika wajah Pangeran buruk, mengira telah terjadi sesuatu pada Eleena. "Apa Dayana berbuat sesuatu lagi saat melayani Eleena?!"
"Tidak! Bukan itu, itu aaa..."
"Zarema !!!"
"Nyonya sepertinya akan segera melahirkan!"
Pangeran berlari dengan kecepatan tinggi, jantungnya bergemuruh hebat.
__ADS_1