
Eleena meminta Jagger untuk mengantarnya ke ruang penjara bawah tanah, disana di lantai yang dingin dengan gaun tipis Dayana sedang menggigil kedinginan. Seorang Putri bangsawan yang di sepanjang hidupnya selalu berkecukupan, kini terbaring lemah dengan tubuh berlumuran darah karena terus disiksa.
Krek!
Pintu penjara terbuka, Eleena melangkahkan kakinya masuk.
Mata sembab Dayana terbuka, menyipit berusaha mengenali orang yang datang. "Pelacur!" teriaknya lemah.
"Ya, aku si pelacur. Aku datang untuk melihat wajah si pembunuh!"
"Itu kau! Kau yang membunuh sepupuku!"
"Tapi kau yang mengirim nya! Kau yang telah membunuh nya! Kau yang meyiapkan pedang aku yang menghunuskan pedang nya! Apa kau ingin aku menusuk mu dengan pedang ku juga?"
"Cuih!!!" Dayana meludah tepat ke wajah Eleena .
Eleena membersihkan ludah di wajahnya, bibirnya tersenyum sadis. "Aku punya ide lebih baik, daripada membunuhmu lebih aku menghancurkan wajah yang kau banggakan itu!"
"Jagger, berbalik lah. Aku tidak ingin kamu melihatku yang akan menyiksa mantan istri mu ini."
"Aku ingin terbiasa melihatmu menjadi kejam saat menghadapi musuh yang keji sepertinya, sayang," Jagger malah terkekeh.
"Dasar gila! Kalian berdua gila!" tubuh Dayana merengsek mundur menjauh dari Eleena.
"Hei! Lihat! Mulutmu berani tapi nyalimu menciut! Ckkkk ...." Eleena mengeluarkan tongkat pedang nya menempelkan ujung pedang pada wajah Dayana.
"Jangan! Aku mohon... Eleena lepaskan aku..."
"Kau terlambat memohon, kenapa tidak sejak tadi. Tapi... jika kau memohon sejak awal pun aku tak akan mengampuni mu!"
Sret!
Satu goresan pedang.
"Arghhh!" darah mengalir dari pipi kiri Dayana.
__ADS_1
"Eleena..."
Sret!
Goresan kedua, Eleena terus menggores sampai wajah Dayana sudah tak bisa dikenali lagi. Bau anyir darah menguar di dalam sel. "Ini untuk kesakitan Jagger! Kau boleh menyakitiku, Dayana! Tapi jangan pernah menyentuh Jagger! Dia lelakiku!"
Jagger tersentuh saat mendengarnya, dia maju memeluk tubuh Eleena. "Ayo. Jika tidak diobati, dia akan mati dengan darah sebanyak ini."
Eleena bangkit berdiri dengan tongkat pedang berdarah di tangan nya, "Sayang sekali, pedangku terkotori oleh darah wanita ib lis ini!" gerutunya.
"Aku akan membersihkan sediri pedangmu, sini berikan padaku."
Eleena tersenyum, "Terima kasih, suamiku."
Degh!
"Su-suami, kamu memanggil ku suami." Saat ini Jagger merasa menjadi lelaki paling bahagia sedunia, sejak mereka berbaikan Eleena selalu mengejutkan nya.
"Ya, suamiku. Ayo pergi, gendong aku di punggungmu."
Eleena menopangkan kedua tangan nya ke depan tubuh Jagger, lalu menaikkan tubuh kecil nya ke atas punggung lelaki itu.
"Oke, lets go!" Eleena tertawa merasa lucu dengan tingkahnya. Biarlah, seperti keinginan Jagger sesekali ia akan bermanja pada lelaki yang dicintainya itu.
Jagger menaiki satu persatu anak tangga dari penjara bawah tanah menuju atas, ada sekitar 50 anak tangga tapi tak terdengar suara kehabisan nafas sedikit pun dari Jagger.
"Kau kuat, Jagger. Kamu bahkan tidak ngos-ngosan, pantas saja kamu selalu tak kehabisan tenaga di atas ranjang."
"Benarkah? Aku malah merasa kamu yang selalu kuat di atas ranjang, tenagamu sangat kuat dengan tubuh sekecil ini."
"Kalau aku tidak kuat melayani mu di atas ranjang, sudah lama kau bosan dengan ku."
"Itu tidak benar, bagaimana pun aku tidak akan pernah bosan."
"Ahhhh... aku lapar, memasak lah untukku."
__ADS_1
"Baik, Putri Eleena. Lalu, mau apa lagi?"
"Kamu tidak dengar, aku bilang memasak lah untukku... dengan tangan mu."
"Aku? Memasak?" Langkah Jagger terhenti di tangga paling atas.
"Kenapa? Tidak mau?"
"Aku akan belajar!" dengan cepat Jagger mengiyakan lalu kembali melanjutkan langkah nya menaiki tangga dan akhirnya sampai.
"Tunggu dikamar putra kita, aku akan memasak untukmu."
"Ya."
"Pangeran! Kami sudah mengetahui orang yang mempunyai bagian peta terakhir!" Zack berlari.
"Peta terakhir? Jadi kamu akhirnya akan pergi menemukan tempat tersembunyi itu?" tanya Eleena.
"Hm."
"Aku akan ikut."
"Tidak, kamu tidak boleh pergi."
"Tapi kata Guapo, untuk menemukan tempat itu dibutuhkan sihirku bukan hanya peta itu. Jadi aku harus ikut."
"Tidak! Itu akan bahaya!"
"Jagger!"
"Tidak!"
"Turunkan aku!" Eleena memberontak di atas punggung Jagger.
Jagger menggertakkan gigi, tidak ingin menyerah tapi akhirnya pikiran rasionalnya kalah oleh perasaan nya.
__ADS_1
"Baik Eleena, kamu ikut. Jangan kesal lagi, diam lah dengan tenang di punggung ku," Jagger menghela nafas pasrah, kenapa harus lemah oleh cinta?!