
Zack mulai merasa kasihan pada keluarga Earl Paul, sepertinya balasan dari Pangeran tidak akan ringan.
"Satu lagi, laporan tentang dimana Eleena belajar membuat senjata. Apa kau sudah menyelidiknya juga?" tanya Pangeran.
"Tidak ada, Pangeran. Nyonya tidak pernah belajar hal - hal seperti membuat senjata, semua pelayan sudah saya tanyai. Bahkan semua mengatakan, jangankan membuat senjata Nyonya Eleena bahkan takut saat melihat pisau. Nyonya Eleena sangat cengeng dan mudah ditindas bahkan tak pernah melawan," Zack menggeleng.
Lalu dari mana Eleena mempunyai keahlian itu? Cengeng, takut senjata? Kenapa semakin mencari tau identitas dan kehidupan Eleena... semakin aku tak mengenalnya?
Setelah terbangun Eleena pergi membersihkan tubuhnya, ia sangat merindukan putranya. Baru saja memikirkannya bibi Weni sudah masuk dengan membawa Pangeran kecilnya.
"Pangeran Axlone, putra kesayanganku! Emuachhh... emuahhh," Eleena menciumi seluruh wajah putranya.
Pangeran Jagger masuk, tersenyum lebar melihat wanita dan putranya sedang bersama. Merasa menjadi satu keluarga yang paling bahagia.
"Dua kesayanganku sudah wangi, hmm." Pangeran Jagger memeluk tubuh Eleena dari belakang, lalu mencium pipi Eleena lalu pipi putranya.
"Lihatlah Pangeran kecil kita, Jagger. Begitu lucu, tampan sepertimu! Lihat matanya, tatapan nya tajam seperti mu padahal dia masih bayi."
__ADS_1
"Itu tidak enak di dengar, Eleena. Orang-orang mengatakan mataku paling menyeramkan."
"Itu tidak benar! Justru matamu paling istimewa, seolah kamu menyimpan banyak luka tapi matamu adalah obatnya karena kamu bisa melihat setiap keindahan dunia, dan keindahan itu lah yang mengobati lukamu."
Pangeran Jagger semakin melebarkan senyum nya, dia tak pernah menyangka mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya selama ini. "Aku beruntung mendapatkan mu, Eleena."
Pelukannya di tubuh Eleena semakin erat, "Aku mengundang keluargamu makan malam, tidak apa-apa 'kan?"
"Kamu sudah mengundang mereka tapi baru bertanya padaku, haha... aku setuju setuju saja."
"Kedua pelayan pribadi-mu akan mengurus semuanya, berdandan lah."
Pangeran Jagger dengan penampilan mewahnya menyambut Earl Paul dan keluarganya saat mereka masuk.
"Salam, Pangeran." Senyuman di bibir Earl Paul melebar.
"Salam, Tuan Paul." Pangeran Jagger tersenyum ramah, dalam gendongan nya Pangeran kecil Axlone tertawa kecil.
__ADS_1
"Apa ini cucuku? Oh, Pangeran kecil, sini kakek gendong." Wajah Earl Paul sangat puas, bukan hanya putrinya akan menjadi istri calon Raja masa depan tapi dia mempunyai cucu laki-laki yang juga calon penerus Raja. Masa tuanya pastj akan sejahtera dan dia bisa hidup dengan mewah seumur hidupnya dan disanjung-sanjung sebagai mertua dan kakek dari Raja.
"Maaf, tapi Pangeran kecil tidak bisa digendong sembarang orang," tolak Pangeran Jagger menjauhkan putranya dari tangan orang - orang kotor di depannya.
Earl Paul merasa canggung, untung saja Matilda maju mendekat dan mencairkan suasana. "Salam, Pangeran. Kita bertemu lagi, aku Matilda."
"Ah, yang ikut pencalonan menjadi istriku."
"Sungguh kehormatan Anda masih mengingatku," senyum Matilda merasa senang.
"Tentu saja masih ingat, kamu yang mengatakan tentang Eleena yang kabur dari rumah. Aku jadi tau dia kabur untuk mengejar-ngejarku, hahaha... kini aku beruntung bisa mendapatkan putrimu yang kabur dari rumah, Tuan Paul." Ujar Pangeran sengaja.
Wajah Matilda menjadi kesal, dia mengatakan kebohongan jika adiknya kabur agar terlihat adiknya bukan wanita baik - baik, tak disangka Pangeran terus mengatakan itu hal baik.
"Aku ikut senang, haha..." Earl Paul tidak mengerti apa yang diobrolkan dan merasa heran karena dia lah yang mengusir putrinya pergi dari rumah.
"Aku dengar Anda sedang sakit, Lady Matilda tadi siang yang mengatakan nya. Mari masuk, aku sudah menyuruh koki Istana untuk memasak makanan terlezat dan sehat untuk mu, Tuan Paul."
__ADS_1
"Panggil aku Ayah Mertua, jangan segan-segan menantu," ujar Earl Paul tanpa punya malu.
Pangeran Jagger tertawa dalam hati, sungguh keluarga yang tidak punya malu dan seenaknya.