
Eleena sampai di sebuah pondok kecil, ia terus mengikuti langkah Guapo di depannya.
"Masuklah, ini adalah pondokku."
Eleena masuk ke dalam, mengedarkan pandangannya pada ruangan yang hangat. Sebentar lagi malam, cuaca diluar tadi benar - benar sangat dingin. Sudah sejak tadi tubuhnya menggigil kedinginan.
"Aku akan mengambil selimut, kamu pasti kedinginan," Guapo masuk ke dalam kamar tak lama lelaki itu kembali keluar membawa selimut memberikannya pada Eleena.
"Terima kasih," Eleena menerimanya lalu membungkus tubuh gemetarnya.
"Duduklah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu."
Eleena mengangguk.
Tak lama Guapo membawa dua cangkir air teh hangat, uap mengebul dari air yang masih panas. "Masih panas, hati - hati."
Eleena meniup air panas itu, ingin cepat menghangatkan badannya. "Srlupp."
Sedikit demi sedikit Eleena menyeruput air teh, seketika air hangat mengaliri tenggorokannya berakhir menghangat di dalam perutnya.
__ADS_1
"Kamu merasa lebih baik?" tanya Guapo.
"Ya, tapi sedang apa kamu di hutan? Bahkan memiliki pondok disini?"
"Aku seorang pemburu," bohong Guapo.
"Pemburu... hm." Eleena tau lelaki itu berbohong, terakhir kali bertemu Guapo lelaki itu dipanggil dengan panggilan mister bahkan lelaki yang sudah berpenampilan berbeda itu terlihat dihormati.
"Kamu tidak percaya?" tebak Guapo.
"Kapan rambutmu kembali hitam? Apa racun itu sudah hilang seluruhnya dari tubuhmu?" tanya Eleena, ia tidak menjawab pertanyaan Guapo membiarkan jawabannya hanya dirinya yang tau.
"Begitu, penampilanmu yang baru terlihat segar. Sekarang tidak akan yang salah tafsir usiamu lagi seperti aku."
"Hahaha... untuk itu aku berterima kasih padamu. Kenapa hari itu kamu tidak ada di taman? Aku sudah mengatakan tunggu aku."
Eleena tersenyum lemah, "Andai saja saat itu aku menurutimu dan menunggumu, apa semua yang terjadi padaku saat ini tidak akan terjadi?" lirih Eleena.
"Yang terjadi padamu saat ini, apa yang terjadi sampai kamu ada di tengah hutan begini?"
__ADS_1
Guapo sudah tau tentang kehidupan Eleena di Istana Pangeran, ia menyusupkan seseorang ke dalam Istana. Saat orang suruhannya mengatakan Eleena kabur, ia mengikutinya. Tak disangka takdir membawa Eleena ke hutan tempatnya tinggal selama ini untuk mengawasi Pangeran. Ia mengawasi gerak - gerik Pangeran karena Pangeran pasti masih mencari bagian - bagian peta. Saat waktunya tiba, ia akan merebut apa yang menjadi incaran semua para klan.
"Ceritanya panjang, bisakah aku bercerita sambil merebahkan tubuhku. Anakku pasti kecapean karena aku terus bergerak," Eleena tak menunggu ijin dari Guapo, dia membaringkan tubuhnya di kursi panjang dengan sebelah tangannya sebagai bantal.
"Aku akan ambil bantal," Guapo tidak kaget saat Eleena mengatakan sedang hamil, ia masuk lagi ke dalam kamar memberikan bantal pada wanita itu.
"Kamu tidak ingin berbaring di dalam?"
"Disini saja, aku sudah merasa nyaman. Guapo, bantu aku keluar dari hutan dan ke tempat aman. Aku akan menceritakan semuanya, lalu setelah mendengarnya bawa aku menjauh. Suatu hari aku akan membayar balas budi baikmu padaku."
"Tidak perlu, aku akan menolongmu. Anggap saja aku membayar budi baikmu karena telah membuka borgolku bahkan membuatku terlepas dari racunku."
"Emm."
Lalu Eleena mulai menceritakan kehidupannya sejak mereka berpisah di penginapan, Guapo mendengarkan seolah ia baru mengetahui semuanya. Sesekali mengangguk, tapi ia tidak menimpali cerita Eleena. Baginya kini, akhirnya kunci kehidupannya berhasil bersamanya lagi.
"Tidurlah, hari sudah malam. Besok kita pergi dari sini."
Eleena mengangguk, ia benar - benar menutup matanya. Meskipun perutnya kelaparan tapi mata ngantuknya karena kelelahan tidak bisa menunggu lagi.
__ADS_1