
Adonis akhirnya menyerah, dia juga akan menyerahkan anak Eleena. "Aku akan menyerah, tapi bisakah kau berjanji?"
"Apa?" sahut Pangeran.
"Aku juga memang sudah mendengar desas - desus tentang kau yang berubah tapi aku belum melihatnya sendiri. Namun melihat pengorbanan pria ba jingan dingin seperti mu rela melakukan apa saja untuk Eleena, sekali ini aku akan mempercayaimu dalam membangun kembali Pemerintahan yang adil untuk para rakyat. Berjanjilah, kau akan terus berubah lebih baik," ujar Adonis lalu ia menyerahkan Pangeran kecil pada Eleena.
Eleena segera menggendongnya ke dalam pelukan, menciumi wajah putranya dengan haru.
"Aku berjanji, Adonis. Aku juga akan memberikan bukti - bukti padamu tentang kejahatan dan kebejatan Pangeran Gideon. Dia tidak seperti yang kau pikirkan, selama ini kau dimanfaatkan olehnya untuk naik tahta," Pangeran Jagger menggeleng.
Adonis mulai percaya omongan Pangeran, dia mengangguk, "Aku akan menunggu bukti - bukti itu, sekarang bawa aku ke penjara."
Adonis menyerahkan diri, para anak buahnya pun sudah tertangkap oleh para pengawal pribadi Pangeran. Nenek Sarah pun dibawa ke dalam penjara, tapi saat di dalam sana karena tak bisa menerima sudah kehilangan suaminya oleh tangannya sendiri. Nenek Sarah menitipkan satu surat untuk Eleena lalu bunuh di ri.
Tiga hari kemudian setelah dua hari lalu diadakan pemakaman Nenek Sarah dan Kakek Gerald, keadaan Eleena Di kamarnya sudah tenang. Bukan hal mudah dekat dengan seseorang tapi harus kehilangan.
Eleena sedang menyu sui putranya, tapi wajahnya memberengut kesal karena sejak tadi Pangeran tak mau pergi dari kamarnya dan terus menatapnya yang sedang menyu sui putra mereka.
"Pergilah, Jagger. Kamu tidak malu terus menerus menatap ku yang sedang menyu sui anakmu tapi aku masih punya malu," geram Eleena.
"Aku sangat suka saat melihat mu sedang menyu sui, melihat mulut kecil putraku menye dot pucuk da da mu... aku merasa yang sedang menyu su itu aku," Pangeran terkekeh dengan otak me sum nya.
"Otakmu tidak bisa diselamatkan lagi, ckckck..."
__ADS_1
"Aku sudah mencari ibu su su, kamu hanya bisa menyu sui putra kita selama seminggu lagi."
"Apa maksudmu?" Eleena benar - benar tak mengerti.
"Aku akan segera bercerai dengan Dayana dan menikahimu. Sesuai keinganan mu, sampai kapan pun hanya kamu istriku satu - satunya, tapi untuk menjadikan mu istriku akan banyak halangan. Kamu juga harus mendapatkan pelatihan sebagai calon istriku, Raja sudah menyutujui pernikahan kita, hanya saja Ratu ingin kamu berada di Istana Kerajaan untuk pelatihan. Jangan khawatir, aku akan selalu bersamamu."
Eleena menghembuskan nafas panjang, sepertinya itu sudah takdirnya menjadi pendamping Pangeran. Ia tak mau menghindar lagi, ia juga harus memberitahukan identitas si pemilik tubuhnya.
"Aku juga harus bicara serius denganmu, ini tentang identitas-ku."
"Kamu sudah siap mengatakannya padaku? Kamu yakin?"
"Aku yakin," Eleena mengangguk, lagipula dia hanya akan mengatakan tentang identitas si pemilik tubuh bukan identitas aslinya dari masa depan.
Tak lama di kamar itu hanya tinggal mereka berdua, Pangeran naik ke atas ranjang menarik tubuh Eleena masuk ke dalam pelukannya.
Eleena menyandarkan kepalanya di dada bidang berotot Pangeran, "Kakimu sudah baik - baik saja?"
"Hm, itu hanya goresan kecil," bohong Pangeran dia hanya tidak ingin Eleena merasa bersalah.
"Aku tau kamu bohong, itu luka yang sangat dalam, aku--"
"Shhhh, jangan bicarakan tentang kejadian yang berlalu. Anggap saja itu hukuman ku karena sejak awal selalu menyiksamu, maafkan aku."
__ADS_1
Eleena kembali menghela nafas pelan, "Ayo bersama, aku akan selalu mendampingimu."
Pangeran menarik dagu Eleena lembut, menatap mata Eleena sebentar lalu menciumnya tapi tak lama ia melepaskan Eleena.
"Hhhh, kenapa wanita berdarah sehabis melahirkan itu sangat lama. Aku sudah menginginkan tubuhmu," protes Pangeran.
"Haa... ha... sabarlah. Memang semua wanita melahirkan seperti itu."
"Hhhhh..." Pangeran hanya mendesaahh pasrah.
"Bukankah kamu ingin mengetahui identitasku?"
"Katakan, aku mendengarkan."
"Aku putri haram seorang Earl, namaku Adelweise."
"Hmm," Pangeran masih merasa janggal tapi tetap mendengarkan tak ingin bertanya jika Eleena tak ingin menjelaskan.
"Kamu tidak ingin bertanya apapun?" tanya Eleena heran, dia kira Pangeran sangat penasaran dengan identitasnya.
"Aku penasaran, tapi aku tidak akan bertanya apapun jika kamu tidak ingin menjelaskan. Aku mencintai kamu sebagai dirimu apa adanya, tak penting dari mana asalmu."
Akhirnya Eleena tersenyum puas dan merasa tak perlu lagi menjelaskan siapa dirinya, kini ia percaya jika cinta sejati itu memang ada.
__ADS_1