Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Keberangkatan


__ADS_3

Keberangkatan tiba setelah dokumen Kayla siap. Penginapan selama di sana selesai dipesan termasuk kejutan untuk sang mantan tunangan, Steve. Jika Kayla tidak sabaran untuk berangkat ke luar negeri, maka Raka selalu mendorong Kayla untuk menunda kepergiannya.


"Kamu yakin mau berangkat besok?" tanya Raka.


Kayla mengembuskan napas kasar. "Steve akan menikah tiga hari lagi. Kayla harus hadir di sana."


"Papa tidak apa kalau kamu mau mengunjungi Steve, tetapi rencana liburan itu terlalu lama. Masa sampai harus tiga bulan. Eh, bukan, tetapi seratus hari," ucap Raka.


Kayla terkikik geli. "Kayla akan berkeliling tiga benua. Liburan yang menyenangkan."


"Anakmu pergi liburan. Biarkan saja," sahut Bela sembari mengedipkan sebelah matanya.


Raka tersentak, wajahnya memerah melihat kedipan mata Bela. Oh, ini namanya kode untuk bulan madu yang kesekian kalinya. Mana mungkin Raka melewatkan kesempatan untuk bersama istrinya sepanjang hari.


"Kamu ingin di mana?" tanya Raka.


"Hotel mewah dengan kolam renang kurasa bagus. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Bela menanyakan pendapat Kayla.


"Ide bagus," sahutnya.


"Nah, tunggu apa lagi. Silakan pesan hotel yang aku inginkan. Kita bisa berangkat setelah mengantar Kayla," ucap Bela.


"Oke, aku akan pesan paketnya."


Raka keluar dari kamar. Bela dan Kayla bertos ria karena berhasil membuat Raka menyetujui liburan Kayla dengan suka rela.


"Mama memang hebat," ucap Kayla.


"Mama berharap kamu menemukan pengalaman baru setelah pulang. Mama juga ingin liburan, tetapi Papamu sibuk di kantor."


"Dua hari di hotel akan lumayan. Kayla yakin Papa tidak akan pernah melepaskan Mama."


Bela tertawa. "Jangan berpikiran seperti itu, Sayang. Mama merasa panas ketika membayangkannya."


Kayla dan Bela tertawa kemudian melanjutkan mengepak pakaian. Kayla hanya akan membawa satu koper selama ia liburan. Ia bisa membeli baju selama berada di luar negeri nanti.


"Sayang, aku sudah memesan hotel yang kamu inginkan," kata Raka.


"Apakah besok kita langsung ke sana?" tanya Bela.


Raka tersenyum. "Boleh juga. Pakai pakaian yang kuinginkan."


Bela menghampiri suaminya, mengecup pipi dari pria yang telah merebut hati terdalamnya. "Tentu, Sayang. Malam besok aku akan membuatmu senang."


"Sudah setua ini aku merasa semakin bergairah. Kalian cepatlah berberes. Pagi besok kita harus berangkat," ucap Raka, lalu pergi.


"Kamu lihat papamu. Sekali diajak ke hotel, dia langsung tidak membahas masalah liburanmu. Lelaki sama saja. Diberi umpan, maka ia akan terpancing," kata Bela.


Kayla tertawa. "Dua hari akan menyenangkan buat kalian."

__ADS_1


"Mama berharap kamu juga."


...****************...


Besoknya, Kayla berangkat ke bandara internasional dengan diantar oleh Raka dan Bela. Pelukan, pesan nasihat yang membuat telinga tuli telah Kayla dengarkan. Berulang kali pesan kecemasan Raka sampaikan.


"Jangan lupa telepon. Setiap kamu singgah ke negara lain selalu hubungi kami. Kirimkan lokasinya biar Papa dan Mama tau kamu benar ada di sana atau tidak," ucap Raka.


"Papa sudah mengulangi hal ini sebanyak sepuluh kali. Kayla akan baik-baik saja dan akan selalu menghubungi kalian. Sekarang, bisakah Kayla berangkat?"


"Papa khawatir saja."


"Kayla rasa Papa akan membuat Mama tidak senang malam ini. Kalian ingin menginap di hotel, kan?"


"Sayang, jangan dengarkan Papamu. Sekarang kamu berangkat saja. Jangan lupa untuk selalu menghubungi kami. Hati-hati dengan tasmu. Di mana pun akan ada banyak maling," ucap Bela.


"Iya, Mom. Jangan khawatirkan itu."


Kayla memeluk sekali lagi Bela dan Raka sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan keduanya. Hari ini petualangannya akan dimulai. Sendirian di negeri orang. Ia bebas untuk melakukan apa pun.


...****************...


"Kamu ingin liburan selama tiga bulan?" tanya Dika.


Arden mengangguk. "Iya, aku akan mengelilingi beberapa negara dan benua."


"Ibumu menelepon. Dia bilang kalau Kayla .... "


"Justru itu, aku tidak jadi ke Indonesia karena Kayla .... "


Lagi-lagi Dika tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Arden mengangkat tangan karena ponselnya berdering. Ia tersenyum mendapati telepon dari seorang gadis yang jauh di seberang sana.


"Aku pulang, Om. Aku ke sini cuma buat pamitan." Arden memeluk Dika, lalu melangkah menuju pintu depan.


Dika cuma bisa menggeleng. "Kenapa dia selalu memotong kalimatku? Anak-anak zaman sekarang nakal semua."


Arden mengangkat telepon dari Lauren ketika ia telah berada di dalam mobil. Wanita itu merengek karena tidak diajak liburan oleh Arden. Mau bagaimana lagi? Arden memang ingin sendirian meratapi Kayla yang akan menjadi milik orang lain.


"Aku akan mengajakmu liburan lain kali. Kamu juga sibuk, kan? Orderan butikmu lancar terus," ucap Arden di telepon.


"Jangan lupa untuk mengirimkan oleh-oleh untuk temanmu ini," kata Lauren.


"Oke, Sayang. Apa pun yang kamu minta akan aku berikan. Sekarang aku tutup dulu. Kamu baik-baik di sana," ucap Arden kemudian menutup telepon.


Liburan kali ini adalah hal pertama bagi Arden. Ia akan berlibur dengan kapal pesiar. Arden harus ke Miami dulu karena di sanalah tur itu akan dimulai.


"Aku harap bisa melupakan Kayla ketika liburan nanti. Semoga kamu bahagia sahabatku," gumam Arden.


...****************...

__ADS_1


Kayla telah bersiap dengan gaun putih serta hadiah di tangannya. Setelah beristirahat selama satu hari di hotel, hari ini ia datang berkunjung ke tempat resepsi yang diadakan di hotel lainnya.


Mobil taksi untuk mengantarnya juga telah sedia. Kayla tersenyum pada sopir yang ramah. Ia mengucapkan alamat yang dituju kepada pria dewasa itu.


"Apa kamu menghadiri pernikahan mantan?" tanya sopir ketika ia melihat buket bunga di tangan Kayla.


"Mantan tunanganku. Apa bunga ini pantas? Sebenarnya aku ingin membawa bunga bangkai. Sayangnya itu bunga terlarang," jawab Kayla.


Sopir itu malah tertawa. "Aku tidak tau apa itu bunga atau pohon yang kamu bawa. Tapi aku akan membantumu membawa papan ucapan selamat yang ada di bagasi."


"Terima kasih. Aku akan membayar lebih untuk itu. Jangan lupakan memperlihatkan tulisan itu kepada semua tamu."


Tiga puluh menit, Kayla sampai di hotel tempat Steve dan Evelyn mengadakan pesta pernikahan. Rupanya keduanya tengah mengadakan pesta kebun. Hotel mewah dan dekorasi yang menakjubkan.


Para tamu yang hadir menatap Kayla yang membawa pohon kaktus dan papan ucapan selamat yang bertuliskan hal memalukan.


Selamat untuk pasangan perselingkuh. Semoga hidup kalian berada di dalam neraka.


Jelas saja tamu pada heboh membaca tulisan yang sudah dirangkai dalam bahasa inggris. Terlebih si sopir taksi memiliki kesenangan untuk memperlihatkan kepada tamu.


"Kayla!" ucap Steve.


"Halo, Sayang." Kayla meletakkan pohon kaktus ke tangan Steve. "Semoga pernikahanmu kuat diterjang badai meski banyak duri yang akan hadir di dalam pernikahanmu."


"Siapa kamu?" Evelyn emosi.


"Apa kamu tidak tau siapa aku? Apa kamu mengencani Steve tanpa tau statusnya dulu? Oh, mana mungkin. Kamu itu wanita gatal," ucap Kayla.


"Kamu!"


"Tenang dulu, Evelyn," ucap Steve.


"Kurasa sudah cukup kunjunganku di sini. Selamat sekali lagi buat kalian. Semoga kalian suka dengan hadiahku."


"Tunggu, Kayla. Kenapa kamu bisa berubah secantik ini?" Steve sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Kayla sungguh sangat cantik dengan tubuh indahnya.


"Steve!" teriak Evelyn.


Steve tersentak. Baru sadar atas apa yang baru saja ia katakan. Namun, Steve sungguh tidak menduga kalau Kayla bisa mengubah penampilannya menjadi memukau.


"Kamu ingin kembali padaku?" Kayla memajukan dirinya, lalu berbisik, "Kita bisa menghabiskan waktu untuk satu malam."


"Kayla, kamu ingin bersamaku?"


"Mimpi!"


Steve mengumpat, ia memegang bagian terlarang yang sempat ditendang Kayla mengunakan lututnya. Kayla tertawa, lalu pergi dari pesta pernikahan bersama sopir. Ia berhasil mengacaukan pesta mantan tunangannya.


"Sekarang waktunya liburan. Miami, tunggu aku," gumam Kayla.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2