
"Jangan bercanda," kata Kevin.
"Serius, Pa. Calon istri Arden itu, Kayla."
"Bagaimana ini, Kev?" tanya Raka.
"Apanya bagaimana? Sudah jelas calon istrinya Kayla," jawab Kevin.
"Ini Kayla yang mana?" sela Bela.
"Kayla yang mana lagi? Kayla anak Tante yang imut dan cantik," ucap Arden.
"Kalian masuk dulu. Ngapain diskusi di halaman rumah," tegur Dean.
Semua masuk ke dalam rumah. Kayla juga menyambut mereka termasuk Arden yang tidak malu-malu lagi mendaratkan kecupan di pipi. Semua mata memandang dan memelototinya.
"Maaf, wajar saja sama calon istri," kata Arden.
"Semua duduk. Ini bagaimana ceritanya? Sebenarnya siapa calon menantuku?" tanya Raka.
"Sudah dibilang tadi. Arden ini calon menantu Om Raka dan Tante Bela," jawab Arden.
"Apa benar, Sayang?" Raka bertanya pada Kayla.
Kayla mengangguk. "Iya, Pa. Kayla menjalin hubungan sama Arden."
"Kalian sengaja menyembunyikan ini dari kami?" tanya Elena.
"Kayla yang mau, Ma. Dia yang mau memberi keluarga kejutan," jawab Arden sembari tersenyum pada Kayla.
Kayla menatap tajam Arden yang melemparkan segala kesalahan padanya. Tapi memang benar juga. Semua karena Kayla yang ingin hubungan mereka dirahasiakan.
"Aretha dan Kak Davin sudah tau," kata Kayla.
"Apa?" ucap semua.
"Kalian semua bekerja sama," kata Dean.
"Anak-anak ini," sambung Natalie.
"Aku cuma membantu saja." Davin membela diri.
"Ini semua karena kalian yang minta," kata Aretha tidak mau disalahkan begitu saja.
"Jelaskan pada kami semua. Bagaimana hubungan kalian sampai terjalin?" pinta Bela.
Arden dan Kayla mengangguk, lalu menjelaskan kepada semua kisah cinta mereka. Liburan bersama serta Arden yang melamar Kayla dengan cincin plastik.
Hal itu membuat Aretha tertawa, sedangkan Kevin geleng-geleng kepala. Elena cuma menyimak karena masih kaget akan hubungan keduanya. Sungguh tidak disangka musuh dari kecil malah ingin menjalin hubungan serius dalam ikatan pernikahan.
"Jadi, selama liburan kamu bersama Arden?" tanya Raka.
"Waktu pulang kemari, kamu juga bareng Arden?" timpal Bela.
Kayla mengangguk. "Iya. Kayla memang bersama Arden."
__ADS_1
"Sekarang bagaimana?" tanya Raka.
"Sedari tadi Om nanya melulu. Sudah jelas Arden tunangannya Kayla. Kami minta dinikahkan," jawab Arden.
"Tidak bisa. Aku menolaknya," ucap Raka.
Arden tersentak mendengarnya. Ia memandang Kayla, lalu Raka bergantian. Bukan hanya Arden, tetapi semua yang ada di ruang tamu.
"Raka," tegur Kevin.
"Bukan aku tidak mau, tetapi Dean sudah menjadi besanmu, masa aku juga harus mengikuti jejaknya," kata Raka.
"Karena masalah itu, Om tidak mau merestui hubungan kami?" sela Arden.
"Aku ingin menjalin hubungan dengan keluarga lain."
"Papa, Kayla menyukai Arden," ucapnya.
Raka mengusap puncak kepala putrinya. "Kalian berdua cocok jadi teman saja, Sayang. Papa akan carikan pria yang lebih baik dari Arden." Tidak bisa dibiarkan. Arden dari dulu suka memonopoli Kayla sebagai miliknya. Bisa-bisa aku sebagai orang tua tidak bisa dekat dengan putriku sendiri.
"Memangnya aku kurang apa? Tampan, kaya, dan pintar. Keturunanku juga jelas, bahkan Om sudah bersahabat dengan kedua orang tuaku," kata Arden, lalu menambahkan, "Om juga tau semua tentang diriku."
Justru karena aku tau tentang dirimu itu. "Kalian cocoknya jadi saudara saja," kata Raka.
"Papa, aku mau Kayla menjadi istriku," ucap Arden.
"Papa rasa juga sebaiknya begitu, Ar. Kamu dan Kayla lebih cocok menjadi saudara," kata Kevin.
Arden beralih menatap Elena. Sang ibu yang menjadi harapannya kali ini. Namun, Elena menundukkan kepalanya dan pupuslah harapan Arden. Elena juga berpendapat sama bahwa Kayla dan Arden lebih cocok jadi saudara.
"Mama, Papa, kenapa kalian tidak merestui kami? Aku dan Arden sama-sama mencintai," ucap Kayla.
"Rasanya sangat aneh, Kayla. Lebih baik turuti apa kata Papamu. Kalian memang sangat cocok jadi saudara," kata Bela.
"Kenapa hubungan Aretha dan Kak Davin kalian setujui?" protes Kayla.
"Itu karena kecelakaan yang menimpa Aretha, Kayla," sahut Elena.
"Kalian semua tega memisahkan kami. Sedari kecil aku menyukai Kayla," ungkap Arden.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak menyetujui hubungan kalian ini," kata Raka.
"Apa yang kurang dariku, Om?" desak Arden.
"Tidak ada yang kurang, Ar. Hanya saja kamu tidak cocok untuk putriku. Semua juga setuju dengan keputusanku."
Arden menatap Kayla, ia bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangan. "Ayo, Kay. Kita pergi dari sini. Tidak perlu minta restu kepada kalian semua. Kami akan tetap menikah."
Kayla bangkit dari duduknya, ia hendak meraih tangan Arden, tetapi Raka dan Bela berdiri menahannya. Kevin serta Elena juga bangun dari duduknya dengan menahan tangan Arden.
"Berani kamu pergi, Papa tidak akan anggap kamu anak," ucap Raka.
"Papa usir kamu jika berani meraih tangan Kayla," bisik Kevin.
"Arden tidak peduli!" ucapnya. Arden tetap mengulurkan tangan. "Ayo, Kayla. Ikut bersamaku. Jangan takut, Sayang. Kita bisa hidup bersama."
__ADS_1
"Arden, kita tidak bisa meninggalkan orang tua kita," kata Kayla.
Arden tersentak. "Kayla." Ia menatap wajah sang kekasih dengan sendu. "Sayang, ikut aku." Arden berucap tegas kali ini.
Kayla ingin meraih jemari Arden, tetapi kedua orang tuanya mencegah. Kevin dan Elena juga sama. Mereka sepakat untuk tidak membiarkan keduanya bersatu.
"Sampai kapan kalian akan bersandiwara? Perutku sudah lapar," sela Dean.
"Sayang," tegur Natalie.
Kayla dan Arden sama-sama memandang Dean yang belum beranjak dari duduknya, lalu beralih menatap kedua orang tua mereka masing-masing.
"Kalian!" ucap Arden dan Kayla bersamaan.
Semua tertawa. Kayla menutup kedua wajahnya karena malu, sedangkan Arden tidak bisa berkata apa-apa. Niat mau memberi kejutan malah dirinya dan Kayla mendapat serangan yang tidak terduga.
"Wajahmu pucat, Ar," ucap Raka.
"Aku baru menyaksikan adegan seperti film india," sahut Bela.
"Kenapa tidak bilang dari awal kalau calonnya Kayla? Kalau tau dari awal, Mama akan nikahkan kalian sekarang juga," kata Elena.
"Arden mau banget."
"Enak saja. Harus digelar dengan tradisi keluarga kalian," sahut Bela.
"Tenang saja. Kayla akan mendapatkan semua yang terbaik."
"Sebenarnya aku masih tidak setuju," sela Raka.
"Om mulai lagi," protes Arden.
"Kamu tenang saja, Ar. Kalian pasti akan menikah," sahut Dean.
"Kami memang harus menikah karena aku sudah meniduri Kayla."
"Apa?" semua kaget, sedangkan Kayla menepuk jidat.
"Anak kurang ajar!" Kevin merangkul Arden, lalu membawanya terbebas dari sofa.
"Maaf, Pa. Arden bohong."
"Nih, anak!" Raka ikut memberi pelajaran Arden.
"Kamu enggak ikutan, Dean?" tanya Elena sembari menunjuk suami, anak serta sahabatnya.
"Lebih baik kita makan malam. Biarkan saja mereka."
"Kalau kamu, Sayang?" tanya Aretha.
"Betul kata, Papa. Lebih baik kita mengisi perut," sahut Davin.
Dean menggandeng Natalie dan Kayla, sedangkan Davin menggandeng ketika wanita cantik bersamanya. Biar saja Kevin dan Raka bergulat bersama Arden.
Bersambung
__ADS_1