
Kayla terpaksa membeli satu set pakaian serta menyewa kamar hotel untuk sementara sebelum jadwal kepulangannya ke Indonesia. Perasaan pagi tadi sungguh membuatnya terguncang.
Kayla mengerti dan ia tahu kalau Arden sering bermain wanita. Namun, melihat barang pribadi milik perempuan lain sungguh membuatnya tidak terima. Setahu Kayla, Arden tidak akan pernah berlama-lama menyuruh seorang gadis berada di tempatnya. Cukup untuk satu malam atau setelah permainan usai, maka pria itu akan mengusirnya.
"Arden Sialan!" umpat Kayla. "Selama di sini dia bersenang-senang dengan wanita lain."
Kayla mengambil ponsel di dalam tas, lalu menghubungi Elise. Saat ini ia butuh teman untuk cerita dan Elise adalah orang yang tahu hubungannya bersama Arden.
Kayla melakukan panggilan video. Tidak lama Elise mengangkatnya. Wanita itu terengah-engah saat menerima panggilan Kayla.
"Kamu sedang apa?" tanya Kayla.
"Habis lari pagi. Sebentar, aku perlu minum untuk menenangkan diri," ucap Elise.
Kayla melihat langit cerah saat Elise meletakkan kamera ponselnya di posisi depan. Elise berada di luar dan sepertinya Boston sangat indah.
Pandangan langit lenyap berganti dengan Elise yang penuh keringat. Senyum manis wanita itu membuat Kayla ingin berada di sana. Tentu akan sangat menyenangkan berlari di perumahan atau sekitar taman.
"Sepertinya kamu baik-baik saja setelah putus dari Mike," ucap Kayla.
"Aku tidak pacaran dengannya. Kami hanya saling mengisi. Mike butuh seorang teman untuk menemaninya liburan. Aku sudah tidak menghubunginya dan aku mengundurkan diri dari tempat kerja. Aku ingin menjaga jarak," tutur Elise.
"Itu bagus."
Kening Elise berkerut melihat Kayla di dalam layar ponsel. "Ada apa denganmu? Seperti putus cinta saja. Kalian tidak ada masalah, kan?"
"Pagi ini aku menemukan pakaian dalam seorang wanita di dalam lemari Arden. Aku marah. Arden bersenang-senang dengannya dan aku tidak terima itu. Dia bilang mencintaiku, tetapi dia bermain bersama wanita lain," ungkap Kayla.
"Berada di mana kamu sekarang?"
"Hotel Hammers. Aku akan berada di sini sampai waktunya pulang. Aku menghabiskan tabunganku."
Kayla harus ikhlas kehilangan banyak uang. Rasanya uang itu tumbuh sayap, lalu keluar begitu saja dari dompetnya.
"Kita lanjutkan mengenai Arden. Apa dia bermain setelah kalian bersama? Tidak, kan? Wajar saja dia bermain atau tidur bersama wanita lain," ucap Elise.
"Dia bilang mencintaiku dari kecil. Tapi Arden malah bersama mereka. Wanita yang cuma mau uang saja."
Di seberang sana, Elise malah tertawa. Sangat jelas Kayla cemburu akan masa lalu kekasihnya. Terlebih ada beban masa lalu yang masih belum terlepas dari diri wanita itu.
__ADS_1
"Kamu paling tau Arden, Kayla," ucap Elise. "Dia memang mencintaimu dari kecil. Tapi kamu harus ingat. Arden adalah pria dewasa. Dia butuh pasangan menyalurkan hasratnya dan pria dewasa sangat ingin tau mengenai wanita. Kamu juga punya masa lalu, kan?"
"Kamu memang benar," sahut Kayla. "Kami punya masa lalu. Tapi tetap saja aku kesal. Aku tidak tau harus apa."
"Menurutku dengarkan saja penjelasannya. Setelah itu terserah dirimu. Ini hanya masalah kecil. Buang sikap cemburumu itu."
"Aku tidak cemburu," bantah Kayla.
Elise tertawa. "Ya, ya, kamu tidak cemburu."
"Jangan menggodaku Elise."
"Tidak!" sanggah Elise, lalu kembali tertawa.
"Terima kasih sudah mau mendengarku. Maaf telah menganggumu," ucap Kayla.
"Aku senang kamu menelepon. Sering-sering saja bertukar kabar.
Kayla mengangguk. "Baiklah. Sampai jumpa."
Sambungan telepon video diputus. Kayla merebahkan diri di atas tempat tidur sembari mengingat pertengkarannya bersama Arden.
...****************...
Arden menunggu Miles di depan perusahaan pria itu bekerja. Ia mondar-mandir tidak sabar agar sahabatnya membawa pria yang telah membantu Kayla melarikan diri.
Ponsel berdering. Dengan malas Arden mengangkat panggilan tersebut dari Aretha. Dalam keadaan begini, bisa-bisanya saudara kembarnya menganggu.
"Are, aku lagi sibuk. Jangan mengangguku," ucap Arden.
"Apa yang kamu di lakukan di negeri orang sana. Videomu tersebar di media sosial. Astaga, Arden! Kamu ini sudah gila," kata Aretha dari dalam telepon.
"Video apa?" tanya Arden.
"Aku akan kirimkan. Setelah itu hubungi aku," kata Aretha.
"Oke," jawab Arden. Lebih baik mengiakan permintaan Aretha daripada harus berlama-lama bicara pada wanita hamil tujuh bulan itu.
Aretha mengirimkan video itu, tetapi Arden malas untuk membukanya ketika sudah melihat Miles dan Steve berjalan mendekat.
__ADS_1
Arden berjalan cepat menghampiri Steve. Mencengkeram jas yang pria itu kenakan. "Ke mana kamu membawa Kayla? Katakan padaku?"
"Kumohon tenanglah, Arden. Ini di depan perusahaanku," kata Miles. "Jangan membuat masalah pada kami. Ayo, kita ke tempat lain." ucapnya menambahkan.
Arden melepas cengkeramannya, lalu mengikuti langkah Miles. "Katakan di mana Kayla? Kamu membawanya tadi pagi."
"Apa hubunganmu dengan Kayla? Dia kekasihku!" ucap Steve.
"Steve, kamu berubah menjadi pria menyebalkan. Cepat katakan!" teriak Arden.
"Aku tidak tahu! Kami berpisah saat di kafe. Kayla pergi begitu saja," kata Steve.
Arden menarik jas Steve, tetapi Miles melerai mereka berdua. "Jangan membuatku marah, Steve."
"Aku mengatakan hal yang sesungguhnya," ucap Steve.
"Sial! Aku paling benci dengan pria sepertimu. Arden melayangkan tangan, tetapi Miles menahannya. "Lepaskan aku, Miles. Aku ini sahabatmu!"
"Teleponmu berdering. Siapa tau itu Kayla," ucapnya.
Arden mengumpat, lalu mengangkat telepon. Miles bernapas lega. Petugas keamanan perusahaan sedari tadi ingin membubarkan keributan itu, tetapi Miles menghentikannya.
"Apa? Oke, aku akan ke sana," ucap Arden, lalu menatap tajam Steve. Ponsel ditaruh lagi di dalam saku celana. "Jangan pernah berniat untuk kembali bersama Kayla."
"Arden, maafkan aku. Pergilah," kata Miles. "Kamu tidak ingin sahabatmu dipecat, kan?"
Arden memutar tubuh, lalu berjalan selangkah dengan diikuti Miles serta Steve. Namun, secara cepat, Arden membalik diri dan menghunjamkan bogem mentahnya di perut Steve.
"Aku belum buat perhitungan karena kamu telah mengkhianati Kayla!" ucap Arden.
Miles mengumpat. "Pergilah, Ar!"
"Aku memang mau pergi."
Steve terbatuk-batuk sembari memegang perutnya. "Sialan! Dia memukulku begitu keras. Aku tidak menerima ini."
"Sudahlah, Steve. Ini juga karena dirimu. Jangan membuat masalah. Sebaiknya kita masuk," kata Miles.
Steve berdecak melihat kepergian Arden. Tidak terima, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlalu letih untuk berurusan dengan pihak keamanan.
__ADS_1
Bersambung