Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Pulang


__ADS_3

"Wajahku terlihat," kata Kayla.


"Coba aku lihat lagi." Arden meraih ponselnya, lalu menatap lekat video itu. "Terlihat dari belakang. Steve juga. Plat mobilnya diblur."


Video itu diambil saat Kayla masuk dalam mobil, lalu Arden yang mengetuk-ngetuk kaca kendaraan Steve. Setelah itu dua petugas keamanan mengamankan dirinya.


Zaman sekarang semua serba direkam oleh siapa pun yang memiliki ponsel. Tanpa izin dari si korban, mereka membagikan video itu hingga viral. Membuat orang lain tertawa dan menganggap konyol semuanya.


"Aretha pasti tau jika itu aku," ucap Kayla.


"Tapi dia tidak mengatakan itu kamu," sahut Arden. "Coba kita telepon."


"Aku sembunyi dulu." Kayla masuk ke dalam selimut tebal.


Arden melakukan panggilan balik kepada saudaranya. Tidak lama sudah tampak jelas wajah Aretha yang berisi. Ibu hamil memang beda. Anak kedua sungguh membuat Aretha tidak terurus.


"Ada apa dengan wajahmu? Sangat jelek. Sudah gendut. Mana jerawatan lagi," kata Arden.


"Sialan! Aku ini lagi hamil. Hormonku berlebihan," kata Aretha dari seberang sana.


Arden memperhatikan lagi saudaranya dari kamera. Ia memang tengah melakukan panggilan video ke Indonesia.


"Sungguh, Are. Kamu sangat jelek. Urus dirimu secantik mungkin. Davin akan selingkuh jika melihatmu seperti ini," ucap Arden.


"Enak saja. Dia istriku paling cantik," sahut Davin yang tiba-tiba muncul.


"Sayang, apa kamu mau selingkuh?" tanya Aretha.


Arden mendengar ucapan manja saudaranya. Kehamilan kedua Aretha sangat berbeda. Aretha seakan malas mengurus dirinya. Wajahnya dibiarkan tidak terawat, padahal kehamilan pertama tidak begitu.


"Jangan didengar omongan Arden. Kita tau mulutnya itu berbisa," ucap Davin. "Kamu begini karena mengandung anakku. Aku tetap mencintai dan setia padamu." Davin mengecup kening juga memeluk istrinya.


"Aku dengar apa yang kamu katakan, Davin," sahut Arden.


"Saat istrimu hamil, kamu juga akan merasakannya," kata Davin.


"Tidak lama lagi." Tangan Arden masuk ke balik selimut. Mencari-cari bagian yang akan mengandung seorang bayi. Ketika mendapatkannya, ia usap perut Kayla.


"Jadi, kabar itu benar? Kamu akan pulang dengan calon istri?" tanya Davin.


Arden mengangguk. "Iya, membawa calon istri."


"Apa gadis itu berada di sampingmu?"


Arden tertawa. "Matamu sangat jeli."

__ADS_1


"Siapa gadis yang bersembunyi di dalam selimut itu? Tunjukkan wajahnya."


"Apa dia gadis di dalam video itu?" tanya Aretha.


"Iya, dia wanita itu. Kami sedikit bertengkar," ungkap Arden.


"Kenapa aku merasa dia seperti Kayla?" kata Aretha sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Davin.


"Memangnya kita berapa lama kenal dengan Kayla? Dari dia bayi, aku mengenalnya," jawab Aretha.


"Aku juga merasa begitu. Kelihatannya memang seperti Kayla saat wanita itu masuk mobil."


Arden tertawa, lalu membuka selimut tebal yang menyelimuti Kayla dan mengarahkan ponsel ke hadapan sang kekasih.


Kayla menutup wajahnya. "Jangan."


Arden menurunkan tangan Kayla, lalu memberi kecupan sekilas di bibir. "Ini calon istriku."


"Gagal, deh, buat kejutannya."


Di seberang sana, Aretha dan Davin sama-sama tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Arden yang main kecup saja, lalu keduanya sama-sama berada di dalam satu kamar.


"Kalian sama sekali tidak memberitahu kami," kata Aretha. "Kayla! Kamu juga tidak menghubungiku."


"Baiklah. Tapi aku penasaran. Kenapa kalian sampai bersama? Kayla, kamu sungguh jadian dengan si mulut pedas?" kata Aretha.


Kayla menatap Arden, lalu beralih ke layar ponsel lagi. "Mulutnya memang pedas, tetapi dia sangat manis."


"Pasangan yang jatuh cinta memang beda," sahut Davin.


"Kalian berdua sudah tau hubungan kami. Jangan katakan kepada siapa pun. Kami akan pulang beberapa hari lagi," ucap Arden.


"Kami akan menunggu kalian dan tidak sabar untuk pengumuman resminya," timpal Aretha.


"Kami akan menghubungi kalian. Sampai jumpa," ucap Arden, lalu menutup panggilan teleponnya.


Arden meletakkan ponsel di atas nakas, lalu merebahkan Kayla di tempat tidur. Ia kecup seluruh wajah Kayla yang membuat sang kekasih tertawa karena geli.


"Biarkan aku bernapas," kata Kayla.


Arden tidak peduli. Ia teru saja menghujani Kayla dengan kecupan lembut. Pipi, bibir tidak luput dari sentuhan bibir Arden. Sayangnya, Kayla sudah melarang untuk mengecup bagian depan tubuhnya. Kalau diizinkan, maka Arden akan memberikan tanda-tanda cinta di sepanjang tulang selangkanya.


"Aku harus segera menikahimu. Tidak mau tau, pokoknya pulang harus menikah," kata Arden.

__ADS_1


"Semuanya perlu persiapan. Paling tidak dua puluh hari. Itu pun hanya pernikahan saja."


"Enggak mau tau. Nikah dulu saja. Pestanya menyusul. Aku tidak ingin kamu lari lagi. Kamu harus diikat dengan sah. Saat itu terjadi, kamu tidak akan pernah lepas dariku," ucap Arden.


Kayla mengecup lembut kening Arden. "Aku bersedia untuk diikat."


"Gadis es krim sayang. Setiap hari aku akan membuatmu meleleh."


"Aku memang sudah meleleh saat berada di dekatmu."


...****************...


Hari itu tiba, Arden dan Kayla sudah sampai di tanah air. Davin dan Aretha melambaikan tangan ketika melihat sepasang kekasih berjalan bersama. Keduanya memang datang untuk menjemput. Baik Kevin maupun Raka tidak tahu jika anak mereka telah tiba dari Amerika.


"Aretha!" seru Kayla dengan memeluk sahabatnya.


Arden merangkul Davin, lalu beralih memeluk dan mengecup kening Aretha. Kayla juga beralih dengan merangkul Davin.


"Kalian tidak memberitahu mama dan papa, kan?" tanya Arden.


"Beres," jawab Aretha.


"Sekarang kalian mau diantar ke mana? Apartemen atau rumah?" tanya Davin.


"Rumah saja," sahut Kayla.


"Apartemen," sela Arden.


"Rumah. Aku merindukan papa dan mama."


"Aku ingin kita tinggal bersama."


Kayla menggeleng. "Aku akan tinggal bersama mama dan papa."


"Ide bagus, Kay," cetus Aretha.


Davin menepuk pundak Arden. "Sabar. Kalian sudah bersama selama berbulan-bulan."


"Justru karena itu, aku tidak bisa jauh dengannya," sahut Arden.


Aretha mendengkus mendengar ucapan Arden. "Kemarin saja mau jauh-jauh dari Kayla. Bilang inilah, itulah, sekarang malah pengen nempel terus kayak lem."


"Namanya juga lagi jatuh cinta. Kayak kamu enggak pernah saja."


"Sudahlah. Sekarang kita pulang, lalu cari waktu buat pertemuan keluarga," sela Kayla.

__ADS_1


"Aku ambil mobil dulu. Kalian tunggu di depan saja," ucap Davin.


Bersambung


__ADS_2