
"Jadi, kapan kita melaksanakan acara spesial ini?" tanya Raka.
"Tergantung keduanya kapan mau menikah," jawab Kevin.
"Secepatnya, Pa. Arden mau nikah dulu, pestanya kapan-kapan saja," ucap Arden.
"Enggak mau. Harus berbarengan dengan pestanya," sela Kayla.
"Lama kalau begitu. Belum pesan baju sama hal-hal lain," kata Arden.
"Kebelet banget mau nikah," celetuk Elena.
"Bukan begitu, Ma. Takutnya Kayla berubah pikiran."
"Ya, kamu jadi laki-laki yang serius. Jangan main perempuan. Sudah mau nikah juga."
"Om tau kebiasaanmu, ya, Arden. Jika kamu enggak berubah, pernikahan batal," kata Raka.
"Memangnya Arden melakukan apa, sih? Arden anak baik, loh," bantahnya.
"Sudahlah. Kita perlu waktu buat ini semua. Paling tidak tiga bulanan buat persiapan semuanya," ucap Bela.
"Lama banget, Tan. Arden maunya nikah dulu pokoknya."
"Ya, enggak bakal istimewa. Aku enggak mau. Pokoknya harus jadi satu," kata Kayla.
Coba waktu itu aku buat Kayla hamil saja. Pasti semuanya bakal enggak terlalu lama buat kami bersama. "Aku terserah kamu saja. Tapi tiga bulan itu rasanya terlalu lama. Paling yang lama di sini buat baju pengantin saja."
"Acara tunangan juga belum digelar," kata Bela.
"Sekarang saja tunangannya," sahut Kayla, "langsung nikah saja. Kayla enggak mau nanti gagal lagi."
"Kalau begitu kalian tukar cincin saja sekarang. Cincinnya ada bawa, kan?" ucap Kevin.
Arden mengeluarkan kotak perhiasan dari saku kemeja batik yang ia kenakan. Kayla berpindah duduk di samping Arden. Ia melepas cincin akrilik yang Arden berikan waktu di Maldives, dan sang kekasih menggantinya dengan cincin berlian.
"Sekarang kamu sudah aku ikat di depan keluarga. Kamu milikku sekarang dan enggak bisa ke lain hati lagi," ucap Arden.
"Kamu yang playboy. Sudah tunangan masih kencan sama wanita lain."
"Itu teman, Sayang. Janji enggak bakal begitu lagi."
__ADS_1
"Enggak perlu janji kamu. Aku mau bukti," ucap Kayla.
"Kurang bukti apa, sih, aku. Enggak cukup bukti kalau aku cinta banget sama kamu," kata Arden.
"Mulutmu itu, kan, kadang manis kadang pedas kayak cabai."
"Sudah, kalian malah berdebat," tegur Raka. "Untuk urusan pernikahan ini diserahkan sama para wanita. Kita pria ikut saja."
"Besok, kita janjian ke butik buat pesan baju," kata Bela.
"Kita sepakati dulu tanggal pernikahannya," ucap Elena.
"Sehabis Aretha melahirkan, Ma," timpal Aretha.
"Dua bulan dari sekarang saja. Bulan depan Are akan melahirkan. Kasihan Arden harus nunggu lama," usul Davin sembari memandang adik iparnya.
Arden mengacungkan dua jempol untuk Davin yang mendukungnya kali ini. Bila perlu ia menginginkan usulan agar bulan depan mereka bisa menikah. Ya, sedikit susah karena orang tua Kayla pasti menginginkan pernikahan megah untuk putri semata wayang mereka.
"Kita sepakat buat dua bulan mendatang pernikahannya. Untuk tempatnya?" tanya Kevin.
"Nikahnya tetap di rumah kami, kalau pesta serahkan saja sama kedua calonnya," jawab Raka.
"Kalau dua bulan mendatang, itu puncak musim gugur. Memangnya enggak apa-apa?" tanya Dean.
"Sehabis itu musim dingin. Kalian ingin buat tamu menjadi beku?" kata Davin.
"Musim semi, deh. Kita liburan dulu setelah menikah," sahut Arden.
"Terserah kalian saja untuk resepsi kedua," sahut Kevin.
"Cuma untuk pesta bersama teman-teman saja," timpal Arden.
...****************...
Besoknya, keluarga mendatangi butik. Kayla tidak ingin memakai perancang busana pengantin yang dulu membuatkannya baju untuk rencana pernikahan pertama. Semua yang berhubungan dengan Steve harus ia lupakan. Jadilah, butik pilihan Natalie yang mereka kunjungi.
Kayla sibuk mencoba baju-baju yang ada di sana, sedangkan pria menunggu giliran untuk diukur. Kayla juga harus memesan baju pengiring pengantin untuk teman-temannya termasuk Arden.
"Sudah lima pasang gaun kamu coba, semuanya bagus. Tergantung seleramu saja, Kay," ucap Bela.
"Semua warna putih saja. Kayla suka itu, tetapi ada campuran silver kayak perhiasan di bagian bawah gaunnya," kata Kayla.
__ADS_1
"Bisa saya atur, Nona," ucap desainer.
"Untuk gaun keduanya, Kayla ingin ada kupu-kupu. Jadi, saat berjalan seperti ada binatang cantik itu hinggap di gaun. Untuk yang kedua tidak perlu terburu-buru karena akan dipakai untuk resepsi di Amerika."
Desainer itu mengangguk, lalu mencatat apa saja yang Kayla inginkan dan merancang gaun yang sesuai keinginan calon pengantin. Ada beberapa hal yang juga Kayla tambahkan di sana agar gaun itu sempurna nantinya.
"Sudah?" tanya Kevin.
"Sebentar lagi," jawab Elena.
"Kita keluar dulu, deh. Kalau sudah mau pulang telepon saja."
"Are, kamu sudah selesai ukur bajunya, pulang, yuk. Kamu harus banyak istirahat. Daren juga nangis agar kita cepat pulang," kata Davin.
Aretha mengangguk. "Aretha balik dulu. Kalau ada perubahan, kita diskusikan di rumah saja."
"Iya, Sayang. Kamu pulang saja dulu," sahut Elena.
Sementara para pria keluar karena tidak betah di butik, Arden tetap setia menemani calon istrinya. Mau selama apa pun Kayla, ia tetap harus menunggu.
Semalam, Arden tidak sempat meminta jatah kecupan selamat malam dari sang kekasih. Selepas ini, ia akan membalaskannya kepada Kayla. Arden akan minta kekasihnya menginap di apartemen.
Akhirnya, pemesanan baju pengantin selesai. Seharian di butik membuat lelah. Arden undur diri dengan membawa Kayla bersamanya untuk mengisi perut, meski mendapat protes dari Bela karena takut mereka melakukan tindakan yang berlebihan.
Arden tidak peduli, ia tetap membawa Kayla untuk ikut bersamanya. Keduanya mengisi perut dulu sebelum pulang ke apartemen. Kali ini Arden membawa sang kekasih ke biliknya dan apartemen sudah dibersihkan dari kehadiran wanita yang pernah singgah di tempatnya. Arden pastikan tidak ada barang pribadi milik wanita yang tertinggal di kamarnya.
"Kapan kamu membersihkannya?" tanya Kayla.
"Aku suruh pelayan rumah yang bersihkan. Semua sudah diganti."
Arden langsung mengangkat tubuh Kayla, lalu membawanya ke kamar tidur. Kayla mengalungkan kedua tangganya di leher Arden. Menenggelamkan kepalanya di bahu bidang sang kekasih.
Kayla mengecup jakun Arden. Berpindah ke bawah telinga yang membuat sang kekasih tidak sabar untuk merebahkannya di atas tempat tidur.
"Aku sangat takut, Kayla," ucap Arden sembari membuka kaus yang ia kenakan. Ia juga melepas jeans yang dipakai, lalu menindih tubuh Kayla.
"Aku yang sangat takut. Bagaimana kalau gagal lagi?" kata Kayla.
Arden mengecup bibir Kayla seraya jari jemari nakalnya membuka kancing kemeja yang kekasihnya kenakan. Tidak sampai di situ, kecupan Arden menjelajah ke bagian jenjang sang kekasih. Mengecup dua bagian ceruk di sisi kiri dan kanan, lalu ia berhenti setelah sampai di bagian muka keranuman milik Kayla. Arden tidak boleh ingkar meski sekarang ia sangat ingin menjamahnya.
Bersambung
__ADS_1