Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Berangkat


__ADS_3

Kayla mencuri waktu untuk mengangkat panggilan video dari Arden. Ia cukup terganggu dengan telepon yang tidak akan berhenti kalau tidak diangkat. Parahnya jika Kayla tidak menjawab panggilan itu, maka Arden akan menggantinya dengan menelepon lewat telepon rumah.


"Aku sibuk, Ar," kata Kayla.


"Apa yang kalian buat?" tanya Arden.


"Hidangan makan malam dan beberapa kue."


"Sayang, aku enggak sabar buat nanti malam," ucap Arden.


"Jangan membuat jantungku berdegup kencang. Membahasnya saja aku merasakan debarannya sangat kuat. Aku takut juga cemas. Apa papa akan merestui kita?"


"Kenapa tidak? Aku mapan, tampan dan baik hati," kata Arden.


"Percaya diri sekali. Kamu ingat, kan, kalau papa ingin menjodohkanku."


"Aku tidak akan membiarkannya. Kamu harus menjadi istriku," kata Arden.


"Sudahlah, lihat saja nanti malam. Aku tutup dulu teleponnya. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Dandan yang cantik untuk malam ini. Siapkan juga makanan dan kue kesukaanku." Arden memberi kecupan jarak jauh dan mengedipkan sebelah matanya.


Kayla membalasnya, lalu memutus panggilan video. Ia sudah membuat makanan dan kue kesukaan Arden. Buatan dari tangannya sendiri dan Kayla tidak sabar agar Arden bisa mencicipinya.


Waktu begitu cepat berlalu. Sang raja cahaya sudah turun dari singgasananya. Kayla lekas membersihkan diri dan berdandan secantik mungkin.


Sementara di ruang tamu sudah ada Dean yang datang dengan membawa pakaian untuk istrinya. Sebenarnya Natalie ingin pulang karena ini adalah acara pribadi keluarga Raka, tetapi Kayla bersikeras menahannya dan menyuruh Dean untuk datang.


"Sebenarnya ini acara pertunangan atau pertemuan biasa?" tanya Dean.


Raka mengangkat bahu. "Entahlah. Kayla bilang calon suaminya kejutan. Mungkin saja setelah melihatnya kita akan kaget setengah mati."


"Jangan-jangan Kayla balik lagi bersama Steve," ujar Dean.


Raka tampak berpikir. "Bisa jadi, sih. Tapi aku bakal menentang kalau sampai itu terjadi."


"Kalau mereka saling cinta bagaimana?"

__ADS_1


"Selama ini aku selalu menuruti keinginan Kayla. Jika dia ingin kembali bersama Steve, aku rela menjadi ayah yang dibenci," ucap Raka.


Dean mencibir, "Halah! Ditinggal liburan saja kamu nangis."


"Mana ada. Kamu kira aku ini anak SMA?"


Dean tertawa. "Ingat waktu sekolah dulu sangat menyenangkan."


Raka menoleh ke belakang, lalu beralih pada Dean. "Kamu masih menyimpan rasa pada Elena?"


"Sembarangan. Aku ini sudah punya cucu," kata Dean.


"Oh, aku kira masih."


Elena, takdir malah menyatukan kami dalam ikatan keluarga. "Jangan bahas lagi. Itu adalah kenangan berharga buatku," ucap Dean.


...****************...


"Bagaimana penampilanku? Apa tampan?" tanya Arden pada saudara kembarnya.


"Lagi pula aku tampan bukan untukmu, tapi untuk kekasihku," kata Arden.


"Cepatlah, Arden. Kita harus segera berangkat. Lama-lama cermin akan pecah karena kamu berdiri terus di depannya," sahut Davin.


"Semua sudah siap? Hadiahnya?" tanya Arden.


"Cepatlah turun. Takutnya di jalan macet," sahut Aretha.


Ketiganya keluar kamar. Dengan perlahan Arden dan Davin membantu Aretha turun ke bawah. Arden heran dengan Davin. Selalu saja menuruti permintaan Aretha yang tidak-tidak. Padahal sangat jelas Arden melarang saudaranya menaiki anak tangga dalam kondisi hamil tua.


"Kita langsung berangkat saja," kata Kevin.


"Deren mau sama Kakek," ucapnya.


Kevin mengusap puncak kepala cucunya. "Ayo, kamu lekas masuk mobil."


"Mama mana?" tanya Arden.

__ADS_1


"Mama di sini," sahut Elena yang juga sudah siap.


Semua keluar rumah dan masuk mobil masing-masing. Kevin, Elena serta Deren bersama Arden. Sementara Aretha bareng Davin dengan kendaraan mereka sendiri.


Arden mengendarai mobilnya lebih dulu disusul oleh Davin dari belakang. Kendaraan keduanya lekas melaju menuju kediaman calon mempelai wanita.


"Rumah calon istrimu satu perumahan dengan rumah Kayla?" tanya Elena yang tidak asing akan jalan yang mereka lalui.


Arden mengangguk. "Iya, Ma."


"Sebelah mana?" tanya Kevin.


"Bagian tengah," jawab Arden, "nanti Papa dan Mama juga tau."


Mobil masuk ke perumahan tempat Raka tinggal. Arden memperlambat laju kendaraannya dan berhenti tepat di depan rumah Kayla.


"Rumahnya di depan rumah Kayla?" tanya Elena.


Suara klakson mobil Davin mengalihkan perhatian. Arden masuk ke pekarangan rumah Raka setelah penjaga mempersilakan dan mengatur posisi mobil agar kendaraan di belakang juga bisa masuk.


Klakson sengaja dibunyikan oleh Arden. Orang rumah Kayla keluar termasuk Dean serta Natalie. Mereka saling memandang karena kedua mobil yang datang sangat dikenali.


"Ayo, kita turun," kata Arden.


Semua turun dari mobil. Deren berlari ketika melihat kakek serta neneknya di depan sana. Sementara Elena dan Kevin tidak tahu apa yang terjadi. Raka dan Bela segera menghampiri sahabat mereka.


"Pertemuan keluarga kalian sudah selesai?" tanya Raka.


"Justru kami ingin datang ke rumah calon istri Arden," ucap Kevin.


"Nak, di mana rumahnya?" tanya Elena yang malah memandang ke arah luar.


"Ini rumahnya. Calon istri Arden adalah Kayla."


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2