
"Kebetulan Papa dan Mama belum tidur. Arden mau bilang masalah tadi di restoran," ucapnya.
Arden pulang ke rumah dan mendapati Elena serta Kevin tengah menonton TV di ruang keluarga. Kesempatannya juga yang ingin meluruskan perihal kesalapahaman di restoran tadi.
"Mama kecewa denganmu. Kamu seperti tidak ingin mengenalkan kami dengan kekasihmu," kata Elena.
"Karena Mama salah orang. Dia itu Lauren dan bukan calon istri Arden. Karena itu juga kami malah bertengkar. Gara-gara Mama, Lauren menyatakan perasaannya padaku."
"Kok, kamu nyalahin Mama?" Elena mengenggam tangan Kevin. "Sayang, lihat putramu."
"Arden! Pelan sedikit bicaramu," tegur Kevin.
"Arden lembut, kok, bicaranya."
"Di sini jelas kamu yang salah. Sebenarnya kapan kamu membawa calon istrimu kemari?" tanya Kevin.
"Besok malam. Mama dan Papa siap-siap saja buat melamarnya," kata Arden.
"Terus, sudah tau punya calon, kenapa masih jalan sama wanita lain? Apa yang kamu berikan pada Lauren itu? Kalian sepertinya sangat akrab," kata Elena.
"Awalnya cuma teman dan kita akrab. Tapi Arden tidak punya perasaan dengannya. Kita sempat liburan bersama di Amerika sana."
"Pria sama saja rupanya. Pasti kamu memberi harapan palsu untuknya."
"Enggak, kok," bantah Arden.
"Aretha bilang kamu membeli tas darinya. Pasti itu untuk Lauren, kan? Mama juga lihat kotak tas dari kursi wanita itu tadi. Kalian para pria suka membuat kami jatuh cinta, lalu menjatuhkannya. Papamu dulu juga seperti itu."
Elena bangkit dari duduknya. Ia menatap sengit keduanya yang punya sifat hampir sama, yaitu mempermainkan perasaan wanita. Lalu, berjalan masuk kamar.
"Lihat, ini semua karena kamu," kata Kevin.
"Kenapa Arden yang salah?" tanyanya.
"Jangan terlalu dekat dengan wanita, Ar. Akhirnya, jadi salah paham mereka. Mamamu sekarang marah. Malam ini Papa tidak mau tidur di kamar tamu," ucap Kevin, lalu beranjak pergi menyusul Elena.
Arden mengembuskan napas kasar. "Sepertinya Mama dan Papa dulunya punya masalah dengan orang ketiga. Mama selalu bilang untuk tidak mempermainkan perasaan wanita. Aku tidak melakukan apa pun pada Lauren. Dia saja yang menganggap perhatianku sebagai rasa cinta."
Arden melangkah pelan menuju kamar orang tuanya. Ia mendekatkan telinga mencoba untuk mendengar percakapan keduanya. Arden takut jika masalah tadi membuat pertengkaran antara Elena dan Kevin.
"Enggak ada apa-apa. Baguslah. Mama dan papa tidak terpengaruh sama perkataanku tadi," gumam Arden.
...****************...
Arden merasakan sebuah tangan lembut yang mengusap kepalanya. Perlahan ia membuka mata, lalu melihat sosok yang membuatnya tersenyum di pagi hari.
"Mama!"
Arden beringsut tidur di pangkuan Elena sembari menikmati setiap usapan kasih sayang yang ibunya berikan.
"Maafin Arden tentang semalam," ucapnya.
"Memang kamu salah apa?"
"Salah semuanya. Pokoknya Arden minta maaf."
__ADS_1
"Iya, Mama maafin. Sekarang kamu bangun dulu," kata Elena.
Arden bangun dari rebahannya. Ia turun dari tempat tidur dan langsung masuk kamar mandi. Elena segera membereskan tempat tidur. Ia meraih ponsel Arden yang terselip dan menatap layarnya. Terdapat gambar Arden yang tengah mengecup pipi Kayla. Foto itu dijadikan sebagai wallpaper.
Elena tersenyum memandangnya. "Foto kapan ini? Kalau Kayla tau, pasti mereka bakal bertengkar lagi."
Bukan hal aneh bagi Elena jika ada Kayla di samping Arden. Bahkan di dalam kamar putranya, terdapat hal yang berkaitan dengan Kayla. Bantal kepala yang Arden tiduri bertuliskan nama sang putra dan Kayla. Bantal kesayangan Arden yang sengaja Elena buat sebagai hadiah ulang tahun ke dua belas.
...****************...
Siangnya, Arden pergi menjemput Kayla. Kebetulan Raka serta Bela tidak ada di rumah. Jadi, Arden leluasa menganggu Kayla.
"Kamu bilang mau pergi beli cincin. Kenapa masih menginginkanku di tempat tidur?"
"Sebentar lagi," jawab Arden sembari menjelajahi tulang selangka kekasihnya.
Arden membalik tubuh Kayla, lalu menghunjani punggung belakang sang kekasih dengan kecupan kecilnya. Kayla mencengkeram seprai karena merasakan gigitan yang menyakitkan sekaligus nikmat.
"Kamu sudah janji enggak akan menyentuhku," kata Kayla.
"Aku enggak menyentuh bagian depanmu," sahut Arden.
"Sudah, ya. Ayo, kita pergi beli cincin," bujuk Kayla.
Arden menarik diri dari tubuh Kayla. Ia menyugar rambut ke belakang, lalu mengembuskan napas kuat. Hampir saja Arden kehilangan kendali.
"Aku tunggu di luar. Kamu segera bersiap," ucap Arden.
Kayla mendengkus, ia sudah siap daritadi, tetapi Arden yang telah mengacaukan riasannya. Kayla merapikan baju, rambut serta lipstiknya.
"Sayang! Ayo, berangkat," seru Arden.
"Iya, aku sudah selesai," sahut Kayla, lalu berjalan keluar.
Arden mengulurkan tangan yang disambut oleh Kayla. Keduanya keluar rumah, masuk ke dalam mobil dan Arden segera mengendarai kendaraan roda empatnya menuju mal.
...****************...
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Arden dan Kayla langsung saja melangkah ke toko perhiasan. Mereka memilih cincin pertunangan yang sesuai untuk malam besok.
"Untuk cincin nikah, kita pesan saja," usul Arden.
"Boleh juga. Untuk sekarang kita beli yang ada dulu," kata Kayla. "Yang ini bagus, Sayang. Cincinnya simple, tapi manis."
Arden meminta pelayan mengambil beberapa pasang cincin untuk mereka. Selagi memilih, telepon Arden berdering.
"Papa telepon. Kamu tunggu bentar di sini," kata Arden.
Kayla mengangguk. "Pergilah."
Arden menjauh dari Kayla, lalu mengangkat panggilan dari Kevin. Sementara Kayla kembali memilih cincin pertunangannya.
"Hai!"
Kayla menoleh, keningnya berkerut melihat sosok wanita di depannya. Kayla merasa pernah melihatnya, tetapi ingatan itu samar-samar.
__ADS_1
"Sepertinya kita pernah bertemu," kata Kayla.
Wanita itu tersenyum. "Lauren. Kita pernah bertemu dua kali."
Kayla menaikan sebelah alisnya. "Ya, aku ingat sekarang. Biasa hanya namanya saja yang terdengar."
"Bisa kita bicara?" tanya Lauren.
Kayla melirik Arden yang masih menelepon. Pria itu menghadap belakang dan tampak serius berbicara di telepon.
"Katakan kepada kekasihku untuk menungguku di sini," kata Kayla kepada pelayan toko, lalu beralih pada Lauren. "Kita ke kafe saja."
Lauren dan Kayla segera pergi tanpa sepengetahuan Arden. Tidak disangka Lauren bisa bertemu Arden di mal. Ini sungguh kebetulan semata karena Lauren baru saja berbelanja pakaian baru dan ia melihat Arden bersama Kayla yang tidak diduga menjadi sangat cantik.
Keduanya saling duduk berhadapan dengan minuman masing-masing di tangan. Kayla tidak menduga ini. Teman tanpa status Arden datang menemuinya.
"Bicara saja untuk menghemat waktu," kata Kayla.
"Terakhir kali tubuhmu berisi. Sekarang sangat cantik," ucap Lauren.
Kayla tersenyum. "Terima kasih pujiannya."
"Apa karena putus cinta? Atau mendapat pasangan baru?" tanya Lauren.
Kayla berdeham. "Kurasa kita tidak dekat. Apa aku harus menjelaskannya kepadamu?"
"Aku hanya penasaran saja. Arden mengatakan semuanya padaku," ucap Lauren.
"Kurasa dia menganggapmu spesial, dan jika Arden memberitahumu segalanya, artinya kamu tau siapa aku," kata Kayla.
"Tentu saja. Kamu sahabatnya."
"Maksudku, kamu tau kalau aku adalah wanita yang ia inginkan," ucap Kayla tepat mengenai sasaran.
"Apa kamu ingin meninggikan statusmu di mata Arden?"
"Aku cuma mengatakan hal yang sebenarnya. Apa itu salah?" Kayla tersenyum tipis. "Sebenarnya kamu ini ingin bicara apa?"
"Aku hanya penasaran dengan wanita pilihan Arden," ucap Lauren.
Lagi-lagi Kayla tersenyum dan membuat Lauren muak melihatnya. Senyuman yang memberi tekanan dan Lauren merasa kecil berhadapan dengannya.
"Aku ini bukan pilihan karena sesungguhnya dari dulu, akulah wanita yang berada di sisi Arden. Wanita yang lain itu hanya pelarian untuknya. Sayangnya banyak wanita yang menganggap hal itu sebagai cinta."
Sekali lagi serasa anak panah menembus hati Lauren. Apa yang dikatakan Kayla sangat tepat. Awalnya Lauren menganggap Arden hanya pria biasa yang sering singgah seperti kebanyakan teman satu malamnya, tetapi selama di Amerika perasaan itu berubah. Lauren jatuh hati pada Arden.
"Kami tidur bersama dan bersenang-senang selama liburan," ucap Lauren memprovokasi.
Kayla terkekeh. "Aku bukan wanita dengan pikiran konservatif. Sebelum Arden bersamamu, dia banyak melakukannya bersama wanita lain di luar sana. Kalian hanya bermain tidak sampai berhubungan jauh. Karena Arden hanya menyerahkan dirinya kepadaku."
Kayla mengusap lengan Lauren yang langsung ditepis wanita itu. Kayla tetap tenang dan menerbitkan senyum manisnya.
"Jika kamu ingin menghasutku percuma saja. Kamu baru beberapa saat menjadi teman Arden. Segala hal yang kamu ketahui, tidak sebanyak hal yang aku ketahui." Kayla bangkit dari duduknya. "Satu lagi, lupakan rasa cinta sesaatmu pada Arden."
Bersambung
__ADS_1
Konservatif \= Kolot.