Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Selangkah Lagi


__ADS_3

Waktu sangat cepat berlalu. Rencana pernikahan impian Kayla sebentar lagi tiba. Bulan depan adalah hari besarnya. Semua persiapan setidaknya sudah hampir enam puluh persen selesai.


Hotel sudah dipesan. Untuk dekorasi juga sudah ditentukan. Semua bernuansa putih dan biru langit. Souvenir, catering juga telah diselesaikan. Hanya tinggal kembali mengukur gaun pengantin serta foto prewedding.


Arden dan Kayla berjalan bersama masuk rumah sakit. Mereka datang untuk menjenguk Aretha yang sudah melahirkan secara caesar.


"Kalau kamu mau punya anak cewek atau cowok?" tanya Kayla.


"Jangan mikirin itu, deh. Buat saja belum," sahut Arden.


"Pikiranmu itu!" ucap Kayla kesal.


"Benar, dong. Aku saja belum menidurimu. Nanti kalau sudah bergelung dalam satu selimut, baru aku pikirkan."


Kayla mendengkus. Kesalnya jika punya calon suami teman sendiri. Rasanya setiap apa yang diucapkan Kayla adalah lelucon bagi Arden.


"Kamarnya yang mana? Anggrek apa mawar?" tanya Arden.


"Mana aku tau. Tadi tante Elena bilang apa?"


"Arden!"


Kayla dan Arden menoleh. Mereka bernapas lega karena bisa bertemu Davin. Arden langsung merangkul sahabat sekaligus adik iparnya itu. Begitu juga Kayla.


"Selamat untukmu," ucap Arden.


"Kak Davin selamat," kata Kayla.


"Makasih. Kamar rawat Aretha di sebelah kanan sini. Ikut denganku."


"Cowok apa cewek?" tanya Arden seraya berjalan mengikuti langkah Davin.


"Cowok lagi," jawab Davin.


"Bukannya perempuan waktu di USG?" celetuk Kayla.


"Buktinya yang keluar cowok," sahut Davin seraya membuka pintu kamar.


Sudah ada Natalie, Kevin serta Elena di dalam kamar VVIP. Tapi bayi Aretha masih belum ada di sana. Mungkin saja nanti sore diberikan kepada ibunya.


Aretha tampak bahagia, ia bahkan sudah setengah duduk dengan banyak bantal yang menyangga punggung belakangnya.


"Aretha, selamat untukmu," ucap Kayla sembari memeluk sahabatnya.


"Terima kasih."


Arden turut memeluk saudara kembarnya dan memberi ucapan selamat. "Impianmu tidak terwujud."


"Dua tahun lagi aku akan hamil kembali," ucap Are.


"Kamu kuat juga," kata Arden.

__ADS_1


"Sebenarnya aku yang kuat," sahut Davin. "Kalau Aretha ingin hamil, aku, sih, siap."


Arden mendengkus. "Itu memang keinginanmu."


"Saat kamu mencobanya, kamu tidak akan berhenti."


"Aku tidak sabar untuk moment itu," ucap Arden sembari mengedipkan mata.


"Kalian bahas apa, sih? Kayla sampai malu begitu," sela Elena.


Aretha tertawa setelah itu ia meringis kesakitan. "Kalian jangan membuat lelucon. Bisa-bisa lukanya terbuka."


"Kapan jadwal foto prewedding kalian?" tanya Natalie.


Kayla mendaratkan tubuhnya di sofa samping Elena. "Lusa, setelah itu tinggal persiapan lainnya saja."


"Mau langsung bulan madu?"


"Iya, Tan. Puncak musim gugur akan berganti ke musim dingin. Kayla ingin melihat salju pertama turun," jawab Arden.


"Aku mau liburan juga," kata Aretha.


Davin menggeleng. "Tidak di musim dingin. Kita akan ke sana saat musim semi."


"Jadi, kalian akan ke mana?" tanya Kevin yang baru membuka suara.


"Paris setelah itu langsung pulang ke Amerika dan tinggal di sana sampai resepsi kedua kami," sahut Arden.


"Sayang, kalian tinggal di sini, kan? Kalian sudah janji juga dan kamu akan bekerja di sini," ucap Elena.


Berbincangan santai berlanjut sampai akhirnya suster datang dengan mendorong kereta bayi. Aretha tidak sabar untuk menggendong buah hatinya bersama sang suami.


"Ini dia, jagoan Papa sudah datang," ucap Davin.


Elena, Natalie, serta Kayla bergegas menjadi yang pertama untuk melihat bayi mungil itu. Suster yang mengantar keluar setelah mengucapkan selamat kepada keluarga si bayi dan mendapat balasan terima kasih.


Pintu kamar kembali terbuka. Dean datang bersama sang cucu Daren. Keduanya langsung berbaur dengan semuanya. Tinggal Raka dan Bela saja yang masih belum datang sebab keduanya keluar kota menemui sanak saudara untuk pernikahan Kayla yang akan datang.


...****************...


Tema santai dengan pakaian casual yang menjadi pilihan Kayla dan Arden dalam foto prewedding mereka. Semua di lakukan di hotel yang sudah dihias dulu oleh penyelenggara.


Semua foto diambil dari kegiatan yang Kayla dan Arden senangi. Arden paling senang ketika foto di sofa dengan memeluk Kayla. Itu terkesan sangat romantis. Kalau Kayla lebih menyukai foto ketika mereka duduk sambil menikmati secangkir kopi dengan latar belakang suasana hujan.


"Akhirnya selesai juga," kata Kayla.


"Capek?" tanya Arden.


"Pastinya. Perutku juga lapar. Kamu pesanin aku makan."


"Enggak mau makan di restoran saja?"

__ADS_1


Kayla menggeleng. "Di kamar saja. Aku mau bersih-bersih dulu."


"Aku antar mereka ke depan dulu."


Semua kru serta penata rias keluar setelah berpamitan pada Kayla. Arden ikut mengantar mereka sampai ke lantai bawah sekaligus memesan makanan untuk sang kekasih.


"Enggak nyangka jodohku adalah sahabat sendiri," ucap Kayla sembari mengusap pakaian Arden. "Semoga dia benar-benar jodohku untuk sekarang dan masa depan. Amin."


Kayla mengusap wajahnya dan melompat girang karena ia tidak menyangka telah sampai di tahap ini. Arden yang selalu memusuhinya menjadi pria yang sangat mencintainya.


Setelah Kayla membersihkan diri, Arden datang bersama pelayan yang membawa pesanan makanan untuk mereka. Perut keduanya telah keroncongan dan memang perlu diisi.


"Aku sangat lapar. Malam ini izinkan aku untuk menyantap semuanya," kata Kayla.


Arden memberi tip kepada pelayan. "Terima kasih."


"Kembali, Tuan," ucap pelayan pria, lalu pergi.


"Ayo, makan," ajak Kayla.


"Jangan semua, Sayang. Gaun pengantinmu tidak akan muat," tegur Arden.


Kayla melepas sendok nasi dan beralih memandang Arden. "Kamu bilang enggak apa-apa kalau tubuhku berisi."


"Setidaknya tunggu sampai pernikahan selesai. Gaunmu sudah diukur. Jika tubuhmu naik, maka akan sulit untuk memperbaikinya."


"Kamu menyiksaku," kata Kayla cemberut.


"Aku berkata benar. Usahakan agar tubuhmu tetap ideal. Setelah kita menikah, mau kamu gendut juga enggak apa-apa. Sejujurnya aku suka dirimu yang berisi. Lebih menantang," bisik Arden.


"Pria selalu saja bilang enggak apa-apa kamu gendut, aku tetap cinta. Tapi sejujurnya kamu suka yang ramping," kata Kayla.


"Aku tidak pernah bohong. Aku suka dirimu yang dulu dan sekarang. Kamu punya bagian depan yang padat, lalu bentuk belakang yang bulat. Jika aku menggigitnya, kamu akan menjerit."


"Berhenti membicarakannya," ucap Kayla.


Arden tersenyum menyeringai. "Bisa aku minta DP?"


"Apa?" tanya Kayla dengan mata memelotot.


"Izinkan aku mencicipinya."


"Sayang, jangan menggodaku."


Wajah Arden memelas, Kayla ragu apa ia harus mengizinkan Arden untuk mencicipinya. Pernikahan sebentar lagi. Kalau pun memberi kesenangan sedikit kepada Arden bukan tidak masalah.


"Sabar, Sayang. Hanya menghitung hari kita akan menikah. Saat kita sah, aku janji hanya akan memakai pakaian tidur saja. Kamu bebas melakukan apa pun padaku," kata Kayla.


"Janji. Jangan pernah menolakku."


"Pasti. Asal kamu kuat saja." Kayla mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Dia meremehkanku. Mulai besok harus rajin olahraga, batin Arden.


Bersambung


__ADS_2