
"Tubuhku lengket," kata Kayla, "aku mau mandi."
Arden tersenyum menyeringai. "Sayang, kamu pikir ini sudah berakhir? Kita baru saja pemanasan. Sekarang giliranku. Lakukan seperti apa yang aku lakukan padamu."
Arden memindahkan tubuh Kayla ke bawah. Ia mengambil es krim cup yang sudah mencair. Arden melepas baju bagian bawah, lalu menuang lelehan es krim itu ke daerah terlarang.
Kayla meneguk ludah. Ia menatap Arden, lalu ke arah yang sudah tegang itu. Kayla mendekatkan wajah kemudian mencicipinya. Arden mengerang sembari membuka pakaian atas.
"Terus, Sayang. Lebih dalam lagi," pintanya.
Kayla mencucup ujung bulat yang lembut. Menyapu lelehan es krim dengan perasanya. Dari pangkal ke ujung tidak luput dari belitan perasanya.
Arden mengumpat. Bibir Kayla sungguh menakjubkan. Begitu sensitif sehingga setiap bersentuhan, ada yang menjalar sampai ke kepala.
Arden menahan kepala istrinya. Ia menggerakkan pinggul. Maju mundur seirama. Arden menekan, lalu menarik diri. Wajah Kayla memerah, tetapi tetap melanjutkan menikmati milik suaminya.
"Oh, Sial! Ini sangat nikmat," ucap Arden.
Kayla menarik diri. Menggantikan bibirnya dengan sebuah tangan. Ia memelintirnya, mengusapnya maju mundur setelah itu kembali mencucupnya.
Suara Arden berat. Berkali-kali pria itu berkata kasar. Rambut Kayla menjadi korban kekejamannya. Arden menarik rambut itu, lalu mendongakkan kepala istrinya. Ia masuk menghunjam ke dalam bibir manis yang penuh es krim.
Arden menyudahi permainan itu. Ia membuat Kayla membungkuk ke arah meja. Satu kaki istrinya diletakkan di badan kursi. Arden masuk pelan. Menghunjam pelan ke semak tandus yang telah basah.
Tubuh Kayla bergetar. Dua kelembutan miliknya naik turun seiring hentakan yang Arden lakukan. Gerakannya cepat menghunjam. Kayla menjerit seiring getaran yang sampai ke tulang panggulnya.
"Pelan sedikit," kata Kayla.
"Enggak bisa," sahut Arden.
Kayla berpegangan pada siku meja selagi sang suami belum selesai dengan permainannya. Arden membalik tubuh istrinya, lalu masuk dari depan.
"Cepat selesaikan," pinta Kayla.
"Sebentar," sahut Arden.
Kayla mendorong suaminya. Hampir saja Arden terjatuh ke bawah kalau ia tidak punya keseimbangan yang kuat. Kayla turun dari meja dan lekas berlari masuk kamar.
Arden menyusulnya. "Sayang, aku belum selesai!"
Kayla masuk kamar mandi. Ia tidak tahan. Miliknya terasa perih ketika menyentuh air. Arden menyusul masuk dan berjalan mendekat.
"Sudah, milikku sakit," kata Kayla.
Arden menghidupkan keran air. Ia mendorong tubuh Kayla ke dinding dan masuk lagi menghunjam dengan keras. Kayla menggelengkan kepala karena ia sudah tidak kuat.
__ADS_1
"Sebentar, Kay. Aku akan bergerak cepat. Kamu tahan, ya, Sayang."
Arden bergerak cepat. Ia menulikan telinga atas jeritan Kayla. Cepat dan keras terus bergerak sampai Arden mencapai puasnya.
Napasnya terengah-engah. "Sudah selesai."
"Besok masih ada, Arden. Kamu begitu rakus," kata Kayla.
"Aku harus banyak berlatih agar bisa memuaskanmu. Kita juga harus sering bermain supaya cepat punya baby," sahut Arden.
"Alasanmu. Bilang saja kalau kamu memang ingin menyiksaku."
"Sambil nyelam minum air, Sayang. Lagian siksaan itu sangat nikmat," kata Arden.
Kayla tidak bisa menanggapi perkataan suaminya. Arden adalah pemenangnya di sini. Kayla ingin istirahat sehari tanpa sentuhan suaminya. Miliknya belum juga pulih, tetapi sudah dibobol lagi.
...****************...
Menjelang keberangkatan ke Paris, Arden dan Kayla menginap dulu di rumah kedua orang tua mereka. Giliran pertama di kediaman Raka yang membuat Arden tersiksa lantaran kamar mereka berdekatan.
Kamar Kayla berada di bawah begitu juga Raka. Arden terpaksa merelakan satu malamnya tanpa permainan panas. Ketika giliran menginap di rumah Kevin, saat itulah ia balas dendam.
Hanya Arden yang menempati lantai atas dan kamarnya kedap suara. Pembalasan terjadi yang membuat Kayla tidak bisa tidur. Terlebih Arden meminum pil yang diberikan Davin yang membuat semangat suaminya tidak kunjung padam.
"Jangan ngomong begitu. Buat takut saja," gerutu Arden.
"Ya, kamu aneh-aneh pakai minum obat kuat segala."
"Bukan obat kuat, tetapi vitamin stamina," ralat Arden.
"Sama saja," sahut Kayla. "Berikan obat itu padaku."
"Jangan dibuang, Sayang. Janji enggak pakai begitu lagi," kata Arden.
"Semalam cukup satu kali. Lihat lingkaran mataku. Sudah hitam. Tubuhku juga tidak berdaya kamu hajar terus-terusan," gerutu Kayla.
"Iya, iya, jangan marah terus. Yakin, deh, kamu ngomong lagi, aku enggak bakalan tanggung akibatnya."
Kayla mendengkus. Ia naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut. Kayla memejamkan mata untuk segera terlelap. Arden menyusul, ia merebahkan diri sembari memeluk istrinya.
"Sayangku kelelahan, ya? Maafin suamimu ini, ya, Sayang. Aku terlalu bersemangat," ucap Arden.
"Malam ini istirahat dulu," pinta Kayla.
"Iya, Sayang. Malam ini kita harus bangun pagi untuk berangkat ke bandara."
__ADS_1
"Bagus kamu tau," ucap Kayla.
Itu hanya ucapan Arden saja sebab pukul dua dini hari, Kayla terbangun karena ulah suaminya. Arden berada di atasnya tanpa pakaian.
"Sarapan dulu sebelum berangkat," kata Arden.
"Dasar!"
Arden tertawa kecil. "Aku akan pelan-pelan dan bergerak lembut."
Kayla pasrah ketika Arden membuka gaun tidurnya. Kayla melayani suaminya dengan baik. Memberi balasan atas setiap sentuhan yang suaminya berikan.
Kayla mengalungkan kedua tangan di leher Arden. Mendekapnya erat ketika sang suami bergerak. Permainan yang romantis dan Kayla menyukai kelembutannya.
"Kamu suka yang begini?" tanya Arden.
Kayla mengangguk. "Suka."
"Kamu pindah ke atas. Aku ingin melihatmu."
Arden membalik posisi mereka. Ia mengambil bantal sebagai penyangga kepala. Kayla masuk, lalu bergerak pelan. Arden menyelipkan dua tangan di balik kepalanya. Ia membiarkan Kayla menyelesaikan sendiri permainan menakjubkan ini.
"Kakiku sakit," kata Kayla.
"Belum, Sayang. Aku belum keluar."
Kayla kembali bergerak dan ia jatuh di atas tubuh Arden. Kedua lututnya tidak sanggup lagi. Arden kembali menukar posisi mereka.
"Kamu tahan. Jika aku tidak bergerak cepat, permainan ini akan sangat lama," kata Arden.
Seperti beberapa hari yang lalu. Kayla dibuat menjerit atas permainan Arden. Tubuhnya bergetar hebat. Ia terus didorong. Ditempa oleh api panas Arden.
"Akhirnya selesai juga," kata Arden.
Kayla memeluknya erat. "Rasanya masih mimpi."
"Masih tidak percaya jika aku suamimu?" tanya Arden.
Kayla tersenyum. "Sesungguhnya, ya. Kamu adalah musuhku." .
"Bukannya aku pelarianmu?"
"Kamu adalah pelarian termanisku," ucap Kayla, lalu mengecup bibir Arden.
Bersambung
__ADS_1