Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Barang Hantaran


__ADS_3

"Sayang, kamu ke mana? Sedari tadi aku mencarimu. Pelayan toko bilang kamu pergi bersama seorang teman wanita. Siapa?" tanya Arden.


"Kita lanjut saja beli cincinnya. Kamu punya banyak uang, kan?" tanya balik Kayla.


"Aku tidak punya banyak. Tapi untuk membeli sepasang cincin, aku bisa."


"Hari ini aku mau belanja. Berikan kartu kreditmu?" pinta Kayla.


Arden mengangguk, lalu mengambil dompet dari dalam saku. Arden memberi kartu warna putih terang dengan tulisan Visa Card, tetapi Kayla menolaknya.


"Berikan Amex Black Card," pinta Kayla.


"Jangan, Sayang. Kartu ini masih papa yang bayar biaya per tahunnya."


"Masih tidak mau memberikannya padaku?" Kayla mengulurkan tangan sembari menatap tajam Arden.


"Aku berikan," kata Arden.


"Yang putih juga," pinta Kayla.


"Lalu, aku pakai apa?"


Kayla mengangkat bahu. "Terserah."


Aku tidak tau apa ini tindakan yang benar. Si Arden ini harus diberi pelajaran. Gara-gara kartu ini banyak wanita yang jatuh cinta padanya, dan Lauren itu. Berani sekali dia berebut pria denganku. Jika Steve lepas karena pria itu patut dilepas. Tapi Arden tidak akan aku lepaskan


Kayla kembali lagi ke toko perhiasan yang tadi mereka kunjungi. Ia membeli sepasang cincin juga memesan cincin baru untuk pernikahan. Selepas itu keduanya menuju toko kosmetik. Kayla membeli satu set make up berikut perawatan wajah sehari-harinya.


"Kita ke toko sepatu," kata Kayla.


Arden manut meski kesal dengan dua tas belanja di tangannya. Benda-benda berharga yang tidak boleh sampai lecet. Arden harus hati-hati dalam membawanya.


Sampai di toko sepatu, Kayla memilih dua pasang sepatu berhak tinggi. Lalu, keduanya membeli tas. Sebenarnya hanya Kayla seorang.


"Kayla, aku capek. Belanja sebanyak ini apa belum cukup?" kata Arden.


"Jangan pelit padaku. Sama wanita lain saja royal banget."


"Mana ada aku yang seperti itu," kilah Arden.


"Kamu tau siapa yang bersamaku tadi? Teman tapi mesramu itu datang padaku."


"Maksudmu Lauren?" tanya Arden.


"Wah! Kamu ingat namanya. Apa wanita itu begitu istimewa di hatimu?" Kayla menatap Arden seakan ia ingin menerkamnya.


"Karena hanya Lauren teman mainku yang berasal dari kota ini. Maksudku yang cukup dekat," ucap Arden. "Tapi, Sayang. Lauren bicara apa? Kamu diancam? Aku akan menemuinya."

__ADS_1


"Jangan pernah sekali lagi untuk menemuinya. Aku minta agar kamu tidak lagi berteman dengannya."


"Janji! Aku tidak akan berteman lagi dengannya," ucap Arden. "Sekarang, apa belanjanya sudah selesai?"


"Belum. Aku ingin membeli pakaian tidur. Bukankah calon suami harus memberi barang banyak kepada calon istrinya. Barang-barang ini nantinya akan dibungkus kado," kata Kayla.


"Maksudmu hantaran?" tanya Arden.


Kayla mengangguk. "Iya, kita harus membeli banyak barang."


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Hari ini kita harus belanja banyak." Arden menyerahkan semua belanjaan ke tangan Kayla. "Ayo, aku pilihkan kamu pakaian tidur yang bagus."


Arden menarik lengan Kayla, lalu membawa mencari pakaian tidur. Tugas ini yang Arden suka. Ia bisa memilih baju dinas malam untuk Kayla dengan sesuka hati. Semua harus sesuai dengan bayangannya.


"Otakmu jangan aneh-aneh. Semuanya baju tipis begini. Kamu ingin membuatku kedinginan setiap malam?" gerutu Kayla.


"Kalau kamu dingin, kan, ada aku yang menghangatkan. Pokoknya setiap malam, kamu harus pakai baju tidur model begini."


Wajah Kayla memanas membayangkannya. Semua baju pilihan Arden sangat minim. Hanya dengan satu tarikan saja akan sobek.


"Kamu tidak sabar untuk itu?" goda Arden.


"Aku tidak memikirkan apa pun," bantah Kayla.


"Nah, ketahuan. Aku tidak mengatakan apa pun. Memangnya kamu memikirkan apa? Tidur bersamaku?"


Kayla membelalak. "C-cepat bayar. Kita sebaiknya pulang."


"Jadi enggak sabar buat besok malam," ucap Arden.


Kayla menyenggol bahu Arden. "Sama."


"Enggak sabar jadi manten, deh." Arden balik menyenggol Kayla.


Kayla kembali membalas. "Aku juga."


Tidak peduli ada beberapa pasang mata yang melihat tingkah keduanya. Arden dan Kayla tampak sangat bahagia.


...****************...


Semua barang belanjaan Arden letakan di atas meja. Ia lelah setelah seharian menghabiskan waktu di mal. Lebih kesal lagi, Kayla tidak ingin kembali ke apartemen.


"Barang banyak begini kamu yang beli?" tegur Elena.


"Bibi!" seru Arden. "Ambilin minum."


"Ambil sendiri sana," kata Elena.

__ADS_1


"Capek, Ma," sahut Arden.


Elena meraih tas belanjaan putranya. Semua perlengkapan wanita dan sepasang cincin berlian, padahal Elena saja belum bertemu calon menantunya.


"Hadiah ini untuk besok malam?" tanya Elena.


"Untuk hadiah nikah," jawab Arden.


"Kok, sedikit. Masih banyak yang harus kita beli. Ini dijadikan hadiah pertunangan saja."


"Arden mau nikah cepat. Dua bulan dari sekarang. Eh, pokoknya nikah saja dulu."


"Enggak sabaran banget," kata Elena.


"Besok, Mama siap-siap saja. Kita bertemu calonnya."


...****************...


Besok harinya, Arden tidak keluar rumah sama sekali. Ia berdiam diri di kamar sembari menunggu waktu yang terkesan lambat bergerak. Arden menunggu kapan matahari akan terbenam.


Sementara di rumah yang berbeda, Kayla sibuk mempersiapkan menu makan malam untuk menjamu keluarga calon suaminya yang akan datang.


Sedari tadi teleponnya terus saja berdering. Bela sampai kesal sendiri karena terganggu akan suara ponsel putrinya.


"Bisa kamu simpan ponselmu?" tanya Bela.


"Iya, Ma," jawab Kayla.


Bel berbunyi beberapa kali. Bela lekas mencuci tangan, lalu sedikit berlari membuka pintu. Ia tersenyum ketika satu bantuan telah datang.


"Ayo, masuk," ucapnya.


"Aku sungguh tidak mengira kalau Kayla akan segera menikah lagi. Aku senang dia bisa lekas melupakan kesedihannya," kata Natalie.


"Aku juga begitu. Pokoknya aku senang dan terima kasih karena sudah datang membantu."


"Elena tidak kemari?"


"Malam ini dia juga ada pertemuan keluarga. Arden juga akan menikah," jawab Bela.


"Malam ini? Kenapa bersamaan dengan acara kalian?"


"Katanya Arden sudah enggak sabar buat cepat-cepat nikah."


"Halo, Tante Nat," sapa Kayla.


"Kayla, Tante baru sempat bertemu denganmu," sahut Natalia, lalu keduanya berpelukan bersama.

__ADS_1


Natalie diminta membantu menyiapkan hidangan untuk makan malam. Rutinitas kecil yang kedua sahabat itu senangi meski bisa saja Bela memesan semua untuk nanti malam. Tapi bersama menyiapkannya akan sangat istimewa. Sayangnya Elena tidak ikut bersama mereka.


Bersambung


__ADS_2