
"Kayla. Ayo, bangun. Katanya ingin lihat matahari terbit," bisik Arden.
Bibirnya tidak henti menyusuri pundak hingga punggung polos sang kekasih. Kayla mengeliat karena geli. Ia membalik diri menghadap Arden.
"Biarkan aku berbaring lima menit lagi," pinta Kayla.
"Nanti terlewat. Ayo, bangun."
Arden menyelipkan satu tangan di belakang leher, lalu mengangkat tubuh Kayla untuk duduk. Ia meraih piama di kursi kemudian memakaikannya kepada Kayla.
"Celananya mau aku pakaikan juga?" tanya Arden.
Kayla mengangguk. Arden mengangkat tubuh kekasihnya untuk duduk di tepi ranjang. Celana pendek berbahan jeans dipakaikan kepada Kayla.
"Ayo!" ajak Arden.
"Gendong aku." Kayla merentangkan kedua tangan.
"Ini bukan di rumah, tapi kapal."
"Kamu malu?" Kayla cemberut.
"Sama sekali tidak. Malah kamu yang nantinya malu."
"Tidak akan!" tantang Kayla.
"Sekali kamu minta turun, aku tidak akan melepasmu," ucap Arden, lalu meraih tubuh kekasihnya.
Kayla melingkarkan kedua kakinya di pinggang Arden. Keduanya keluar kabin menuju luar kapal dan di sana sudah ada beberapa tamu yang ikut menyaksikan indahnya matahari terbit.
"Rupanya ramai sekali seperti melihat matahari terbenam saja," ucap Kayla. "Turunkan aku, Ar."
Arden terkekeh. "Jangan harap."
Kayla mencoba untuk turun, tetapi Arden memegangnya kuat. Ia bergerak-gerak gelisah, dan Arden malah memukul bagian bawahnya.
"Aku malu," ucap Kayla.
"Siapa tadi yang ingin minta digendong?" kata Arden.
"Aku tidak menduganya akan seramai ini. Turunkan aku."
Perlahan Arden menurunkan tubuh Kayla. Ia genggam tangan sang gadis, lalu mengajaknya ke muka kapal. Memang sangat indah menikmati pagi di kapal.
__ADS_1
"Kapan mataharinya muncul?" tanya Kayla.
"Pukul enam pagi. Kru kapal selalu memberitahu jadwalnya. Kita akan berada paling depan untuk melihatnya naik," ucap Arden.
Arden memposisikan Kayla di depan pagar pembatas kapal, lalu memeluk kekasihnya dari belakang.
"Sebentar lagi," bisiknya sembari mendaratkan kecupan di rahang wajah Kayla.
Tamu lain mulai ribut ketika sang raja cahaya mulai terbit. Senyum Kayla cerah ketika ia melihat sinar yang mulai muncul.
"Lihat!" ucap Kayla. "Sangat cantik."
"Seperti dirimu," bisik Arden.
Kayla menoleh ke samping. Ia tersenyum memandang wajah pria yang telah menjadi kekasihnya. Bila diperhatikan dari dekat, Arden memang tampan, dan bibirnya itu. Kayla tiba-tiba merasakan panas di pagi hari ini.
Arden mengusap lembut pipi kekasihnya, ia meraih dagu, lalu maju hendak mengecup bibir Kayla. Namun sayang, Kayla malah menutup mulutnya.
"Lagi romantis malah ditutup. Turunkan tanganmu," pinta Arden.
Kayla menggeleng. "Aku belum gosok gigi."
"Enggak apa-apa."
"Sekilas saja." Arden menurunkan tangan Kayla, lalu mengecup bibir itu.
Kayla menarik diri, tetapi Arden menekan tengkuknya. Cuma sekilas. Sebatas menempel tanpa bibir terbuka dan Kayla akhirnya membiarkan itu.
Arden menarik diri memandang Kayla. Ia tersenyum. "Lihat lagi mataharinya."
Kayla seperti terhipnotis. Ia mengangguk begitu saja, lalu memandang lagi pemandangan indah di depan sana. Arden mempererat pelukannya. Kayla kembali menoleh ke samping. Ia kecup pipi Arden kemudian keduanya saling menatap. Arden dan Kayla memejamkan mata, lalu menyatukan bibir mereka.
Hari pertama jadian secara resmi, membuat Arden tidak ingin jauh dari pacarnya. Ke mana Kayla pergi, maka Arden akan selalu berada di sampingnya. Barang-barang Kayla juga dipindah Arden ke dalam kamarnya. Meski mendapat protes, pria itu tidak peduli. Sisa liburan harus dihabiskan dengan mendekatkan diri satu sama lain.
"Aku ingin ke salon bersama Elise. Jangan mengikutiku," kata Kayla.
"Kayla tidak akan lari, Arden. Pergilah berbincang bersama Mike dan teman lain. Kamu ini seperti ekor saja," celetuk Elise.
"Aku hanya ingin melindunginya. Kamu tau sendiri bagaimana Kayla. Terakhir kali dia berniat untuk lari bersama pria bernama Alex," sahut Arden.
Kayla mendengkus. "Itu tidak akan terjadi. Jika pun aku lari, maka aku akan lari ke dalam pelukanmu."
"Aku sangat mengharapkannya."
__ADS_1
"Malam ini adalah terakhir Kennedy Will berada di atas kapal. Kami tentu saja tidak menyia-yiakan kesempatan untuk tampil cantik," ucap Elise.
"Kamu benar, El. Biarkan saja Arden. Lebih baik kita ke ruang spa, lalu salon untuk merawat diri," kata Kayla membenarkan.
"Sudahlah, Arden. Kita ke bar saja," sahut Mike, lalu merangkul pundak Arden untuk pergi.
"Jangan melirik pria lain, Sayang," seru Arden.
"Sifat pencemburunya memang tidak pernah berubah dari kecil," gerutu Kayla.
...****************...
Tetap di tempat yang sama, Kennedy Will akan menghibur tamu kapal yang hadir setelah menikmati hidangan makan malam mereka. Kayla dan Arden berada di satu meja yang sama bersama Mike serta Elise.
Meski sudah berpacaran, Arden dan Kayla tidak berniat untuk makan malam berdua saja. Mereka sangat cocok terhadap pasangan yang berbeda umur itu. Terlebih malam ini ada acara favorit Kayla dan Elise.
"Sebenarnya aku tidak ingin berpisah dari kalian semua. Tapi aku harus melakukannya. Besok, kita akan sampai di Maldives. Aku ucapkan selamat bersenang-senang untuk kalian. Selama seminggu kalian akan menjelajahi negara romantis itu, dan aku tentu tidak ingin melewatkan liburan bersama para gadis," ucap Kennedy Will.
Wanita dan pria bersorak karena ucapan Will. Arden juga punya rencana liburannya bersama Kayla di negeri paling indah itu. Ia akan menyewa resort pribadi. Kayla akan ia biarkan memakai baju renang yang selalu wanita itu ingin kenakan.
"Aku terkejut jika malam ini akan ada banyak surat yang masuk. Tapi kalian ingin dibacakan surat yang mana dulu?" tanya Ken.
"Pria penyuka es krim!" teriak semuanya.
"Wow! Siapa sebenarnya pria penyuka es krim ini? Kita lihat apa dia mengirim surat lagi untuk memberitahu kisah cintanya."
Seorang pelayan menyodorkan amplop berwarna pink. Kayla mengangkat alis ketika memandang Arden, tetapi yang ditatap malah biasa saja.
"Kamu tidak .... "
"Diamlah, Kay. Acaranya mau dimulai. Kita dengarkan suratnya," potong Elise.
"Pria penyuka es krim mengirim surat lagi. Kita langsung saja membaca isi suratnya," ucap Ken.
Aku ucapkan terima kasih untukmu Kennedy Will dan tamu yang selalu menunggu suratku ini. Mendadak aku menjadi terkenal. Sorry Ken, aku mengalahkan dirimu.
"Aku akan membuat perhitungan padanya," ucap Ken, lalu melanjutkan membaca.
Malam ini, tidak! Tepatnya tadi malam aku mendapat sesuatu yang kuinginkan. Aku merasa berada di musim semi dengan banyaknya bunga yang berkembang. Ada kupu-kupu yang beterbangan di dadaku ini.
Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan yang meluap ini. Bahagia sudah sangat jelas tergambar di wajahku. Tiba-tiba aku ingin segera pulang ke rumah. Kalau aku punya jubah terbang seperti Superman, maka aku akan membawanya pulang untuk menikah. Aku tidak sabar untuk itu. Gadis es krim yang begitu lembut. Pria penyuka es krim ini sangat mencintaimu.
Bersambung
__ADS_1