
Pagi harinya Kayla bersiap untuk pulang ke rumah. Ia harus mempersiapkan perlengkapan untuk keberangkatan ke Paris. Semua dokumen telah siap. Tiket serta hotel juga sudah dipesan jauh hari. Kayla dan Arden tinggal berangkat saja.
"Eh, mau ke mana?" tanya Arden yang baru keluar dari kamar mandi.
"Pulang ke rumah. Kita menginap di rumahku beberapa hari setelah itu di rumahmu," ucap Kayla.
"Kita akan di sini selama dua hari lagi."
"Di sini?" tanya Kayla.
"Oh, kita tinggal di apartemen saja kalau begitu. Di apartemenku."
Kayla tampak berpikir. "Seharusnya kita pulang ke rumah dulu."
"Ayolah, Kay. Selama dua hari ke depan kita tidak boleh ke mana-mana. Aku ingin terus bersamamu. Ingat, kamu sudah berjanji padaku."
"Baiklah. Kita pulang ke apartemen. Setidaknya di sana lebih nyaman."
Arden berjalan mendekat. Mencuri kecupan kecil dari bibir istrinya. "Aku tahu kamu selalu bisa menyenangkanku."
Kayla mengalungkan kedua lengan di leher Arden. "Cepat berpakaian kalau kamu menginginkannya lagi."
"Pasti, Sayang."
Keduanya saling menyatukan bibir. Tangan Arden semakin erat memeluk hingga tubuh Kayla dapat menekannya. Ia naik, dan harus berhenti jika ingin kembali ke apartemen. Sayangnya Arden tidak ingin kehangatan ini lepas begitu saja. Ia selesai mandi dan bagian di sana tengah menegang sempurna. Miliknya haruslah menyantap sarapan, dan hanya Kayla yang bisa merasakannya.
Arden membuka handuk begitu saja. Ia menurunkan tangan Kayla. Menyentuh pundak, jantungnya, bagian berototnya sampai titik yang seharusnya. Dingin yang Kayla rasakan. Tangannya mengusap pelan dari pangkal ke ujung dan begitu pula sebaliknya.
"Dia ingin merasakanmu," bisik Arden.
"Apa tidak bisa ditunda?" goda Kayla.
"Kamu bisa merasakan sendiri ketangguhannya sudah sangat kencang. Ia siap untuk menerjang. Puaskan dia, Sayang."
"Milikmu ini sangat jahil. Aku harus menurutinya."
"Dengan bibirmu," ucap Arden.
Kayla tersentak. "Apa? Bibirku?"
Arden mengangguk pelan. Ia berbisik lagi dan itu membuat Kayla meremang. "Puaskan dia dengan mulutmu yang manis. Ayo, Sayang. Aku ingin merasakannya."
__ADS_1
"Aku tidak mau."
Arden menatapnya lekat. Kayla meneguk ludah dan ia tidak pantas untuk menolak permintaan suaminya. Ini masih wajar setidaknya menurut sebagian pemikiran pasangan suami istri. Tentunya ini akan memberikan sensasi yang paling luar biasa bagi Arden
"Akan aku coba," ucap Kayla.
"Ayo turun, Sayang," pinta Arden.
Kayla menurunkan tubuhnya tepat di atas ketegangan milik Arden. Menantang dengan nadi yang timbul di sekitarnya. Arden maju dengan menyentuh pipi Kayla dengan miliknya. Memang ujung yang dirasakan begitu lembut. Ia memejamkam mata dan Arden senantiasa mengusap seluruh wajah istrinya dengan stik keras itu.
Ketika menyentuh bibir, Kayla lantas menjauhkan diri. Kaget, takut dan ia tidak tahu bagaimana rasanya jika itu berada di dalam mulutnya yang kecil.
"Apa ini muat?" tanyanya.
"Tentu saja. Ayo, Sayang. Dia menginginkanmu," kata Arden.
Kayla memegangnya terlebih dulu. Mengusap pelan bersama jari-jari lentiknya. Ia mengecup puncaknya kemudian mundur sampai mengenai dua tumbuhan dikotil milik Arden.
"Ayo, Sayang. Buat dia masuk ke dalam," pinta Arden.
Kayla memasukkannya ke dalam mulut setelah itu menarik diri. Ia menutup bibirnya. "Sudah."
"Lagi, aku belum merasakannya. Rasakan seperti kamu menikmati es krim. Aku menginginkan itu."
"Ya, ini bagus. Lagi, Sayang. Jangan berhenti sebelum aku mengatakannya," ucap Arden.
Kayla menarik diri, ia terbatuk-batuk. Bukan ia tidak pernah melihat hal pemandangan wanita yang bermain dengan ketegangan para pria. Tapi sungguh, merasakannya langsung membuat Kayla tidak bisa menjabarkan rasanya.
"Rasanya hambar," ucap Kayla.
Arden tertawa. "Aku akan mengolesinya cokelat jika kamu mau."
"Kurasa itu ide bagus."
"Lakukan lagi. Nanti kamu akan terbiasa dengannya," ucap Arden.
Kayla melakukannya meski gerakkannya kaku. Arden bersuara berat ketika ia merasakan gerakan Kayla sedikit luwes. Hal yang paling ia rasakan kini tercapai dan itu dilakukan oleh Kayla.
Arden menumpukkan rambut panjang Kayla menjadi satu. Ia membuat agar sang istri menikmati ketegangannya tanpa gangguan. Sesekali Arden menekan kepala Kayla, dan hal itu membuat istrinya tersedak.
"Kamu tahan untuk tetap terbuka. Aku ingin menggerakannya," ucap Arden.
__ADS_1
Arden menangkup kedua sisi pipi istrinya, lalu bergerak. Kayla cuma bisa diam dengan apa yang suaminya lakukan. Kemudian ia menarik diri sebab hampir tidak bernapas ketika ketegangan itu seenaknya saja masuk.
Arden meringis ketika miliknya tanpa sengaja tersentuh gigi Kayla. Namun, itu tidak menyurutkannya untuk menyuruh Kayla mencucup kembali miliknya dengan lebih leluasa.
"Iya, ini benar. Kamu melakukannnya dengan baik. Aku suka ini, Sayang. Terus, dan jangan berhenti," ucap Arden.
"Kapan ini akan selesai? Lututku sakit duduk bersimpuh begini," kata Kayla.
Arden tertawa, lalu ia membawa istrinya bangkit berdiri. Arden mengecup bibir Kayla. Mereka sama-sama menjatuhkan diri di atas kasur.
Tangan Arden masuk di balik dress yang istrinya kenakan, lalu menarik keluar pelindung di sana.
"Sudah aku katakan untuk tidak memakai apa pun," kata Arden bersama jari telunjuk yang mengusap ketebalan di sana.
"Kita mau pulang dan tentu saja harus memakainya," jawab Kayla.
Arden masuk dalam dress yang dipakai istrinya. Kayla tertawa karena ia merasakan geli yang teramat sangat. Juga sensasi semalam yang membuatnya memberi peluang lebar-lebar bagi Arden.
Suaminya menyentuh di sana dan Kayla tidak kuasa menjerit berat akan sentuhan itu. Arden mengusap wajah, lalu memosisikan tubuh tepat di tengah.
Ia masuk dan seketika Kayla mengeluarkan suara berat. Arden bergerak, menempa Kayla dengan api hasratnya. Kayla meleleh. Ia terbang melayang tinggi hingga terhempas jatuh dalam keadaan napas terengah.
...****************...
Selama di dalam perjalanan ke apartemen, senyum Arden selalu terbit. Bahagia karena keinginannya terwujud juga permainannya tadi lumayan. Arden bisa bertahan cukup lama. Ya, kini ia mengerti maksud dari Davin.
"Dari tadi malah senyum melulu. Ada apa?" tegur Kayla.
Arden meraih tangan Kayla, lalu mengecupnya. "Lagi senang saja. Kenapa, aku enggak boleh bahagia?"
"Apa yang membuatmu bahagia?"
"Tentu saja pernikahan kita," jawab Arden.
"Aku menangkap hal yang berbeda. Kamu tidak menyembunyikan hal lain padaku, kan?"
"Sayang, jangan berpikiran aneh. Aku sungguh bahagia karena kita bersama." Aku senang karena bisa membuatmu puas.
"Aku juga bahagia dan aku sangat mencintaimu," ucap Kayla.
Terlebih saat Arden tidak mengundang Lauren di acara mereka. Menurut Kayla, wanita itu sedikit istimewa dari teman perempuan Arden yang lain. Kayla harus menyingkirkan bibit yang baru mulai tumbuh demi hubungannya bersama Arden.
__ADS_1
Arden tersenyum dengan menggenggam tangan Kayla. Nanti ia akan menyempatkan waktu untuk bertemu Davin dan meminta pil yang dijanjikan oleh iparnya itu.
Bersambung