Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Kenapa Bertengkar?


__ADS_3

Jika tidak diangkat, maka saudari kembarnya akan terus menelepon. Selama berada di kapal, Arden tidak menghubungi siapa pun termasuk Aretha, dan jelas saja saudaranya ini akan marah jika Arden sampai mengabaikan panggilannya.


Arden menggeser lambang kamera berwarna biru ke atas. Ia memposisikan ponsel agar bisa melihat Aretha juga melindungi Kayla yang bersembunyi di balik selimut.


"Ada apa?" tanya Arden.


"Kamu yang ada apa? Setiap kali aku menelepon, kamu malah bertanya ada apa. Seharusnya kamu menanyakan kabarku," cerocos Aretha.


"Astaga, Aretha! Bisa tidak kamu itu tidak menganggu?" tanya Arden. Masih kesal lantaran panggilan video membuat permainan terhenti.


"Mama dan papa ingin bicara. Kamu ke mana, sih? Kata om Dika kamu liburan. Oh, ya, Kayla juga berada di Amerika dan dia tidak menghubungiku sama sekali," ucap Aretha.


Kayla bersamaku. Kami tengah asik bermesraan, kamu malah menganggu. "Mana mama dan Papa. Aku ingin bicara."


Ponsel beralih ke tangan Kevin dan di sampingnya si nyonya cantik Elena yang merindukan putra kesayangannya yang enggan untuk pulang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kevin.


"Nak, kamu berada di mana?" tanya Elena yang asal main serobot saja.


"Papa dulu yang tanya," kata Kevin.


"Kita sama-sama," sahut Elena.


"Jangan bertengkar. Arden baik-baik saja dan sekarang tengah di liburan di Pulau Karibia."


"Kamu liburan sendiri?" tanya Elena.


"Iya." Arden tersentak ketika ia merasakan jari-jari nakal mengusap paha bagian dalamnya. Ia meneguk ludah, tiba-tiba tubuhnya gerah.


"Cari pacar sana. Berikan Mama dan Papa menantu," kata Elena lagi.


"Iya," jawab Arden seraya menjaga ponsel agar tidak ke bawah. "Mama, Papa, nanti Arden telepon. Lagi sibuk, nih."


"Kamu enggak kangen sama orang tuamu ini?" tanya Kevin.


"Kangen. Nanti lagi saja teleponnya. Arden mau mandi," ucapnya beralasan.


"Oh, ya. Kamu sudah tau cerita Kayla belum?" tanya Elena.


Tangan yang berada di bawah sana terdiam. Arden merasa lega, tetapi membahas hubungan Kayla bersama Steve kali ini tidaklah baik.


"Ya, Arden tau."


"Kayla sudah semakin cantik," timpal Aretha yang tiba-tiba muncul.


"Ya, jangan lagi dibahas. Sudah dulu. Nanti Arden telepon lagi."

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi persetujuan dari Aretha, Arden memutus panggilan video itu. Ia menonaktifkan ponsel agar tidak ada orang-orang yang menganggu acaranya bersama Kayla.


"Masih mengingat Steve?" tanya Arden.


Kayla menurunkan selimut dari wajahnya. "Dia cinta pertamaku."


"Yakin, dia cinta pertamamu?"


"Pacarku memang dia. Seumur hidupku, apa kamu membiarkan pria-pria lain mendekatiku? Tidak, kan? Kamu selalu menyebarkan gosip buruk mengenaiku," ungkap Kayla.


"Sial! Seharusnya aku tidak ke Amerika waktu itu."


"Jangan mengumpat di depanku!"


"Apa?" tantang Arden. "Masih ingin bersama pria tukang selingkuh itu?"


"Kamu kira segampang itu apa melupakan cinta sejati? Steve selalu ada di hatiku," ucap Kayla.


Arden bertepuk tangan. "Wah! Kay. Hebat! Selalu ada di hatimu. Lalu, kamu butuh pelarian untuk melupakan luka yang disebabkan oleh pria itu, begitu?!"


"Kamu yang menginginkannya!" ucap Kayla keras.


Keduanya sama-sama terdiam. Menyadari kalau mereka bertengkar hanya karena pria terkutuk bernama Steve. Mendengar namanya saja membuat emosi Arden bangkit. Kemudian Kayla yang masih terjebak dalam masa lalunya.


"Kenapa kita bertengkar?" tanya Arden.


Kenapa kamu masih tidak menyadari jika aku sangat benci melihatmu bersama pria lain? Sudah bertahun-tahun sikapku begitu, lalu kenapa kamu tidak peka sama sekali, Kayla? "Aku memang benci Steve. Maafkan aku," ucap Arden.


Arden menyesal telah membuat suasana jadi canggung seperti ini. Seharusnya ia tidak memancing pertengkaran bersama Kayla. Bicara soal hati, cinta, memang tidak mudah dilupakan begitu saja.


Arden juga sama dengan Kayla. Ia melarikan diri ke Amerika, lalu bersama seorang wanita hanya karena ingin menghindar dari Kayla.


"Kamu marah?" tanya Arden.


"Cuma sedikit tidak nyaman."


"Bagaimana kalau kita berenang saja?" usul Arden.


"Ide bagus. Siapkan juga minuman dingin. Aku ingin menikmatinya sambil bersantai di tepi kolam renang."


Arden mengangguk. "Aku akan pesan. Kamu ganti pakaian saja."


Arden meraih gagang telepon yang berada di kamar mereka. Selagi ia memesan minuman serta cemilan, Kayla menggantikan pakaian di kamar mandi.


"Ya, antarkan secepatnya," kata Arden, lalu menutup telepon.


Arden tidak perlu berganti pakaian, ia tinggal melepas celana panjangnya, lalu menunggu Kayla yang masih setia di dalam bilik mandi. Ia membuka tirai jendela lebar. Melihat pemandangan laut yang memukau.

__ADS_1


"Kamu sudah pesan minumannya?" tegur Kayla.


"Sudah." Arden memutar diri menatap Kayla. Ia tersentak. Kayla memakai pakaian renang one piece berwarna hitam. "Seksi," gumam Arden pelan.


"Apa?" tanya Kayla.


"Tidak," jawab Arden. "Tumben sekali kamu memakai pakaian renang."


"Aku sengaja membelinya karena untuk bersantai di kapal dan pantai," sahut Kayla seraya menyanggul rambutnya ke atas.


Tubuh Arden panas melihat punggung mulus, lalu rambut Kayla yang dicepol asal-asalan semakin menambah kesan seksi di diri wanita itu.


Terdengar pintu diketuk dari luar. Arden menarik Kayla ke sisi tempat tidur. Ia meraih selimut, membungkus tubuh Kayla sebelum membukakan pelayan yang datang membawa minuman.


"Itu pelayan. Jangan lepaskan selimut dari tubuhmu," kata Arden.


Kayla tercengang, ia membiarkan saja kehendak Arden, dan benar saja. Dua orang pelayan masuk membawa pesanan mereka. Arden memberi tip, lalu bergegas menyuruh keduanya keluar.


"Aku ingin pamer memakai baju renang. Kenapa kamu tutupi pakai selimut?" kata Kayla.


"Pamer di depan mataku saja," ucap Arden.


Kayla mendengus, ia membuang selimut tebal itu begitu saja, lalu berlari menuju kolam renang yang berada di luar kamar mereka. Arden sama sekali tidak menyesal menyewa kamar dengan balkon dan kolam renang pribadi. Ia bisa menikmati kebersamaan dengan Kayla tanpa gangguan.


Arden terjun ke kolam menyusul Kayla yang lebih dulu berenang. Ia meraih tubuh Kayla. Sama sekali tidak membuang kesempatan untuk mengecup bibir wanita itu.


"Dari sini kita bisa melihat matahari terbenam," kata Kayla sembari menunjuk lautan di bawah.


"Iya," jawab Arden tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Kayla.


"Aku senang di sini. Liburan ini paling berkesan."


"Iya, aku juga," sahut Arden.


Dahi Kayla mengernyit. Ia menatap Arden. "Pasti kamu tidak dengar apa yang aku katakan."


"Dengar, kok. Bagiku kamu itu matahariku," ucap Arden.


Kayla tertawa. Melihatnya saja Arden tidak tahan untuk melahap bibir itu. Ia bahagia melihat tawa lepas dari Kayla.


"Kamu belajar merayu dari mana?" tanya Kayla. Ia meletakkan kedua lengan di leher Arden.


Arden melingkarkan tangan di pinggul Kayla. "Yang pasti, aku ingin mengucapkan kalimat indah saat bersamamu."


Kayla memiringkan kepalanya, lalu mengecup bibir Arden. Keduanya saling menelusupkan indra perasa. Begitu lekat, hangat dan manis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2