
Rencana untuk pamer pakaian renang gagal total karena Arden melarang Kayla untuk memakainya. Jadilah, Kayla memakai celana pendek dan kemeja putih untuk mereka bersantai di pantai.
"Kamu bilang ingin mengajakku menyelam," ucap Kayla.
"Iya. Kita tunggu baju khusus dan peralatannya dulu," sahut Arden.
"Jangan bilang kamu ingin menyuruhku menyelam sampai ke bawah laut sana? Kamu bilang mau snorkeling. Harusnya di permukaan air saja."
Arden menatap Kayla dari atas sampai bawah. Memang ia ingin mengajak Kayla melihat terumbu karang dan ikan kecil saja. Jika seperti itu, Kayla akan memakai pakaian renang two piece. Arden tidak rela ada pria yang melihat keindahan tubuh sahabatnya.
"Kamu pakai baju ini saja, ya," kata Arden.
"Kalau pakai baju ini malah berat nantinya. Aku akan ganti dengan pakaian renang saja."
"Kita batalkan saja kalau begitu."
"Oke! Aku akan pakai baju ini," ucap Kayla.
Arden tersenyum karena berhasil mendapat apa yang ia inginkan. Keduanya beranjak menuju posko penyewaan peralatan snorkeling. Di sana juga ada pemandu yang membantu mereka.
Kayla membuka kemeja yang ia kenakan. Melihat itu, Arden langsung mencegah Kayla dengan memeluknya secara erat.
"Lama-lama aku bakal mati kehabisan napas jika kamu tiba-tiba seperti ini," kata Kayla kesal.
"Kamu dilarang untuk memakai pakaian renang. Kenapa malah buka baju?"
"Aku pakai kaus dalaman. Kalau berenang pakai kemeja, bakalan enggak nyaman," ucap Kayla.
Arden melepas rangkulannya, ia menarik diri dan melihat Kayla memang memakai kaus dalaman warna putih di balik kemeja yang wanita itu kenakan.
"Dalaman itu tidak masalah. Asal jangan sampai memperlihatkan bagian atas dan bawahmu saja. Untuk bagian itu, hanya aku yang boleh melihatnya," tutur Arden.
"Ingin bebas malah terkekang begini," gumam Kayla yang terdengar di telinga Arden.
"Bebas bersamaku saja," sahutnya.
Kayla terkesiap. "Iya!"
__ADS_1
Dalam hati, Kayla masih menggerutu. Arden dengan santainya memperlihatkan otot-otot terlatihnya di depan semua orang, sedangkan ia tidak diperbolehkan. Padahal Kayla ingin selfi memakai pakaian renang mumpung berada di pantai yang indah.
Tapi Kayla cukup senang berada di Negril Beach. Ia bisa cuci mata melihat pria muda dengan tubuh kekar. Kayla juga sempat menggagumi pria dengan warna kulit kecokelatan. Ia menyukai pria dari Amerika Latin yang seksi.
"Matamu ke mana, sih?" Arden kesal karena Kayla tidak memperhatikan dirinya.
"Mataku di sini," jawab Kayla sembari menunjuk kedua matanya.
Arden mendengus, ia melangkah lebih dulu masuk ke dalam air laut dan meninggalkan Kayla yang bingung akan sikapnya.
"Kebiasaan. Sifatnya enggak pernah berubah," gerutu Kayla. Ia menyusul Arden masuk ke dalam air.
Di dalam sana Kayla dan Arden bisa melihat terumbu karang juga ikan-ikan kecil yang hidup di dalamnya. Sangat indah ketika ikan kecil berwarna-warni itu melintas di kaki Kayla.
"Arden! Lihat di sini. Ikannya lebih banyak," seru Kayla.
Arden berpura-pura tidak memperdulikan seruan Kayla. Ia asik berenang ke sana kemari. Kayla berusaha mendekat, tetapi Arden berenang menjauh.
"Aku akan menyewa kamar lain. Malam ini, kamu tidur sendiri saja," kata Kayla.
"Kamu pikir aku tidak bisa mendapatkan kamar?" Kayla terkekeh. "Kamu meremehkanku. Aku akan menelepon seseorang untuk menyiapkannya."
"Jangan!" Arden berenang mendekati Kayla. Ia memeluk gadisnya dari belakang. "Mau menelepon Alex? Jangan harap kamu bisa." Arden mengecup bahu putih Kayla.
Kena kamu! "Jika kamu berani mengabaikanku, maka aku akan pergi."
"Tidak akan terjadi lagi!" ucap Arden sungguh-sungguh.
Kayla mencoba untuk tidak tertawa terlebih melihat ekspresi Arden seperti kucing jantan yang akan dibuang.
Kayla berdehem. "Perutku lapar. Kita naik saja."
"Aku juga lapar." Arden tersenyum menyeringai.
Kebalikan Kayla yang sekarang merasa terancam. Ia segera naik ke tepi pantai disusul oleh Arden yang mengekor di belakang.
"Kita makan di kamar saja," ucap Arden.
__ADS_1
"Enggak mau!" tolak Kayla.
Arden menaikkan sebelah alisnya. Menatap Kayla dengan heran. Kayla bergegas menuju kursi pantai di mana kemejanya berada di sana. Ia lekas memakainya, lalu menarik tangan Arden agar ikut bersamanya.
"Kita makan di luar saja. Menikmati es krim panas begini, pasti sangat segar," ucapnya.
"Boleh juga. Es krim sangat manis dan enak. Aku akan pesan. Ayo, kita kembali ke kamar," ajak Arden.
"Kita nikmati di cafe saja," kata Kayla.
"Tubuhku lengket karena air laut. Kita ke kamar saja."
Arden merangkul Kayla. Bersama-sama menuju kamar mereka. Kayla pasrah karena Arden akan mengajaknya mandi bersama jika sudah berduaan.
Sesampainya di dalam kamar, Kayla bergegas melangkah masuk ke dalam bilik mandi. Tidak peduli Arden yang protes karena tidak diajak berduaan di dalam kamar mandi.
"Aku tidak ingin seperti tadi malam. Aku takut," ucap Kayla. "Tapi itu sangat nikmat. Aku menginginkannya lagi."
"Kayla! Buka pintunya," teriak Arden dari luar sana.
"Aku hanya sebentar!" sahut Kayla.
"Buka pintunya! Aku janji tidak akan melakukannya lagi," seru Arden.
Kayla menggigit jari jempolnya. Wajahnya memerah mengingat adegan semalam, dan bawahnya berkedut secara tiba-tiba.
"Arden sialan! Dia pria penggoda!" umpat Kayla.
"Aku mendengarmu!" sahut Arden.
Sontak Kayla membungkam mulutnya. Ia memukul pelan bibirnya karena tanpa sengaja telah mengucapkan umpatan kepada Arden.
"Aku akan dobrak pintunya jika kamu tidak membukanya," kata Arden. Apa dia tidak menginginkanku lagi? Semalam dia sangat menikmati sentuhanku.
Arden tidak ingin memaksa, ia duduk di sofa sembari menunggu Kayla keluar. Ia meraih telepon, memesan makanan serta es krim yang Kayla inginkan.
Bersambung
__ADS_1