Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Pelarian


__ADS_3

"Kamu datang lebih awal sepuluh menit," kata Kayla.


Arden menghampiri kekasihnya, lalu mendaratkan kecupan di pipi. "Aku bawakan makanan. Kita makan bersama."


"Apa sayangku ini tidak makan malam dengan kenyang?" ledek Kayla.


"Aku lapar. Bolehkan segera siapkan makanan untukku?"


Raut wajah Arden sendu saat mengatakan hal itu. Kayla mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Tentu ia penasaran dengan Arden yang seolah enggan untuk membahas makan malamnya bersama Lauren.


Namun, Kayla sangat penasaran atas apa yang terjadi selama keduanya berada di restoran. Arden tidak mungkin berbohong kepadanya. Sang kekasih memberitahu nama restoran tempat mereka makan, dan selama itu Kayla dan Arden saling berbalas pesan.


Kayla menyalin makanan yang dibawa Arden. Ayam goreng serta nasi putih ditambah sambal. Ya, Arden membeli pecel ayam lamongan.


"Sayang, makanannya sudah siap," seru Kayla.


Dengan malas Arden beranjak dari sofa. Ia melangkah menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Arden menarik kursi, lalu duduk. Menatap makanan saja ia malas. Padahal ia bilang tadi sangat lapar. Masih teringat pernyataan cinta Lauren.


Kayla berdeham. "Jika waktumu bersama Lauren terasa kurang, kamu boleh pergi menemuinya kapan pun."


Arden menatap Kayla. "Maksudmu?"


"Aku sahabatmu, Ar. Apa kamu masih tidak ingin cerita tentang apa yang terjadi di restoran tadi? Jika perasaanmu salah, setidaknya aku tidak akan sakit hati," kata Kayla.


"Omong apa, sih?" ucap Arden. "Kamu kira aku ingin bersama Lauren?"


"Wajahmu yang menunjukkan hal itu," sembur Kayla.


"Jangan meragukan perasaanku padamu."


"Bukan aku, tetapi kamu seperti pria yang kecewa karena cintanya ditolak," cetus Kayla.


Arden mengembuskan napas panjang. Ia genggam tangan Kayla. "Aku memang kecewa dengan Lauren. Dia baru saja menyatakan perasaan cintanya padaku."


Mata Kayla melebar mendengarnya. "Lantas? Kamu merasa bersalah karena tidak menerimanya?"


"Jelas aku menolaknya. Hanya saja aku sudah mengatakan ingin berteman dengannya. Aku tidak mengira kalau dia punya perasaan seperti itu," ucap Arden.


Kayla tertawa. "Sadar tidak, sih, Ar. Lauren bukan teman dalam pergaulan kita. Maaf, tapi berapa lama kamu mengenalnya? Baru sebentar dan kamu memberinya kemewahan seperti itu. Liburan, barang mewah, dan kamu kira itu wajar? Wanita mana pun akan salah pengertian dengan sikapmu itu."


"Awalnya dia berpikiran bebas. Maksudku setelah kami menghabiskan waktu di hotel. Setelah itu tidak apa-apa. Aku memutuskan berteman dengannya dan kami cocok satu sama lain," ungkap Arden.


"Teman sepermainan? Membayangkannya saja aku mual. Aku ingin melumuri wajahmu dengan sambal ini."


"Sayang, apa yang salah denganku?" tanya Arden.


"Jelas saja sangat salah! Kamu kira Lauren itu apa? Lalu sekarang apa? Kamu merasa bersalah?"


"Hanya kecewa karena dia menyatakan cinta itu saja."

__ADS_1


"Urus sendiri masalahmu. Sebaiknya tunda saja pernikahan kita," ucap Kayla.


"Jangan! Aku sudah jujur padamu. Aku sudah menolak Lauren dan memutuskan untuk tidak mengenalnya lagi."


"Sebaiknya pastikan dulu hatimu, Ar. Mungkin saja perasaanmu salah. Sebenarnya orang yang kamu cintai adalah Lauren," ucap Kayla.


"Nama Lauren tidak ada dalam hatiku," kata Arden tegas.


"Keputusan kita memang tepat untuk tidak memberitahu orang tua lebih dulu." Kayla melepas tangannya dari genggaman Arden.


"Memastikan perasaan lebih dulu. Apa kamu masih memikirkan Steve? Pria tukang selingkuh itu!"


Kayla meraih gelas di sampingnya, lalu meneguk habis minuman itu. Ia beranjak dari kursi kemudian berjalan meninggalkan Arden.


"Kamu diam artinya itu benar, kan?" cerca Arden.


Kayla memutar tubuh sepenuhnya menatap Arden. "Kita membahas Lauren, bukan Steve."


Arden berdecak, "Benar, kan? Kamu anggap aku apa, Kayla! Pelarian?"


"Kamu sendiri yang berpikiran seperti itu. Aku sudah melupakan Steve," jawab Kayla.


"Yakin? Apa itu kebenarannya? Steve itu cinta pertamamu. Pria pertama yang mengambil semuanya darimu!"


"Hentikan, Arden! Jangan membahas dia lagi," ucap Kayla.


"Memang benar, kan? Kamu masih mencintai Steve dan tidak bisa melupakannya."


"Kamu tau kenapa aku memanjakan Lauren? Kenapa aku berniat menikahinya. Kamu tau itu! Apa yang membuatmu ragu akan perasaanku?" tanya Arden dalam keadaan emosi.


Kayla terdiam. Ia membalik diri, lalu berjalan ke ruang tamu dan Arden menyusulnya dari belakang. Kayla hendak mengambil tas tangan miliknya di sofa, tetapi Arden segera menepis tangan itu.


"Kita belum selesai bicara. Aku tanya padamu. Apa kamu masih meragukan perasaanku?" tanya Arden sekali lagi.


"Biarkan aku lewat," pinta Kayla.


"Lauren itu pelarianku darimu! Kamu yang tidak mengerti perasaanku dari dulu!"


Kayla tatap wajah yang kini tengah diliputi oleh emosi. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap rahang sang kekasih, tetapi Arden menepisnya.


"Aku percaya kamu," ucap Kayla lembut.


Gurat-gurat emosi memudar dari wajah Arden. Kayla memberanikan diri lagi untuk mengulurkan tangan dan mengusap rahang kekasihnya.


Arden membiarkan itu. Matanya terpejam menikmati sentuhan lembut tangan Kayla. Perlahan keduanya mendekat, lalu saling berpelukan.


"Jangan ragukan perasaanku," bisik Arden.


"Aku percaya kamu," ucap Kayla.

__ADS_1


Kayla melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Arden saat sang kekasih membawanya dalam gendongan. Sepertinya sentuhan ini akan sering terjadi dan Kayla menyukainya.


"Kita lanjutkan makan malam yang tertunda," ucap Arden.


Kayla sengaja menempelkan keningnya di kening Arden. Ia menggesekkan hidung di atas indra penciuman Arden. Keduanya tersenyum, lalu saling menyatukan bibir.


Arden menempatkan tubuh Kayla di kursinya dan ia duduk di depan saling berhadapan. Keduanya menikmati makan malam bersama yang sempat tertunda.


"Mau tidur sini atau pulang?" tanya Arden.


"Pulang saja," jawab Kayla.


"Habiskan makanannya. Aku akan mengantarmu pulang."


...****************...


Arden masih tidak mengizinkan Kayla untuk keluar mobil sebelum ia puas melahap habis bibir manis sang kekasih. Penjaga di depan malah garuk-garuk kepala akan keduanya yang tidak kunjung keluar. Untung saja kaca mobil memiliki tingkat kegelapan yang memadai.


"Sudah, Sayang," ucap Kayla sembari mendorong kepala Arden agar menjauh.


"Sebentar lagi. Rasa ayamnya masih terasa," kata Arden.


Kayla langsung menutup bibirnya, lalu menggeleng. "Cukup mainnya." Suara Kayla terdengar tidak jelas karena berbicara dengan bibir ditutup.


"Malam ini cukup. Ayo, turun. Biar aku antar sampai depan pintu," ucap Arden.


Keduanya keluar mobil. Arden meraih pinggang Kayla, lalu masuk karena pagar telah dibuka oleh penjaga rumah sedari tadi. Kayla membuka tas, mengobrak-abrik isi dalamnya untuk menemukan kunci cadangan.


"Aku nginap di sini, ya," kata Arden.


"Boleh. Aku siapkan kamar tamu."


"Enggak mau. Tidur di kamarmu."


"Meski kita akrab dari kecil, papa tidak akan mengizinkan itu," kata Kayla.


Arden meraih pinggang Kayla. Memeluknya dengan erat. Sementara Kayla berusaha untuk melepaskan diri.


"Penjaga rumah melihat kita. Lepasin," kata Kayla.


"Nanti dulu."


Terdengar suara kunci diputar dari dalam. Arden segera melepas pelukan dari Kayla. Sosok Raka muncul dari balik pintu.


"Jadi kalian yang ribut di depan?"


"Selamat malam, Om Raka," sapa Arden.


"Nih, anak lagi aneh kayaknya. Ayo, Kay. Masuk ke dalam," ucap Raka, lalu beralih pada Arden. "Dan kamu, cepat pulang!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2