Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Kejelasan Hubungan


__ADS_3

"Di mana Arden?" tanya Kayla.


Elise mengangkat bahu. "Dia tidak bersamamu?"


"Untuk apa aku bertanya kalau dia bersamaku. Sejak siang tadi kami tidak bersama. Aku juga menghabiskan waktuku di kamar dengan membaca buku. Aku kira dia akan makan malam bersama kita," tutur Kayla.


Selepas menghabiskan waktu di party kolam renang, Arden dan Kayla berpisah menuju kabin mereka masing-masing. Kayla memang ingin sendiri menghabiskan waktu membaca buku tanpa kehadiran sosok Arden, dan tidak disangka pria itu menyetujuinya.


"Biarkan saja. Mungkin dia terlambat. Kita di sini untuk makan malam dan mendengar kelanjutan surat dari pria penyuka es krim," ucap Elise.


"Jadi, kamu juga sama sepertiku?" tanya Kayla.


"Tentu saja. Kurasa semua yang hadir di aula restoran ini menunggu kelanjutan surat itu. Aku penasaran dengan kisah mereka."


"Kita sama. Aku juga penasaran dengan pria penyuka es krim," sahut Kayla.


"Makanan sudah datang. Hentikan dulu obrolan kalian," ucap Mike.


Ketiganya menyantap dahulu hidangan yang telah tersedia di meja. Seperti malam kemarin, pelayan akan datang membereskan piring mereka, lalu mengganti dengan minuman anggur serta cemilan ringan.


Kennedy Will naik ke atas panggung bersama pelayan yang membawa meja berisi surat dari para pengirim. Malam ini, Kennedy memakai setelan jas warna hitam serta dasi pita yang melekat manis di kerah kemeja putih yang ia kenakan.


"Selama malam untuk para ladies and gentleman. Malam yang indah sebelum kapal mendarat ke pelabuhan berikutnya. Siapa yang tidak sabar ke negara selanjutnya?"


"Kami!" jawab pengunjuk bersorak, lalu bertepuk tangan.


"Kapal akan menuju Maldives. Kuharap sampai di sana akan menemukan wanita yang bisa diajak untuk kencan," ucap Kennedy.


Tamu bersorak dan ada pula yang bersiul. Kayla memandang ke arah pintu masuk, tetapi tanda-tanda Arden datang tidak juga muncul.


"Ada apa?" tanya Elise.


"Arden sungguh tidak datang," jawab Kayla.


"Sudahlah. Kapan lagi kamu bisa bebas tanpa-nya. Kita nikmati malam ini. Ken akan membacakan suratnya. Jangan sampai terlewat," ucap Elise.


Kayla menggangguk. Yang diucapkan Elise ada benarnya. Tapi Kayla merasa ada yang kurang ketika Arden tidak bersamanya. Ada yang hilang ketika Arden tidak datang untuk sekadar mengecup keningnya.


"Hei! Acaranya mau mulai," tegur Elise.


Kayla tersentak. Ia kembali sadar dari lamunannya. "Iya."


"Aku ingin bertanya kepada kalian. Surat dari siapa yang pertama kali ingin kalian dengar?" tanya Kennedy.

__ADS_1


"Pria penyuka es krim," jawab tamu yang hadir.


"Wow! Pria penyuka es krim mendadak populer. Aku tidak akan membiarkan dia merebut pesonaku," ucap Kennedy dalam nada candaan.


Wanita bersorak. Kennedy tertawa dan menenangkan mereka. Mereka menyerukan nama pria penyuka es krim.


"Baiklah. Aku akan membacakan surat itu untuk kalian," ucap Kennedy, lalu mengambil amplop pink dari tangan pelayan yang membantunya. Kali ini ada nama pengirim yang tertera di atasnya.


Kennedy berdeham. "Dari Pria penyuka es krim." Kennedy membuka amplop itu. Menarik kertas di dalamnya, lalu mulai membaca.


Dia bertanya padaku, apa hubungan kami sebenarnya? Dan aku bertanya dia menganggapku apa? Tau-kah kalian jika jawabannya membuat kecewa. Aku memeluknya. Lebih baik membawanya terlelap di atas ranjang yang kami tempati bersama.


Saat aku terbangun di pagi hari, ia menghilang. Aku panik. Ketakutan melandaku. Aku mencarinya ke mana-mana. Saat aku melihatnya di seberang kolam, dia menarik perhatianku.


Dia memang wanita yang menarik. Di antara wanita cantik, dia yang paling bersinar. Dalam hati aku berkata, 'Lihat aku, Sayang. Aku di sini. Pria yang hatinya tengah terombang-ambing.' Aku mendekat. Memeluknya dengan erat. Berharap aku bisa membisikkan kata 'Aku mencintaimu'. Niat itu urung. Aku tidak ingin ucapan itu malah membuat kami berpisah.


Aku hanya ingin menyampaikan. Jika dia ingin melakukan hal nakal, maka aku bisa menurutinya. Jika dia ingin bertemu diam-diam, maka aku ahlinya. Aku bisa menjadi apa pun untuknya.


Menjadi sandaran saat ia terluka. Menjadi pria yang memuaskan. Menjadi ksatria putih yang membawanya menuju altar pernikahan. Aku bisa karena aku sempurna untuknya.


Kayla beranjak dari duduknya ketika Kennedy selesai membaca surat itu dan mendapat tepuk tangan dari tamu yang hadir. Kayla berjalan keluar aula yang membuat Elise ingin menyusul, tetapi Mike mencegahnya.


Kayla berlari menuju kabin Arden. Ia mencoba membuka pintu kamar, tetapi terkunci. Kayla mengedornya, berteriak memanggil pria itu, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.


Napasnya terengah-engah, tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk mencari keberadaan Arden. Kayla menuju bagian depan kapal.


Ia berjalan perlahan. Di sana, di ujung dek kapal. Berdiri pria yang mengenakan coat hitam tengah memandangi lautan luas.


"Hai!" sapa Kayla.


Arden menoleh, ia tersenyum, lalu memutar tubuh untuk bisa sepenuhnya memandang Kayla. "Apa yang membuatmu berlari?"


Kayla berjalan perlahan. Sampai di tengah, ia berhenti. "Karena surat dari pria penyuka es krim."


"Sepertinya kamu menikmati acara itu."


Kayla memandang Arden, ia berlari memeluk Arden dengan erat. Kayla tidak ingin melepas, pelukannya begitu lekat dengan Arden yang terus mengusap punggung belakangnya.


Kayla menarik diri, ia meraih wajah Arden, lalu mengecup bibir lembut yang terasa dingin. Entah sudah berapa lama Arden berdiri di ujung dek kapal.


Keduanya menarik diri. Napas mereka terengah dengan hawa dingin yang keluar dari mulut. Arden kembali meraih dagu Kayla, lalu menempelkan lagi bibirnya di sana.


Keduanya kembali saling menyatukan bibir. Saling menghangatkan satu sama lain. Kening mereka menyatu ketika pagutan itu terlepas.

__ADS_1


"Sejak kapan?" ucap Kayla.


"Apa?" tanya Arden.


"Untuk apa aku berlari mencarimu, Pria penyuka es krim?"


Arden mendekap Kayla, ia kecup kening wanitanya. "Mungkin dari kecil."


"Kenapa tidak bilang?"


"Kamu membenciku."


Kayla menggeleng. "Kamu yang membenciku."


"Itu bentuk perhatian," jawab Arden.


"Perhatian yang menyakitkan."


"Aku tidak bisa bersikap manis. Aku cuma ingin bersamamu. Tidak rela melihatmu bersama pria lain. Aku marah. Sungguh," ucap Arden.


"Seharusnya kamu bilang dari awal."


"Aku ingin langsung membawamu ke penghulu."


Kayla tertawa. "Kenapa tidak melakukannya? Kenapa sampai membuatku patah hati dulu?"


"Hal itu yang selalu aku sesalkan."


Kayla dan Arden saling menatap. Keduanya kembali menyatukan bibir. Saat ini Kayla dan Arden ingin terus bersatu dalam hangatnya pelukan.


"Kamu sudah mendengar isi hatiku. Apa aku bisa menjadi pria yang mengisi hatimu?" tanya Arden.


Kayla menatapnya lekat. "Kamu bilang bisa menjadi apa pun dalam surat itu."


"Lebih indah jika disertai dengan kejelasan hubungan."


Kayla mengangguk. "Iya. Aku menerimamu."


Bersambung


Kayla ( photo by pinterest)


__ADS_1


__ADS_2