
"Aku ucapkan selamat untuk pria penyuka es krim. Tapi aku akan buat perhitungan karena dia telah mengalahkan ketenaranku," ucap Ken dalam nada candaan.
Tamu yang hadir bersorak. Mereka bertepuk tangan atas acara yang dibawakan oleh Kennedy. Pelayan kembali menyerahkan satu surat untuk dibacakan lagi.
Kennedy tersenyum ketika mendapati surat itu. "Kalian semua tenang dulu. Kalian tidak akan menduga surat siapa yang aku pegang ini."
"Bacakan sekarang!"
"Wah! Apa surat itu akan mengalahkan pesona pria penyuka es krim?" tanya Elise.
Kayla mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Kita lihat saja."
"Kita bacakan surat dari Gadis Es Krim," ucap Kennedy.
Arden tersentak mendengarnya. Ia mencolek lengan Kayla, tetapi sang kekasih malah tidak menanggapinya.
"Sayang kamu .... "
"Ken sudah mulai membacakan suratnya. Diamlah dulu," potong Elise.
"Aku cuma ingin bertanya," kata Arden.
"Nanti saja kamu bertanya," sahut Mike.
Sebenarnya aku sedikit malu untuk menulis surat. Tapi ini tidak akan adil bagi pria penyuka es krim. Dia sudah mengatakan segala perasaannya ke hadapan semua orang, tetapi tidak berani untuk berkata langsung padaku. Aku katakan kalau dia itu penakut. Oh, tidak! Aku akan mendapat hukuman karena berkata seperti ini.
Kalian tau siapa pria penyuka es krim ini? Dia adalah pria paling menyebalkan. Musuh besarku sedari kecil. Dia menghalangi semua pria yang mendekatiku. Wajar saja karena aku sangat cantik.
Aku tidak tau bisa bertemu dengannya di kapal ini. Saat melihatnya, dia malah semakin tampan. Sungguh! Aku benci itu. Entah datang dari mana debaran jantung saat berhadapan bersamanya.
Dia berkata ingin menjadi apa pun yang kuinginkan. Aku menginginkannya. Dia mengajariku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan, bahkan aku berpikir ini gila.
Dia menyentuhku tepat di bagian terdalam wanita. Aku seperti es krim. Aku meleleh karena sentuhannya. Dia hangat dan aku suka. Aku ingin teriak. Mengatakan kepada semua jika aku jatuh dalam lubang cinta yang ia buat.
Aku sungguh jatuh cinta dan merasa ini baru pertama kalinya. Pria penyuka es krim, aku mencintaimu dan kurasa dari kecil aku memang mencintaimu.
Dari wanita yang tengah berbunga-bunga. Si Gadis Es Krim.
"Aku ingin menyampaikan. Pria penyuka es krim sangat berbahaya. Dia mengajari gadis polos melakukan hal liar," ucap Kennedy.
__ADS_1
Pernyataan Kennedy membuat tawa tamu yang hadir. Wajah Arden memerah. Ia ingin sembunyi di lubang mana pun agar siapa pun tidak ada yang bisa menemukannya.
"Dia juga penakut," kata Ken. "Mereka saling mencintai, tetapi tidak ada yang saling mengungkapkan."
Lagi-lagi pernyataan itu membuat tamu riuh. Kennedy kembali menenangkan mereka, lalu lanjut memberikan tanggapan.
"Kalian tau? Wanita dan pria tidak bisa berteman. Mereka akan terjebak dalam perasaan cinta yang terpendam, seperti gadis dan pria penyuka es krim. Tapi aku senang akhirnya mereka bersama. Kita doakan mereka selalu bahagia," ucap Kennedy.
Arden meraih tangan Kayla. "Ikut denganku."
"Acaranya belum selesai," kata Kayla.
"Sayang, aku bisa membawamu langsung dari kursi yang kamu duduki."
"Kurasa aku akan mendapat hukuman," gumam Kayla, lalu bangkit dari kursinya.
Keduanya keluar dari aula acara. Arden membawa Kayla ke kabinnya. Pintu dibuka, Kayla masuk disusul oleh Arden yang langsung memeluknya.
"Gadis es krim, bisakah kamu bertanggung jawab atas suratmu itu? Aku bukan penakut, tetapi hanya pria yang menunggu kesempatan untuk menyatakan perasaannya," ucap Arden.
Kayla mengusap rahang Arden. "Jangan menyangkalnya. Mulutmu saja yang berani, tetapi hatimu seperti kelinci."
Kayla tertawa. "Mana ada kucing hitam punya nyali ciut sepertimu."
"Aku senang saat mendengar suratmu dibacakan. Aku sungguh ingin membawamu pulang, tetapi tidak bisa. Kita terjebak di kapal ini."
"Aku masih mau liburan. Kita nikmati saat ini," ucap Kayla.
Arden menghela napas panjang. "Justru itu. Aku tidak sanggup, Sayang. Bagaimana kalau menikah dulu saat di Maldives?"
"Sayang! Kamu tau impianku. Pernikahan yang disaksikan oleh keluarga."
"Tunangan? Aku akan mengikatmu lebih dulu," ucap Arden.
"Kamu sendiri belum melamarku."
"Aku lamar kamu sekarang." Arden berlutut sembari memegang kedua tangan. "Kayla sayang. Maukah kamu menjadi istriku?"
"Aku menolakmu saat ini juga."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arden, lalu bangkit dari duduk berlutut.
"Sama sekali tidak ada kesan romantis."
"Begitu rupanya. Lupakan soal lamaran tadi. Itu cuma latihan," kata Arden.
"Dasar!" dengkus Kayla. "Oh, ya. Aku belum siapkan pakaian untuk besok. Aku harus bergegas."
"Biar aku membantumu," kata Arden.
...****************...
Siang esoknya, kapal sudah sampai di pelabuhan. Satu per satu tamu turun dari kapal. Mereka akan menikmati negara Maldives selama satu minggu ke depan.
"Sampai jumpa minggu depan, Elise, Mike. Kuharap kalian bersenang-senang," ucap Kayla.
"Hubungi kami jika kalian punya waktu senggang. Siapa tau kalian ingin mengadakan acara istimewa," kata Elise.
"Kami tidak melakukan acara apa pun," sahut Arden.
"Kami tau siapa gadis dan pria es krim itu."
Mike tertawa. "Kalian tidak akan bisa menyembunyikannya."
"Rahasia kami terbongkar. Kami akan menghubungi kalian," ucap Arden.
"Oke, sampai jumpa nanti kawan." Elise dan Mike melambaikan tangan mereka.
Arden merengkuh pinggang Kayla. "Ayo, Sayangku. Saatnya menikmati kebersamaan kita."
...****************...
Kayla begitu takjub saat melihat kamar khusus yang dipesan oleh Arden. Secara langsung kamar itu menghadap laut. Oh! Kamar yang mereka tempat berada di atas laut.
"Suka?" tanya Arden.
"Sangat," ucap Kayla. "Aku bisa memakai pakaian renang di sini?"
Arden mendekat, lalu berbisik, "Tanpa busana juga boleh."
__ADS_1
Bersambung