Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Milik Wanita


__ADS_3

"Jadi, ini apartemenmu?" kata Kayla.


"Iya, Sayang. Silakan masuk."


Kayla melangkah masuk bersama Arden yang membawa koper mereka. Kayla melihat sekeliling. Rapi untuk seorang pria tinggal. Setahu Kayla, kekasihnya itu bukan pria penikmat kerapian.


Setelah beberapa hari menikmati pantai Miami, Kayla dan Arden kembali ke New York. Di sini Arden membawa kekasihnya. Apartemen tempatnya tinggal selama di Amerika.


"Aku akan sewa jasa kebersihan. Bagaimana kalau kita makan dulu? Sekalian jalan-jalan," kata Arden.


"Aku bisa membersihkannya. Kita berdua saja," sahut Kayla.


Arden menggeleng, lalu memegang tangan Kayla. "Jangan biarkan tangan halus ini bekerja keras. Lebih baik kita pergi makan dan biarkan jasa kebersihan yang membersihkan apartemen ini. Itu tidak akan lama. Aku sudah berlangganan dengan mereka."


Kayla tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah, Sayang. Kita pergi makan."


Arden membawa masuk kopernya ke dalam kamar, lalu menelepon jasa kebersihan. Kayla duduk di sofa sembari menunggu sang kekasih berbenah.


"Aku sudah telepon jasanya. Mereka akan sebentar lagi kemari. Lebih baik kita keluar sekarang," ucap Arden.


Kayla bangkit dari duduknya. "Ayo!"


Keduanya keluar dari apartemen. Masuk lift menuju lantai dasar. Ketika mereka tiba, satu orang wanita cantik dengan tubuh tinggi berjalan ingin masuk dalam lift.


Kayla memperhatikan. Terasa familiar atas wajah wanita cantik yang seperti model. "Bukannya dia itu Cara Devano? Model internasional," kata Kayla.


"Oh, dia tinggal di lantai atas. Kami sering berpapasan," sahut Arden.


"Apa?" Kayla tidak percaya atas apa yang ia dengar. "Kamu tidak memberitahuku kalau ada artis yang tinggal di sini. Aku ingin minta tanda tangan dan foto bersamanya."


Kayla ingin menyusul Cara masuk dalam lift, tetapi Arden mencegahnya. Ia memeluk Kayla dari belakang.


"Jangan," kata Arden.


"Kenapa? Ini kesempatan."


"Dia sudah lelah dengan pekerjaan. Pasti ingin istirahat. Jangan diganggu. Dia tidak akan merasa senang," ucap Arden.


"Benar juga," sahut Kayla.


"Yang penting kamu sudah melihatnya. Jangan ganggu dia."


Kayla mengangguk. Raut wajahnya berubah sendu. Gagal sudah untuk pamer foto bersama model ternama. Arden melihat lift yang sudah tertutup. Ia tahu kalau Cara tinggal di lantai atas karena pernah satu lift bersama. Namun, Arden tidak tahu di kamar mana wanita itu tinggal.


Kayla dan Arden berjalan kaki bersama menyusuri toko-toko tepi jalan serta kafe maupun restoran. Jika di tanah air mereka akan naik mobil, tetapi di luar negeri lebih menyenangkan jalan kaki atau naik kereta cepat bawah tanah.

__ADS_1


"Kita sampai. Ini kafe kopi favoritku. Grand Central Time Square. Nuansanya seperti kita berada di London. Interior-nya lebih banyak mengunakan kayu. Jika berkunjung di musim dingin, suasananya jadi hangat," tutur Arden. "Cemilannya juga enak. Biar aku pesan roti terenak di sini. Kamu ingin kopi apa?"


"Espresso," ucap Kayla.


Arden mengiakan, lalu beranjak dari duduknya. Ia memesan kopi serta cemilan untuk mereka berdua. Kayla tidak membuang kesempatan untuk berfoto di sana.


"Ini pesananmu," ucap Arden.


"Kita foto bersama," kata Kayla.


Arden mendekat, lalu Kayla mengambil gambar. Beberapa gaya mesra diambil termasuk Arden yang mengecup pipinya.


"Foto yang bagus," ucap Arden, lalu duduk di kursi depan Kayla.


"Aroma kopinya enak. Sekarang kita coba untuk menikmatinya," kata Kayla.


Kayla menyeruput kopi yang disuguhkan. Lalu, roti berselai kacang serta cokelat yang Arden pesan. Ada juga roti yang di dalamnya terdapat buah stoberi. Kayla melahap itu semua tanpa memikirkan lagi berat tubuh. Makanannya sungguh nikmat, dan ia tidak ingin melewatkan itu.


"Kamu enggak apa-apa aku tinggal sendiri, kan?" tanya Arden.


"Memangnya kamu mau pergi?"


"Aku harus ke kantor besok buat ketemu om Dika. Nanti malam, kita ke restoran paling indah di sini," ucap Arden.


"Aku ingin lihat perusahaanmu di sini," kata Kayla.


Kayla tertawa. "Aku lupa. Baiklah, aku akan tinggal di apartemen saja."


...****************...


Malamnya, Arden membawa Kayla makan malam di restoran yang berada di Manhattan. Arden menyambut tangan Kayla untuk keluar dari mobil.


"Wow!" ucap Kayla.


Arden melempar kunci kepada pria yang akan memarkirkan mobilnya. Ia merangkul pinggang Kayla, lalu berjalan masuk. Keduanya disambut oleh pelayan yang membawa mereka ke meja yang sudah dipesan terlebih dulu. Sewaktu mereka di kafe, Arden menyempatkan memesan meja.


Arden menarik kursi, lalu mempersilakan Kayla duduk. Ia sendiri yang melayani sang kekasih. Pelayan pria datang membawa buku menu. Keduanya memesan makanan. Tidak lupa satu botol sampanye.


Berada di tempat mewah seperti ini, Kayla tidak akan mengambil foto. Ia akan menjaga sikap. Arden membawanya ke restoran yang cuma bisa didatangi oleh orang kaya.


"Kamu cantik, Sayang," ucap Arden.


"Gombal."


"Sungguh." Arden meraih tangan Kayla, lalu mengecupnya. "Aku sudah bilang kepada keluarga akan pulang ke Indonesia dengan membawa calon istri."

__ADS_1


Kayla tersipu malu. "Aku juga sudah bilang."


"Kita siapkan tempat pertemuannya," kata Arden.


Kayla mengangguk. "Iya ...."


Pelayan datang membawa pesanan. Kayla dan Arden menikmati makan malam romantis mereka, lalu ditutup dengan minuman sampanye.


...****************...


Malam istimewa dan Kayla akan terus mengingatnya. Sembari memanggang pancake, Kayla senyum sendiri. Ini pagi yang cerah untuknya. Bangun tidur telah berada di dalam pelukan sang kekasih.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Kayla terkesiap, lalu menoleh ke samping. "Kapan kamu bangun? Tiba-tiba saja sudah muncul di dapur."


Arden berjalan, ia memeluk Kayla dari belakang. Ia kecup tulang selangka sang kekasih. Kayla memang memakai atasan tank top dan celana panjang.


"Cukup untuk melihatmu yang senyum tidak jelas," kata Arden.


"Aku tidak tersenyum," sanggah Kayla.


"Aku tau kamu bahagia, dan aku juga, Sayang."


Kayla menyenggol tubuh Arden dengan bahunya. "Mandi sana. Aku akan siapkan pakaian kantormu."


"Tidak sia-sia aku menjadikanmu calon istri."


"Apaan, sih. Jangan membuatku malu. Cepat mandi sana," kata Kayla.


"Iya, iya," ucap Arden, lalu mencuri kecupan kecil di bibir sang kekasih. Kemudian masuk ke kamar tidur.


Kayla mematikan kompor listrik, lalu menata sarapan yang ia buat kemudian menyusul Arden ke kamar. Kayla menggeleng ketika melihat piama di lantai. Ia memungutnya, lalu memasukannya dalam keranjang pakaian kotor.


Kayla membuka lemari Arden. Ia memilih kemeja, dasi serta pakaian dalam. Mata Kayla tertuju pada dua set barang pribadi milik wanita. Hitam dan merah muda terselip di tumpukan kaos dalam milik Arden.


Pintu kamar mandi terbuka. Kayla memutar diri menghadap Arden. Tangannya memegang dua benda yang bukan miliknya.


"Siapa wanita yang pernah bermalam di sini?" tanya Kayla.


"Apa?"


Kayla melempar pakaian dalam itu. "Sialan! Kalian pria sama saja." Kayla meraih kopernya, lalu tas bahu di sofa.


"Sayang, jangan salah paham," kata Arden.

__ADS_1


"Ternyata bukan aku sendiri yang kamu perlakukan seperti ini," ucap Kayla.


Bersambung


__ADS_2