Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Nanti juga terbiasa


__ADS_3

"Memberimu kenikmatan. Aku juga ingin merasakannya," ucap Arden, lalu melebarkan kaki Kayla.


Kepalanya terbenam di sana. Arden menyentuh keimutan yang mencuat dari dalam diri Kayla. Kecil, tetapi bagian itulah yang paling membuat wanita melayang-layang.


Arden melebarkan bagian terluar ketebalannya. Mencecap keimutan itu dengan indra tak bertulang. Sungguh luar biasa. Tiada pernah Kayla merasakan sensasi yang membuat dirinya terlena. Entahlah, Kayla tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.


"Ar, aku sangat malu. Cepat berhenti. Kamu tidak tau kalau bagian ini sangat kotor. Hentikan ini," ucap Kayla.


"Enak, enggak?" tanya Arden.


Kayla tersipu malu. "Sejujurnya, sih, sangat enak."


"Lihat apa yang akan aku lakukan dan rasakan," ucap Arden.


Kayla menggigit bibirnya ketika Arden melakukan sesuatu yang lebih dari yang dibayangkan. Arden menyapu seluruh bagian terlarang dengan perasanya. Bermain-main di sana dan Kayla tidak kuasa menahan sesuatu yang keluar begitu saja.


Kembali Arden menarik kedua kaki Kayla agar semakin dekat dengan wajahnya. Sang istri mengangkat tubuhnya ketika Arden masih betah bermain di sana. Sungguh pria penyuka es krim. Arden menikmati lelehan vanila dari kedalaman Kayla.


"Puas?" tanya Arden.


Kayla mengangguk. "Iya. Rasanya aku tidak bisa bergerak."


Arden berdiri, ia membuka handuk yang masih melindungi tubuh bagian bawahnya. Kayla memundurkan diri untuk memberi ruang kepada suaminya. Posisinya tetap mempersilakan Arden untuk masuk.


Arden menyentuhnya. Kayla tersentak ketika bagian terlarang suaminya menggosok ketebalan miliknya. Arden mengelilingi bagian itu sebelum masuk ke tengah. Ia menggerakkan pinggul. Kayla merasa geli dan ia semakin basah.


"Aku masuk. Kamu coba rasakan," ucap Arden.


"Iya, pelan-pelan sedikit," kata Kayla.


Arden masuk, Kayla menahan perutnya. Pelan, tapi belum sepenuhnya. Arden kembali memperbaiki posisinya. Ia menautkan kedua tangan ke tangan Kayla.


Arden mengerahkan tenaganya menerobos masuk. Kayla tersentak, air matanya meleleh. Arden menggerakkan tubuh dan Kayla terisak.


"Aku enggak mau. Tarik dia. Ini sakit," kata Kayla.


"Sebentar, Sayang. Ini enggak akan lama."


Arden mengecup bibir Kayla. Ia terus menggerakkan tubuh dan membuat Kayla semakin mengutarakan penolakan. Arden tetap dengan keinginannya meski Kayla memukul tubuhnya.


"Sebentar, Sayang," ucap Arden.


"Ini sakit," kata Kayla.

__ADS_1


"Sial!" Arden jatuh di tubuh Kayla. Ia selesai dengan gerakannya. Kenapa cepat sekali, batinnya.


Arden menarik diri. Kayla beringsut menjauhi suaminya. Ia menghapus air mata yang masih menetes. Arden melihat kondisi miliknya yang berlumuran noda merah dan asam laktat.


Arden mendekat, ia memeluk Kayla dan mengecup keningnya. "Sakit?"


Kayla mengangguk. "Iya sakit."


"Sekali lagi, ya. Nanti sakitnya juga hilang."


Kayla menggeleng. "Enggak mau. Masih sakit."


Arden kembali mendekap Kayla erat. "Lagi, ya, Sayang. Aku masih kurang."


"Pelan-pelan," ucap Kayla.


"Janji. Aku bakal pelan-pelan."


Kayla mengangguk. Ia berbaring kembali. Arden kembali membuat dirinya naik. Tidak butuh waktu lama untuk bisa memasuki Kayla kembali. Kedua kalinya tidak seperti yang pertama, tetapi Arden yang malah cepat keluar.


Ini bahkan belum sampai sepuluh menit. "Aku keluar," ucap Arden.


Kayla memeluknya. Ia sudah cukup lelah untuk malam indah bersama suaminya. Namun, sepertinya Arden tidak berpuas diri.


Kayla tidak tahu apakah ia puas atau tidak. Tapi ia sudah lelah untuk malam ini. Kayla mengangguk. "Cukup untuk malam ini, ya. Aku capek."


Arden mengecup kening istrinya. "Iya. Biar aku antar kamu buat bersih-bersih."


Arden turun dari tempat tidur. Ia membawa Kayla dalam gendongannya kemudian masuk kamar mandi. Kayla dan Arden membersihkan diri. Kayla meringis saat ia membasuh miliknya.


"Coba aku lihat," kata Arden.


Tanpa menunggu persetujuan Kayla, Arden langsung saja mendudukkan istrinya ke meja wastafel. Ia menurunkan tubuh, lalu membuka bagian terdalam milik Kayla. Merah dan Arden kembali bangkit. Ia menyentuh lagi, lalu menempa tubuh Kayla.


"Jangan lagi," kata Kayla.


"Sebentar, aku masih penasaran," ucap Arden.


Kembali Arden memacu tubuhnya. Sudah ia duga jika gerakkannya tidak bertahan lama. Ia tumbang hanya dalam beberapa menit saja. Hari ini mungkin kelelahan. Lalu, bagaimana dengan esoknya? Kayla mungkin tidak akan puas dengan pelayanan Arden.


"Sudah, Ar. Malam ini cukup dulu," kata Kayla.


Arden mengangguk. "Iya, ayo kita mandi."

__ADS_1


Selesai mandi bersama, Kayla langsung merebahkan diri di atas kasur. Ia kelelahan karena resepsi pernikahan dan olahraga malam. Tidak butuh lama agar matanya bisa terlelap.


Arden mengambil ponsel. Ia menghubungi adik ipar sekaligus sahabatnya. Arden harus bertanya tentang masalah ini. Ketika bermain sendiri, begitu lama keluar. Lalu, kenapa saat bersentuhan bersama Kayla malah cepat selesai? Arden tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sungguh, ia takut dengan kejadian ini. Tubuhnya kekar dan sehat. Tidak mungkin dirinya mengalami mengunduran diri dalam hal hubungan di atas tempat tidur.


Arden tidak peduli ini sudah dini hari. Ia harus menuntaskan rasa penasarannya. Berkali-kali ia menelepon Davin untuk sekadar bertanya. Arden lekas masuk kamar mandi ketika Davin telah mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, Ar. Dini hari begini kamu malah telepon. Ada apa?" tanya Davin dari seberang telepon sana.


"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa memuaskan Kayla. Aku gagal menjadi seorang pria," ucap Arden.


"Maksudmu apa, sih? Malam indah ini seharusnya dilewati dengan rasa gembira," kata Davin.


"Justru itu! Aku tidak sanggup bertahan lama. Hanya beberapa menit saja."


Dari seberang telepon Davin malah tertawa. Rupanya sang adik ipar tengah gundah gulana akibat takut tidak bisa memuaskan istrinya.


"Kamu sungguh menertawakanku. Aku lagi ketakutan, nih," ucap Arden.


Lagi-lagi Davin tertawa. "Astaga, Arden! Kamu itu lucu banget. Cocoklah sama Kayla."


"Aku serius," kata Arden.


"Pertama kali memang begitu. Lama-lama juga enggak lagi. Kamu baru merasakannya. Reaksinya memang seperti itu. Tapi enggak tau juga, sih, bagi yang lain. Kalau aku dulu begitu. Saat bersama Aretha sudah sangat ganas," ucap Davin sembari tertawa.


"Jadi, kalau lepas perjaka memang begitu?" tanya Arden.


"Iya, semua juga begitu, kok. Tenang saja. Jangan takut nanti malah stress. Nanti juga terbiasa. Pokoknya sering-sering main," saran Davin.


"Oke, aku bakal ikutin saran kamu."


Dari sana Davin masih tidak bisa menghentikan tawanya. "Pemanasannya lama sedikit. Latihan pinggul juga kamu."


"Kalau itu jangan diajarin lagi," sahut Arden.


"Aku ada obat buat kamu. Buat bulan madu."


Arden ikut tertawa. "Bagi aku. Buat di Paris nanti."


"Siap. Pokoknya sering saja main," kata Davin.


Keduanya malah tertawa bersama. Telepon diputus oleh Arden ketika mendengar teguran Aretha untuk Davin. Saudaranya terganggu karena malam hari masih saja mengobrol.


"Pokoknya harus banyak latihan," ucap Arden bertekad.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2