Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Permulaan


__ADS_3

Arden tidak dapat lagi menahan diri untuk mengecup bibir manis Kayla. Ketika acara selesai dengan ditutup makan malam bersama keluarga, sepasang suami istri baru lekas menuju kamar pengantin mereka.


Kayla kewalahan mengimbangi belitan Arden. Ia mendorong tubuh suaminya ketika pria itu dengan kuat menyesap indra tak bertulangnya.


"Le-lepas," ucap Kayla.


Ia menutup bibir. Keduanya masih di dalam lift yang bergerak menuju ke lantai atas. Kayla menahan mahkotanya agar tidak terjatuh. Ia mendengkus kesal.


"Sakit!" kata Kayla. "Mana ditarik-tarik lagi."


Arden tertawa. "Enak, Sayang. Rasa kue pengantinnya masih terasa. Krim stroberi memang sedap."


Pintu lift terbuka, Kayla lekas keluar disusul oleh suaminya. Arden merangkul pinggang Kayla, lalu kembali mengecup bibir sang istri.


"Sabar," kata Kayla, "buka dulu pintu kamarnya."


Arden segera menjejalkan tangan di saku tuxedo yang ia kenakan. "Mana kartu kuncinya?"


"Tadi kak Davin kasih ke kamu," ucap Kayla.


Kembali Arden memeriksa saku jas serta celana. Ia lega setelah mendapatkan kunci itu di dalam jas bagian dalam. Arden memperlihatkannya kepada Kayla, lalu membuka pintu.


"Silakan masuk, Cintaku."


"Terima kasih, Sayang," balas Kayla sembari mengedipkan mata kemudian melangkah masuk.


"Jangan menggodaku!"


Arden masuk dan menutup pintu. Ia menarik tangan Kayla sampai tubuh keduanya saling bersentuhan. Arden menyandarkan Kayla di dinding kamar, menangkup kedua pipinya dan mereka saling menyatukan bibir.


Tanpa harus merasa takut lagi. Tangan Arden menjelajah tubuh Kayla. Jari jemarinya mencari resleting gaun yang sang istri kenakan. Kayla menahan wajah Arden untuk berhenti sejenak.


"Kenapa lagi, sih?" gerutu Arden.


"Sabar sedikit. Aku mau mandi. Ini mahkota di kepala juga belum dilepas. Aku mau bersihin wajah dulu," kata Kayla.


"Biar aku bantu," ucap Arden.


Arden lekas mendudukkan Kayla di kursi meja hias. Ia mencabuti jepitan rambut hitam di kepala Kayla, lalu melepas mahkotanya.


"Sakit! Rambutku habis tercabut." Kayla memukul tangan Arden. "Jangan dekat-dekat!"


"Aku bantuin kamu biar cepat."


"Cepat apaan? Sakit banget, nih, kulit kepala." Kayla mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Sini, aku sisir. Di mana lagi sisir?"


Arden menarik koper yang ada di kamar itu. Perlengkapan Arden dan Kayla sudah dibawa ke kamar pengantin mereka sebelumnya. Arden membuka koper Kayla, lalu mengambil tas make up istrinya.


"Mau ngapain?" tanya Kayla.


"Mau sisir rambutmu."


Kayla menggeleng. "Enggak boleh. Langsung mandi saja biar hairspray-nya hilang."


"Kalau begitu, aku bantuin hapus make up kamu saja," kata Arden.


"Enggak mau. Mending kamu mandi sana."


"Mau mandi bareng," Arden mengucapkannya sambil tersenyum menggoda.


"Pertama main harus di tempat tidur," ucap Kayla menolak permintaan mandi bersama.


Wajah Arden cemberut. "Janji jangan mandi lama-lama."


"Kamu saja belum mandi. Cepat masuk sana."


Arden membuka tuxedo yang masih membalut tubuhnya. Ia polos begitu saja. Sontak Kayla menutup mata dari hal yang membuatnya merona.


"Bukan sekali ini saja kamu melihatku," ucap Arden, lalu melenggang masuk kamar mandi.


"Arden!" teriak Kayla.


"Sebentar lagi adikku ini akan masuk ke tubuhmu," ucap Arden sembari mencuci miliknya dengan sabun. "Cuci bersih-bersih supaya Kayla dapat mencucupnya."


Selesai membersihkan diri, ia lupa membawa handuk. Arden membuka pintu, lalu memanggil Kayla. "Sayang, aku lupa bawa handuk."


Kayla sudah selesai membersihkan wajahnya dari make up yang menempel. Ia juga telah mengganti gaun pengantin dengan handuk kimono.


"Makanya, jangan buru-buru masuk kamar mandi," kata Kayla seraya memberikan handuk.


"Kamu mandinya jangan lama-lama. Jangan jadi siluman air," ucap Arden yang keluar kamar mandi digantikan oleh Kayla.


"Mau lama-lama. Aku mau berendam," sahut Kayla.


"Aku dobrak pintunya kalau kamu lama."


Kayla menjulingkan mata mengolok suaminya. Arden yang tidak terima mencoba untuk menarik Kayla keluar, tetapi sayang keburu sang istri tercinta menutup pintu dan menguncinya.


"Awas kamu, ya," seru Arden.

__ADS_1


"Sini kalau berani," balas Kayla dari dalam.


"Wah! Nantangin dia."


Selagi Kayla mandi, Arden membersihkan tempat tidur. Kelopak mawar yang berada di atas seprai putih ia buang ke lantai. Baginya kelopak bunga akan menghalangi saja.


"Capek juga seharian. Akhirnya, aku nikah juga. Sama Kayla lagi," ucap Arden tersenyum bahagia.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka. Arden menoleh ke arah Kayla yang keluar dengan mengenakan jubah mandinya. Rambutnya masih terbungkus handuk.


Arden bangun dari rebahannya. Ia menepuk sisi sebelah tempat tidur. Kayla berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Arden membuka handuk yang menbungkus rambut basah istrinya. Ketika ia mendekat, lagi-lagi Kayla menahannya.


"Apalagi, sih, Kay? Masa enggak boleh lagi," protes Arden.


"Berdoa dulu. Bukannya sudah diajarin."


"Iya, lupa. Aku sudah hapal, kok."


Jantung Kayla berdegup kencang. Ia malu dan rasanya menikah bersama Arden merupakan khayalan. Arden meniup ubun-ubun Kayla, lalu keduanya sama-sama menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


Arden membuka ikatan kimono yang Kayla kenakan. Ia menyingkap baju mandi itu. Arden memperhatikan tubuh Kayla dari tengkuk depan ke bagian matang. Turun ke perut, lalu berhenti di titik tengah yang selama ini ingin Arden lihat. Putih tanpa noda. Berisi sesuai dengan tipe ideal Arden.


"Cantik," ucapnya.


Arden menyentuh ujung kelembutan Kayla dengan pipinya. Terasa dingin karena sang istri baru selesai mandi. Pelan dan lembut kemudian berganti dengan mengecap puncak yang kemerahan itu.


Kayla mulai gelisah. Suara yang keluar dari bibirnya terdengar berat. Satu tangan menangkup sisi sebelahnya. Menekan pelan dengan dua ujung jari memelintir puncaknya.


Arden mengecup bibir istrinya. Oh, tidak! Kayla terbakar, ia hanyut dalam buaian. Kedua tangannya memeluk Arden, mencengkeram setiap helaian rambut suaminya.


Kecupan kecil turun ke bawah. Arden menyapu bagian muka kelembutan Kayla dengan indra tak bertulangnya. Arden mengecup sembari memberi gigitan kecil yang membuat Kayla semakin panas.


Semakin kuat cengkeraman tangan Kayla di rambut Arden. Bibir itu turun lagi ke bawah. Kayla menjerit pelan ketika dua tangan Arden menekan kuat kelembutannya. Kayla mengangkat dagu suaminya, ia angkat kepalanya untuk dapat mengecup bibir Arden.


"Jangan menolak dengan apa yang akan aku lakukan sekarang. Aku sungguh ingin bermain bersamanya," ucap Arden.


Kayla mengangguk, lalu mengecup lagi bibir suaminya. "Aku tidak akan menolak."


Arden turun dari tempat tidur. Ia berlutut di depan tubuh Kayla. Posisinya pas ke bagian tengah yang menunggu untuk disentuh. Arden menyentuh ketebalannya dengan dua jari. Kayla mengerang sesaat. Arden tersenyum dan permainan ini akan sangat mengasyikkan.


Arden membuka bagian terimut yang tersembunyi di dalamnya. Kayla sempat kaget dengan apa yang suaminya lakukan. Ia bangun dengan bertumpu pada kedua siku tangannya.


"Sayang, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Kayla.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2