
Akhir musim gugur yang indah. Kayla dan Arden tidak membuang kesempatan untuk menikmati suasana Paris yang romantis. Keduanya sudah tiba di Paris dan menginap di hotel Retoile.
Bukan hanya Menara Eiffel yang menjadi daya tarik sepasang pengantin baru itu. Bagi keduanya, mengunjungi tempat baru lebih asik.
Terlebih masuk musim gugur dan lebih bagus berkunjung ke kafe menikmati cokelat panas dan memburu beberapa buku.
Toko buku terkenal Shakespeare and Company menjadi tujuan mereka. Baik Kayla dan Arden punya hobi sama, yaitu membaca buku. Tidak heran jika tujuan mereka pertama kali ke sana.
"Aku berterima kasih saat menerima hadiahmu di ulang tahun ke sepuluh," ucap Kayla.
"Le Petit Prince?" tanya Arden.
"Ya, aku suka karena itu buku berbahasa perancis."
"Aneh saja. Anak kecil yang tidak tau bahasa perancis malah menginginkan karya sastra itu. Kamu bisa membeli buku yang sudah diterjemahkan," kata Arden.
"Tentu saja itu berbeda. Kamu membelinya di toko ini," ucap Kayla.
"Sekarang pilih buku yang kamu suka. Kita kembali ke hotel."
"Tapi aku masih ingin jalan-jalan. Kita berkunjung ke museum Rodin," kata Kayla.
Arden mengangguk. "Boleh juga dan itu juga berdekatan dengan sungai seine."
Udara dingin menusuk ketika keduanya keluar dari toko buku. Arden mengeratkan syal yang melingkar di leher Kayla dan membenarkan topi hangat yang istrinya kenakan.
"Masih yakin ingin jalan-jalan?" tanya Arden.
Kayla mengangguk. "Tentu saja. Aku berharap bisa merasakan salju pertama."
Arden merangkul Kayla. Keduanya berjalan kaki bersama menuju transportasi umum yang akan membawa mereka ke museum Rodin.
"Beberapa hari lagi musim gugur akan berganti. Saat itu kita bisa lihat salju pertama turun. Lampu-lampu akan dinyalakan karena warga akan merayakan Natal," kata Arden.
"Tapi kita di sini untuk membuat bayi," sahut Kayla.
Arden tertawa. "Aku berharap di musim semi, kita mendapatkannya."
"Sekitar empat bulan lagi. Masih banyak waktu."
"Kita harus bekerja keras," bisik Arden.
Keduanya saling menatap. Arden mendaratkan kecupan bibir di atas bibir istrinya. Mereka sengaja berhenti melangkah untuk menghangatkan diri.
"Jangan sampai museumnya tutup," kata Kayla.
"Kita harus bergegas. Udaranya semakin dingin."
Arden meraih tangan Kayla, mereka berlari memanggil taksi. Keduanya tampak lucu dengan baju hangat yang dikenakan.
Sesampainya di museum Rodin. Kayla dan Arden menikmati beberapa pahatan patung, foto-foto lama dan benda seni lainnya.
"Melihat patung ini membuatku ingin membawamu ke kamar," kata Arden sembari menunjuk patung.
"Pikiranmu selalu hal tentang kamar," sahut Kayla.
"Tujuan bulan madu memang menjurus ke hal itu. Apa yang salah?"
"Tidak salah, kamu selalu benar."
"Musim dingin tidak sah kalau tidak mengunjungi Katakomba. Besok kita harus ke sana," kata Arden.
"Kamu serius ingin ke sana?" tanya Kayla.
Arden mengangguk. "Kenapa tidak? Ada banyak orang ke makam itu."
__ADS_1
"Ayolah, Ar. Ini cerita romantis bukan horor. Besok aku ingin ke alun-alun Place De La Concorde."
"Kamu ingin kedinginan jalan-jalan di sana?"
"Pokoknya aku mau ke tempat romantis. Titik!" ucap Kayla.
"Kamu menang. Besok kita ke sana."
...****************...
"Di sini baru hangat," ucap Arden ketika mereka telah sampai di hotel.
Kayla duduk begitu saja di pangkuan suaminya. "Apa karena aku?"
"Itu sangat jelas, Sayang. Kamu memang selalu bisa menghangatkanku. Bisa kita bermain?"
"Ingin, sih, tapi aku enggak mau mandi. Di sini dingin," kata Kayla.
"Jangan mandi saja."
Jari Arden menelusup masuk ke daster yang Kayla kenakan. Ia tersenyum mendapati sang istri yang tidak memakai segitiga berenda. Sesuai janji Kayla jika mereka berdua saja tidak akan memakai pakaian dalaman.
"Aku tidak yakin bisa menahannya. Lihat saja, kamu terus menggodaku."
"Siapa menyuruhku untuk tidak mengenakan apa pun? Siapa juga yang menyuruhku untuk membawa daster lebar ini?" tanya Kayla.
Arden tertawa. "Kamu menakjubkan memakai daster motif bunga ini. Daster ini juga memudahkanku untuk menidurimu. Tinggal angkat ke atas, diikat, lalu aku bisa memasukimu."
Ucapan sama hal dengan tindakan yang Arden lakukan. Ia menaikkan daster itu ke atas, lalu mengikatnya. Kayla bangkit berdiri memberi peluang Arden mengeluarkan benda terlarang miliknya.
"Astaga! Benda ini tidak boleh disentuh langsung naik," ucap Kayla.
"Sayang, kenapa kamu selalu membuatku ingin tertawa. Milikku ini hanya naik saat bersamamu."
Kayla meraihnya. Menggesek sebentar ketegangan itu, lalu masuk perlahan. Maju mundur dalam gerakan lambat.
"Aku mempelajarinya dari suamiku," kata Kayla.
Tangan Arden masuk menangkup dua kelembutan milik istrinya. Menekan pelan sembari memelintir ujungnya. Kayla mendonggak, tubuhnya meremang.
"Ayo, Sayang. Gerakan lebih cepat," bisik Arden.
Kayla bergerak seperti ia menunggang seekor kuda. Seluruh tubuh bergetar. Kayla melepas daster yang ia kenakan agar lebih leluasa lagi menanjak.
Naik turun tanjakan cinta. Peraduan daging yang saling menyatu. Suara berat dan serak keluar memenuhi ruang kamar.
"Lebih cepat lagi," kata Arden sembari menepuk bagian bawah punggung Kayla.
"Aku sudah enggak kuat," kata Kayla.
Arden memeluk erat istrinya. Ia mengangkat sedikit tubuh Kayla, lalu bergerak cepat. Kayla diam dan membiarkan ketegangan itu menghunjamnya.
Kayla terengah-engah, tapi Arden belum selesai dengan permainan. Ia mencengkeram sisi pinggang istrinya. Kayla datang menanjak lagi dengan Arden membantunya. Gerakan cepat hingga Kayla takut ketegangan itu patah.
"Aku sampai," ucap Arden.
Kayla mengecup bibir suaminya. "Kamu sungguh luar biasa."
"Kamu juga, Sayang. Aku menginginkan malam panjang," ucap Arden.
"Aku siap melayani."
...****************...
Besoknya Kayla membatalkan rencana ke alun-alun. Menurut perkiraan cuaca salju akan turun malam ini. Kayla memutuskan untuk pergi ke tepi selatan sungai seine. Lebih indah menikmati Menara Eiffel yang bersinar keemasan, Museum Louvre serta lampu di sepanjang jalan.
__ADS_1
"Jadi, harus sampai kapan kita di tepi jalan seperti ini. Menara sudah ditutup dan kita cuma duduk kedinginan di tepi jalan seperti ini," kata Arden.
"Tunggu sampai saljunya turun," ucap Kayla.
"Hidungmu sudah memerah, Sayang. Malam semakin dingin."
"Sebentar lagi. Aku tidak ingin melewatkannya."
"Tunggu di sini. Aku beli kopi di sana. Ingat! Jangan beranjak dari tempat dudukmu," kata Arden.
"Aku bukan lagi anak kecil. Pergilah," ucap Kayla.
Arden berlari membeli kopi. Sesekali ia melihat ke belakang. Kayla tertawa ketika suaminya hampir saja tersandung.
"Aku tidak akan lari," teriak Kayla.
Kayla tidak merasa takut sebab banyak pejalan kaki yang berlalu lalang. Mungkin bukan hanya dirinya yang ingin menyaksikan datangnya salju pertama.
Arden terengah-engah membawa dua cup kopi di tangan. Ia menyerahkan kopi ke tangan Kayla, lalu duduk dengan bersandar di bahu istrinya.
"Aku takut kamu hilang," kata Arden.
"Kalau hilang, nanti aku balik lagi."
"Jangan katakan itu, Sayang. Kalau kamu hilang, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku."
"Aku tidak akan ke mana-mana. Minum kopimu sebelum dingin," kata Kayla.
Arden menyesap sedikit kopi yang ia beli. Waktu semakin larut, tetapi Kayla masih belum ingin beranjak dari duduknya.
"Coba tutup matamu," kata Arden.
"Kenapa?" tanya Kayla.
"Siapa tau saljunya turun."
"Benar juga. Apa salahnya mencoba."
Kayla memejamkan mata. Tidak lama ia membuka mata dan melihat benda kecil yang putih beterbangan.
"Salju!" ucap Kayla, lalu raut wajahnya berubah. "Arden!"
Arden tertawa dan menjauh dari Kayla. "Ini salju juga namanya. Tapi salju mainan."
"Awas kamu, ya!" Kayla bangun dari duduknya, lalu mengejar Arden.
Arden tertawa. Ia memeluk Kayla dan membuatnya berputar-putar. "Salju tidak akan turun. Mungkin besok malam. Kita pulang, yuk."
Kayla sedikit kecewa. "Mungkin besok baru turun. Kita jalan kaki saja."
Arden mengangguk karena hotel mereka tidak begitu jauh. Keduanya jalan sambil berpegangan tangan. Menikmati lampu di sepanjang jalan.
"Ini apa?" tanya Kayla, ketika butiran putih mengenai topi hangatnya. "Kamu tidak lagi menaburkan salju mainan itu, kan?"
"Tidak," kata Arden, lalu menatap langit malam. "Salju pertama, Sayang."
"Sungguh salju?"
Arden mengangguk. "Iya, ini Salju."
Pejalan kaki yang lain turut menyaksikannya. Kayla membiarkan salju itu menyentuh tangannya. Wajahnya berbinar bahagia bisa menyaksikan keajaiban Sang Pencipta.
"Salju pertama dan ini sangat indah," ucap Kayla.
"Lebih indah dirimu," bisik Arden.
__ADS_1
Kayla menoleh dan Arden langsung merapatkan bibir mereka. Bagi Arden, moment salju pertama lebih cocok untuk bermesraan.
Bersambung