
"Aku mencari istriku. Dia menginap di hotel ini," kata Arden.
"Maaf, Tuan. Kami tidak sembarangan memberitahu data tamu begitu saja," sahut resepsionis wanita.
"Aku bukan minta data. Aku ini ingin tau nomor kamar istriku. Namanya Kayla. Kami sedang bertengkar dan dia lari kemari," ucap Arden emosi.
Sayangnya Elise cuma memberitahu hotel Kayla menginap. Wanita itu juga tidak menanyakan di nomor berapa Kayla berada dan Elise tidak mungkin mempertanyakan itu karena bisa jadi Kayla akan curiga.
"Lebih baik Anda pergi atau saya meminta keamanan untuk mengusir Anda," ancamnya.
"Aku mohon padamu untuk meneleponnya lagi," kata Arden.
"Sudah saya bilang jika Nona yang bersangkutan tidak ingin bicara dan bertemu dengan Anda."
Arden berdecak kesal. Ia mengambil ponsel di saku celana, lalu mencari nomor orang yang bisa membantunya.
"Kamu akan menyesal karena melarangku masuk," kata Arden sembari menatap tajam resepsionis.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan tugas."
Arden mendengkus, lalu meletakkan ponsel di dekat telinga. "Halo, Ed. Aku di hotel tempatmu bekerja. Bawahanmu tidak mengizinkanku masuk."
"Kenapa memangnya?" tanya Edward di seberang telepon.
"Pokoknya kamu kemari saja. Bantu aku," kata Arden, lalu memutus sambungan teleponnya.
Arden berkacak pinggang. Berlagak sedikit di hadapan wanita penerima tamu yang tidak memberitahu nomor kamar Kayla. Tidak lama Edward datang. Sahabat Arden yang menjabat sebagai manager di hotel Hammers.
"Kekasihku menginap di hotel ini. Namanya Kayla. Beritahu kamarnya," ucap Arden.
"Hanya untuk ini kamu menyuruhku turun?" kata Edward.
"Bawahanmu yang tidak mau memberitahuku."
Edward menatap tajam wanita yang bertugas sebagai penerima tamu. Edward sedikit berbincang dengannya dan Arden tersenyum melihat perempuan itu menunduk karena mendapat teguran dari Edward.
"Nomor 507 lantai tiga," ucap Edward.
Arden tersenyum, lalu menepuk pundak sahabatnya. "Terima kasih. Enggak sia-sia aku punya sahabat baik. Kalian semua bisa diandalkan." Setelah itu pergi menuju lift.
Edward mendengkus. "Kapan dia punya pacar? Setauku dia tidak suka pacaran."
Arden masuk lift. Sesampainya di lantai yang dituju, ia lekas mencari nomor kamar yang diberitahu oleh Edward. Dengan tidak sabarnya, Arden mengetuk pintu, lalu bersembunyi di samping. Ia tidak ingin Kayla sampai melihat wajahnya, lalu enggan membuka pintu.
Sudah Arden duga jika Kayla tidak akan mudah membuka pintu. Pelayan wanita lewat dengan membawa kereta pembersih. Arden memintanya untuk mengetuk dengan bayaran sepuluh dollar. Arden tersenyum ketika pintu terbuka dan mendengar suara Kayla.
"Ada apa? Aku tidak memanggil pelayan untuk bersih-bersih kamar," ucap Kayla.
"Maaf, Nona," kata pelayan.
"Aku yang ingin menemuimu." Arden tiba-tiba muncul dari samping.
"Arden!"
Kayla ingin menutup pintu, tetapi Arden menahannya. Arden mendorong Kayla ke dalam dan ia masuk. Sebelum menutup kamar, Arden menyuruh pelayan pergi dengan membayar upah yang dijanjikan.
__ADS_1
"Apa maumu?" tanya Kayla.
"Kamu tau apa mauku, Kay. Aku akan jelaskan semuanya. Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Lauren."
Kayla melipat tangan di perut. "Tidak ada hubungan, tetapi pakaian pribadinya ada di dalam lemarimu."
"Kamu juga bersama Steve sebelum kita bersama. Kamu juga tidur dengannya."
"Aku tidak tidur dengannya! Aku masih perawan!" teriak Kayla.
"Aku juga masih perjaka!" ucap Arden tidak kalah keras.
"Oh, katakan padaku. Apa yang kamu lakukan pada Lauren? Kamu mengecup bibirnya, jantungnya, perutnya dan bagian sensitifnya, kan? Kamu melakukan itu, kan Arden!"
"Iya! Aku melakukannya," jawab Arden jujur.
"Apalagi? Berapa lama kalian bersama?" tanya Kayla.
"Aku mengajaknya jalan-jalan, belanja. Kami juga bermain di kasino Vegas."
"Kalian satu kamar?"
Arden mengangguk. "Iya. Kami satu kamar."
Kayla tersenyum kecut. "Sudah cukup. Sekarang keluar dari sini."
"Itu hanya masa lalu, Kay. Kamu juga tau bagaimana diriku," ucap Arden.
"Tetap saja aku kesal mendengarnya."
"Memangnya kita bertengkar baru ini? Kamu tidak pernah mengambil hati atas semua pertengkaran kita. Meski aku bilang membencimu, kamu tetap dekat denganku."
"Jelas beda! Kamu yang membuat hubungan kita berbeda. Apa perlu aku ingatkan semua perkataanmu itu padaku?" ucap Arden. "Apa yang kamu katakan kepada Aretha? Kamu menganggap aku apa, Kayla? Kita bukanlah sahabat!" ungkap Arden.
"Kenapa kamu jadi marah padaku?"
"Karena ini semua salahmu," jawab Arden.
Kayla menutup wajahnya. Ia terisak. "Sampai kapan pun aku tidak pernah menang darimu. Kenapa aku yang salah? Ini soal pakaian milik wanita yang kamu simpan."
"Aku tidak menyimpannya. Kalau itu terselip di lemari pakaianku. Itu semua unsur ketidaksengajaan."
Kayla menatap Arden. Matanya memerah. "Aku membencimu!"
"Lantas, ingin memukulku seperti yang dulu kamu lakukan? Kita bukan lagi anak kecil," ucap Arden.
Kayla mengentakkan kakinya. "Keluar dari kamarku!"
"Enggak akan!" jawab Arden keras.
Kayla naik ke atas tempat tidur. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Arden mendengkus melihatnya.
"Jangan menangis," kata Arden.
"Diamlah!" bentak Kayla. Sialan! Sebenarnya kapan aku bisa menang darinya. Aku selalu kalah debat.
__ADS_1
"Umurmu sudah lewat dua puluh lima tahun. Aku tidak akan membelikanmu boneka, es krim atau menggendongmu supaya kamu diam."
"Sialan!" umpat Kayla, lalu melempar bantal ke arah Arden.
"Jangan mengutukku!"
Arden merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia melingkar tangan ke perut Kayla, tetapi mendapat cubitan pedas dari tangan sang kekasih.
"Maaf, Kay. Sumpah! Aku enggak ada hubungan apa-apa sama Lauren. Kami teman dan saling mengisi waktu itu."
"Kamu menikmatinya, kan?" ucap Kayla.
"Sama sekali tidak. Aku membayangkan jika itu kamu." Arden membalik tubuh Kayla menghadapnya. Ia usap lelehan air mata yang masih tersisa di pipi gadis itu.
"Jangan membohongiku."
"Aku tidak pernah bohong," ucap Arden.
"Tentang perasaanmu," kata Kayla.
"Aku pernah berpikir untuk menikahi Lauren."
Satu pukulan mendarat di bahu. Bukan sekali, tetapi beberapa kali dan Arden membiarkan itu. Ia menahan rasa sakitnya dan malah tersenyum.
"Dengarkan aku dulu. Setelah itu baru pukul lagi," kata Arden.
"Katakan yang sejujurnya."
"Aku selalu jujur," ucap Arden. "Aku memang berniat mengakhiri masa lajang jika kamu jadi menikahi Steve. Bersama wanita mana pun, aku tidak peduli. Aku berlayar karena ingin menjauh darimu dan semuanya. Aku tidak ingin Aretha menelepon, lalu mengabarkan berita kebahagianmu." Arden memeluk Kayla. "Aku tidak sanggup mendengarnya, Sayang."
"Aku percaya kamu. Jangan sampai membuatku kecewa untuk yang kedua kalinya. Aku ingin apartemenmu dibersihkan dari sisa-sisa wanita manapun," kata Kayla, lalu melanjutkan, "satu lagi, buang pakaian itu."
"Aku sudah membuangnya di tempat sampah. Maafkan aku, ya."
"Aku maafkan untuk satu kesempatan," ucap Kayla.
Arden mengecup kening Kayla, ketika ia ingin menurunkan kecupannya di bibir, dering ponsel terdengar.
"Ini pasti Aretha," kata Arden.
"Ada apa memangnya?"
"Dia mengirim video. Biar aku lihat itu."
Arden beringsut duduk kemudian mengambil telepon genggam di saku celana. Sudah Arden duga jika saudaranya yang menelepon. Arden menolak panggilan itu, lalu memutar video.
"Apa-apaan ini? Mereka main rekam saja," ucap Arden marah.
"Ada apa?" tanya Kayla yang ikut duduk.
"Lihat ini." Arden menyerahkan ponselnya.
Mata Kayla membelalak melihatnya, lalu ia tertawa. "Astaga! Ini kamu, Sayang?"
"Siapa lagi yang mengejar seorang gadis hanya dengan handuk? Untung saja aku tidak ditangkap petugas karena berbuat onar."
__ADS_1
Bersambung